Dipagi yang cerah, seorang gadis kecil sedang berjalan jalan dibawah bunga sakura yang bermekaran dengan suasana hati begitu riang, ia melihat ke sekelilingnya sambil tersenyum lebar hingga menampakkan gigi susu miliknya yang begitu mungil.
Gadis itu bernama Elena. Keceriaan Elena ketika pergi ke taman sakura bukanlah tanpa alasan, karena pada pagi ini musim semi sudah tiba, hasratnya yang sudah dipendam pun selama 4 bulan kini sudah terbayarkan baginya.
Elena kecil memang selalu saja merasa senang jika musim semi sudah tiba, karena pada musim ini pemandangan yang begitu menakjubkan dapat ia lihat dengan begitu jelas dan nyata. Baginya menyaksikan kelopak bungan sakura berguguran, dan menari nari untuk menuju kebawah, tidak ada tandingannya dengan pemandangan lain.
"Hehehe". Begitu tawa ceria Elena ketika kelopak sakura menari nari seakan menyapanya dengan lambaian.
Namun disela-sela keceriaan dan tawa kecil Elena, langkah kaki anggun namun tegas milik seseorang yang begitu ia kenal terdengar dengan sangat jelas.
"Yaampun, itu ibu". Batin Elena ketakutan.
Dan benar saja sesaat kemudian suara seorang wanita yang tak lain ibu Elena pun langsung keluar.
"Elena !!!!". Sang ibu langsung berteriak marah sesaat baru saja tiba di taman sakura yang tidak jauh dari rumah mereka.
"Apa yang kamu lakukan ??, Kenapa kamu tidak pergi kursus seperti biasa ??, Apa kamu tidak tahu biaya kursus itu mahal ??". Suara ibu Elena meninggi dengan tatapan mata tajam yang begitu menakutkan.
Melihat sang ibu sudah marah Elena hanya terdiam sambil menundukkan wajahnya karena takut dan cemas. Namun Elena tetap berfikir positif saja, didalam ketakutannya saat ini ia yakin bahwa ibunya tidak pernah benar benar marah kepadanya sehingga saat nanti ia pulang keadaan rumah pasti akan baik baik saja.
Dengan fikiran seperti itu Elena kembali untuk melanjutkan perjalanannya menyusuri taman sakura yang dipenuhi oleh kelopak berguguran dengan warna pink kesukaannya. Meski...tak dapat disembunyikan langkah kaki Elena saat ini sedikit terlihat gontai.
Elena menyusuri jalan yang ia tempuh saat ini sambil bernyanyi riang, sesekali ia juga duduk menumpuk kumpulan kelopak sakura menjadi beberapa bentuk hayalannnya, dan hanya ia sendiri yang tau bentuk apa tersebut. Tapi... diantar bentuk bentuk hayalan Elena yang tidak jelas itu, terdapat pula gundukan kelopak sakura dengan bentuk seperti sosok manusia.
Apa kalian bertanya siapa sosok manusia itu ??...
Hmm... Pertanyaan yang bagus...
Gundukan yang bagaikan sesosok manusia itu adalah seseorang yang selalu Elena tunggu tunggu setiap mentari terbit datang menghampiri bumi, pria yang selalu Elena tanyakan ketika senja sudah benar benar menyapa bumi, dan pria yang selalu ia bayangkan berada didepan rumahnya sedang menunggu kepulangan dirinya dengan ukiran senyum begitu tampan.
Yap... Benar sekali, gundukan kelopak bunga yang tak jelas bentuknya itu adalah ayah yang selalu dicintai Elena, ayah yang selalu ditunggu nya meski ia tak pernah melihat perawakan ayahnya tersebut.
.
.
.
Disuatu malam Elena pernah bertanya tentang keberadaan sang ayah yang begitu ia rindukan.
"Mama". Panggil Elena
"Ada apa ?".
"Sebenarnya dimana papa, ma ?, Kenapa papa tidak pulang kerumah ?". Tanya Elena dengan polos.
"Papa mu pergi disaat bunga-bunga sakura masih kuncup, dan mentari hampir menyentuh bumi". Jawab sang ibu dengan ketus.
"Kemana papa pergi ma ??". Elena kembali melayangkan pertanyaannya dengan polos.
"Ia pergi menuju cahaya mentari pagi yang baru saja menyapa dunia". Ibu Elena kembali menjawab pertanyaan itu dengan ketus.
"Lalu, dimana cahaya mentari yang baru menyapa dunia itu ma ?, Apa papa tidak akan pulang ma ??".
"Ah sudahlah !, Kenapa kau menanyakan hal itu terus sih ??!!". Pada akhirnya ibu Elena mengeluarkan hardikannya karena sudah tak sabar dengan pertanyaan sang anak yang tidak ada habisnya.
.
.
.
"Hmmm... Kata mama cahaya mentari yang baru menyapa dunia. Dimana tempat terbitnya matahari ??". Elena mencerna semua pertanyaan yang pernah dia lontarkan beberapa waktu yang lalu kepada mamanya, kemudian menatap kearah sang surya dan membalikkan pandangannya kearah bayangan tubuhnya sendiri.
"Cahaya mentari yang baru menyapa dunia... hmm, bayanganku disini, apakah...". Elena berputar-putar mengikuti arah bayang-bayang tubuhnya yang memanjang kearah Elso.
"Ah ! Elso". Teriak Elena senang.
Elena memandang kearah Elso itu dengan mata berbinar dengan penuh harapan. Kemudian dengan perasaan yang menggebu-gebu Elena berlari kencang menuju mobil untuk menemui mamanya yang berada di kantor.
"Hah... hah...Mama!!!". Panggil Elena sesampainya diruang kerja ibunya
"kapan papa pulang ??". Dengan nafas yang masih terengah-engah karena berlari dari lantai bawah kantor menuju lantai tiga, Elena langsung melayangkan pertanyaannya kepada sang ibu tanpa membuang waktu.
Namun seperti biasanya sang ibu tetap tak acuh. Kalau sudah begini Elena tak mau lagi melanjutkan pertanyaannya kepada sang ibu, dia lebih memilih diam, dan perlahan-lahan mulai beranjak dari tempat itu dan berjalan menuju taman kantor yang mengarah langsung ke taman sakura. Disana Elena memandangi arah bayang-bayang mentari yang mengarah menuju Elso, dengan mata sendu namun mengandung banyak harapan.
"Papa sebenarnya kapan papa pulang ??". Begitu ucap batinnya yang begitu merindukan kepulangan seorang ayah.
"Elena rindu papa.
Kemudian sosok seorang pria yang gagah pun datang didepan Elena, dengan senyuman yang begitu khas melambaikan tangannya kearah Elena.
"Putri papa yang cantik, jangan sedih ya. Percayalah papa akan menjumpai mu dibawah langit biru nanti".
Tapi itu semua hanya bayangan, sekedar ilusi semata, hanya khayalan yang terjadi karena kerinduan yang begitu besar dari dalam hati gadis kecil yang bernama Elena itu.
Sesaat bayangan sang ayah datang, Air mata Elena tanpa sadar menetes dan mengalir membasahi pipinya, langit biru yang tenang menjadi saksi bisu dikala itu menyaksikan kepedihan hati seorang anak yang begitu merindukan kepulangan ayahnya.
Ketika malam tiba pertanyaan tentang ayahnya pun kembali terlontar dari mulut Elena.
"Ma papa itu orang yang seperti apa ?".
Mendengar pertanyaan ini ibu Elena terbelalak seketika karena kaget, namun ia tetap menenangkan diri dan mengambil langkah bijak menjawab pertanyaan sang anak.
"Papa itu laki-laki...".
"Laki-laki seperti apa Ma ?". Tanya Elena penasaran
"Papa mu laki-laki yang tegas namun berhati lembut". Sang ibu menjawab pertanyaan Elena dengan seenaknya, dan Elena mempercayai hal itu.
Kemudian tanpa menyadari kesedihan sang ibu, Elena melontarkan sebuah pertanyaan yang sebelumnya belum pernah ia lontarkan kepada sang ibu.
"Ma, apa papa ingat kita ??". Dengan wajah yang menunduk Elena melontarkan pertanyaan tersebut.
Ibu Elena sempat terdiam seketika mendengar pertanyaan anaknya ini, namun dengan hati yang tenang ibu Elena dapat memberikan jawaban yang bagus untuk anak semata wayangnya ini.
"Tentu saja papa mu ingat kita". Begitu jawab ibu Elena dengan tenang.
"Tapi kenapa papa tidak pulang pulang, Ma ??".
Dipertanyaan satu inilah ibu Elena tidak pernah mampu memberikan jawabannya kepada sang anak. Ia lebih memilih mengakhiri percakapan dan mengalihkan ketopik pembicaraan lainnya.
"Sudahlah !!!, Kenapa kau terus bertanya hal seperti ini ?". Hardik sang ibu sambil melanjutkan makannya yang tadi sempat terhenti.
"Ma".
"Jangan bertanya lagi !!, Cepat habiskan makan mu, kamu tau tata kerama kan ?, jangan ada pembicaraan dimeja makan !". Hardik sang ibu dengan raut wajah marah.
Mendengar perintah sang ibu Elena pun langsung menghabiskan makanannya dengan cepat. Ia takut jika ibunya akan marah jika tidak menurut, karena ibu Elena akan memukul dengan rotan jika benar benar sudah marah.
Setelah makan malam selesai Elena pun menuju kamarnya karena pukul sudah menunjukkan jam 9 pas, namun seperti biasanya Elena tidak langsung tidur setelah mamanya pergi dan menutup rapat pintu kamarnya.
"Hah ~". Begitu gumam Elena saat menerima terpaan lembut sang angin dibalkon kamarnya.
"Papa sebenarnya kapan papa pulang ??".
"Elena rindu papa". Kalimat itu kembali terlontar dari bibir mungil sang gadis yang menatap bintang-bintang.
Sambil menatap bintang Elena selalu memejamkan matanya seraya membayangkan sang ayah mengecup dahinya dan mengucapkan selamat malam kepadanya.
Namun tak jarang pula ia membayangkan sang ayah melambungkan tubuhnya ke langit sambil berkata.
"Anak papa yang cantik, kamu pasti akan jadi orang besar besok".
"Percayalah, papa akan selalu mengikuti langkah mu sayang".
Itulah bayangan yang selalu ada di kepala Elena, hanya dengan bayangan itu Elena sudah merasa senang dan tersenyum lebar, sambil berkata bahwa ia yakin papa akan pulang suatu saat nanti.
sedangkan sang ibu, ia tak dapat dibohongi, ibu Elena ternyata mengetahui apa yang selalu anaknya ini lakukan dilarut malam penuh bintang.
Tanpa disadari air mata sang ibu jatuh dan membasahi pipinya.
"Maaf kan mama Elena, mama tidak yakin papa bisa pulang. Namun percayalah papa selalu mengawasi kita dari langit dan bintang".
~Tamat~
Catatan author:
Cinta tidak hanya ada diantara dua orang kekasih, namun antara ayah dan anak pun bisa terajut cinta sejati yang sebenarnya. Cinta yang membuat perasaan merindukan, cinta yang membuat perasaan menunggu sesuatu yang tak pasti pulang, dan cinta yang selalu membuat perasaan ingin melindungi. Itulah cinta yang author percaya.
Bagaimana dengan cinta bagi kalian ???.