Aku berdiri di depan hamparan tanah yang luas namun kosong tak ada satu pun manusia yang ku temui kecuali makhluk bernapas yang tak mengerti apa yang sedang ucapkan sekarang. Rumput hijau yang menemani lahan kosong itu terus bergoyang bersama angin yang berhembus ke sana kemari, rambut ku pun ikut menari-nari karena tiupan angin itu.
"Nyau.. Ini sangat menenangkan." Ucapku yang kemudian duduk sambil mengelus munyau yaitu kucing kesayanganku.
"Miaw.." Kucingku hanya menjawab ku dengan suara itu.
Aku tersenyum kepadanya, namun tak lama kemudian entah kenapa Munyau tidak bergerak aktif seperti biasanya. Ia hanya duduk di sampingku. Awalnya aku tak sadar, ku kira Ia sedang tertidur namun saat aku ingin mengajaknya pulang. Ia tak bergerak sama sekali, aku berusaha membangunkannya dengan memanggil-manggil namanya tapi tetap saja Ia tak bergerak.
"Nyau.. Bangun.." Ucapku sambil menitikkan air mata yang tanpa sadar.
Kini deraian air mata terus saja mengalir lewat ujung pelupuk mataku. Rasanya aku telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Munyau yang selama ini selalu menemaniku sejak kecil hingga aku sudah tumbuh menjadi remaja, dia adalah teman bermainku, teman curhatku dan segalanya. Tapi kini Ia pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku sangat menyayanginya tapi kenapa dia pergi secepat ini?
Namaku adalah Nina Alicia yang sering di panggil Nina. Sejak aku masuk SD aku tinggal dengan nenekku. Orang tuaku bercerai saat aku akan masuk sekolah, mereka menyuruhku untuk memilih ikut siapa diantara Ayah atau Ibu. Tapi saat itu karena aku nyaman tinggal di sebuah pedesaan ini jadi aku memutuskan untuk tetap berada di sini dan tak akan Ikut Ibu ataupun Ayah.
Waktu itu nenekku masih ada dan aku tinggal dengannya. Namun setelah 6 tahun kemudian nenekku pergi untuk selamanya. Saat aku hendak mau masuk SMP di umurku yang ke 12 tahun aku tinggal sendirian di desa nenekku ini, tak ada kerabat lain yang ku kenali, aku benar-benar sebatang kara yang tersisa hanyalah Munyau kucing kesayanganku.
Aku tak tau harus bagaimana karena pikiranku juga kosong. Ayah dan Ibu pun sama sekali tak peduli lagi denganku setelah mereka pergi. Berbagai masalah ku hadapi sendiri terutama soal keuangan. Aku tak memiliki uang sama sekali, uang yang diberikan nenek terakhir kali sudah habis dalam waktu 6 bulanan. Setelah itu aku benar-benar mau gila dan hampir bunuh diri. Tapi berkat Munyau yang waktu itu menghilang selama 2 hari aku mengurungkan niatku dan memilih untuk mencari Munyau. Aku sangat mengkhawatirkannya, dari ujung ke ujung desa aku berlarian mencarinya. Hingga aku menemukannya di sebuah PT yang tak jauh dari desa dan berkat itu aku mendapat kerjaan di sana. Aku bekerja sebagai buruh di PT mainan itu. Awalnya aku di tolak mentah tapi setelah aku menceritakan kondisiku entah kenapa akhirnya aku di terima namun hanya sebagai buruh harian. Berkat itu aku akhirnya masih bisa bertahan hidup.
Namun kini Munyai telah meninggalkanku untuk selamanya. Ia menutup matanya untuk terakhir kalinya. Aku tak bisa lagi menahan perihnya hati ini. Isakanku dalam tangis ini aku benar-benar sendirian. Aku tak tau harus memanggil nama siapa dalam tangis ini? Kalau orang lain menangis akan spontan memanggil Ibunya, sementara aku? Aku tak tau lagi harus menyebut siapa? Saat aku tinggal dengan Ibu dan Ayah aku menyebut nama mereka, saat aku tinggal dengan Nenek aku menyebut nenek, saat nenek tiada aku menyebut munyau tapi sekarang?
"Hiks.. Hiks.. Munyau.. Kenapa kamu pergi Nyau kemana lagi aku harus bersandar Nyau?"
Satu tahun berlalu setelah kepergian Munyau, aku masih bekerja di PT mainan itu dan juga sebagai karyawan harian karena umurku belum mencukupi.
Hari ini sepulang sekolah pukul 14:30 WIB aku berjalan menuju PT tempatku bekerja menyusuri jalan setapak yang terbuat dari semen. Sepintas aku melihat kucing yang melintas di hadapanku tapi ia bergerak terlalu cepat.
"Munyau?" Ucapku heran.
Bomm.. Tiba-tiba cahaya terang muncul di hadapanku dan itu membuatku refleks menutup mata.
"Astaga sinar apa ini?" Ucapku sambil menutup mata.
"Nina? Gimana kabarmu?"
Terdengar suara pria yang bertanya padaku, seketika tanganku langsung membiarkan mataku terbuka dan melihat siapa orang yang ada di hadapanku.
Mataku terbelalak, seorang pria berpostur tubuh tinggi sedang berdiri di hadapanku hingga membuatku harus mendongakkan kepala. Wajahnya terlihat sangat tampan di tambah lagi dia juga sedang tersenyum menawan. Aku benar-benar terhanyut dalam pandangan itu.
"Nina?" Tanya pria itu yang heran kenapa aku tak menjawab pertanyaannya.
"Em.. Maaf maaf, Kamu siapa ya?" Ucapku dengan salah tingkah.
"Aku Munyau."
"Munyau?"
Aku heran, "Munyau kan kucingku? kenapa namanya munyau? Eh?" Gumamku dalam hati.
Aku melototkan mataku pada Munyau dan seolah tak percaya dengan pemikiranku saat ini.
"Iya benar, aku munyau kucingmu. Aku merindukanmu Nina." Ucap Munyau sambil tersenyum.
"Gak.. Gak mungkin! Mana ada kucing tiba-tiba jadi manusia. Itu gak mungkin." Teriakku.
"Nina? Aku sebenarnya manusia juga, sama seperti kamu. Tapi karena aku terkena mantra sihir makanya aku jadi kucing dan kebetulan waktu itu kamu yang menyelamatkan aku sebagai kucing di tepi sungai. Jadi aku sangat berterima kasih padamu. Dan.."
Hahahaha... Aku tertawa lepas, Aku merasa seperti sedang dijahili oleh orang yang tak ku kenal.
"Bang.. Tolong ya, jangan ngadi-ngadi. Ini dunia nyata mana ada sihir-sihiran. Hahahaha.."
Munyau hanya menatap dingin padaku yang sedang tertawa ini. Ia berusaha untuk meyakinkanku
"Nina, apa kamu ingat? Waktu aku jadi kucingmu aku tak pernah masuk kamar saat kamu sedang mandi atau ganti baju."
Aku terdiam dan mulai berpikir mengingat-ingat kebenaran yang terjadi.
"Eh? Iya ya. Munyau selalu keluar kalau aku udah mau mandi dan.." Gumamku dalam hati.
"Jika kamu belum percaya juga, aku tau rahasia kamu. Kamu alergi rambutan kan? Dan juga kamu.."
"Sudah cukup." Potongku.
Aku melangkah maju dan memperhatikan Munyau dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu aku pun tak lupa mengeliling Munyau dan.. Ekor? tapi yang bisa menyaksikan adanya ekor kucing yang ada di belakang Munyau hanyalah aku.
"Astaga?" Ucapku kaget.
"Kamu sudah percaya kan?"
"Kenapa ekornya masih ada?" Tanyaku bingung.
"Karena ada sebuah misi yang harus ku selesaikan untuk menghilangkannya."
"Terus kenapa kamu mala menemui ku kalau gitu?" Tanyaku lagi.
"Karena misinya adalah membuatmu jatuh cinta padaku." Ucap Munyau.
Deg! Seketika jantungku berdetak sangat kencang saat mendengar ucapan Munyau barusan.
"Ke.. kenapa harus aku?"
"Karena aku sudah jatuh cinta denganmu sejak pertama kali bertemu denganmu dulu."
"Oh ya! Kenalin nama asliku adalah Ares, jadi jangan panggil lagi aku dengan kata Munyau." Ucap Munyau lagi.
Hahahaha.. Aku tertawa bahagia dan juga haru, akhirnya aku tak sendiri lagi. Kucing ya sangat ku sayangi ini kembali padamu namun dengan wujud yang berbeda.
"Nyau boleh aku menyandarkan kepalaku pada pundak mu." Pintaku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Cih.. Tanpa di minta pun aku mau." Ujar Ares.
Ares mendekap ku dalam pelukan yang hangat, dulu aku yang memeluknya dengan erat tapi kini ia yang mendekap ku demikian.
"Makasih Nyau, kamu kembali padaku dengan wujud ini. Aku seperti sedang berada di mimpi yang paling indah. Ku harap ini adalah nyata." Ucapku sambil menatap wajah Ares.
"Jangan panggil aku Munyau tapi Ares." Ujar Ares lalu mencubit hidung.
"Hei sakit." Teriakku padanya.
"Hah? Sakit? Ini bukan mimpi?" Teriakku lagi sambil memegang hidungku.
"Cih.. Makanya aku menyadarkan mu kalau ini memang bukan mimpi." Ucap Ares.
Aku benar-benar terbawa oleh perasaan bahagia sekaligus haru ini. Air mataku kini mengalir dengan deras aku terduduk di jalan setapak nan sepi itu menangis sambil menyebut dengan nama Munyau.
"Sebut saja namaku kalau kamu sedang sedih, jadi kamu tak perlu menyebut yang lain ya? Karena aku akan selalu di sisimu. Aku janji." Ucap Ares yang ikut duduk lalu memelukku sejenak.
"Hiks.. Hiks.. Munyau.."
"Sebut munyau nya kalau kita lagi berdua aja ya? Jangan di hadapan orang lain." Ucap Ares.