Aku tidak mengerti kapan aku mencintai mu, tapi aku merasa nyaman saat berada di dekat mu. Selalu ada rindu saat aku tidak melihat mu, apakah itu definisi cinta?
Alisa Mahira, gadis cantik yang sangat pintar dan mandiri. Orang tua Alisa meninggal saat diri nya masih kecil. Selama ini Alisa bertahan hidup hanya dengan bekerja di sebuah Caffe.
" Aksa " Monolog Alisa.
Alisa segera menghampiri Aksa, bahkan beberapa kali Alisa sudah meneriaki nama pria itu. Tapi pria itu sama sekali tidak menoleh ke arah Alisa, seolah - olah tidak menganggap ada nya Alisa.
" Aksa!! " Alisa meraih tangan Aksa, namun Aksa menghempas tangan Alisa kasar.
" Aksa, ada apa dengan mu? Apa aku memiliki salah hum? " Alisa menatap nanar wajah Aksa, meminta penjelasan atas perlakuan Aksa padanya.
" Jangan dekati aku lagi!!! " Hanya itu yang dengar dari mulut Aksa, bahkan Aksa sama sekali tidak melihat ke arah Alisa.
" Ke - kenapa? " Alisa berusaha menahan tangis nya, ia tidak ingin menangis di hadapan Aksa.
" Karna aku memiliki kekasih Alisa!! " Bentak Aksa.
Jderrr
Bagai di sambar petir di siang bolong, Alisa terduduk lemas di atas rerumputan, akal sehat nya seolah terhenti, lidah nya terasa kelu, hanya ada air mata yang terus menetes, seolah menggambarkan suasana hati nya yang tidak baik - baik saja.
'Kenapa Aksa? Kenapa? Bukan ini yang kamu tunggu - tunggu? Kamu menunggu ku agar aku bisa mencintai mu, tapi setelah aku benar - benar mencintai mu kenapa kamu seperti ini?' Alisa membatin, menatap kepergian Aksa yang sudah tidak terlihat lagi. Alisa sangat benci di bentak, Alisa benci kekerasan. Karna itu hanya akan mengingatkan Alisa pada kejadian di masa lalu.
" Alisa!! " Panggil Naura.
Naura membantu Alisa berdiri dan segera memeluk gadis itu. Naura mengerti bahwa saat ini Alisa sedang tidak baik - baik saja.
" Jangan menangis disini Alisa, lihat lah semua orang memperhatikan mu " Ucap Naura.
Alisa tak bergeming, namun menurut saja kemana Naura membawa nya.
" Duduk dan menangis lah sepuas nya disini "
Saat ini Naura membawa Alisa ke halaman belakang Caffe.
" Hiks...hiks dia jahat!! " Alisa memeluk erat Naura.
" Apa yang sebenarnya terjadi hmm? " Naura merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Alisa.
" Aku tidak mengerti, tapi dia berubah, dia bukan dia yang aku kenal dulu " Lirih Alisa.
" Mungkin dia ada masalah, cobalah berpikir positif Alisa " Balas Naura.
" Tidak, dia sudah memiliki kekasih "
" Apa? Tapi bagaimana mungkin? Bukan kah dia sangat mencintai mu? " Tanya Naura.
Alisa tidak menjawab, tangis nya kembali pecah mengingat kejadian barusan.
" Jangan menangis lagi, tidak ada guna nya menangisi pria yang tidak mempedulikan mu. Ikhlas kan dia, aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaan yang lebih di diri orang lain " Naura kembali memeluk Alisa.
🍁🍁🍁
Keadaan Alisa sudah cukup membaik, saat ini Alisa tengah bersiap ke tempat kerja.
" Oke Alisa, perlihatkan senyum mu dan sembunyikan kesedihan mu. Kalau dia bisa bahagia tanpa kamu, lalu kenapa kamu tidak? " Alisa berucap di depan cermin.
Baru saja Alisa membuka pintu, di depan nya sudah ada Adit.
" Adit? Kamu ngapain pagi - pagi gini kesini? " Tanya Alisa heran.
" Ya mau jemput kamu lah, emang jemput siapa lagi? " Adit terkekeh.
Akhir nya pagi itu Alisa di antar Adit ke tempat kerja. Biasa nya selalu Aksa yang mengantarkannya. Tapi setelah kejadian beberapa hari lalu, semua nya sudah berubah.
" Arrrgggghhh " Aksa mengerang keras saat tau Alisa di antar oleh pria.
'Aku tidak tahan melihat nya bersama pria lain, tapi aku tidak bisa melakukan apa - apa selain diam dan menahan semua nya, semoga ini pilihan yang tepat' Batin Aksa.
🍁🍁🍁
" Aksa, lo kenapa? " Tanya Erik.
" Gue gapapa kok "
" Yang gue tau sekarang lo sama Alisa berantem yah? Nggak baik man lama - lama berantem, ntar Alisa nyaman loh sama cowok lain " Ucap Erik.
Aksa mengepalkan tangan nya, yang di bilang Erik memang benar. Tapi apa yang bisa Aksa lakukan? Ia tidak berdaya dengan keadaan.
Ting
Alisa yang tengah sibuk bekerja tak menghiraukan dering ponsel nya. Namun lagi - lagi dering pesan masuk, karna penasaran mau tidak mau Alisa melihat nya. Mata Alisa membulat sempurna saat mendapati pesan itu dari Aksa. Pria yang selalu ia rindukan akhir - akhir ini, pria yang selalu ia tangisi setiap malam.
[Kita bertemu di belakang Caffe]
[Penting!!]
Alisa mengerutkan kening nya, hal apalagi yang ingin pria itu bicarakan? Sepenting apa jika pria itu mendesak nya? Tak ingin menerka - nerka, Alisa segera ke belakang Caffe setelah mendapat izin dari Mbak Chintya pemilik Caffe.
" Kenapa? " Alisa mencoba bertanya setenang mungkin.
" Aku gak suka kamu di antar jemput sama cowok " Hanya kata itu yang keluar dari mulut Aksa.
Alisa tersenyum getir, memang nya Aksa siapa? Hingga ia bisa melarang Alisa dekat cowok lain. Bukan kah Aksa sendiri yang sudah menjauhinya?
" Kenapa? Dia baik dan perhatian " Balas Alisa.
" Aku tidak suka!! Kamu harus menjauhinya!! " Titah Aksa lagi.
" Kenapa aku harus menjauhinya? Dan kenapa juga kamu marah seperti ini? Kamu boleh marah aku dekat sama cowok lain asal aku pacar kamu " Alisa tersenyum sinis menatap Aksa.
" Aku tidak mau tau, jauhi dia atau dia akan terkena masalah? " Aksa menatap tajam ke arah Alisa, setelah nya segera pergi meninggalkan Alisa dengan segudang pertanyaan.
'Kamu egois Aksa, kamu tidak membiarkan aku dekat dengan cowok lain. Sedang kamu sendiri berpacaran dengan cewek lain, apa kamu tidak bisa mengerti dengan perasaan ku?' Alisa menatap sendu kepergian Aksa, ia benar - benar tidak mengerti dengan pikiran pria itu.
🍁🍁🍁
'Apa jujur adalah yang terbaik?' Aksa membatin sendiri.
Saat ini Aksa sedang berada di depan rumah Alisa, dan itu Aksa lakukan setiap hari.
Alisa menutup pintu rumah nya, berjalan ke tepian jalan raya untuk menunggu taksi yang melintas.
" Alisa!! "
Merasa nama nya di panggil, Alisa segera menoleh.
" Alisa tunggu!! Aku ingin bicara " Ucap Aksa.
" Kamu mau bicara apa hmm? Ingin menyuruh ku lagi? " Kali ini suara Alisa meninggi.
" Bukan, aku hanya ingin menunjukkan ini " Aksa menyodorkan sebuah amplop coklat ke arah Alisa.
" Apa lagi ini? " Tanya Alisa.
Alisa segera mengambil foto itu, ia mengernyit heran. Itu adalah foto nya sejak kecil, lalu siapa foto cowok yang di gendong oleh almarhum Papa nya?
" Apa maksud nya ini? " Tanya Alisa.
" Aku sudah mencoba untuk menahan nya sendiri, tapi aku tidak kuat. Aku tidak bisa jika harus di benci sama kamu, itulah kenapa aku mengatakan semua nya hari ini. Aku harap kamu tidak pernah membenci ku " Lirih Aksa.
" Katakan yang jelas Aksa!! " Alisa sudah berkaca - kaca.
" Foto itu adalah foto keluarga, dan kamu adalah adik ku Alisa. Itulah kenapa aku menjauhi mu " Lirih Aksa.
Alisa terduduk lemas di atas aspal, semua nya begitu sulit untuk di percaya. Tapi foto itu seolah sudah menjadi bukti nyata bahwa mereka bersaudara.
" Awal nya aku juga tidak percaya, tapi aku kembali menemukan fotocopy akta kelahiran, dan itu atas nama kamu " Aksa membantu Alisa berdiri, ia bisa mengerti bahwa Alisa syok. Tapi cepat atau lambat Alisa juga harus tahu semua nya.
" Aku mengerti apa yang kamu rasakan, memangis lah jika itu membuat mu tenang " Aksa membawa Alisa ke pelukannya. Gadis itu tidak tahu apakah harus sedih atau bahagia. Setidak nya sekarang ia hidup tidak sebatang kara karna masih ada sang Kakak. Tapi bagaimana dengan perasaan nya? Tidak mungkin juga ia terus jatuh cinta pada Aksa, yang notabene nya adalah saudara nya sendiri.
🍁🍁🍁
Kalau mau cerita panjang nya bisa follow Instagram @arbayahsabrina. Kalian bisa DM langsung nanti akan aku kirim cerita nya. Oghey jangan lupa ramaikan cerpen ini, love you all❤️