✨ Stella POV
Masih di minggu yang sama namun berbeda waktu dan tempat. Hari ini adalah hari dimana kak Rico berulang tahun. Kami memutuskan untuk memberinya kejutan.
Nanti Abang suka gak yah? Kalau gak suka gimana nih? Tapi, Abang dikasih doa aja senang. Aduhhh, gimana yah?. Entah kenapa baru kali ini aku terlalu Overthinking. Aku terus memikirkan apa yang akan terjadi bila Abang tidak suka dengan kejutan yang kami buat.
"Dek tolong bantuin mama angkat kue". Kata mama membuyarkan lamunanku.
"Ehh....Baik ma". Sahutku.
Saat aku membuka pintu kitchen tercium aroma semerbak wangi kue. Aku menghirup napas dalam-dalam. Hanya mencium aroma kue buatan mama saja aku sudah kenyang apalagi kalau sudah makan kuenya pasti kenyang 1 Minggu nih.
"Ayo ma kita angkat". Sahutku yang dibalas anggukan. Saat kita meletakkan kue di atas meja kebetulan sekali kak Kayra datang. Dia tersenyum ke arah kami.
"Oh tuhan cahaya apa yang anda berikan kepada kak Kayra, sangat silau". Ujar ku membuat semua orang yang berada di rumah tertawa.
Lah emang ucapanku lucu? Emang sih kalau kak Kayra udah senyum seakan-akan matahari berada di belakang dan akan bermunculan bunga mawar di sekelilingnya. Siapapun yang melihatnya pasti berpikir bahwa kak Kayra adalah malaikat. Kak Kayra berjalan menuju arah mama dan papa kemudian Salim. "Selamat sore Tante, selamat sore Om".
"Yaampun Kayra anak kesayangan Tante udah besar yah? Kamu kenapa sih jarang banget mampir ke rumah. Padahal Tante selalu buat kue kesukaan kamu". Ujar mama sambil memeluk kak Kayra.
"Sekarang Kayra sibuk ngerjain tugas yang diberikan mama. Kata mama Kay harus meneruskan bisnis properti keluarga kami". Sahut kak Kayra sambil memanyunkan bibirnya yang kecil.
"Jadi Ika membuat anak kesayangku bekerja dengan keras. Awas aja kalau Ika datang kemari. Mama akan memarahinya". Jawab mama sambil mengelus rambut kak Kayra.
Yah begitulah. Di rumah ini anak yang paling di sayang orang tua kami adalah Bang Rico dan kak Kayra. Yah, meskipun seperti itu aku sudah cukup bahagia melihat keluarga besar kami tersenyum.
Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki Jova turun dari lantai atas. Dia melihatku yang sedang menyiapkan piring. Dengan tergesa-gesa dia menghampiriku.
"Kak ada berita bagus nih. Mau tahu gak beritanya apa?". Ucapannya antusias. Aku menggeleng sambil merapikan semua yang berada di atas meja.
"Ya ampun kak, bilang kepo gitu loh biar aku seneng". Gerutunya.
Aku tersenyum dan mengangguk. "Emang ada berita apa?".
Jova berbisik ke arahku. Aku tak percaya dengan apa yang Jova katakan. Namun, bagaimana aku tidak percaya semua informasi yang dia terima itu selalu real dan terpercaya.
"Beneran? Bagaimana bisa?". Tanyaku dengan pelan.
"Yah mana aku tahu, tanya aja sama orang yang bersangkutan". Ucapnya meninggikan suara.
"Ela sama Jova kenapa berisik? Sini bantuin mama. Jangan cuma lihat aja dong".
Aku mendengus kesal mendengar apa yang mama ucapakan. Selama ini aku ngapain aja ha? kalau gak bantuin mama. Nih! tadi aku habis ngelap meja, bersiin seisi rumah, ngepel, perbaiki hiasan pesta. Ternyata selama ini mama tidak memerhatikan kegiatanku.
Sad banget. Kami berjalan ke arah mama dan membantunya merangkai sisa-sisa hiasan. Aku masih memikirkan apa yang dikatakan Jova. Apa itu benar? Kalau itu nyata bagaimana dengan kak Kayra?
✨Rico POV
Aku berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Suara burung-burung terdengar bersahutan membuat melodi yang indah bersama angin. Samar-samar terdengar suara gitar dipetik.
Aku sangat penasaran siapakah orang yang bermain alat musik sepagi ini. Suara melodi yang indah menuntun ku. Sesampai di depan batu besar ku lihat Malaikat? Bukan njir, dia Lexa teman sekelasku.
Jujur aku tidak tahu kalau Lexa memiliki sisi yang sangat imut. Di sekolah ia terkenal karena bersifat dingin, cool, sedikit nakal dan ber embel-embel anak holkay. Aku duduk membelakangi Lexa dan mendengarkan setiap melodi yang mengalir dari gitar yang ia mainkan.
Saat permainannya terhenti aku membuka mata dan melihat Lexa sudah berada di depanku. "Astaga bikin kaget aja". Ucapku terkejut.
Lexa tertawa dan duduk di sebelahku. "Kenapa kamu ada disini?" Ujarnya sambil memainkan sinar gitar.
"Entahlah, tadi aku mendengar alunan musik yang menuntunku sampai ke sini dan tak sengaja melihatmu bermain gitar dengan sempurna. Aku tidak tahu kalau kamu pandai bermain alat musik".
Lexa menatap wajahku kemudian dia tertawa. "Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu? Hahahaha".
"Aku tidak pandai memainkan alat musik tapi aku suka bermain senar gitar" Timpalnya.
"Tapi, melodi yang tercipta sangat indah". Jawabku antusias. Dia menatap wajahku lagi. Sepertinya dia berbicara namun entahlah aku tidak mendengar apa yang ia katakan karena terhalang suara mesin pemotong rumput.
Kami mulai bercerita antara satu sama lain. Mulai dari hobi, kesukaan, makanan, dan hal-hal yang tidak kami sukai. Kami mulai tertawa saat melihat orang lain terjatuh. Memang sangat seru melihat orang lain menderita.
Sejak saat itu hatiku mulai merasakan debaran yang kuat. Rasanya ketika bertatapan dengan Lexa wajahku memanas, jantungku berdebar, dan sangat sulit untuk melihat wajahnya. Apa mungkin sekarang aku sedang jatuh cinta?. Benar begitu kan?.
Sudah 1 jam kami mengobrol tak beberapa lama orang-orang berjas rapi menghampiri Lexa. Ia tersenyum dan memberikan gitarnya. "Sampai bertemu di sekolah". Ujarnya. Setelah ia menaiki mobil aku berjalan menuju rumah.
"Astaga, ngapain aku jalan-jalan sampai kampung sebelah. Haduh mana gak ada ojek lagi". Gerutuku sambil celingak-celinguk mencari Kang ojek.
Sesampainya di rumah aku ingin rebahan santuy. Tubuhku sudah cepek dan bau keringat. "Apa mandi dulu yah?". Saat aku membuka pintu rumah sangat gelap.
Aku berjalan menuju arah saklar. "Tumben belum ada yang pulang".
Saat aku menyalakan lampunya. Cklek...DOR....Suara balon meletus membuatku dan orang lain terkejut. Kulihat mereka semua berada di rumah dengan membawa hiasan ulang tahun.
"Jov giman sih? Ngagetin aja". Ucap Kayra sambil menepuk pundak Jova.
Jova hanya tersenyum sesekali tertawa "Yah...Maaaf kak, aku tadi gak sengaja injak balon habisnya gelap banget nih, lihat tuh si Stella ketakutan". Ucapnya sambil melihat wajah Stella yang ketakutan.
Seketika tawaku pecah. Lihatlah ekspresi takut dan terkejut mereka. Jika saja aku tahu pasti sudah aku rekam. Mama datang menghampiriku dengan membawa kue.
Mama dan papa memelukku sambil mengatakan "Selamat ulang tahun sayang".
"Happy Birthday to you". Suara lantunan musik terdengar. Dengan hati yang riang kami menikmati indahnya kebersamaan.
Suatu momen akan lebih indah ketika kita bersama dengan orang yang kita sayangi
TBC