Memunah membelokkan stang sepeda motor bebeknya ke arah pom bensin, rupanya jarum indikator bensinnya sudah memelas minta di isi. Pagi ini ia terlihat terburu-buru sekali, setelah berbelanja dari pasar ia harus segera pulang karena mesti memasak dan menyiapkan diri karena anaknya ada pelajaran daring.
Ketika sedang antri isi bensin, Memunah melihat seorang pemuda ganteng dan gagah antri di belakangnya. Wajahnya yang ganteng, postur tubuh yang atletis, dan motornya yang keren semakin membuat Memunah betah untuk curi-curi pandang. Lumayanlah buat cuci mata, selama ini yang dilihat di rumah hanya si Slamet, suaminya. Bosen. Boleh lah sesekali lihat yang seger-seger.
Memunah serasa menjadi muda kembali, ia jadi membayangkan, andai saja ia masih muda, sepertinya serasi dengan pemuda ganteng itu. Memunah jadi senyum-senyum sendiri membayangkan jadi pasangan pemuda itu.
"Berapa, Bu?" Suara petugas pom membuyarkan lamunan Memunah.
"Eh, iya, ganteng banget, eh, anu, sepuluh ribu saja, Mas." Maemunah terlihat gelagapan.
Melihat tingkah Memunah, petugas pom hanya geleng-geleng kepala saja.
Setelah usai mengisi bensin, Memunah segera tancap gas, ia jadi ingat kalau anaknya mesti daring, sudah pukul delapan. Sebelum berlalu, tentu matanya tak lupa melirik pria ganteng yang antri di belakangnya tadi. Memunah tersenyum lagi.
Setelah berkendara kurang lebih 500 meter dari pom, Memunah berhenti. Ada lampu merah. Iseng dia membetulkan kaca spionnya, terlihat dari spionnya pemuda ganteng tadi yang di pom. Spontan ia menoleh untuk memastikan, dan memang benar, si ganteng dengan moge-nya sudah ada di belakangnya. Hati Memunah semakin tidak karuan.
Lampu lalu lintas menyala hijau, mau tau mau Memunah segera tancap gas. Setelah berjalan beberapa puluh meter, ia iseng melirik spion lagi, dan pemuda itu masih ada. Hati Memunah semakin membuncah.
Tiba-tiba ia ingat lagi kalau ia harus segera bergegas. Dibetot gasnya lagi, meski ia sudah tidak muda lagi tetapi ngebut sudah biasa. Waktu kecil juara langganan lomba balap karung dia.
Setelah berjalan kurang lebih 300 meter, Memunah melihat spion lagi. Si pemuda masih saja di belakangnya. Dia penasaran, apa pemuda ini sudah jatuh hati sama aku? Pikirnya.
Dia ingin memastikan lagi apakah pemuda itu tengah mengikutinya atau kebetulan saja searah. Di depan sana ada pertigaan, ia pun belok kanan. Ia lihat spion lagi. Gila! Pemuda itu benar-benar mengikuti.
"Pasti. Ini tidak salah lagi. Pemuda itu kepincut sama, aku." Memunah berbicara sendiri.
Memunah terus mengawasi kaca spion, gas masih terus ia betot. Memunah belok kanan lagi, pemuda itu ikut juga. Diam-diam Memunah jadi takut juga. Apa pesonaku sangat memukau? Sehingga pemuda itu begitu tergila-gila? Kata Memunah dalam hati.
Kalau tadi Memunah mengharapkan pemuda itu, kini justru dia mendadak takut. Sempat terlintas, jangan-jangan pemuda itu begal. Ah, masa iya ganteng-ganteng begal? Misal begal pun apa yang mau di begal? Motor butut? Dompet kosong? Masa ia sayur-sayuran mau diambil? Pikirnya. Lagi pula pagi-pagi begini masa iya mau membegal?
Apa jangan-jangan pemuda itu benar-benar terpesona dengan Memunah? Lantas ingin mengajak kenalan? Ya, meski umur Memunah sudah kepala lima, tapi sisa-sisa kecantikan masa muda masih belum hilang sepenuhnya. Ah, barangkali pemuda itu suka tipe wanita yang matang dan berpengalaman, pikir Memunah lagi.
Tidak-tidak, tadi cuman iseng-iseng saja. Ia kini sudah punya Slamet. Meski sudah bosan sama suaminya, tapi tetap masih cinta. Nggak berani kalau mesti selingkuh.
Tin! Tin! Tin!
"Benar-benar nekat! Pemuda itu pasti sudah tergila-gila denganku rupanya," ujar Memunah lirih.
Tin! Tin! Tin!
Pemuda itu membunyikan klaksonnya lagi. Memunah semakin takut, nanti bagaimana nasib suami dan anak-anaknya.
Brum!
Kini motor lelaki ganteng itu malah mepet ke arah Memunah. Memunah makin ketar-ketir.
Perlahan Memunah memelankan motornya. Ternyata pemuda itu ikut berhenti.
"Mas, maaf banget. Saya sudah punya suami dan anak tiga. Aku nggak mau macam-macam," kata Memunah begitu motornya berhenti.
"Apaan, sih, Bu? Saya mengejar ibu karena mau mengingatkan, itu standar motornya lupa belum dinaikkan. Bahaya itu, Bu," ujar pemuda ganteng itu singkat kemudian berlalu.
Memunah langsung kayang.
TAMAT.