Aku seringkali mendengar bahwa cinta itu buta. Tetapi sesungguhnya aku pun ragu. Cinta apa atau bagaimanakah yang di maksud orang-orang itu? Apakah cintaku kepadamu juga masuk kategori cinta buta itu?
Ada yang bilang juga bahwa cinta tak harus memiliki. Barangkali ini aku agak setuju. Meski idealnya siapapun saja yang mencinta siapa pasti ada rasa ingin memiliki juga, bahkan mungkin ingin menguasai.
Tetapi aku tidak berani melangkah terlalu jauh. Itu jelas mustahil, aku memang mencintaimu, tetapi biarlah tidak memilikimu. Aku mengangumimu saja sudah cukup membuatku bahagia.
Entah sejak kapan perasaan yang tak lazim ini tumbuh. Ia mengalir begitu saja tanpa aku minta. Barangkali karena perhatianmu dan rasa kasihmu yang tulus itu membuatku diam-diam mengagumimu lantas tumbuh menjadi semacam cinta. Entah cinta macam apa yang aku rasakan.
Yang jelas tanda-tanda itu ada sejak aku mengenalmu. Setelahnya, sehari saja aku tak melihat senyumanmu yang indah menawan, mendengar suaramu yang penuh kelembutan, dan belaianmu yang penuh ketulusan itu aku begitu rindu. Benar-benar rindu.
Setiap detik rindu itu kian merajamku tanpa ampun, tatkala kau berada jauh dariku. Misal, kamu sibuk dengan urusan pekerjan atau sibuk dengan teman-temanmu. Aku tidak marah, toh itu adalah duniamu, dan tentu aku tak punya hak sedikitpun untuk ikut campur urusanmu. Bagiku melihat senyum kebahagiaanmu sudah menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidupku.
Aku bersikap begitu bukannya aku tak punya rasa cemburu, tentu aku juga punya rasa cemburu. Bukankah salah satu bukti cinta adalah cemburu? Tapi aku lebih tahu diri, lantas kemudian tersenyum sendiri ketika aku lihat aku ini siapa. Benar-benar tidak pantas bersanding denganmu. Maksudku bersanding dengan dua sosok insan yang menjalin hubungan cinta. Ah, kau pasti tau maksudku, bukan?
Bukti lain bahwa cintaku hanya tertuju kepadamu adalah aku selalu megacuhkan, ketika Betty, tetangga sebelah sering menggodaku. Bukan aku tidak tertarik, tentu aku juga tertarik. Bahkan seharusnya mungkin Betty lebih cocok denganku. Karena ia lebih dekat denganku. Baik secara fisik, kenyataan, maupun fitrahnya denganku.
"Apa kamu sudah gila, Jhon? Apa otakmu waras sehingga berani mencintai wanita itu?" kata Betty suatu hari kepadaku, ketika aku terang-terangan menolak cintanya karena alasan bahwa cintaku hanya buatmu.
Betty kurang apa, dia cantik, bulu matanya lentik, tubuhnya halus, dan suaranya merdu menusuk kalbu, tapi tetap saja cinta tidak bisa dipaksa, bukan? Termasuk cintaku kepadamu tidak bisa di paksa meski aku dan denganmu begitu jauh jarak takdirnya.
Hari ini aku menunggu di depan rumah. Sudah dua hari tidak bertemu denganmu karena kau pamit mau keluar kota ada urusan kerjaanmu. Sungguh meronta rasa rinduku, bergelora tiada menentu. Aku kangen belaian dan sentuhan tulusmu. Sehingga seringa aku lupa siapa aku sebenarnya.
Terkadang aku protes kepada Tuhan. Kenapa aku ditakdirkan begini jauh denganmu, meski aku secara jarak dekat denganmu bahkan serumah denganmu. Tapi lagi-lagi aku tahu diri, bahwa itu tidak mungkin. Dan akhirnya aku pun pasrah. Lalu kepasrahan itu membawaku kepada kondisi ikhlas, yakni dengan cukup mencintaimu saja tanpa ada perlu memilikimu sudah merupakan kebahagiaan yang begitu besar bagiku.
Aku tahu sebenarnya kamu juga cinta kepadaku. Tapi aku lebih tahu bahwa cintamu itu berbeda dengan cintaku kepadamu dan cinta yang aku harapkan. Ah, sudahlah. Kenapa aku harus mengharap lebih lagi? Bukankah aku telah ikhlas hanya dengan mencintaimu saja sudah cukup?
Samar-samar aku dengar suara mobil menderu di depan. Ah, itu pasti kamu, aku lebih dari sekedar hapal. Akhirnya, aku bisa bermanja-manja lagi denganmu.
Kau turun perlahan turun dari mobil, kemudian berjalan ke masuk ke rumah. Di depan pintu aku sudah siap menyambutmu, ah lebih tepat siap memelukmu. Dan benar, matamu berbinar bahagia ketika melihatku dan bergegas menghambur kearahku.
"Jhony, kucingku sayang, aku kangen sama kamu. Sudah makan? Duh, kok tambah, kurus, sih? Bi ...Bi Ijah, tolong beri makan si Jhony, ya. Kasihan kayaknya lapar." Kamu berteriak sembari memelukku gemas.
Aku lihat dari sela pelukannmu, si Betty tetangga sebelah terlihat cemburu. Mungkin pikirnya, bahwa aku lebih cocok dengan dia karena sama-sama kucingnya.
Betty jugalah yang sering menyadarkanku kembali kepada realitas, bahwa cintaku kepadamu mustahil bersatu.
Maafkan aku, Betty. Aku putuskan bahwa cintaku selamanya hanya buat majikanku.
TAMAT.