Please, Mr. Broken Heart
"Jangan pernah ada kata cinta di antara kita," ucap Nico dengan nada yang pelan dan wajah tegas. Namun bagiku, itu seperti sebuah tamparan atau jarum yang sangat tajam langsung menusuk ulu hati. Sakit.
Sepinya taman barmain, dingin angin dan senja yang semakin redup.
Untuk selanjutnya, interaksi kami berdua jadi kagok. Suatu sikap setelah sekian lama banyak menghabiskan waktu bersama mendadak sekarang interaksi antara aku dan dia jadi kagok. Bahkan aku tidak tahu harus berkata apalagi.
Seseorang yang begitu aku kenal menjelma menjadi sosok asing karena jawaban itu.
***
3 tahun yang lalu, aku mulai mengenal Nico. Saat itu hari pertama di SMU Bakti Pratama.
Aku berjalan tergesa bahkan sampai berlari karena jam pelajaran hampir dimulai. Ia tidak sendiri, ada beberapa siswa yang juga datang terlambat. Seseorang mengganjal langkahku.
"Aduh!" cetusku kaget dan terjatuh.
"Eh sorry sorry, tapi sengaja. Hahahaha!" seorang siswa dekil bertubuh ceking. rupanya ada orang yang mengakui perbuatan jahil itu.
Siswa dekil, ceking dan bertampang imut itu rupanya tidak sendiri. Ia terbahak-bahak bersama dua temannya. Tidak usah dibayangkan bagaimana rupa cowok dekil tapi imut itu. imut(item mutlak).
Dalam hati aku jadi bete sendiri. Ternyata masih ada bully-bullyan di jaman merdeka seperti ini.
Dengan berat hati aku bangun sambil menepuk-nepuk rok yang terkena debu. Perlahan aku menarik napas dan mengolah rasa sakit dan kaget tadi menjadi amarah dan keberanian. Aku berbalik, kekuatan sudah berkumpul di telapak tanganku dan wajah dekil dan imut itu begitu menggoda seperti bola volley yang suka aku gampar.
PLARRR!
Secepat kilat smash itu mengenai sasaran.
"Hahaha!" dua teman si Dekil itu malah tertawa. Seperti dua bodyguard bodoh yang lucu melihat wajah bosnya mendadak merah padam.
"Apa! Mau gampar cewek!! Ayo! gue kagak takut!!" tukasku hampir seperti teriakan pedagang kaki lima yang memancing perhatian.
"Halah. Sikat Bos!"
"Udah, Gibeng aja! Songong nih cewek," desak dua teman si Dekil. Si Dekil rupanya masih punya malu atau sedikit Pink dalam hatinya. Telapak tangan si Dekil sudah bergetar dan hidungnya sudah mendengus.
Aku merasa menang dan dugaanku benar, mana tega tuh cowok Dekil merusak pipi gue yang menor.
Tapi dugaanku salah, si Dekil, pantasnya dijuluki the Killer Quinn. Si Dekil kini melayangkan serangan balik. Tapi secepat kilat, serangan itu ada yang menahan.
"Banci Lo An**ng! Beraninya sama cewek," ucap sang Pahlawan. Ingat kata pahlawan, aku jadi ingat kata 'Kesiangan'. Aku pun terkesiap dan segera berlari melewati gerbang. Seorang Satpam dari arah dalam sekolah yang tertarik karena kerumunan berpapasan denganku.
"Woy!! Kalian mau belajar apa mau jadi preman!"
Aku tidak perduli apa yang terjadi antara si Dekil dkk dan pahlawan yang telah menyelamatkan pipi mulusku ini dari tangan kotor itu.
"Cowok sekarang berani kasar sama cewek," gumamku. Aku pun selamat. Pas masuk kelas, pelajaran baru akan dimulai. Aku melesat dan duduk sendiri di bangku yang tersisa.
***
Saat jam istirahat, saat aku baru saja bangkit dari kursi hendak ke kantin. Aku mendapati seorang Siswa berpenampilan urakan masuk kelas dan mendekati diri ini.
"Lo duduk sendiri?" ucap siswa urakan itu. Rambutnya acak-acakan dan pelipisnya diperban.
"Jangan-jangan cowok ini yang udah nyelametin gue tadi?" pikirku.
"Iya, iya aku sendiri," ucapku sambil sesekali mendelik. Cowok jangkung, putih dan dingin itu seperti kucing Persia yang kalem. Cuma kusut dan perlu perawatan.
"Lo gak apa-apa?" ucapnya tanpa menoleh dan kemudian duduk.
"Mmmm... engga. Jadi? Tadi yang bantu aku itu kamu?" ucapku.
"Iya, lain kali, bocah kayak gitu jangan diladenin," ucapnya.
senyap kemudian, aku tidak tahu harus ngomong apalagi. Selain,
"Makasih ya," ucapku pelan.
Ia tidak menjawab, sampai pelajaran di mulai dan sampai waktu pulang tiba. Kami tidak berkomunikasi lagi.
Ada satu hal yang perlu dicatat. Ada perasaan aman dan nyaman. Serasa punya seorang bodyguard atau kakak laki-laki.
"Hihihi," aku jadi lucu sendiri.
***
Sampai sore kemudian, di beranda belakang rumah yang menghadap langsung jemuran tetangga aku mesam-mesem sendiri. Tiba-tiba,
Sekelebat telapak tangan mengusap muka ini.
"Ups!!!" Aku pun kaget dan sangat terganggu. Rupanya Hani, kakakku.
"Hahaha! lo lagi ngayalin cowok ya bocah!" tukas Kak Hani sambil tertawa geli.
"Apaan sih, orang lagi bengong."
"Anak mana? Cakep ya? Curhat dong curhat," lanjut kak Hani sambil duduk dekat-dekat. Sampai-sampai tubuhku tergeser.
"Udah udah ah! mau ngerjain pe-er!" ketusku sambil berjingkat masuk rumah.
"Halah, alasan Luh!"
***
Besoknya, aku datang lagi ke sekolah, bertemu lagi dengannya, duduk satu bangku lagi dengannya. Bajunya kusut.
"Rajin amat Non, ngomentarin hidup orang," protesku dalam hati pada diri sendiri.
Jam pelajaran di mulai, Tapi gurunya tidak datang. Suasana yang tadinya tenang damai seperti di pemakaman. Tapi setelah kabar guru gak masuk, anak-anak pada heboh dan melakukan apa yang mereka suka. Ada yang ngerumpi, ada yang melanjutkan molor dan sebagainya. Tapi dia, yang ku kenal namanya saat perkenalan kelas kemarin namanya Nico.
Dia, pahlawan kalemku malah melipat-lipat selembar kertas. Gerakannya cepat dan dia tampak telaten sekali.
"Kamu suka origami yah," ucapku memecah kebekuan. Ia hanya mengangguk dan tetap serius pada pekerjaannya, melipat-lipat kertas. Aku pun jadi diam dan nyaman memperhatikannya. Tidak lama kemudian origami-nya jadi. Bagus sekali, sepertinya itu burung merpati. Bagus dan rapi.
"Nih, buat kamu," ucapnya, sambil mengacungkan merpati kertas itu.
"Wah, bagusnya. Beneran nih?"
"Ini," jawabnya.
"Nanti ajari aku bikin kayak gini yah," senyumku sambil menerima merpati kertas itu.
***
Sekarang merpati kertas yang telah usang itu aku pegang dengan berjuta rasa kangen.
***
"Tolong, jangan libatkan kata cinta."
***
Sejak ia membuatku tertarik untuk membuat origami, aku jadi sering berduaan dengannya. Sekedar belajar membuat origami.
"Kamu berbakat banget sih, dari SD ya, belajar origami?"
"Ibuku yang ngajarin," ia mulai menyebut dirinya dengan 'aku' bukan gue dan elu lagi. Tapi ada roman wajah yang suram ketika ia menyebut nama ibu atau saat aku menyinggung-nyinggung soal keluarganya. Ia sangat tertutup soal kehidupan pribadinya, rumahnya dimana, bapaknya siapa, ibunya siapa, adek-kakaknya ada berapa. Bahkan, sepengetahuanku. Di sini, ia hanya mau berbicara padaku. Seolah, di dunia ini hanya aku yang mampu berkomunikasi dengannya.
Sampai tak terasa, setiap jam istirahat kami makan berdua pulang sekolah berdua, dan kadang kami menghabiskan hari libur berdua sampai suatu senja. Ketika kami sedang asik berdua membuat origami di taman. Tangannya menyentuh tanganku. Awalnya ia kesal melihat aku yang sedang melipat kertas tapi gak jadi-jadi. Tapi ia dan aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang kami pahami. Aku perempuan dan dia laki-laki dan kami sedekat ini.
Ada sebuah rasa yang menjalar di sekujur tubuh ini ketika jemarinya lembut mengajari jemariku. Ada rasa nyaman namun mendebarkan. Sedetik kemudian, kami beradu pandang.
"Astaga, ternyata Nico tampan, baik, penyayang dan aku tertarik," batinku mendesir.
Tatapan kami terpaut, seperti dua perangkat yang sedang berkirim pesan melalui bluetooth. Pesan itu tidak terlihat. Tapi langsung meresap ke dalam hati masing-masing.
Sejak saat itu, kami semakin dekat. Kami sampai lupa diri, kadang aku nyuapin dia makan saat di kantin, bersandar di punggungnya saat naik motor menuju taman. Taman kota yang kumel, dan acak-acakan telah menjadi saksi kebersamaan kami.
hari berganti, musim berganti. Kami makin dekat, kadang ia bawa motor dan mengantarku pulang, kadang kami tidak membawa jas hujan dan malah hujan hujanan keliling kota.
Aku mulai berani melingkarkan tangan dan menempelkan dada saat di antar pulang, dan dia suka menapak di jalan berlubang atau ngerem tiba-tiba. Modus.
Aku merasa aman, aku merasa sesuatu tercukupi. Tapi satu ucapan seorang teman menyadarkanku akan satu hal.
"Cowok Lo mana?" ucap Sisi ketika kami kerja kelompok dan Nico gak datang.
"Gak tau," jawabku singkat.
Memang ucap Sisi itu wajar. Wajar kalau semua orang menganggap kami pacaran. Tapi? Ada sesuatu yang mengganjal di hati.
"Woy! Malah bengong, bunting Lo ya?"
"Set! Sembarangan!"
"Secara, sorry yah, Lo nya sih lengket amat," ucapan Sisi ada benarnya juga. Aku jadi memikirkan sesuatu dan besok lusa saat berdua di taman kota aku akan memberanikan diri.
Hari ini Nico tidak masuk sekolah dan saat sekarang hari libur saatnya kerja kelompok ia juga gak datang.
"Jangan jangan dia sakit," pikirku.
"Tapi kalo sakit, kenapa dia gak ngasih tahu aku?" pikiranku terus berkecamuk.
Kemarin aku masih melihat statusnya di FB. Tapi dua hari ini. Berandanya kosong.
NICO NICO NICO
Otakku penuh dengan Nico.
Kemana Nico?
Hari Seninnya, bangku di sebelahku kosong. Nico gak masuk lagi.
Sepulang sekolah, aku memberanikan diri menghampiri wali kelas. Aku menyarankan untuk menjenguk Nico.
"Dia alpha, gak ada surat keterangan sakit dari orangtuanya," jawab pak Budi.
"Boleh Nita tahu alamat rumahnya Pak," ucapku memberanikan diri. Mau tidak mau aku harus mendatangi rumahnya. Kucing Persia ku yang putih dan kalem, jangan-jangan dia sedang sakit.
Pukul 15:00 WIB
Aku turun dari grab dan menghadapi sebuah rumah mewah. Rumah dua lantai yang luas namun sepi.
Aku lihat lagi salinan alamat yang pak Budi berikan dan titik GPS di layar HP. Ini tidak salah.
"Kalo di lihat dari tampang dan warna kulitnya yang putih, pantas kalo ia anak orang kaya. Tapi kalo ingat seragamnya yang kusut, motor bebek bututnya dan penampilannya yang urankan? Ini seharusnya bukan rumahnya," pikirku.
Aku pun celingukan. Sepi. Tidak ada siapa-siapa. jarak dari gerbang ke pintu lumayan jauh. sekitar sepuluh meter. Pos satpam di balik gerbang pun sepertinya kosong. Aku sempat bingung. Ini kawasan perumahan elit, gak mungkin aku teriak-teriak. Tapi akhirnya aku menemukan bel.
Dasar kampungan
Bel aku tekan dan 1 menit kemudian seorang satpam nongol dari pos tidak jauh dari keberadaan diri ini yang sedang celingukan gak jelas.
"Yah, ada apa Neng?" tanya satpam itu seraya mendekat dan membuka gerbang.
"Teman sekolahnya Nico yah?" Seragam putih abu-abu yang masih melekat di tubuh ini sedikit membantu.
"Iya, Nico nya ada?"
"Maaf, Sudah dua hari ini den Nico ke luar negeri," ucap pak Satpam.
"Oh," wajahku sungguh Pilon.
"Saya kira Nico sakit, soalnya tiga hari gak masuk dan gak ada kabar,"
"Yah, begitu lah," ucap pak Satpam itu dengan wajah lesu.
Banyak sekali yang ingin aku tanyakan pada pak Satpam itu. Seperti, Dia ke luar negerinya ke negara mana? Sama siapa, ada keperluan apa. Tapi semua tanya itu tidak aku utarakan. Aku pamit saja dan aku cukup tahu diri. Siapa kah diri ini. Hanya anak kampung Jepit yang rumahnya terjepit di antara gedung-gedung pencakar langit kota ini.
Aku pulang dengan langkah yang lunglai. Ternyata aku telah salah menilai seseorang dari penampilannya saja. Aku kira ia anak orang biasa sepertiku. Ternyata ia anak orang kaya.
Walau aku masih remaja, aku tahu diri, mengharapkan anak orang kaya itu bukan sesuatu yang mudah untuk dijalani.
Aku bukan cewek matre, aku cewek dekil dan kampungan yang sebentar lagi jadi pengangguran. Aku bisa pastikan, bapak tidak akan sanggup membiayai kuliah.
Sesampainya ke rumah, aku langsung menubruk kak Hani. Bapak bekerja dan Ibu sedang jaga toko, jadi aku bebas menangis meraung-raung merangkul kakakku.
"Ya elah, Lo kenapa? Lo habis diperkosa?"
_Set dah! bisa gak sih gak ke situ-situ. Gue masih bocah dan banyak juga pembaca yang masih bocah_
Kali pertama dalam hidup ini, aku merasa sesak seperti ini. Walau ini bukan jaman Siti Marko'ah. Tapi status sosial tetaplah status sosial. Atau khayalanku terlalu jauh, atau terlalu banyak nonton sinetron. Dimana calon mertua kaya yang jahat menindas si pemeran utama yang miskin dan dengan segala cara menjauhkan keduanya.
Tapi ini bukan sinetron dan aku bukan pemeran utama yang hanya datang untuk di sakiti dan menderita sepanjang episode.
Aku mundur
Tapi saat malam tiba, hampir aku tertidur ketika sebuah pesan masuk.
Dari Nico
Setelah dua tiga lalu aku chat dia, sekedar menanyakan kenapa gak masuk.
Ternyata chat dari aku tiga hari yang lalu juga baru ia buka.
_Maaf hp aku ketinggalan, soalnya aku buru-buru_
Ternyata kucing Persia kesayanganku baik-baik saja.
Rasa kantukku hilang, semakin keras otak ini berusaha melupakan Nico, semakin kuat bayangannya mendekat. Bahkan aku yang meringkuk seolah tak berkutik. Di cengkram dan di peluk dari belakang oleh Nico.
"Nico, kamu udah pulang. Kamu gak usah masuk lagi besok. Bila perlu kamu gak usah masuk sekolah untuk selamanya," batinku.
***
@;@ maaf ngantuk, lanjut lagi besok. itupun kalo sempet 😁😁😁🤣🙏🙏🚴🚴