Pengecut!
Aku pengecut!
Aku orang yang lari karena takut, takut dengan apa yang akan terjadi.
Aku pengecut, seseorang yang hanya mampu memandang dan tak berani menyentuh.
Aku pengecut! Orang yang hanya ingin melihat meski tak ada keberanian untuk terluka.
Aku pengecut! Aku orang egois yang bodoh! Seseorang yang hanya mampu terkurung dalam rasa ini.
Rasaku padamu, adalah rasa seorang yang pengecut, aku adalah gelap yang menolak cahaya, enggan untuk bersama, namun tetap memandang.
Dan karena aku pengecut, makanya aku tak menjadi kayu yang rela termakan api karena cintanya.
Cintaku padamu, adalah sebuah ego semata, dari si pengecut, yang tak seharusnya mencintaimu.
🥀
Pagi-pagi sekali, Diarana telah berangkat, dia mengambil ponsel dan segera memesan taksi online, wajahnya terlihat sumringah.
saat taksi datang, buru-buru gadis itu naik, "Ke rumah sakit Gramaya, ya, Pak!" pekik gadis itu tiada henti tersenyum.
ponselnya berdering. Tertulis nama Devan disana, dia segera mengangkat telfon.
"Devan ...!" Air matanya luruh tak tertahan lagi, ini bukan air mata kesedihan tapi kebahagiaan.
"Van ... Elvan ... Elvan udah bangun dari koma!" ucapnya dengan air mata yang tiada henti sembari tersenyum senang.
Dari seberang telepon, Devan juga tersenyum begitu senang, "Kita ketemu di rumah sakit, ya?" ucapnya dari sambungan.
"Iya."
Tut ... tut ...
sambungan diputus, Diarana tiada henti tersenyum, dia mengucap syukur sebanyak-banyaknya.
gadis itu telah sampai di rumah sakit Gramaya, setelah membayar yang taksi di segera masuk. "Rana!" Seseorang memanggil dirinya, dia menoleh ke asal suara, cowok itu tersenyum sambil berlari dengan nafas gos-gosan.
"Ayo!" Mereka berdua segera masuk ke salah satu kamar rawat, seorang cowok yang terabaring disana tersenyum tipis.
Diarana tersenyum, dia terpaku sejenak, sudah berapa lama dia tak melihat senyum itu? Sudah 3 bulan lebih, Diarana begitu rindu, dia segera menerjang Elvan.
dupeluknya cowok itu erat-erat sembari meneteskan air mata bahagia, "Kenapa ... kenapa baru bangun sekarang!? Hiks, Elvan ... kamu nggak tahu, ya ... gue rindu banget tahu sama lo!!!" pekik gadis itu.
Elvan tersenyum sembari menepuk pelan punggung gadis itu, "Jangan cengeng," ujarnya membuat Diarana kesal.
"Kayak gini aja masih bisa negur aku? Huh, menyesal aku khawatirin kamu!" gerutu gadis itu.
Devan tak masuk ke dalam, dia tersenyum senang melihat Elvan dan Diarana kembali bersama, namun hatinya terasa sesak, begitu sakit dan tersa berlubang dan menimbulkan udara hampa, bibirnya melengkung, hanya senyum perih yang bisa dia tunjukkan sekarang, bukannya dia tidak senang melihat Elvan bangun dari koma.
ini tentang perasaannya, perasaannya pada Diarana. Apa dia bisa tahan melihat kebersamaan gadis yang dia cintai dengan laki-laki lain? Entahlah, Devan tak mungkin sekuat itu.
Devan mundur tiga langkah dari pintu masuk, dia tersenyum sejenak melihat mereka, dia kemudian pergi.
ponselnya berdering, "Kamu dimana? Kamu nggak jadi pergi, atau apa sih!?" ketus suara dari telepon.
"Iya, aku jadi pergi kok, ini lagi otw," jawab Devan.
"Oke deh, jangan lama-lama! Sejam lagi udah harus ada disini, paham kan?"
"Iya," balas Devan, telfon dia matikan, dia segera menghentikan taksi yang lewat dan segera menuju ke bandara.
setelah sampai ke bandara, seorang pria datang menghampiri Devan, "Datang juga!"
"Maaf lambat, santai aja kali," canda Devan.
"Hm ...."
mereka kemudian masuk ke dalam pesawat, saat pesawat lepas landas, Devan menatap keluar dari balik kaca, pikirannya seolah tertinggal di negara ini, lebih tepatnya pada kedua orang itu. Dia memutuskan untuk pergi, pergi meninggalkan semua kenangan yang ada, pergi untuk melupakan gadis itu, apa dia akan mampu? Apa perasaannya akan bisa hilang? Apa dia bisa kembali lagi ke negara ini? Segala pertanyaan itu muncul pada benaknya.
"Muka kamu kenapa sih? Jelek banget deh!" tanya Sofan, teman Devan.
"Nggak, cuman ... lagi mikirin sesuatu aja," jawabnya.
tiba-tiba pesawat menjadi berguncang, semua penumpang berteriak histeris. muncul asap hitam di sayap pesawat, semuanya menjadi panik! Pilot kehilangan kendali, pesawat sulit untuk dikendalikan karena mesin sayap pesawat telah terbakar parah. Semua orang mulai berdoa agar mereka tak akan kenapa-kenapa.
***
Diarana terguncang, lututnya melemas, dia jatuh terduduk dengan wajah yang terkejut bukan main, matanya berkaca-kaca. Ponselnya jatuh begitu saja dan tercerai-berai. Elvan berada disana heran dengan apa yang terjadi pada gadis itu.
"Kenapa?" tanyanya cemas.
Diarana terisak, "Devan ... Devan, Vin! Devan ...," soalnya lirih.
"Devan kenapa?"
"Pesawat, pesawat yang dia tumpangin kecelakaan, Vin ...! Dan ... dan semua penumpangnya, semuanya ... semuanya meninggal ...! Dan mayat Devan udah ditemuin, dia sekarang ada di rumah mamanya," tangis Diarana pecah, dia tak mampu berkata-kata lagi.
Elvan terasa terdampar petir, padahal baru saja dia luar dari rumah sakit, tapi tidak menyangka dia mendengar kabar ini.
cowok itu juga tak lagi berkata apa pun.
Elvan mencoba dengan sejenak, meski sejujurnya, hatinya terasa hancur dan tertusuk, dia memengang pundak Diarana.
"Kita ke rumah Devan aja, Na," ujarnya pilu.
Diarana mengangguk dengan mata sembab yang merah.
sesampainya di rumah duka, ada banyak sekali orang, Elvan dan Diarana menerobos masuk, keduanya terpaku ketika melihat sebuah peti dengan foto Devan yang tersenyum terpajang di depan mata mereka, keduanya tertohok dengan kenyataan pedih ini.
Kara, ibu Devan menoleh pada mereka, dia menghampiri kedua remaja itu. Wanita itu terlihat begitu sedih, matanya begitu merah dan tubuhnya tak terlihat bertenaga.
"Tente, Devan ... Devan nggak beneran mati, kan?" tanya gadis itu tersenyum getir sembari menggeleng kuat, dia menolak kenyataan.
"Devan ... Devan udah pergi," jawab lirih wanita itu, air matanya luruh membasahi pipi.
"Nggak, ini nggak mungkin!!!"
***
Diarana hanya diam tak bergerak dari kuburna yang masih basah itu, air matanya telah keri g terterpa angin, tak ada kata, hanya kehampaan.
"Na ... kita pulang sekarang yuk?" ajak pelan Elvan, dia tak tega melihat gadis itu begitu sedih.
"Aku nggak mau," jawab pelan gadis itu.
"Devan pasti nggak mau lihat Nak Rana begini," kata ibu Devan.
"Kita pulang sekarang," kata wanita itu lagi.
"Rana mau disini dulu Tante, Elvan ...," ujarnya menolak.
wanita itu tak bisa berkata apa-apa lagi, begitu pun dengan Elvan, keduanya menghela nafas, "Ya sudah kalo begitu, tapi ...," wanita itu merogoh sesuatu di sakunya. "Ini ..., ini dari Devan, dia beri pada Tante, dan ini buat Nak Rana." Diserahkan amplop putih itu.
Diarana menerimanya dengan tatapan gamang, Kara menatap Evan dan mengangy, kedua orang itu pun pergi membiarkan gadis itu memiliki ruang sendiri dengan Devan.
Diarana membuka amplop itu, ada secarik kertas disana, dia segera membaca kertas tersebut.
Untuk Diarana
Sebelumnya, aku mau bilang aku ini emang pengecut! Seorang pengecut yang nggak bisa ngatain ini secara langsung dan hanya bisa lewat kertas, saat kamu baca ini, aku pasti udah pergi jauh.
sebelumnya, aku minta maaf, Rana ... maaf karena aku suka sama kamu, maaf karena aku jatuh cinta sama kamu, maaf karena aku tahu kalau seharusnya aku nggak jatuh cinta sama kamu.
aku tahu kamu pasti marah kan saat baca surat ini? Aku tahu kamu cuman anggap aku teman aja, nggak lebih, dulu ... aku pikir nggak papa selama aku bisa dekat sama kamu, tapi sering waktu, perasaan dalam hati ini semakin lama semakin besar, semakin lama aku nggak bisa lagi tahan perasaan ini.
aku salah, aku tahu, dan aku minta maaf, maafin aku Rana, aku pernah mau nyatain perasaan aku ke kamu waktu itu, tapi kamu tahu apa?
aku menemukan fakta yang membuat itu semua menjadi hancur, saat itu kamu curhat ke aku kalo kamu suka sama Elvan, saat itu aku kecewa, banget malah! Tapi lihat kamu senyum bahagia banget saat cerita tentang dia, aku pasrah, dan aku jadi ngerti lagi posisi aku, aku ini hanya teman, hanya itu, dan nggak lebih!
kamu tahu, waktu itu juga aku menemukan fakta lain, yaitu; Elvan ternyata adek aku! Iya Rana ... dia adek aku! Adek yang sama yang aku pernah cerita sama kamu, adek aku yang hilang pas umur 3 tahun, saat itu aku benar-benar senang sekaligus sadar kembali, sadar bahwa seharusnya aku nggak pernah suka sama kamu.
Elvan itu adek aku, dan kamu itu sahabat aku, kalian saling cinta, dan kalian adalah dua orang yang penting buat aku, aku siapa? Aku hanya Devan, tak lebih, kenapa aku harus mengatakan perasaan egois aku ini? Aku nggak mau jadi penghambat dalam hubungan kalian, aku juga nggak mau jauh dari kalian.
aku nggak pernah gomong sama Elvan kalo dia itu adikku, dan sampai sekarang juga tidak, niatnya sih aku bakal kasih tahu pas aku balik lagi ke Indonesia, yah, tapi aku nggak tahu apa bisa kembali lagi sih.
kalian yang bahagia, ya? Pas aku balik semoga kamu dan Elvan nggak benci sama aku, karena aku pengecut, makanya aku lari, doain aku bisa lupa sama kamu, lupa sama perasaan nggak seharusnya ini.
makasih udah mau jadi teman aku, ya? Makasih, dan maaf karena suka sama kamu. Aku pamit dulu Diarana, semoga bahagia.
dari sahabat kamu yang pengecut ini; Devan.
Diarana tak henti-hentinya terisak, Devan menyukai dirinya? Bagaimana bisa? Diarana tak tahu sama sekali.
dan bisa-bisanya cowok itu mengatakannya lewat surat?! Apalagi dia sampai pamit? Dia pamit, pamit dan pergi ke tempat dimana dirinya tak akan mampu pergi ke sana, pergi selama-selamanya, tak akan ada nama kembali, tak ada.
gadis itu memukul tanah basah kuburan Devan. "Lo pengecut Van! Lo emang pengecut! Lo pamit ke gue dan nggak bakal balik? Gini cara lo mau lupain perasaan lo ke gue? Lo idiot Van!" teriak Dariana, awan berubah mendung, tak lama air hujan turun dan menangis bersama menemani gadis itu.
Lo pengecut!
TAMAT🥀