"Aku mau kita udahan,"
"Cukup sampai disini.. !"
"Aku tidak mau punya calon suami yang penyakitan seperti dirimu."
"Apa maksud kamu?"
"Iya... Tidak perlu aku jelaskan lagi, kita bukan anak kecil lagi."
"Jadi sampai di sini aku menganggap kalau kamu sudah paham maksudku."
Bagai tersambar petir di tegah derasnya hujan seiring luka di dalam hati.
Cahaya Bulan dan bintang yang bertabur di malam Minggu yang indah ini seolah menjadi malam yang penuh dengan luka.
Menatap indahnya bintang-bintang yang bersinar di atas langit, seperti melihat ribuan pisau yang mengiris luka di setiap tubuh Aldo.
...
4 Tahun yang lalu, ketika dia di terima bekerja di sebuah Perusahaan Swasta, Aldo bertemu dengan seorang gadis.
...
Aldo adalah salah satu mahasiswa berprestasi di salah satu universitas ternama di kota B. Berkat prestasinya setelah lulus kuliah dia di terima bekerja di salah satu Perusahaan Swasta.
Gadis yang Cantik, Baik, Imut dan Ramah. Ternyata gadis itu juga bekerja di tempat di mana Aldo bekerja. Ya.. gadis itu bernama Rike.
Mereka di pertemukan tetap pada saat Rike hampir di serempet mobil. Saat pulang kerja Rike berjalan menuju halte bus saat itulah dia mengenal Aldo.
Mungkin karena lelah bekerja seharian, Rike tidak menoleh kekiri dan kekanan terlebih dahulu, Dia lansung saja berjalan menyeberangi jalan. Hingga akhirnya dia hampir ketabrak mobil.
Untung saja Aldo datang tepat waktu, Dia menolong Rike dengan cara menarik tangan Rike, hingga akhirnya Rike jatuh ke dalam pelukan Aldo.
"Maaf saya sudah lancang, kamu tidak apa-apa?" Aldo bertanya kepada Rike sembali melihat Rike, barangkali ada yang terluka.
Kenapa gadis ini bengong apa dia tidak bisa berbahasa Indonesia.
Rike terdiam sejenak, entah apa yang ada di pikirannya. Aldo bertanya sekali lagi, "Hy, are you hurt?"
"Hmmm..." Rike menyahut, berdiri dengan benar dan melepaskan pelukannya dari Aldo.
"I..yaaa... Iyaaa.."
"Saya tidak apa-apa, maaf juga." Berusaha merapikan baju dan rambutnya yang hampir berantakan.
Ternyata dia bisa berbahasa Indonesia, Saya pikir dia orang luar negeri, melihat penampilannya yang begitu anggun.
Awal muda pertemuan terjadi, hingga akhirnya seiring berjalannya waktu, Rike dan Aldo hampir tiap hari bertemu dan bersama. Mereka kini saling jatuh cinta.
3 tahun 6 bulan, Bagi mereka rasanya pertemuan mereka baru kemaren. Kini terlintas di pikiran Aldo untuk melanjutkan ke jenjang Pernikahan.
Karena menurut Aldo dia sudah terlalu lama bermain-main bersama Rike, dia takut hal yang tidak di inginkan terjadi.
Akhirnya Aldo melamar Rike di sebuah Cafe shop tempat di mana Aldo pertama kalinya menyatakan cintanya.
Di lamar sama orang yang disayangi dan dicintai mungkin itulah dambaan hati semua wanita.
Hati Rike begitu senang bahkan dia tidak bisa mengucapkan nya dengan kata-kata.
"Will you marry me?" Aldo membungkuk layaknya Pangeran memasangkan sepatu kaca buat tuan Putri, Sembari meperlihatkan Cincin.
Rike tidak percaya orang yang dia Cintai berani melamar dirinya di tempat keramaian ini.
Suara sorak pengunjung Cafe shop terdengar jelas sambil berteriak-teriak, "Terima.... Terima... Terima..." Hati Rike begitu sangat bahagia.
Rike menerima lamaran Aldo, Aldo memasangkan cincin ke jemari manis Rike, Semua orang di dalam Cafe shop ikut senang menyaksikan kebahagiaan mereka.
Tak lama setelah lamaran di Cafe itu tiba-tiba Aldo mengalami sakit tifus. Mungkin karena kelelahan dan sering lembur malam.
Niat nya terhenti sesaat untuk melamar Rike secara resmi di depan Keluarga besarnya Rike. Tidak di sangka 4 bulan berlalu Aldo sering keluar masuk Rumah Sakit.
Perhatian Rike pun mulai memudar, pertemuan mereka juga terbatas, karena di saat Aldo ingin bertemu seribu alasan yang digelontarkan oleh Rike.
Malam Minggu, pukul 19:09 Rike tiba-tiba menghubungi Aldo dia ingin bertemu, mungkin karena jarang bertemu Rasa Bahagia dan Rindu Aldo mulai mencuat.
Namun siapa sangka malam itu menjadi malam yang paling menyakitkan bagi Aldo, orang yang dia sayang dan dia jaga selama bertahun-tahun akhirnya pergi juga.
"Apa yang kurang dari aku? Sehingga kamu begini?"
"Kamu gantungin aku berbulan-bulan, saat bertemu ini yang aku dapatkan?" Aldo meluapkan semua isi hatinya.
Saat dia menyadari Rike ingin berpaling dari dia, "Aku mencintaimu sepenuh hati, bahkan aku rela bekerja lembur hanya untuk dirimu."
"Aku tidak pernah memintanya tapi kamu sendirilah yang melakukannya."
"Jadi jangan salahkan diriku." Protes Rike.
"Keputusanku sudah bulat, aku tidak ingin lagi bersamamu !"
"Aku mau kita udahan,"
"Cukup sampai disini.. !"
"Aku tidak mau punya calon suami yang penyakitan seperti dirimu."
"Apa maksud kamu?"
"Iya... Tidak perlu aku jelaskan lagi, kita bukan anak kecil lagi."
"Jadi sampai di sini aku menganggap kalau kamu sudah paham maksudku." Kemudian Rike pergi meninggalkan Aldo begitu saja.
Tuhan.... Mungkin ini adalah balasan dari keserakahan ku selama ini, aku mencintai dan menyayangi dia terlalu dalam hingga akhirnya aku lupa ada hati yang selalu setia menemaniku dalam keadaan apapun.
Kemudian Aldo meninggalkan tempat itu dalam keadaan hati yang sangat kacau. Andini adalah salah satu sahabat Aldo, dia menyimpan rasa terhadap Aldo, namun dia tidak pernah mengungkapkannya karna dia sadar tidak mungkin bisa memaksakan kehendaknya.
Andini adalah seorang Dokter, selama Aldo sakit Andini selalu setia merawatnya, Aldo baru menyadari kalau Andini menyukai dirinya ketika Aldo menemukan buku diary Andini.
Deary The My' Dokter.
Aku percaya..
Mau pacaran bertahun-tahun,
Terus keluarga sudah saling dekat,
Main ke rumah pasangan sudah seperti rumah sendiri.
Merencanain segala hal bareng, berasa kebahagiaan milik kita berdua.
TAPI.. !!
Kalau semesta tidak mengizinkan !
Pasti selalu ada cara buat pisah.
Entah jahatnya kebongkar, Sifat aslinya, atau ada orang ketiga seperti yang sering kita temui di kehidupan sehari-hari.
Mungkin ada-ada saja,
Jadi aku percaya kata-kata ini, agar hatiku tidak terlalu terluka.
Sayang sewajarnya, Memiliki sewajarnya.
Karena semesta punya cara buat nyatuin dan misahin kita.
Aldo baru sadar cinta sejatinya BUKAN buat Rike tapi buat Sahabatnya sendiri yaitu Andini. Aldo baru menyadari ketika penyesalan telah menghampirinya.
Di rumah sakit, di depan ruangan Dokter, Andini mondar mandir menunggu Aldo yang tak datang. Padahal waktu sudah satu jam lewat. Dokter Vona juga akan pergi setengah jam lagi. Karena mereka ada janji.
Saat Andini mencoba menghubunginya tapi tak ada jawaban dari Aldo.
"Hei dr.Andini, Kamu pergi kan?" tanya seorang temannya.
"Oh, ya tentu" jawab Andini normal menyembunyikan kekhawatirannya.
Setelah beberapa kali menghubungi Aldo tapi tidak diangkat, akhirnya Aldo balas menelepon.
"Halo, kamu dimana? Kenapa gak di angkat aku telepon?" tanya Andini dengan notasi marah, tapi omelannya terhenti saat mendengar sahutan dari seberang sana bukan Aldo.
"Maaf, ini siapa?"
“…”
"Apa? Kecelakaan?"
“…”
"di mana?"
“…”
"Baik saya akan segera ke sana" menutup sambungan dan berlari ke parkiran.
Dua puluh menit, Andini sudah sampai di rumah sakit yang berbeda. Andini langsung berlari ke ruang ICU tempat Aldo berada setelah menanyakan pada suster di situ.
Sampai di ruang ICU, langkah Andini melambat melihat tubuh Aldo yang dipasangkan alat-alat penunjang kehidupan.
Suara monitor yang menyakitkan bagi Andini saat mendengarnya, ditambah saat melihat wajah pucat Aldo yang tak sadarkan diri.
"Hai" sapa Andini berat, tapi tidak ada jawaban dari Aldo.
Andini terus menatap wajah Aldo, wajah yang biasanya selalu ceria, wajah yang membuatnya tenang, tapi sekarang diam tak berkata.
Aldo perlahan membuka matanya, melihat sosok Andini di sampingnya membuatnya tersenyum kecil.
"An... andiniii?" panggilnya lirih.
"Aldo, kamu sudah sadar?"
"Andini?"
"Ya, kamu ingin apa? Aku pangil doktor dulu"
"Tidak, aku, minta maaf?"
Walaupun Andini seorang dokter, tapi melihat orang yang di sayang seperti ini dia tidak mau gegabah, dia akan menyuruh dokter lain untuk melakukan yang terbaik buat Aldo, khususnya dokter spesialis di rumah sakit itu.
"Udah jangan pikirkan itu-"
"Aku, sayang, kamu dinn" ucap Aldo kembali memejamkan matanya.
Hancur sudah pertahanan Andini, air matanya mengalir begitu saja saat mendengar kata-kata lirih Aldo.
Yang selama ini hanya menganggap dirinya seorang sahabat tapi tidak untuk saat ini. Perlahan dikecupnya kening Aldo, kecupan yang lama hingga membuat Aldo tersenyum kecil.
Tidak lama keluarga Aldo pun datang, diperhatikannya satu persatu wajah keluarganya dan yang terakhir Andini orang yang baru beberapa bulan mengisi hidupnya. Disaat luka dihati di gores oleh kekasihnya.
Tuhan.. jika aku di berikehidupan kedua, aku akun menyanyangi gadis yang ada di samping ku saat ini.
Jika aku bisa memutar waktu kembali, mungkin aku tidak akan menyia-nyiakan gadis yang selalu ada di sampingku ini.
Andini menatap kotak kecil persegi empat yang berisi sebuah cincin. Cincin yang akan digunakannya untuk melamar Rike.
Perlahan mata Aldo kembali tertutup yang diiringi suara nyaring dari monitor yang menunjukkan garis lurus.
Andini yang menyadari itu seketika menangis histeris, melihat orang yang di sayang pergi meninggalkan dirinya. Begitu juga dengan kedua orangtuanya Aldo.
Andini menguncang- guncang tubuh Aldo, dia berteriak agar Aldo kembali bangun.
"Tidak !"
"Tidak... tidak... tidak.. Aldo.."
"Tidak mungkin kamu meninggalkan aku sendirian, aku mohon buka matamu" Isak tangis menggema di dalam ruangan, di ikuti dengan suara Isak tangis mama Aldo. Air mata Andin terus menetes membasahi wajah Aldo.
Papa Aldo berusaha menenangkan Andini dan istrinya, agar mereka mengikhlaskan kepergian Aldo. Memang berat buat mereka tapi itu untuk kebaikan Aldo agar dia pergi dengan tenang.
Dokter dan beberapa perawat di dalam ruangan ikut terlarut dalam kesedihan yang dirasakan keluarga Aldo. saat dokter ingin melepas alat-alat penunjang kehidupan Aldo tiba-tiba kembali normal seperti semula.
Andini merasa tidak percaya suara detak jantung Aldo kembali muncul, monitor yang semula menunjukkan garis lurus seolah-olah berubah menjadi normal.
Mendapatkan kehidupan baru adalah suatu keberuntungan untuk Aldo. Dan kali ini Aldo tidak mau kehilangan orang yang di cintai untuk kedua kalinya, setelah berusaha membuka hati lagi akhirnya dia bisa mencintai Andini sepenuh hatinya.
....
Note author : Jangan mencintai apapun terlalu banyak, karna terlalu banyak bisa melukaimu terlalu banyak juga.
Ex : Makanan -> Jika makan makanan terlalu banyak bisa melukai dirimu, seperti sakit perut dan lainnya, begitu juga dengan perasaan, jika terlalu banyak ya bersiap-siap saja kamu untuk terluka terlalu banyak🤪🤣🤣🙊