Angin bertiup sepoi-sepoi. Membuat hawa begitu adem sembari memandang sebuah pemandangan indah di latar belakangin pegunungan dan hamparan bunga beragam jenis. Asri dan hijau. Ini adalah sebuah tanah impian yang dimiliki oleh seorang gadis muda. Rida Verleta, adalah pewaris dari tanah impian ini. Nama tempat itu diberikan oleh para pendahulunya yang juga merawat area ini sejak dahulu kala. Sekarang di dalam kepemilikan Rida, tanah impian sudah semakin luas dengan berbagai jenis tumbuhan yang ditanaminya seorang diri.
Melakukan suatu hal dengan sepenuh hati, adalah kunci dari kesuksesan Rida dalam mengelola tanah impian ini. Sesekali area tersebut di datangi oleh beberapa orang pendatang yang ingin bersantai sembari membeli bunga yang dijual olehnya.
Bunga-bunga cantik yang ada di tanah impian ini menjadi primadona bagi khalayak ramai. Sebab ada aneka ragam yang terdapat disini dan sulit ditemukan di tempat lain.
Keseharian yang dilakukannya begitu damai dengan lokasi tanah impian yang berada di lingkup hutan pegunungan.
Suatu hari seseorang datang dengan langkah tak beraturan dan sempat terjatuh juga. Rida yang melihat orang asing tersebut, langsung segera menolongnya. Entah mabuk atau bagaimana, yang jelas perempuan itu merangkulnya ke pondok kecil dan membaringkannya disana.
Setelah beberapa lama, orang asing itu sadar dan melihat ke sekitar. Dia beranjak dan melangkah sembari melihat tempat dirinya berpijak saat ini.
Tempat yang dipenuhi akan tanaman, serta area yang belum pernah di datangi sebelumnya.
Lalu tak berapa lama kemudian Rida datang menghampiri dengan membawakan minuman.
"Kamu sudah sadar?"
tanyanya sambil memegang segelas minuman hangat.
Di pondok kecil, mereka berdua duduk berdua sambil berbincang. Orang asing itu bercerita tentang dirinya hingga bisa mabuk seperti tadi. Sementara Rida mendengarkannya saja. Setelah itu mereka berdua memutuskan untuk berkenalan. Dan kembali berbicara mengenai pribadi masing-masing.
Usai berbicara, orang asing yang bernama Warden itu meminta izin pada Rida untuk berkeliling sekitar tanah impian.
Rida mengizinkannya dan ikut berkeliling bersamanya. Mereka berdua melangkah sambil memandang sekitarannya. Hamparan bunga dan tumbuhan lainnya terlihat di sepasang mata. Serta binatang seperti kupu-kupu dan capung juga tak luput dari area yang di penuhi tanaman tersebut.
Setelah berkeliling, Warden bertanya pada Rida.
"Seberapa berharganya tanah impian ini bagimu?"
Pertanyaan itu dijawab oleh Rida dengan senang hati.
"Ini bagaikan kehidupanku. Tanah impian sudah menyatu dengan jiwaku. Dan aku sulit berpisah dengannya. Bahkan seperti keluarga juga. Yang mana aku merawatnya seperti anak sendiri. Tanah impian ini sesuatu yang sangat berarti bagiku."
"Bekerja seorang diri apakah itu tidak menyulitkanmu?"
"Sejujurnya ini harus dikerjakan lebih dari satu orang. Namun, aku ada rasa takut akan bagian dari jiwaku ini."
jawab Rida.
"Sulit untuk menerima orang lain?"
tanya Warden kembali.
"Benar."
Balas Rida singkat.
Kemudian...
Warden mengajukan diri untuk membantu Rida dalam mengelola tanah impian.
Namun, Rida takut dan tidak menyetujuinya.
Ia tidak ingin tangan lain ikut campur dan takutnya berefek pada pengrusakan warisan leluhurnya.
Namun Warden tetap bersikeras untuk membantunya. Ia juga merasa kasihan pada gadis muda sepertinya yang mengelola area seluas ini seorang diri.
Dengan permohonan dan harapan agar dapat membantunya, Rida tak kuasa melihatnya.
Gadis itu menyetujuinya dan harus mendapatkan pengajaran darinya beberapa hari masa kerja sementara.
Warden mengiyakan dan menjalani masa uji coba beberapa hari. Usai masa kerja sementara itu selesai, hasilnya adalah gadis muda itu menerima Warden untuk membantunya dalam mengurus tanah impian ini.
Setelah diterima, Warden berterima kasih padanya dan berpamitan setelahnya.
Kini Rida tidak bekerja seorang diri lagi. Walau memiliki pekerja yang membantunya, tetap saja suasana akan tanah impian ini tetap dapat dinikmati dengan rasa nyaman. Rida dan Warden berkerja sepanjang hari secara bersama-sama.
Dan kehidupan di tanah impian ini mulai di isi lebih banyak orang. Seperti pengharapan banyak orang, yaitu sebuah arti dari kata damai. Tanah impian kini layaknya suatu tempat berkumpul bagi banyak orang untuk menikmati momen santai dan kumpul bersama keluarga. Keasrian dan keindahan yang ditampilkan, membuat banyak orang turut larut dalam kebahagian yang menyertai.
Rida sangat senang, tanah impian miliknya dapat menyatukan banyak orang dan menjadi lebih bewarna dengan raut wajah kebahagian yang mereka tampakkan.
"Sekarang tanah impian ini sudah di datangi banyak orang."
kata Warden kepada Rida.
"Benar. Walau begitu masih terasa nyaman bagiku. Yang penting semua orang mau membantu kita dengan tidak merusak tanaman yang ada, itu sudah cukup."
Rida menundukkan badan sedikit seolah berterima kasih pada para pengunjung yang ikut menjaga kemurnian tanah impian tersebut.
Warden pun ikut senang dan menirukan gerakan dari gadis yang ada di sebelahnya.
Rida melihat aksi dari Warden yang meniru dirinya.
Dan mereka berdua tertawa bersama setelahnya.
-----SELESAI-----