10 tahun lalu, saat berada di sekolah menengah. Masih teringat di benak ini akan dirimu yang selalu mengalihkan pandangan mataku. Selain itu aku mampu membuat duniaku dengan imajinasi yang mana hanya ada kita berdua disana. Itu hanyalah bayanganku mengenai dirimu. Tapi tetap saja, ini bukanlah apa-apa.
Seorang pelajar di masa remaja yang baru mengenal yang namanya cinta. Sudah bisa merasakannya sejak tatapan mata ini tertuju pada satu subjek, yaitu dirimu wahai gadis pujaan.
Rasa itu bernama suka, suka dalam artian cinta alias jatuh hati. Diri ini tahu bahwa status saat itu masih sebatas teman. Namun, lain bila ditanya pada hati yang ada di dalam raga ini. Rasa suka itu ada, tapi sulit untuk di ucapkan.
Gadis yang di puja ini juga bukanlah orang sembarangan. Dia memiliki latar belakang yang cukup membuat jarak antara diriku dan dirinya. Selain itu dia di idamkan oleh banyak khalayak. Dari adik kelas, hingga senior papan atas.
Rasa suka ini harus terpendam seterusnya, usai mengetahui bahwa engkau di waktu itu telah berpacaran dengan seseorang yang juga terkenal di sekolahan.
Kini sudah 10 tahun lamanya daku tak melihat sosok dirimu lagi. Hanya gadis berseragam saja yang masih terlekat di dalam pikiran. Lalu rasa penasaran muncul setelah memikirkanmu lebih lama. Yaitu penasaran akan dirimu yang sudah menjadi dewasa di masa sekarang ini.
Pikiran itu terus membayangi, terlebih saat aku menyendiri dalam ruang sunyi. Berjalan dan menikmati momen yang ada di malam ini. Berharap aku bisa mengalihkan pikiranku sebentar saja.
Akan tetapi tetap saja dirinya selalu terlintas layaknya menghantui.
Menghela nafas sambil duduk di sebuah lapangan penuh rerumputan. Kedua mata menatap ke atas yang mana terdapat bintang-bintang menyebar di langit malam. Sinaran yang ada tampak begitu cantik sekali. Bintang di langit dapat mengalihkan sedikit pemikiranku.
Dan...
Sepertinya itu memang hanya sebentar. Bahkan tak memberi waktu lebih untuk beralih pikiran.
Sekarang ada seseorang yang berada dekat denganku. Aku menyadarinya setelah mendengar suara samar di lapangan ini. Perempuan yang ada di depan mata dan melakukan aktivitas yang sama denganku. Entah kenapa hati ini yakin dan merasakan sesuatu yang pernah kurasa saat masih remaja dulu.
Bergerak dan coba mendekat dengan langkah perlahan. Berharap apa yang aku terka itu benar adanya. Selepas ucap kata permisi, kami berdua pun saling memandang.
Pandangan dalam sepinya suasana. Malam seperti menekanku dan hati berdebar dengan kencang.
Mata terbuka lebar seperti isyarat bahwa ini tak mungkin. Apa yang terjadi itulah kenyataannya. Sekarang aku melihat kembali wajah dari orang yang aku suka selama ini. Posisinya tak tergantikan walau bertahun-tahun lamanya. Kami berdua pun mulai saling menyapa. Aku membalasnya namun dengan gugup. Setelah itu duduk berduaan.
Gugup ini terus menyelimuti dan gerogi turut ikut serta.
Perempuan yang ada di sebelahku, kembali dengan tampilan dewasa. Terdapat sedikit perubahan dari dirinya. Tapi aku masih mampu mengenalnya.
Kemudian kami berdua mengobrol mengenang masa sekolah dahulu. Memori masa sekolah kami limpahkan di malam ini. Dibawah kilauan bintang di langit, kami sibuk bercerita hingga lupa waktu.
Saat malam sudah begitu larut, Aku dan dia akhirnya berhenti bercerita. Kami berdua memutuskan untuk segera pulang. Aku yang melihatnya di awal hanya seorang diri, berkeinginan untuk mengantarkannya pulang. Sempat ada penolakan, tetapi tetap saja aku tidak bisa biarkan dia pergi sendirian. Kali ini aku merasa mampu dalam menerapkan apa yang aku inginkan.
Walau hanya sekedar mengantarnya saja.
Langkah kaki seirama di jalanan yang sunyi. Kami berdua tidak berbicara selama beberapa menit.
Memikirkan topik apa yang ingin dibicarakan sela berjalan. Namun, aku tidak bisa. Sebab perasaanku masih begitu besar dan mengalihkan apa yang harusnya aku pikirkan selagi jalan berdua dengannya. Abai akan topik pembicaraan, aku malah membayangkan dirinya selalu ada di sisiku.
Pikiran liar tersebut terus saja datang, ada ataupun tidaknya perempuan di dekatku ini.
Hanya sebatas mengantarnya, ini saja yang bisa aku lakukan? berbagai pertanyaan muncul soal keberanianku yang sebatas ini.
Sampai di tempat tujuan, aku masih tak mampu berkata apapun. Dia menatapku seraya mengucapkan terimakasih. Lalu perempuan itu berbalik badan dan tangannya memegang gagang pintu.
"Ini akan berakhir sampai disini saja?"
Entah kenapa aku merasa begitu ditekan oleh perasaan sendiri. Mulut ingin berkata tapi tertahan di ujung sedari tadi.
Saat pintu terbuka dan suaranya terdengar jelas di telingaku, aku langsung memegang sebelah tangannya secara cepat. Peganganku cukup kuat dan seperti bergerak sendiri. Perempuan itu melihatku dan bertanya mengapa diriku memegang tangannya.
Kemudian...
Aku melepaskan tangannya secara perlahan dan meminta maaf.
Perempuan idaman selama ini ada tepat di hadapanku. Aku sudah menghabiskan waktu di malam ini bersamanya. Tapi tetap terasa tidak lengkap bila aku tidak melakukan ini terhadapnya.
Aku berusaha untuk mengatakannya walau berbagai rasa deg degan, gugup, serta malu menghampiri.
Pandangan mata perempuan itu begitu tak teralihkan di saat aku masih diam berdiri belum menjawab pertanyaannya tadi.
Dengan lantang aku mengatakannya sambil menutup mata.
Perempuan itu mendengar apa yang aku katakan barusan. Sementara aku seperti tidak mendengar apapun sangking bercampur aduknya perasaan.
Tak berapa lama, dia memegang kedua pundakku.
Lalu mendekatkan wajahnya padaku.
"Kamu menahannya sedari tadi kan? Aku tahu dirimu sudah memiliki rasa akan itu."
ucapnya dengan lembut.
"Jadi selama ini dia tahu?"
tanyaku dalam hati.
Aku memang mengucapkannya, tetapi ini tidak bisa lebih dari ekspektasiku. Sebab aku tahu dia punya pacar sejak sekolah menengah dulu.
Aku katakan padanya bahwa aku menyukainya sejak masa sekolah menengah dan mengungkapkan apa yang aku bayangkan tentangnya. Cerita itu sudah ku limpahkan padanya. Dia mendengar dan tersenyum.
Lalu...
"Terimakasih sudah menyukaiku selama ini."
Itu adalah ucapan terakhir darinya.
Kemudian dia memberikan sebuah kertas kecil padaku dan pergi masuk ke dalam rumah setelahnya.
Aku membuka kertas pemberian itu. Melihat isinya yang berupa sebuah nomor. Diriku coba menyimpan nomor itu dan memberikan pesan padanya.
Tidak butuh waktu lama, pesanku langsung dibalas olehnya.
Hanya pesan perkenalan semata. Namun menyenangkan juga rasanya bisa mendapatkan nomor darinya.
Selepas itu sebuah telpon datang dari si perempuan tersebut.
Aku mengangkatnya dan mendekatkan ponsel pada telingaku.
"Aku juga menyukaimu. Mari membuat status baru mulai kali ini. Aku ingin lebih dekat dan terkesan romantis."
Aku terdiam sejenak dan bertanya padanya.
"Bukankah kamu masih ada pacar?"
"Pacar di sekolah menengah itu? Kamu pikir kami bertahan lama sampai sekarang? Aku single!"
Mendengar ungkapan itu rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Kini aku tidak perlu risau lagi dan sangat bahagia.
Terdengar suara panggilan diluar telpon, ternyata perempuan yang kusukai itu tengah melihatku sedari tadi dari lantai dua rumahnya.
"Aku sudah lama juga memperhatikanmu walau itu terasa cukup sulit karena banyaknya halangan di dekatku."
Selama ini aku dan dia saling memperhatikan?
Itu mengejutkanku yang selama ini berpikir bahwa hanya akulah yang memperhatikannya. Ternyata dia juga melakukan hal yang sama dan kami saling memandang satu sama lain meski ada jarak kala itu antara aku dan dia.
Telpon di tutup, dan perempuan itu memberi kecupan jarak jauh itu padaku. Aku pun melihat apa yang dilakukannya. Ini rasa yang aku harapkan. Perasaan ini akhirnya terbalaskan setelah sekian lama.
Malam itu menjadi momen terbaik antara aku dan dia.
---
Metriva, kini aku mendapatkanmu setelah 10 tahun lamanya. Semoga hubungan ini langgeng sampai akhir hayat kita berdua.
tertanda,
Larsen.
Sebuah catatan baru berhasil ditambahkan dan menutup buku catatan yang sudah penuh akan tulisan kisah hidup selama ini.
-----SELESAI-----