Sudah dua hari ini rendi sulit tidur. setiap memejamkan matanya, rendi langsung terjaga lagi. terlalu banyak pikiran pikiran yang berkeliaran di kepala rendi. belum lagi rasa sedih di dalam hatinya yang terus saja menguburnya. rendi seperti di pukul tepat di wajahnya, dan tidak dapat melawan.
rendi berumur 23 tahun saat kedua orang tuanya bercerai. sebenarnya ia cukup dewasa untuk menerima keputusan kedua orang tuanya. ia juga tidak tahu alasannya, tetapi tentu cukup kuat hingga membuat ibunya menggugat cerai ayahnya. sesuatu yang pasti adalah hal yang menyakitkan, dan adiknya aulia.
hari itu rendi bersama ibu dan adiknya pindah kerumah neneknya di kota depok. rendi dan adiknya lebih memilih ikut ibunya ketimbang ayahnya. sesungguhnya rendi cukup lelah hari itu, tetapi ia harus membantu ibunya. setelah perceraian itu, ia hanya memiliki ibu, dan adiknya. mereka harta terbesar bagi rendi.
tinggal sendiri di rumah peninggalan alm.suaminya yang meninggal sekitar 10 tahun lalu. karena alasan itu juga neneknya meminta dia, ibu, dan adiknya untuk tinggal disana ketimbang mengontrak rumah.
rumah itu juga tidak terlalu jauh dari universitas dimana rendi belajar, dan juga sekolah umum tempat aulia sekolah.
hari itu mereka sibuk memindahkan, dan mengatur barang. rendi dan aulia memang tidak pernah keberatan untuk tinggal bersama nenek mereka. mereka memang sudah sangat dekat dengan nenek dari ibu mereka semenjak kecil, jadi tidak sulit untuk menyesuailan diri.
keesokan harinya, mereka mulai menjalankan aktivitas masing masing. rendi kembali masuk kuliah, adiknya mulai kembali bersekolah, ibunya kembali bekerja.
seperti biasa, setelah selesai makan malam rendi selalu naik ke kamarnya di lantai atas. ia menghabiskan malamnya mengerjakan tugas atau hanya sekedar mendengarkan musik. tapi malam itu rendi sepertinya sangat bosan, dan tidak mengerjakan tugas atau mendengarkan musik. ia hanya diam di depan jendela kamarnya, memandangi suasana di luar rumah neneknya. di kamar rendi terdapat sebuah jendela yang cukup besar. jendela itu dapat menghadap jalan dan rumah di depannya.
rumah di depan jendela itu rumah berlantai dua, dengan dua jendela di lantai atas yang tepat menghadap rumah neneknya.
salah satu tepat menghadap ke jendela di kamar rendi.
malam itu rendi memperhatikan rumah itu, dan jalan jalan yang membelah komplek perumahan rumah neneknya. udara dingin terus berhembus dari luar, sepertinya malam ini akan turun hujan. di langit malam itu tidak ada bintang sama sekali, tapi rendi sangat enggan menutup jendelanya. lagipula rendi sangat menikmati udara dingin itu, menikmati setiap usapan dingin di wajahnya.
saat sedang menikmati udara dingin yang membelai wajahnya, rendi melihat ada bayangan di tirai jendela tepat di hadapan jendela kamarnya. cahaya di dalam kamar itu memang tidak terlalu terang, tapi cukup terang untuk memantulkan bayangan. rendi semakin memperhatikan tirai jendela di seberang, sepertinya jendela itu adalah sebuah jendela kamar juga. mungkin bayangan itu adalah bayangan pemilik kamar.
pelan pelan jendela kamar itu terbuka, seorang wajah perempuan sekitar berumur 20 tahunan muncul dari dalam. rendi kaget, berusaha untuk tidak terlalu jelas memperhatikan perempuan itu. rasa penasaran rendi terlalu kuat, ia tidak memalingkan wajah sama sekali.
perempuan di jendela seberang tidak menyadari bahwa rendi memperhatikannya, ia seperti sedang memperbaiki tirai jendelanya. tidak lama kemudian, akhirnya perempuan itu sadar bahwa ada seorang pria di jendela seberang sedang memperhatikannya. dia melirik rendi. rendi kaget. ia salah tingkah, dan membuang wajahnya ke arah lain. berusaha untuk tidak memperhatikan perempuan itu, tapi ivan segera melirik jendela itu lagi. ternyata perempuan tadi sudah menghilang, ivan mencari cari di sekitar jendela tapi tidak ada.
rendi kecewa, ia kembali melirik jendela itu. ternyata perempuan tersebut muncul lagi, menatap rendi. perempuan itu menggerakkan kepalanya ke atas, seakan memberi isyarat mengapa memperhatikannya. perempuan itu berambut sebahu, matanya terus memperhatikan rendi. rendi kebingungan, malu karena tertangkap memperhatikan perempuan itu. terjadi kekakuan di antara rendi dan perempuan itu. hingga perempuan itu menunduk, seperti sedang melakukan sesuatu. rendi tidak dapat melihat apa yang sedang ia lakukan, karena keterbatasan jarak pandangnya.
perempuan itu kemudian mengangkat sebuah kertas besar bertulisan "baru pindah ya?" rendi buru buru mencari kertas, dan spidol untuk membalasnya. rendi mulai menulis di sebuah kertas dan mengangkatnya "iya nih. maaf ya, gak maksud buat ngeliatin."
perempuan itu membacanya, kemudian membalas, "gak apa apa. itu itu kenalan sama tetangga baru, nama gue lili." rendi kembali membalas kembali dengan semangat "gue rendi. salam kenal ya."
mereka terus saja bertukaran pesan, hingga akhirnya persediaan kertas rendi habis. di kertasnya yang terakhir, rendi memberanikan diri meminta nomor hp lili. lili tersenyum sejenak, lalu kemudian mulai menuliskan nomornya, lalu kemudian menunjukannya kepada rendi. rendi mencatat nomor itu di telepon genggamnya, setelah itu lili memberi isyarat bahwa ia harus pergi. rendi mengangguk, memang malam itu cukup larut. akhiran tirai jendela lili tertutup, dan rendi pun menutup jendelanya.
ada perasaan senang dalam diri rendi, secara tidak sengaja bisa berkenalan dengan lili. malam selanjutnya, rendi duduk di tepi tempat tidurnya. ia mengambil telepon genggam di tangannya, ingin menelepon lili, tapi belum cukup berani untuk melakukannya. akhirnya rendi memberanikan diri menelepon lili. setelah dua kali nada panggil, akhirnya panggilan di jawab. rendi mendengar suara perempuan di seberang telepon. suaranya pelan dan lembut.
"Halo. ini siapa ya?" jawab perempuan di seberang telepon.
"ini ivan. ini nomor lili kan?" Jawab rendi dengan gugup.
"oh iya. tetangga baru itu ya," lili tertawa.
"kok tertawa? ada yang lucu?" tanya rendi.
"gak kok, kirain kamu gak berani nelpon"
"hehe. tapi aku ganggu gak?"
"gak kok, aku juga belum tidur. kamu belum tidur?"
"belum. eh, buka jendela dong, biar ngobrolnya enak." rendi menahan napasnya, menunggu jawaban dari lili.
"oke sebentar ya."
rendi loncat ke arah jendelanya, kemudian membuka tirai jendelanya. di sebrang, lili melakukan hal yang sama. mereka memandang satu sama lain, kemudian meneruskan obrolan mereka. hingga malam semakin larut, di tengah percakapan lili berhenti sejenak.
"kamu gak takut jam segini belum tidur?" tanya lili.
"belum, aku biasa gak tidur malah." rendi mencoba bergurau.
"kamu liat deh rumah di sebelah kamu."
rendi mengeluarkan kepalanya dari jendela, mencoba melihat rumah di sebelah rumah neneknya. "iya, kenapa emang? cuma rumah kosong biasa doang kok."
"rumah itu angker loh." kiran tertawa dengan nada yang agak tinggi, sepertinya ia mencoba untuk menakuti rendi.
"uda deh, jangan nakut nakutin. aku gak takut sama yang begituan." bela rendi.
"wah, kamu gak takut. Bagus dong," lili tertawa.
karena malam semakin larut, akhirnya rendi dan lili menyudahi percakapan mereka. rendi mulai menyukai lili, menurutnya lili cukup menyenangkan. timbul keinginan utuk menemui lili secara langsung.
keesokan harinya rendi libur kuliah, sehingga ia hanya berada di rumah. ia duduk di ruang tamu, memperhatikan rumah lili. ia berharap lilin keluar, dan ia bisa menemui lili, tetapi sudah hampir siang tapi tidak ada yang keluar dari rumah itu. kemudian neneknya datang dari arah dapur membawa dua tumpuk piring berisi kue kue beraneka warna. rendi berdiri mencoba membantu neneknya.
"mau di bawa kemana kuenya nek?" tanya rendi.
"ini mau di bawa ke rumah depan," jawab neneknya.
mendengar itu rendi senang. ini kesempatannya untuk menemui lili.
" sini nek rendi bantuin."
neneknya menyerahkan piring itu tangan rendi, kemudian berjalan keluar rumah. rendi mengikuti dari belakang, sampai ke rumah seberang.
nenek mengetuk pintu, dan pintu dibuka. seorang ibu ibu berjilbab membuka pintu. setelah berbasa-basi ia mempersilahkan mereka masuk.
"makasih banget nek kuenya." ujar ibu ibu berjilbab itu.
"sama sama teti, nenek cuma bisa kasih ini doang." jawab nenek.
"ini juga uda lebih dari cukup kok nek. ngomong ngomong ini siapa nek?" tanya bu teti.
"ini rendi, cucu nenek. baru beberapa minggu ini pindah ke rumah. rencananya emang mau tinggal di rumah, habisnya nenek sendirian di rumah." rendi mencium tangan bu teti."
"rendi sekolah apa kuliah?"
"kuliah bu." jawab ivan.
"wah, sama dong kaya lili."
bu teti kemudian melihat ke arah foto keluarga yang terpajang di tengah tengah ruang tamu. di foto itu terlihat bu teti bersama suaminya tengah duduk, ada seorang anak laki laki dan akan perempuan di belakangnya. anak perempuan itu adalah lili, hanya saja wajahnya terlihat kanak-kanak. sepertinya foto itu di ambil saat lili masih SMP.
"sabar ya teti." nenek rendi mengusap tangan bu teti.
rendi kebingungan.
"terus lili-nya kemana bu?." tanya rendi.
neneknya menoleh ke arahnya, mengerutkan dahinya, seakan menyuruh rendi untuk diam. tetapi kemudian bu teti menjawab.
" lili anak ibu sudah gak ada rendi." dia ketabrak kereta beberapa minggu lalu. rencananya malam ini mau pengajian 40 hari."
rendi tersentak kaget, tidak percaya beberapa malam belakangan ini ia berbicara dengan lili di telepon, dan ia juga melihat lili di kamarnya. rendi merinding.
"yang bener bu?"
bu teti menganggukkan kepala, tiba tiba matanya berkaca kaca. suasana tiba tiba berubah sepi, rendi terdiam. ia masih tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar, hingga suara dering memecah keheningan.
mendengar suara itu, bu teti pamit sejenak. ia naik ke lantai atas, ketika turun ia membawa sebuah telepon genggam.
" sampe sekarang temen temen lili masih banyak yang menelepon lili di nomor hpnya. banyak yang belum tau kalo lili udah gak ada."
rendi semakin tegang tiba tiba suasana ruang tamu itu berubah menjadi panas. rendi juga merasakan ada yang memperhatikannya dari arah tangga. beberapa kali ia menoleh ke arah tangga. nenek rendi pun pamit, dan mereka berdua keluar dari rumah itu. di perjalan pulang, rendi terus memikirkan apa yang baru saja ia alami. jika lili sudah meninggal, lalu siapa yang dia lihat dari jendela, dan dia telpon?
rendi segera masuk ke kamarnya, menutup rapat rapat tirai jendela kamarnya. rendi terus saja memikirkan kejadian itu, hingga saat malam malam. selesai makan malam, ia duduk di atas tempat tidurnya. pikirannya masih melayang ke sosok lili, tapi semakin lama memikirkannya, ia semaki ketakutan. suara tawa lili ketawa saat sedang menakut nakutinya masih terngiang di telinganya. akhirnya rendi memutuskan untuk tidur. tapi baru saja rendi mematikan lampu kamarnya, telepon genggamnya berdering. saat melihat ke layar telepon genggamnya, di sana tertulis nama lili....
rendi seperti terkena serangan jantung, dadanya terasa nyeri. keringat mulai menetes, ia menolak panggilan itu. tetapi bebera menit kemudian telepon genggamnya kembali berdering, rendi kembali menolaknya. tetapi saat di tolak, telepon genggam....
maaf kelanjutannya akan nanti saya sambung.....terimah kasih.