Jendela🏡
Sebuah kenangan pahit selalu terlintas kala ia melihat jendela.
Sepuluh tahun yang lalu...
"Aku lompat ya," menyengir Ara berucap kepadanya.
Ia terbelalak "Jangan aneh-aneh kamu," ucapnya memperingatkan.
"kalau gak lompat nanti ketahuan," lirih Ara, ia mengambil posisi bersiap-siap melompat dari jendela.
"INGLO!" suara teriakan dari luar.
Sekarang tinggal mereka berdua yang belum ditemukan.
"Sini biar aku aja," ia mendekat, lalu menggantikan posisi Ara.
Tanpa mengambil ancang-ancang ia melompat.
Kreek...
Ia berhasil melompat, akan tetapi gelak tawa teman-temannya membuat ia memeriksa diri. Dan betapa terkejutnya ia mendapati celananya yang robek tersangkut paku jendela rumah nenek, menyebabkan apa yang seharusnya tidak boleh terlihat menjadi terlihat.
___
#day11 Halaman 🏡
Ia menginjakkan kaki dihalaman rumah nenek, pemandangan pertama yang ia lihat adalah rumah kayu dengan cat putih yang mulai mengelupas dan menguning.
"Jeno!"
"Jeno!"
"Itu kamu kan?!"
Ia masygul mendengar orang itu tak kunjung berhenti memanggilnya, terpaksa ia menoleh.
Seorang beralis bak Sinchan, berpakaian daster, dan tak lupa menggendong batita berjalan kearahnya.
"Mohon maaf anda siapa ya?" tanyanya heran.
"Astaghfirullah Jen lupa kamu sama aku," ucap perempuan itu.
"Dulu, demi aku kamu rela lompat sampai celanamu robek," ucap wanita itu bernostalgia.
Ia menatap tak percaya wanita dihadapannya.
Wanita itu adalah Ara...
The first love-nya...
Ia tidak menyangka dihalaman rumah nenek, ia kembali bertemu dengan first love-nya. Walaupun dengan keadaan dan status yang berbeda.