"Mery aku mencintai mu, tidak cukup kah itu untuk mu?"
"Tidak, aku tidak menginginkan nya lagi... bisakah kita berteman saja?"
Bagai tersambar petir di siang bolong, hati Lana menjerit kesakitan.
"Lalu dimana janji janji mu yang pernah kau ucapkan?"
"Apakah itu semuanya hanya dusta?"
-----
Tiga bulan lalu, dalam sebuah perjalanan Maulana mencari cinta. Tanpa sengaja Lana berjumpa dengan seorang wanita, wanita yang akan memporak porandakan hatinya hingga berserakan tak bersisa.
"Siapakah dia? Wanita yang begitu mempesona. Mengapa jantungku berdebar begitu cepat saat melihatnya. Apakah ini cinta?" Batin Lana "haruskah aku mengejarnya?"
.......
Pagi itu di taman kota Lana dengan sengaja menunggu wanita itu agar dia dapat berkenalan dengan nya. Seperti Tuhan merestui, Lana dipertemukan dengan wanita tersebut. Lana dengan sengaja berpura pura menjatuhkan sapu tangan miliknya.
"Permisi maaf sapu tangan anda terjatuh Kak." Ucap wanita yang itu.
"Oh terimakasih nona..." mengambil sapu tangan miliknya.
"Oya bolehkan saya berkenalan dengan mu?" Ucap Lana
Dengan tersipu wanita itu pun mwngulurkan tangan nya.
"Iya kak, namaku Meryana. Panggil saja Mery. Kalau kakak, siapa?" Tanya Mery.
"Kenalkan namaku Maulana, panggil saja aku Lana biar keliatan lebih akrab." Jawab Lana
"Baiklah kak Lana."
Hati Lana sangat bahagia bisa berkenalan dengannya, dalam beberapa kesempatan mereka saling berjumpa dan semakin dekat. Ketika ada acara acara tertentu Lana selalu mengajak Mery, mereka selalu tampak serasi dan membuat semua orang iri.
Suatu malam di pertemuan mereka.
"Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan sayang?" Ucap Lana.
"Tentu saja sayang." Dengan senyum khas nya Mery meng iya kan " tapi apakah tidak apa apa? Bukankah kita bukan sepasang kekasih?"
"Kalau begitu, maukah kau menjadi kekasihku Mery?" Memegang kedua tangan Mery.
"Ya tentu saja aku mau, kau tau aku mencintaimu pada pandangan pertama." Mery tertunduk tersipu malu mengungkapkan perasaannya.
"Benarkah? Aku bahagia ternyata aku tidak cinta sendiri." Kata Lana
"Mery berjanjilah kau tak akan pernah meninggalkan aku."
"Mana mungkin aku akan meninggalkanmu, atau mungkin kau yang akan bosan dan meninggalkan ku." Jawab Mery
"Tidak mery aku pasti akan selalu bersama mu, aku sangat mencintaimu Mery."
Mereka menjalani hari hari dengan bahagia meskipun ada saja pertengkaran namun itu tak menyusutkan rasa cinta diantara mereka. Seperti itulah pandangan orang terhadap hubungan mereka, hubunga yang manis.
....
Suatu ketika Lana melihat Mery bersama seorang pria yang tak lain adalah sahabat Mery. Mery terlihat sangat bahagia bersama pria tersebut.
Begitu dalam rasa cinta Lana terhadap Mery sehingga Lana dibutakan mata hati nya dan selalu mempercayai apa yang dilakukan Mery.
Malam itu Lana berniat memberi kejutan dengan melamar Mery, ia membawa sebuah cincin yang sederhana namun sangat bermakna.
Akan tetapi apa yang terjadi sebelum Lana mengungkapkan tujuan nya sangatlah mengejutkan.
"Mery ada yang ingin aku sampaikan padamu, aku..."
"Kak bolehkah aku berbicara terlebih dahulu? Aku pun ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadamu." Sanggah Mery
"Oh baiklah sayang apa yang ingin kau katakan? Kenapa aku jadi deg deg an.." Lana mencoba mencairkan suasana, dalam hati nya mengapa Mery memanggilnya dengan sebutan kakak.
"Aku ingin kita berpisah."
"Aku rasa hubungan kita adalah sebuah kesalahan, aku menyukai orang lain sebelum bertemu dengan mu. Aku kira dengan bersamamu aku akan bisa melupakan nya, akan tetapi setiap saat bersama mu semakin aku merasa bahwa aku mencintai nya. Maafkan aku kak Lana."
Duarrr bagai tersambar petir, pengakuan Mery membuat Lana syok. Lana bergeming.
"Tapi tapi kita, katamu, apa ini? Katakan kalau ini hanya gurauan sayang.. iya kan?" Kilah Lana mencoba menepis penjelasan Mery
"Tidak kak ini benar. Maafkan aku" jawab Mery
"Mery aku mencintai mu, tidak cukup kah itu untuk mu?"
"Tidak, aku tidak menginginkan nya lagi..."
Seperti tertusuk sembilu hati Lana menjerit kesakitan.
"Lalu dimana janji janji mu yang pernah kau ucapkan?"
"Apakah itu semuanya hanya dusta?"
"Maafkan aku kak Lana, aku pergi. Aku harap kau akan bertemu dengan orang yang benar benar mencintaimu." Mery melangkah pergi meninggalkan Lana seorang diri.
Maulana terduduk lesu d bangku taman yang sudah ia hias sedemikian rupa. Tak terasa ia meneteskan air matanya. Ia berbicara sendiri menatap cincin yang ia persiapkan...
"Betapa bodohnya diriku ini."
"Oh Mery bagaimana ini, apa yang harus kulakukan tanpamu?"
Setelah kejadian itu tak ada kabar dari keduanya, mereka bagai hilang ditelan bumi seperti cinta Maulana yang kandas layaknya debu tertiup angin.
_tamat_