Cinta itu tak terbatas. Cinta itu tidak hanya dengan sesama manusia.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
WUUSH! BOOM! BOOM! BOOM! Suara ledakan yang disertai dengan terlihat nya percikan api.
"Menyerahlah! Alien lemah!" Ucap seseorang (sebenarnya bukan orang sih..) setelah melakukan serangan-serangan menggunakan sebuah alat penembak di pergelangan tangan kirinya.
"Tidak akan!" Seru alien yang satunya lagi dengan suara yang lantang. Meskipun ukuran tubuhnya masih lebih kecil dibanding yang satunya tadi, dan terdapat goresan-goresan luka di wajah dan tangan yang tidak tertutup pelindung.
"Baiklah, buktikan kalau kau tidak lemah! Kembalilah kalau kau bisa!" Ucapnya dengan suara keras, sambil mendorong alien yang satunya dengan sangat kuat. Hingga alien tersebut terdorong hingga masuk ke atmosfer bumi.
"WAAAAAAAAAAA!"
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Di bumi, tepatnya di pinggiran pulau alias pantai, ada seorang gadis berusia sekitar 14 tahun, yang sedang berjalan di pinggiran pantai untuk mencari benda yang dapat mengganggu pemandangan dan dapat mencemari ekosistem, apalagi kalau bukan sampah.
"Huh! Kenapa aku mudah sekali di jebak?" Gerutunya sambil sedikit menggesekkan sepatunya pada pasir pantai yang putih. Sebelumnya, dia belum sempat untuk berganti pakaian, akibat dia terkena masalah.
Sebenarnya, dia melakukan itu bukan tanpa alasan. Dia di tuduh oleh temannya kalau dia itu membuang sampah di laut dan pada akhirnya, dia yang mendapat hukuman.
Dia hanya pasrah pada keadaan. Tidak berniat untuk balas dendam sedikitpun. Dia pun melakukannya sambil berusaha untuk menerimanya.
Sudah 15 menit dia menelusuri pantai, sedikit lagi selesai. Dan sekarang dia hampir sampai di dekat batu karang yang menjadi penghujung pantai. Dia melihat ada yang aneh.
"Apa itu? Apakah kain atau plastik?" Ucapnya dalam hati sambil memandang benda aneh yang tersangkut di pinggir batu karang yang dekat dengan permukaan air laut.
Dia memutuskan untuk mengambilnya. Tak lupa, dia melepas sepatunya terlebih dahulu, kemudian melipat celana panjangnya hingga selutut. Dia pun mendekati benda tersebut.
"Ya ampun! Apakah dia masih hidup?" Ucapnya terkejut, setelah melihat benda aneh tersebut ternyata adalah makhluk hidup, atau mungkin sudah tidak hidup.
"Aku harus bagaimana?" Dia bingung harus berbuat apa. Kemudian, terlintas sebuah ide. Pertama, dia membawa orang itu ke daratan terlebih dahulu.
"Badannya lebih besar dariku, tapi dia tidak terlalu berat," ucapnya sambil merangkulnya dan berjalan ke daratan.
Setelah sampai di daratan, membaringkan tubuh orang itu. Dan berpikir bagaimana caranya untuk menyadarkan orang itu. Hanny menepuk pelan pipi orang tersebut seraya berkata, "Hey, bangun.."
Tidak lama kemudian, orang tersebut mulai membuka matanya. Betapa terkejutnya Hanny setelah melihat orang tersebut. Yang membuatnya menarik adalah warna mata yang berbeda, yang kanan berwarna merah dan yang kiri berwarna ungu.
"Siapa kau?" Tanyanya dengan nada takut.
"Jangan takut, aku bukan orang jahat. Tadi aku menemukanmu di sana," ucap Hanny sambil menunjuk ke arah tempat dimana dia bertemu dengan orang itu.
Orang yang menjadi lawan bicaranya tampak sedang berpikir. Berusaha untuk mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Kamu, berasal dari mana?" Hanny bertanya.
Alih-alih menjawab, dia malah menatap langit siang menjelang sore yang cerah itu.
"Dari sana," ucapnya pelan.
"Dari sana? Dari langit? Apa dia makhluk langit?" kata Hanny dalam hati.
Kemudian, orang itu mengatakan sesuatu yang tidak Hanny mengerti. Sepertinya, itu bahasa orang sana.
"Ooh, aku mungkin tau maksudmu. Kau berterima kasih padaku ya?"
"Terima kasih? Apa itu?"
"Terima kasih itu, ungkapan yang digunakan untuk mengapresiasi pemberian orang lain padamu. Orang bumi menyebutnya dengan nama 'terima kasih'."
"Iya, aku.. berterima kasih padamu," ucapnya.
"Oh iya, kita belum berkenalan. Aku Hanny, siapa namamu?" Tanya Hanny sambil mengulurkan tangan kanannya.
Dia belum mengulurkan tangannya juga untuk bersalaman dengan Hanny, dia menggeleng pelan.
"Apa, kau tak punya nama?" tanya Hanny sekali lagi, dia tetap menggeleng.
"Kalau dia tak punya nama, bagaimana cara orang lain memanggilnya?" kata Hanny dalam hati.
"Hmm, bagaimana kalau namamu Hideaki?"
"Hi.. deaki?"
"Ya, Hideaki. Artinya baik, cerah dan bersinar. Hari ini sangat cerah dan bersinar kan? Aku menemukanmu hari ini." ucap Hanny sambil menunjukkan senyumannya.
"Aku.. Hideaki?" tanya nya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, mulai sekarang, aku akan memanggilmu Hideaki."
Tidak lama kemudian, ekspresi Hideaki berubah. Dia memegang kepala.
"Sepertinya.. aku mengingat sesuatu." ucapnya.
"Apa yang kau ingat?" tanya Hanny dengan wajah penasaran.
"Prajurit Alien. Armorku. Planet NS213Y."
"Apa kau ingat, bagaimana kau bisa ada disini?"
"Hmm saat aku sedang berlatih, dan gagal untuk yang keseratus kalinya, sebab aku lemah. Mereka membuangku ke planet ini. Aku juga kehilangan armorku." ucap Hideaki dengan nada yang rendah.
"Membuangmu? Jahat sekali, apa mereka tak sayang padamu?"
"Apa itu 'sayang'?"
"Ah, bagaimana aku menjelaskannya ya? Lebih baik kau mencari tau sendiri, Hideaki. Aku akan memberikan kasih sayang ku untukmu."
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
"Jadi, Hideaki. Apa kau tidak ingin kembali?" tanya Hanny sambil melihat matahari yang mulai terbenam.
"Aku sudah dibuang, untuk apa aku kembali? Aku sudah tidak diperlukan. Aku juga kehilangan armorku, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Biarkan aku mati disini setelah lima puluh jam kedepannya." Hideaki menjelaskan. Hanny langsung menatapnya bingung.
"Apa? Mati setelah lima puluh jam?" tanya Hanny sambil menatap Hideaki dengan tatapan tidak percaya.
"Ya, tubuhku tidak akan bertahan lama di planet ini."
"Kau tidak boleh mati, Hideaki. Aku akan membantumu mencari armor milikmu. Pokoknya kau tidak boleh mati, Hideaki."
"Terima kasih," ucap Hideaki sambil tersenyum. Benar-benar menawan sekali, alien yang satu ini.
Tanpa Hanny duga, jantungnya berdegup kencang. Deg! Deg! Deg! Wajahnya juga merona. Untuk menahan malu, dia malah sedikit menggembungkan pipinya.
"Kau, kenapa?" Tanya Hideaki sambil mengamati wajah Hanny yang ekspresinya telah berubah.
"Ti.. tidak apa-apa kok." Ucap Hanny semakin malu. Apalagi saat ini, Hideaki malah mendekatkan wajahnya.
"Hi.. Hi.. Hide.. Hideaki, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Hanny gugup.
"Wajahmu imut sekali." Jawabnya.
"Jangan bilang, kau akan-" ucapan Hanny terpotong, setelah..
"Woy, Hanny! Kenapa kau malah diam saja disitu?! Apa hukumanmu sudah selesai?!" Tanya seseorang yang baru sampai dari belakang Hanny. Dia adalah salah satu temannya yang sering membully dirinya.
"Sudah kok." Balas Hanny sambil menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu, cepatlah dasar lambat! Kita akan segera pulang!" Bentaknya lagi. Kemudian, dia langsung pergi saja.
"Tunggu, apakah dia tidak melihat Hideaki ada disini?" Gumamnya, tapi Hideaki dapat mendengarnya.
"Tidak, 99,98% manusia bumi tidak bisa melihatku. Kalau kau, bisa."
"Kalian akan pulang ya?" Lanjut Hideaki dengan ekspresi wajah yang berubah.
"Iya. Tapi, jangan sedih. Selama kau masih di bumi ini, kau boleh tinggal bersamaku. Tapi semoga saja ibu dan ayahku tidak bisa melihatmu." Ucap Hanny.
"Mereka memang tidak bisa melihatku. Tapi, sungguh? Kau memperbolehkan aku untuk tinggal denganmu?"
"Ya, dan aku juga pasti akan membantumu menemukan armor milikmu."
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=
Malam harinya, di kamar Hanny. Hideaki benar-benar menginap di rumah Hanny. Dia kan tak terlihat, jadi mungkin tidak apa-apa.
"Kau tunggu disini, Hide. Aku akan keluar dulu mengambil camilan." Ucap Hanny pada Hideaki.
"Tidak apa-apa, Hanny. Aku kan alien, jadi tidak bisa makan makanan orang bumi. Lagipula, kami hanya makan sekali dalam seminggu." Balas Hideaki sambil memasang senyumnya. Membuat Hanny jadi blush lagi.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan tidur saja. Besok kita akan mulai mencari armor milikmu." Ucap Hanny sambil naik ke atas ranjangnya.
"Okey, aku tidak akan tidur."
"Kenapa?"
"Kami hanya membutuhkan waktu 10 jam per bulan untuk tidur."
"Jadi begitu? Tapi, selama aku tidur, kau tidak boleh melakukan hal yang aneh-aneh ya." Ucap Hanny memperingatkan.
"Aneh-aneh apa maksudmu?"
"Ah, dia kan alien, dia tidak mengerti hal seperti itu." Kata Hanny dalam hati.
"Lupakan, aku akan tidur sekarang."
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Skip pagi harinya, masih jam setengah enam pagi. Hanny mengerjapkan matanya. Ketika itu, dia melihat Hideaki yang sedang duduk di kursi meja belajarnya, sambil membaca buku yang agak tebal. Hanny mencoba menajamkan penglihatannya.
"Apa?! Dia membaca novelku?" Tanya Hanny dalam hati setelah dapat melihat judul buku tersebut. Buku bersampul warna biru dengan judul 'Mengejar Cinta' yang baru-baru ini dia beli.
"Kau sudah bangun, Hanny?" Ucap Hideaki tanpa menoleh ke arahnya.
"I.. iya." Jawab Hanny sambil berpura-pura mengucek matanya.
"Kau tunggu dulu, aku akan segera bersiap membantumu menemukan armor milikmu. Hari ini, sekolah libur karena tanggal merah. Jadi aku bisa bebas!" ucap Hanny sambil menghempaskan selimutnya.
"Hanny! Kenapa kau teriak-teriak, nak?" ucap ibunya tiba-tiba sambil membuka pintu kamar Hanny yang tidak terkunci.
"Ah.. ti.. tidak apa-apa kok, Bu. Aku hanya.. Hanya terlalu senang saja." ucap Hanny mencari alasan.
"Hmm aneh sekali. Dari semalam, kau seperti sedang berbicara dengan seseorang. Apa kau menyembunyikan seseorang di dalam kamarmu?"
"A.. apa maksud Ibu?"
"Jangan pura-pura tidak tau. Ibu akan mengecek seluruh kamarmu." ucap ibunya Hanny, kemudian segera melihat-lihat isi kamar Hanny. Tidak ada yang mencurigakan. Keberadaan Hideaki tidak diketahuinya.
"Tidak ada siapa-siapa kan, Bu?" ucap Hanny dengan senang.
"Huh, semakin hari, kau semakin bertambah aneh saja, apa kau mulai menjadi gila?" tanya ibunya Hanny lagi, kemudian berjalan keluar kamar.
"Oke, Hideaki. Kau tunggu sebentar. Aku akan mandi dulu, kemudian kembali kesini." ucap Hanny sambil beranjak dari tempat tidurnya.
"Mandi? Apa itu mandi?"
"Mandi itu kegiatan untuk membersihkan dan menyegarkan tubuh. Manusia mandi menggunakan air."
"Air? Di planet tempat tinggalku, air menjadi barang yang sangat langka dan juga mahal. Di bumi ini banyak air ya?"
"Iya, dua per tiga planet ini adalah air."
"Ooh, begitu. Jadi, apakah aku boleh ikut mandi?"
"Haa? Tidak boleh!"
"Kenapa? Apakah airnya akan habis?" dengan polosnya, Hideaki bertanya sambil memiringkan kepalanya.
"Bu.. bukan begitu. Hah, bagaimana aku menjelaskannya ya? Bagini.. Kau laki-laki kan? Dan aku perempuan, tidak boleh mandi bersama."
"Kenapa?"
"E.. entahlah! Kalau aku menjelaskannya, kau hanya akan menjadi sangat penasaran. Pokoknya, aku akan mandi, dan kau tunggu disini saja." setelah itu, Hanny pun berjalan keluar dari kamarnya.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
"Jadi, Hide, dimana perkiraan armormu berada?" tanya Hanny. Saat ini, mereka berjalan beriringan. Mereka sedang dalam perjalanan ke hutan utara untuk mencari armor milik Hideaki.
"Di hutan utara, dekat dengan danau. Tidak terlalu jauh kok." jawabnya.
"Kau sudah disini sejak kemarin sore, dan sekarang sudah jam delapan pagi. Jadi, sudah tujuh belas jam kau disini."
"Tidak, aku di planet ini sudah empat puluh dua jam."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Iya, sebelum kau menemukanku, aku berada di perairan terus selama dua puluh lima jam."
"Jadi, sehari satu jam kau berada di laut. Dan kau baik-baik saja sekarang tanpa luka sedikitpun. Luar biasa."
"Luar biasa, ya? Bagi mereka, aku ini termasuk alien yang lemah."
"Berhenti menyebut dirimu lemah, Hide."
"Tapi, kenyataannya memang begitu. Disana, kami membutuhkan kekuatan dan kecerdasan untuk dapat bertahan hidup. Kau, beruntung ya, bisa tinggal di bumi bertahun-tahun. Sedangkan aku, sejak kecil aku dididik dengan kekerasan. Sangat jarang sekali, alien disana yang mendapatkan cinta dan kasih sayang." Hide menceritakan pengalamannya, menundukkan kepalanya. Hanny yang melihatnya pun merasa khawatir.
"Jangan sedih, Hideaki. Selama kau disini, aku akan memberikan cinta dan kasih sayang padamu." ucap Hanny sambil menggenggam tangan Hideaki dengan erat.
"Terima.. kasih.."
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Satu jam mereka berjalan, akhirnya mereka telah sampai di tempat yang terdapat armor milik Hideaki.
"Itu bukan?" tanya Hanny sambil menunjuk ke arah bawah pohon. Di sana terdapat baju yang terbuat dari besi, seperti baju perang.
"Iya, itu."
Tapi, sebelum mereka mengambil benda tersebut, ada seseorang yang lebih dahulu mengambil armor milik Hideaki. Bagi Hideaki, dia tidak asing.
"Wah wah wah.. ternyata kau masih hidup ya?" tanyanya sambil memegang armor tersebut menggunakan tangan kirinya. Dia adalah alien jahat yang telah membuang Hideaki ke Bumi.
"Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Hideaki dengan suara yang lantang.
"Tidak apa-apa. Hanya berusaha mencegahmu untuk kembali saja." balasnya dengan santai. Dan perlahan-lahan, armor milik Hideaki mulai meleleh dan kemudian hancur.
"Apa yang kau lakukan?!" kini, Hanny yang bersuara.
"Kubilang kan aku hanya mencoba mencegahnya untuk kembali. Apa kau masih belum mengerti?"
"Begitu teganya kalian, kenapa kalian tega melakukan hal seperti itu?" tanya Hanny lagi, matanya berkaca-kaca membayangkan apa yang terjadi pada Hideaki selama ini.
"Yang lemah memang harus disingkirkan."
"Salah! Tidak ada yang lemah di alam ini. Mereka punya cara sendiri-sendiri untuk bisa menjadi kuat."
"Heh manusia bumi, berani sekali.."
BUUUMMM!
"AWAAAS!"
Telah terjadi suatu ledakan, tepat dimana Hanny berada. Namun, dengan sigap, Hideaki segera mendorongnya supaya tidak terkena ledakan tersebut. Mereka berdua baik-baik saja, Hanny masih butuh waktu untuk mencerna kejadian yang barusan.
"Kau baik-baik saja, Hanny?" tanya Hideaki cemas.
"I.. iya."
"Beraninya kau menyerangnya? Aku akan membuat perhitungan denganmu!" Hideaki berdiri di depan alien yang tadi.
"Cih! Kau itu lemah! Kau telah menyia-nyiakan kesempatan hidup delapan jam lagi."
"Apa maksudmu?"
DUAAARRRR!
Ledakan kembali terjadi. Alien tadi menghilang entah kemana ketika ledakan terjadi. Hanny baik-baik saja, tapi..
"Hide!" ucap Hanny super duper panik. Dia berada dalam dekapan Hideaki yang terkena ledakan tadi. Tubuhnya mulai berubah menjadi kepingan-kepingan berwarna putih yang cerah dan bersinar.
"Hanny, aku mencintaimu. Apakah kau masih mencintai aku?" tanya Hideaki dengan suara yang lemah.
"Iya, Hideaki. Aku akan selalu mencintaimu. Tapi, kau jangan pergi."
"Maafkan aku, Hanny. Dia benar, aku ini memang lemah. Tapi, aku masih berhasil melindungi mu untuk yang terakhir kalinya."
"Apa yang kau bicarakan, Hide?"
"Tidak tau, intinya.. aku mencintaimu. Aku sayang padamu."
CUP!
Sebelum menghilang, Hideaki menyempatkan diri untuk mengecup singkat kening Hanny. Air mata menetes melewati kedua pipi Hanny. Saat ini, Hideaki benar-benar telah menghilang.
"Hiks.. Hideaki.. Hiks.. Kau bilang kau mencintaiku? Kenapa kau meninggalkanku? AAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!" Hanny berteriak sekencang yang dia bisa, sampai lehernya terasa sakit.
Itulah akhir dari cerita ini. Alien yang mendapatkan cinta dan kasih sayang pertamanya dari seorang manusia.
~Tamat~
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Bikin cerpen di tengah-tengah kesibukan. Gimana aku ini? Tapi, gak apa-apa lah, dari pada ide ini terbuang sia-sia dan kepikiran terus, jadi ganggu waktuku kan.
Don't forget to like and comment. I hope you like this. See you..