Lapangan yang tidak luas menjadi tempat seru bagi kami anak-anak yang suka bermain bola.
Namaku Julyo, aku suka bermain bola. Hari ini ku bermain dengan Adi, Arya, dan Agus.
"Oper sini bolanya!" ucap rekan timku (Agus) yang sudah berlari didepan.
"Bugg...!" suara tendanganku mengarah ke depan.
Kami hanya berempat, tanpa kiper penjaga kami juga tetap bermain. Kesenangan menjadi yang utama bukan kemenangan.
"Tendangan kucing nyolong ikan!" suara Agus yang sudah siap menendang.
Tendangan yang melengkung, sudah membobol pertahan dari kiper dadakan Arya.
"Goll" ucap ku dengan Agus sambil tos.
Waktu terus berlalu kami tak menghiraukan skornya. Kami hanya melihat senang yang kami rasakan. Tanpa sadar cuaca yang tadi cerah, berubah menjadi mendung. Gelapnya awan sudah memberi tanda akan turunnya hujan, tapi kami tidak menghiraukan itu.
Grudugg!
Suara yang keras diatas, tiba-tiba membuat kami berhenti bermain. Angin yang tenang berubah menjadi keras.
"Lihat itu!" ucap Adi yang menunjuk ke arah barat. Tetesan air yang sudah berbaris, sudah berwarna putih dari kejauhan kami memandang.
"Pulang semua!" ucapku sambil mengambil bola. Kami berlari menuju jalan pulang yang searah.
Datangnya hujan sudah cepat dengan bantuan angin yang mendorong. Awan hitam yang berat membawa air sudah siap memjatuhkan air.
Tak tak tak!
Tetesan air hujan menimpa tanganku. Rumah masih jauh, tapi hujan sudah mengejar.
"Ayo cepat!" ucapku yang sudah memaksa lari.
Namanya kecepatan angin, yang lebih cepat berkali lipat. Kami tak kuat lari lagi, jalan yang menanjak menguras tenaga kami.
"Kesana aja!" ucap Agus sambil menuju gubuk. Gubuk ini tempat istirahat orang yang habis kerja di kebun.
Ku pun bergegas kesana dengan yang lain. Hujan datang dan membuat kami tak bisa menerobos. Hujan yang deras membuat kami kedinginan. Awan gelap dilangit masih tetap menghitam.
"Hujan ini bakal lama teman!" ucap ku sambil mencari tempat duduk.
Sudah berlalu beberapa waktu hujan masih tetap deras. Dingin membuat kami duduk berdekatan dengan rapat.
Aku berdiri dan coba mencari hal yang bisa menghangatkan tubuh. Aku melihat sebuah kotak di atas. Posisinya terapit atap, kumenjatuhkan kotak itu dengan kayu.
"Apa itu?" tanya Agus pada ku.
Ku buka kotak itu dan berisi sebuah korek api yang sudah lama gak digunakan dan beberapa plastik kosong.
"Isinya cuma ini aja!" ucap ku pada yang lain.
Ada korek api tapi tak ada kayu bakar. Adanya cuma ranting kayu yang kecil tadi ku pakai. Karena dingin, jadi kami tetap membuat api unggun dari ranting itu.
"Wah, lu...lumayan. Tapi masih dingin juga." ucap Arya yang sudah kedinginan tadi.
Waktu sudah berlalu hingga sore. Awan sudah mulai memutih, hujan pun mulai mereda. Dengan api kecil yang menemani waktu kami, sudah membuat tubuh kami hangat.
Sambil menunggu hujan reda temanku si Adi mulai bercerita karena bosannya.
"Dah, sambil nunggu hujan reda aku punya cerita mau dengar gak?" ucap Adi.
"Mau!" jawab kami serentak.
"Baiklah, dengar baik-baik ya. Ehm..hm..." ucap Adi.
"Disebuah bukit yang tinggi. Terdapatlah sebuah rumah yang sangat indah, pemandangan yang bagus, cuaca disana selalu sejuk dan kadang-kadang ada awan yang menyelimutinya.
15 menit kemudian.
Ahirnya, keluarga itu menghilang. Banyak misteri yang terjadi sejak kabut itu mulai datang. Jadi rumah itu mulai kosong dan menyeramkan. Banyak hantu katanya disana, itu kata orang yang sering naik bukit. Pada ahirnya misteri kenapa keluarga itu pindah masih belum jelas, ada yang bilang karena anaknya hilang, ada yang bilang ada hal yang menyeramkan dan ada yang bilang rumah itu bisa berpindah. Mana yang asli aku gak tau, yang pasti itu cerita dari nenekku. Gimana ceritanya?" ahir kata Adi saat bercerita.
Pas Adi habis cerita, cuaca sudah cerah.
"Pulang, ayo pulang..!" ucap Agus yang sudah berjalan duluan. Kami menyusulnya setelah membersihkan tempat itu.
"Jadi ceritanya asli apa palsu Di?" tanyaku penasaran pada ceritanya tadi.
"Gak tau Jul, itu cerita dari nenek." jawab Adi.
Kami berjalan menuju rumah sambil melewati jalan basah. Sekali-kali Arya isi perosotan dijalan yang licin, sampai celananya molor. Kami lanjut dan seterusnya.
H a b i s.
😷
Terimakasih atas waktunya.
#like dan komentarnya