Pukul satu pagi, masih temaram sebab sang bulan masih gagah pada persinggahannya. Mengingat beberapa jam lagi usai tugasnya digantikan matahari. Seharusnya pada jam-jam seperti ini orang-orang banyak memilih larut dalam mimpi atau setidaknya bersantai di rumah sebab udara luar sangat dingin.
Lain orang lain kebiasaan, pun bagi pria itu, pukul satu pagi adalah self healing nya. Bukan menikmati kopi atau mendengarkan musik. Ini lebih dari itu.
Membunuh.
Pria itu menatap korban yang terkapar dengan beberapa bagian tersayang, benar-benar tak layak dipandang mata, tapi itulah self healing nya. orang-orang menyebutnya psikopat.
Tepat pukul lima pagi, pria itu sudah berada di rumahnya, melenyapkan segala yang melekat pada tubuhnya, sebuah saksi bisu yang terbakar dengan bercak-bercak darah masih tersisa. Pria itu menyeringai, hanya satu yang tak ia lenyapkan, sebuah pisau yang menemaninya selama ini. Entah untuk menyayat orang lain, atau menyayat dirinya sendiri.
Usai kegiatannya itu, pria itu kemudian bersiap-siap, sudah ada janji dengan seseorang. Jadi setelah dirinya rapi, ia berjalan menuju mobilnya. Sengaja memacu perlahan agar bisa menyapa beberapa tetangganya. Ia sebenarnya ramah, seorang psikopat cenderung menyembunyikan kebiasaannya dengan hal-hal sederhana, seperti saat ini. Menyapa beberapa tetangganya yang kebetulan lewat dengan senyum manisnya.
Hingga tepat saat mobilnya melaju di jalan raya, ia memacu nya agak cepat. Takut terlambat.
Tepat di depan sebuah gedung besar, pria itu turun tergesa-gesa. Tak lupa mengambil bunga Mawar merah dari jok belakang. yang sudah ia beli sebelumnya, lalu berjalan pelan menuju sebuah ruangan.
"Tuan Lino, anda kembali?" Pria itu tersenyum di ambang pintu. Baru masuk sudah disambut senyuman manis dari orang di dalamnya.
Lino menatap psikiater cantik itu, sejauh ini ia tak pernah mau dicap gila tapi akhir-akhir ini dirinya seakan dilanda sesuatu yang sulit dijelaskan. Berawal dari gadis ini yang datang padanya kala Lino benar-benar kacau, menyayat pergelangan tangannya sendiri di sebuah gang kecil. Gadis itu seharusnya takut, tapi ia malah mendekat menawarkan bantuan hingga Lino punya jadwal khusus untuk berkonsultasi dengan gadis di depannya.
Entah ini perasaan khusus yang orang sebut cinta, atau perasaan penasaran yang Lino sebut target baru. Gila, Lino menginginkan gadis di depannya menjerit karenanya, bukan karena bercinta tapi ketika tangan Lino bermain indah bersama pisau menyayat setiap inci kulit putih mulus itu. Lino menginginkannya, target barunya, sang psikiater cantik.
"Selamat pagi dokter Iris." Lino meletakkan buket mawar merah itu di meja Iris, diterima langsung oleh si pemilik meja, dengan senyum manis tentunya. "Kau seharusnya tak perlu membawa ini." Walaupun suka, Iris terkadang tidak enak sebab setiap konsultasi Lino selalu membawa bunga beraneka macam, kadang-kadang buah atau makanan. Tidak pernah datang dengan tangan kosong.
"Ini sepertinya baru." Iris mengamati pergelangan tangan Lino, ada beberapa luka sayatan baru. Iris jadi ngilu, memang apa enaknya sih melukai diri sendiri. Lalu berjalan menuju pojok ruangan mencari kotak P3K.
"Iya, aku baru menyayatnya kemarin, agar kau obati." Lino terkekeh. Selain membawa barang Lino juga membawa tangan yang terluka, alasannya selalu sama, agar diobati oleh Iris.
Tangan mungil itu telaten mengobati setiap sayatan yang Lino buat, sangat hati-hati takut Lino kesakitan padahal Lino tak merasakan sakit, ia malah memandang Iris lekat-lekat. Bagaimana hanya dengan wangi nya membuat Lino bertambah gila.
"Sudah, jangan dilukai lagi." Iris merapikan peralatannya, lalu menepikannya. Melipat tangan diatas meja, Iris menatap Lino. "Kau ingin bercerita?" Tanyanya kemudian.
Lino tersenyum.
"Aku frustasi, Tidak suka sendirian lalu menyayat tangan ku lagi." Ujar Lino santai. Namun membuat Iris terdiam. sejauh ini Lino tak pernah menceritakan jika ia tak suka sendirian, kalau frustasi biasanya karena Lino sedang tidak suka dengan seseorang. Tapi kali ini ceritanya lain.
"Lalu aku kau anggap apa? Bukankah aku teman mu?" Ucap Iris.
Teman.
Lino tersenyum hambar. Lino tak pernah punya teman, atau mungkin ia memang menutup portal pertemanan. Saat sudah punya teman ia malah menjadikannya target. Tapi bagaimana? Sudah terlanjur penasaran.
Jadi Lino hanya tersenyum menanggapi. Ia bingung, ia bukan orang baik jadi untuk Iris maafkan Lino jika suatu saat hilang kendali.
.
.
.
.
Lino berjalan menyusuri lorong rumah sakit, dengan wajah datar tentunya. Sekalipun terlihat fokus nyatanya fikirannya jauh kepada Iris. Tidak, tidak bisa begini, Lino harus segera bertindak. Ia sebenarnya menginginkan bisa mencintai seseorang, tapi Iris, Iris hanya target. Jadi setelahnya Lino tersenyum sinis membuka ponsel kemudian mengetikkan sesuatu. Hingga tak butuh waktu lama sudah dibalas, satu senyuman terbit setelahnya.
.
.
.
.
Sudah hampir senja sejak Lino duduk di sofa rumahnya, dengan kemeja putih dan celana bahan hitam. Rapi, tak lupa beberapa botol anggur di meja, belum disentuh sebab masih menunggu seseorang.
Tak lama presensi yang ditunggu tiba di depan mata, ingin menyambutnya langsung Lino lantas Bergerak menuju tempat Iris berdiri. "Sudah lama menunggu ya?" Ucap Iris ketika Lino berada di depannya. Lino menggeleng, tersenyum innocent. Atau malah lebih mengarah pada seringai.
"Iris, kau teman ku kan?" Tanya Lino dengan nada rendah, seketika bulu kudu Iris meremang sebab Lino berbisik dekat sekali. Di samping telinganya. "K-kenapa?" mendadak suasananya menjadi gugup, bercampur ketegangan dari Iris.
"Bantu aku mendapatkan self healing ku." Lino mengeluarkan sebuah pisau. "Lino, maksudnya bagaimana?" Iris merasakan keadaan tidak kondusif lagi, ingin mencoba menenangkan Lino tapi tubuhnya sudah terpojok. Bau khas Lino menguar, sangat khas. Tapi posisi Iris tak pas untuk mengangumi bau maskulin milik Lino.
"Lino, kau kenapa?" Iris tahu Lino hilang kendali, tatapannya seperti kosong, bersama bibir yang tak berhenti tersenyum, Lino benar-benar menakutkan. "Aku tahu kau dari awal tahu jika diriku ini gila, psikopat. mengapa kau tidak menjauhi ku?" Tanya Lino.
"Karena aku ingin berteman dengan mu!" Ucap Iris berani, ia kemudian menatap mata Lino mencoba menyadarkan Lino lewat tatapan. Tapi kini Lino senyum Lino sudah meluntur. "Jangan bilang semua ini tentang pertemanan, aku tak pernah mau berteman dengan siapapun. Kau tahu tidak, karena kau mendekat aku jadi penasaran, kau target ku selanjutnya Iris, kau sadar tidak?" Ucap Lino berterus terang, Ia kemudian mengarahkan pisaunya ke arah leher Iris, hanya menempelkan belum sampai menyayatnya.
"Kalau self healing mu adalah membunuhku, silahkan saja." Iris tersenyum, seolah tidak apa-apa. Padahal nyawanya sedang terancam. Lino malah menertawakan gadis bodoh di depannya ini, padahal bisa saja berteriak, rumah Lino berada di perumahan padat, tentu saja akan banyak yang mendengar jika Iris berteriak.
Lino menyayat perlahan menimbulkan perih menjalar pada sekitar tubuh Iris, pusatnya pada kulit leher. Iris mengigit bibir bawahnya mencoba menahan sakit.
Tak lama Lino mengehentikan aktivitasnya, menatap Iris lama. Kemudian menghela napas. "Ku beri kesempatan, Lari lah sejauh-jauhnya Iris, jangan pernah muncul di depan ku lagi." Ujar Lino. Tapi seakan tak takut, Iris masih menatap Lino. "Lino, dengar! Aku ini sebatang kara, kau bisa membunuhku tidak ada yang akan mencari ku, jangan mengganti target mu dengan orang lain." Seharusnya Iris memohon agar Lino tak membunuhnya, tapi gadis di depannya ini malah memohon untuk dibunuh.
"Ini kan self healing mu, lakukan saja." ucap Iris setelahnya.
"Baiklah, kau yang meminta." Lino kembali mengarahkan pisau itu ke arah leher Iris. "Jangan menyesal Iris."
Iris menutup matanya, lalu menggigit bibir bawahnya saat merasakan pergerakan Lino di lehernya, jujur saja Ini sakit. Sakit sekali apalagi Lino melakukannya perlahan. Darah mengucur dari leher Iris. Sehingga mengotori jas putih Iris.
"Aku mencintaimu!"
Deg.
Lino menghentikan aktivitasnya, menatap Iris yang masih memejamkan mata.
Tak lagi merasakan kegiatan Lino, Iris lantas membuka mata, sedikit merasakan pusing sebab darahnya mengucur begitu banyak. "Kenapa berhenti?" Keduanya saling Pandang, lumayan lama tapi kemudian Iris menjerit, bukan karena Lino kembali melukainya tapi karena pria di depannya menggores lehernya sendiri dengan pisau yang sama yang Lino gunakan untuk menyayat Iris.
"LINO, APA YANG KAU LAKUKAN?" Lino kembali tersenyum, entah kenapa kali ini lebih tulus. "Aku sedang mendapatkan self healing ku." Ucapnya kemudian. "Kau gila?" Iris memegang leher Lino yang juga mengeluarkan darah.
"Memang, aku hanya ingin mendengar kau berteriak karena ku, tadi kau diam saat aku melukai mu, jadi aku mencoba melukai diriku sendiri, dan kau berteriak." Iris menatap tidak percaya.
"Rasa penasaran ku sudah terjawab, tapi aku masih menginginkan mu, apa ini juga artinya aku mencintaimu?" Iris terdiam, Sejenak wajahnya bersemu ketika Lino menatapnya begitu teduh, seolah Lino sudah mendapatkan kendalinya kembali. "Darahmu tak berhenti mengalir, ayo obati."
"Darahmu juga tak berhenti mengalir, kenapa kau masih memikirkan ku?" Tanya Lino membuat Iris terdiam.
"Aku mencintaimu."
"Iris, apa cinta harus mementingkan orang lain daripada diri sendiri?"
"Mungkin begitu."
Lino tersenyum.
"kalau begitu ayo aku obati luka mu dulu, aku merasa aku mencintaimu." Ujar Lino hingga keduanya tertawa bersama. Aneh, kegiatan mengungkapkan cinta itu berawal dari saling melukai.
Iris pun tak pernah membayangkan akan menyukai pria gila yang menjadi pasiennya, hampir mati tadi. Iris tak pernah menyangka semua akan berakhir seperti ini, dirinya dan Lino. Walaupun Lino masih terlihat tidak yakin dengan perasaanya, tapi Iris akan mencoba membuat Lino sembuh, sekaligus membuatnya yakin pada perasaannya.