Nyanyian burung hantu terus terdengar menandakan malam semakin larut. Mataku tak jua terpejam. Beberapa kali kubalik tubuh, mungkin saja dengan berpindah posisi akan mengantuk, namun nyatanya nihil. Gejolak memenuhi otakku setelah menemukan kotak berisi kenangan semasa sekolah saat berbenah tadi siang.
Aku mengangkat tubuh dari pembaringan. Kubungkukkan setelahnya, mengambil kotak berukir cantik berukuran 10x20cm di bawah ranjang. Aku melakukan gerakan perlahan agar tak membangunkan penghuni rumah yang lain.
Dengan langkah landai nyaris tak bersuara, aku melangkahkan kaki menuju jendela yang kubiarkan sedikit terbuka, hingga semilir angin mampu bersapa dengan kulit putihku.
Aku menggenggam kotak berisi cerita masa laluku. Kisah orang-orang terdekat yang menjadikan tali persahabatan sebuah permainan dan olok-olok. Menghancurkan ikatan murni, kedekatan yang begitu indah menjadi serpihan kaca yang menancap tanpa ampun.
Aku menghirup napas panjang saat jemari ini menyentuh pengunci kotak kayuku. Hatiku berdesir, sesak memenuhi ruang rasa. Sedih ... pilu ... tapi aku harus berani menghadapinya, menatap isi kotak ini. Kotak kenangan yang tak boleh mengganggu masa kiniku. Keteguhan jiwa, semangat dan keberanian telah menjadi jati diriku setelah hari itu.
Kotak kayuku akhirnya terbuka. Selembar bukti pilu tertangkap netraku. Setiap kejadian dan kata yang terjadi hari itu tergambar jelas ….
_________
7 TAHUN SILAM
"Zee, apaan tuh di laci meja lo? Ihh ... lo dapet surat, ya? Coba gue lihat!!" Suara Intan dan Anita menyadarkanku akan adanya amplop berwarna merah muda di laci. Dalam benakku dipenuhi tanya. Apa ini surat anak pagi yang tertinggal? Sekolah kami memang kekurangan kelas, sehingga kami memakai kelas bergantian, dan aku termasuk siswa kelas siang.
Tak menunggu lama dengan disaksikan Intan dan Anita, aku membaca kata yang tertulis di muka amplop tersebut. Aku terhenyak dan tak menyangka, bahwa surat tersebut ditujukan untukku.
To : Zee
From : B
"Hahh ... surat ini untukku, kah?" Aku langsung menghadap Intan dan Anita.
"Itu jelas untuk lo, Zee. Ayo dong buka! Siapa tuh cowok berinisial B yang ngirimin lo surat!" Intan sangat antusias terus membujuk untuk memperlihatkan isi surat itu padanya.
"Iya Zee, buka dong! Cie yang habis dapet surat cinta ...," goda Anita ke arahku.
Kedua sahabatku seolah memiliki celah untuk mengejekku. Diusiaku yang menginjak 16 tahun, memang belum pernah ada lelaki yang masuk ke hatiku. Jangankan berhubungan dengan lawan jenis beradu pandang saja aku malu rasanya. Maklumlah aku hanya gadis rumahan yang pendiam dan menghabiskan waktu untuk belajar dan membantu ibu di rumah. Walau sebetulnya tampangku cukup manis.
Itulah aku sebelum terpilih menjadi pengurus OSIS di sekolah. Dalam organisasi tersebut aku dipercaya menjadi sekretaris, sehingga membuat jendela kehidupanku mulai terbuka. Aku pun mulai berinteraksi dengan banyak orang.
Beberapa saat aku berpikir, jika kubuka surat ini di hadapan Intan dan Anita. Mereka pasti mengejekku. Lagi pula kasihan pria berinisial B itu. Ia pasti malu jika suratnya ternyata dibaca orang lain selain aku.
Aku pun berkata, "Sorry Tan, Ta ... kayaknya aku baca di rumah aja deh suratnya. Kita pulang, yuk!!" Ucapan yang membuat kedua sahabatku kecewa.
Sampai di rumah, Aku langsung mencari amplop pink dalam tas. Gemuruh penuh tanya kembali memenuhi otakku. Kubuka perlahan surat tersebut kini.
_________
Hai Zee ...
Beberapa hari ini aku selalu memperhatikanmu. aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Maukah kamu menjadi pacarku, Zee?
Kutunggu balasanmu segera!
Bias
_________
Bias? Kak Bias, kah? Detak jantungku mulai tak teratur. Hanya ada satu nama Bias di sekolah. Bias Bentala Pradana, seorang ketua ekskul Basket yang duduk di kelas 12. Tak mungkin rasanya ia mengirimiku surat.
Beberapa kali kami memang pernah bertemu, karena aku harus meminta tanda tangannya untuk kegiatan Bakti Sosial di sekolah. Tanda tangan yang dibubuhkan sebagai tanda bahwa seluruh anggota basket mensupport kegiatan yang diadakan pengurus OSIS.
Membahas surat cinta yang kuterima, aku tak menyangka Kak Bias akan menyukaiku. Secara siapa aku? Setauku Kak Bias adalah playboy dengan banyak mantan pacar cantik di sekolah. Bagaimana mungkin ia menyukaiku? Haruskah aku menjawab suratnya?
Hari berganti, entah mengapa matahari bergelora dengan buas hari ini, membuat pori kulit seakan terbakar. Aku menjalankan ibadah zuhur segera setelah adzan berkumandang dan bersiap ke sekolah setelahnya.
Hatiku terus berdebar, bagaimana jika aku bertemu Kak Bias di sekolah? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika ia menanyakan balasan suratnya?
Aku bermonolog hingga sopir angkot menurunkanku di seberang sekolah. Dengan otak yang masih dipenuhi sosok kak Bias. Aku melangkah menyebrangi jalan. Hingga tiba-tiba, sebuah suara membuyarkan anganku.
"Hati-hati kalau nyebrang! Jangan bengong!" Segera kupalingkan wajah mencari asal suara dan aku terperanjat saat tahu Kak Bias sedang menyamakan langkahnya di sebelahku.
"Kenapa lo liatin gue? Terpesona?" Ia kembali bertutur yang membuat dadaku sesak. Ini bukan pertama kalinya kami sedekat ini, tapi kali ini seakan berbeda. Ada apa denganku? Rasa apa ini? Jantungku serasa mau copot dibuatnya.
Dengan ragu kusunggingkan senyuman, namun ditanggapi datar. Ia bahkan berjalan semakin cepat meninggalkanku menghampiri rekan-rekannya. Ia tidak menanyakan balasan suratnya. Kenapa sikapnya demikian? Atau kak Bias tak ingin mempublish rasanya di muka umum. Perilakunya menimbulkan berbagai tanya di otakku.
Jam pelajaran matematika berakhir. Seperti biasa Bu Rahayu memintaku membawa buku tugas anak-anak ke kantor. Aku berjalan melewati lapangan kini. Tampak di sana ... kulihat kak Bias sedang bermain basket bersama rekan sekelasnya. Pakaian olahraganya yang basah oleh keringat, menampilkan jelas tubuh proporsionalnya. Juga Wajah tampan yang semakin bersinar di tengah terik, membuat aku tak bisa melepas pandang darinya.
Aku terus berjalan dengan degup jantung yang memompa dengan cepat, hingga tiba-tiba ...
BUG
Sebuah bola basket dengan keras menghantam wajahku, seperti apa rasanya sudah tak perlu ditanyakan. Jika tak malu ada kak Bias mungkin aku sudah terisak lantaran luar biasa sakit di pipi kananku. Aku mengabaikannya dan sibuk merapikan buku yang tercecer di lantai. Hingga seseorang dengan kaos olahraga berdiri di sampingku.
"Lo gpp, kan? Sorry ya!" Dan suara ini, seketika kudongakkan kepala, ia yang terus mengganggu konsentrasiku ada di dekatku. Kak Bias rupanya yang menjadi tersangka pembuat memar pipiku. Keadaan hening … aku bingung harus senang atau sedih mengetahuinya.
Kak Bias membungkukkan tubuhnya, ia membantu mengambil buku-buku yang terjatuh. "Pipi lo pasti sakit banget, gue nggak lihat ada lo tadi," ucapnya padaku.
Kata-katanya sungguh meluluhkanku. Aku yang sebetulnya merasa sakit seketika terus menggeleng menanggapi ujarannya.
"Yakin gpp? Ayo ikut gue ke UKS, biar gue kompres pipi lo!" Aku menatapnya sekilas lalu membuang wajahku, menetralkan degup jantung yang terasa cepat di dalam sana, adalah hal sangat sulit saat ini.
Ia tampak bangkit dengan tumpukkan buku di tangannya. "Lo ke UKS duluan nanti gue nyusul, gue anter buku ini ke bu Rahayu dulu!" Aku yang seakan terhipnotis dengan perhatiannya seketika melangkahkan kaki ke UKS berada.
"Woii Bii, lo mau kemana? Nggak lanjut lagi nih mainnya?" Terdengar teriakan teman kak Bias dari lapangan memanggil, hingga aku mendengar lirih jawaban kak Bias, "Nggak, gue udahan! Lo semua lanjut aja!"
Ia menepati janjinya. Pria dengan kaos olah raga memasuki ruang UKS dengan membawa baskom berisi air hangat yang entah ia dapat dari mana air tersebut.
"Duduk! Kalau sakit tahan, ya!" lontarnya seketika.
Saat ia hendak mengompres pipiku, aku menahannya. "A-ku bisa la-kuin sendiri, Kak. Ka-kak lanjut main lagi aja sana!" lontarku yang menghindari kontak fisik dengan kak Bias.
Setelah menatapku beberapa saat ia berujar. "Oh, yaudah. Sorry sekali lagi, ya!" Aku tak melihat lagi bayangnya.
Kak Bias … ia memang meninggalkanku di UKS, namun perhatiannya dengan membawakan air hangat untukku sungguh membuat hatiku tak karuan. Desiran yang tak kupahami, terus membuat dadaku sesak, sehingga otakku semakin tak mampu menghilangkan bayangnya.
Setelah istirahat adalah jam pelajaran Bahasa Inggris yang merupakan pelajaran yang sangat kubenci karena memang aku kurang pandai dalam pelajaran ini. Pak Bimo tampak masuk membawa setumpuk kertas berwarna putih dan melontarkan bahwa akan diadakan ulangan harian.
Karena kemampuan bahasa inggrisku yang minim, lemahlah ragaku. Belajar semalaman saja hasil tesku buruk bagaimana saat ini tanpa ada persiapan? Aku pun merasa pasrah dengan nilai yang akan kudapat. Pak Bimo memutari meja membagikan soal ulangan, hingga kertas putih laksana monster menakutkan sudah kupegang. Seperti yang kuduga, selain nama dan kelas yang mudah kujawab, soal lainnya cukup membuatku pusing. Benar-benar bingung harus menjawab apa atas soal yang tidak kumengerti.
Seperti biasa pak Bimo keluar kelas setelah membagikan soal. Aku terhenyak mendapati seseorang yang terkenal pandai bahasa Inggris di sekolah seketika masuk ke kelasku.
Ia langsung menuju bangku paling belakang menghampiri teman-teman lelaki di kelasku yang merupakan teman basketnya berada. Mereka seketika memberikan soal bahasa inggris yang dengan cepat diselesaikannya soal tersebut. Jawaban pun langsung menyebar kepada kami sekelas, namun belum lagi ia keluar dari kelas, pak Bimo masuk. Aku langsung panik.
Bagaimana jika pak Bimo menangkap kehadirannya? Hatiku tak ingin terjadi sesuatu dengannya? Bagaimana jika Pak Bimo menghukumnya?
Ternyata kejelian mata Pak Bimo menangkap bayang wajah yang bukan penghuni kelasku.
"Biasss!!! What are you doing here??" (Apa yang kamu lakukan di sini) teriak pak Bimo langsung mendekat dan menjewer keras telinga kak Bias. Pak Bimo membawa kak Bias keluar. Kak Bias menoleh ke arahku di kejauhan. Tak lama kulihat kak Bias berlari mengelilingi lapangan dengan matahari menyorotinya.
Bel pulang akhirnya berbunyi, Anita dan Intan yang berbeda kelas denganku tampak masuk. "Gimana Zee, surat dari Mr. B udah lo baca?"
"Hmmm ...." Aku pun bingung menjawab tanya mereka.
"Ayo dong cerita Zee! Kok lo mulai rahasia-rahasiaan dari kita, sih," lontar Anita yang membuatku tersentil dan merasa perlu menceritakan tentang surat yang kuterima kemarin.
"A-ku mau cerita, ta-pi tolong jadi rahasia kita bertiga aja, ya!" ucapku terbata.
"Tenang aja! Kita kan udah temenan lama dari SMP. Masa lo nggak percaya kita, sih!" Kulihat Intan dan anita saling menatap dan tersenyum.
Aku akhirnya memberitahu isi surat yang kuterima kemarin dan menceritakan pula setiap hal yang terjadi hari ini yang menimbulkan interaksi antar aku dan dia. Bahkan, aku juga menunjukkan surat tersebut di depan sahabatku. Entah karena mereka orang terdekatku, atau karena begitu bahagia aku mendapat surat darinya, atau mungkin karena terlalu polosku. Segalanya samar dan mengabu. Tapi yang tak samar adalah aku mulai menyukai kak Bias.
"Zee ... Zee!! Ihhh ... lo kok bengong sih. Sadar woiii!!"
"Eh, i-ya ... sorry Ta, apa tadi??"
"Terus lo gimana? Udah lo bales 'kan surat dari doi? Kak Bias cuyyy ... keren lo Zee bisa dapetin hati doi," goda Anita padaku yang sukses membuat wajahku merona.
"Iya, udah lo bales belum, Zee? Buruan bales gih, dari interaksi kalian tadi pagi jelas banget tuh doi naksir lo! Pastinya pula lo akan buat banyak cewek nangis karena liat kak Bias jadi cowo lo," timpal Intan.
"Bener banget tuh, kalau lo malu ngasih surat balasannya langsung ke doi. Kita berdua siap kok jadi delivery cinta lo. Iya 'kan, Tan?"
"Siippp," ujar Intan dengan cepat. Kulihat keduanya senyum menyeringai setelahnya.
Aku terus memikirkan setiap yang dikatakan kedua sahabatku, hingga aku mengutarakan tentang kebimbanganku membalas surat tersebut. Keduanya pun semakin membujukku untuk memantapkan hati karena usiaku sudah cukup dewasa dan semua orang juga melakukannya. Seperti halnya kedua sahabatku yang juga telah memiliki pacar dan kerap melakukan double date setiap akhir pekan.
Menjelang maghrib seperti biasa aku sampai di rumah. Setelah membersihkan diri dan menjalankan ibadah, aku terus memikirkan ucapan Intan dan anita yang membuatku memutuskan membalas surat dari kak Bias. Aku menulis tentang rasaku dan kesediaanku menjadi pacarnya.
Hari pun berganti, dengan penuh semangat kulangkahkan kakiku ke sekolah. Tanpa diduga aku berpapasan kembali dengan kak Bias saat menyeberang jalan. Dengan menyampingkan rasa malu, segera kuambil amplop berwarna ungu muda dari dalam tas dan aku mulai menyapa kak Bias.
"Ka-k Bi-as ...."
"Lo panggil gue?"
Setelah mengangguk, kusodorkan sebuah amplop yang kutulis tadi malam tersebut.
"Apaan nih?"
"Kakak baca, ya!"
Setelah amplop berpindah tangan, dengan cepat aku berlari meninggalkan kak Bias menuju kelas. Aku menghembuskan napas panjang dan membuangnya perlahan ke udara untuk menormalkan kerja jantungku saat ini.
Beberapa kali aku berpapasan dengan kak Bias setelahnya, namun kak Bias hanya melirik tanpa kata. Batinku terus bertanya, "Apakah kak Bias sudah membaca suratku? Kenapa ia seakan dingin dan tak merespon? Bahkan ia seperti menghindariku? Ada apa ini? Atau kata-kata dalam suratku ada yang menyinggungnya?" Aku terus bermonolog, hingga bel pulang akhirnya berbunyi.
Seperti biasa Anita dan Intan masuk ke kelas dan mengajak pulang bersama. Seperti biasa mereka duduk dahulu untuk berbincang. Intan yang melihat aku terus terdiam dengan cepat berkata, "Kenapa sih lo, Zee? Kok kayaknya murung gitu?"
"Aku gpp kok," jawabku.
"Oh ya, lo udah bikin surat balasan untuk kak Bias belum? Sini suratnya biar kita yang ngasih! Lo pasti nggak berani 'kan ngasih langsung sama doi?" tukas Intan yang kutanggapi dengan senyum kecilku.
"A-ku sudah kasih balasan suratku langsung ke ka-k Bias," lirihku sontak membuat kedua sahabatku kaget dan tertegun.
Aku memahami benak sahabat-sahabatku saat ini, aku yang terbilang pemalu dan pendiam ternyata berani menyerahkan balasan surat cinta kepada lawan jenis. Seseorang dengan notabene lelaki yang dipuja banyak wanita. Pantaslah jika mereka terhenyak.
Kami pun pulang bersama dan aku memperhatikan kedua sahabatku tak seceria biasanya, mereka lebih pendiam dan terlihat beberapa kali saling melirik.
Seminggu berlalu, hatiku semakin gundah tak jua mendapat balasan surat dari kak Bias. Kak Bias yang sedang menjadi wakil sekolah mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris se-Jakarta Barat hampir tidak pernah terlihat di sekolah, hingga aku merasa kehilangannya. Kehilangan sosok yang telah mencuri hatiku dan pernah mengutarakan rasanya padaku tersebut. Dalam benakku bergumam, inikah yang namanya rindu yang tertahan?
Hingga peringatan 17 Agustus diadakan kini di sekolah. Kulihat di kejauhan kak Bias sedang bertanding Basket melawan kelas lain di lapangan. Wajahnya lagi-lagi menggetarkanku. Aku yang sedang merindunya tak menghiraukan orang-orang di sekitarku. Netraku terus terarah pada mata berbulu lentik dengan alis rapi di sana. Aku benar-benar terhanyut dengan pesonanya. Pandangku terus mengikuti setiap gerak kak Bias.
Sedang Intan dan Anita tampak berbeda, aku tak tahu ada apa dengan mereka. Tapi mereka berdiri tak menghampiriku. Kulambaikan tanganku ke arah keduanya, namun mereka tak bergeming dan hanya menatapku yang sedang memperhatikan pengisi hatiku berjibaku memasukkan bola ke keranjang untuk sebuah poin.
Setelah 4 hari perlombaan pun selesai. Acara penutupan 17an di tutup dengan pemberian hadiah juga berbagai penampilan di panggung.
Aku terhanyut oleh lagu 'DAN' yang dipopulerkan oleh Band Sheila on 7 yang saat ini dinyanyikan oleh kak Diana, kakak kelas yang cukup cantik dengan tubuh proporsionalnya.
Hingga akhirnya acara selesai, seluruh siswa melangkahkan kaki untuk pulang. Namun, berbeda denganku yang saat ini galau. Aku berdiri di depan kelas berharap kak Bias melewati kelasku, aku sangat ingin bertemu dan menanyakan bagaimana kelanjutan hubungan kami setelah jawaban suratku padanya.
Kedua sahabatku terus memaksaku pulang dan meminta untuk tidak menunggu kak Bias karena kondisi sekolah semakin sepi. Namun, aku kekeh dan yakin kak Bias masih berada di sekolah. Aku ingin hari ini mendapat kepastian darinya.
Aku berada di muka kelas, saat sepasang sejoli tiba-tiba keluar dari sebuah kelas. Aku terperanjat mengetahui siapa sosok yang kini berjalan ke arahku, sosok tampan pengisi hatiku. Kak Bias ... ia berangkulan dengan gadis cantik yang melelehkanku dengan lantunan lagu 'DAN' beberapa saat lalu. Ia melewatiku, namun membuang wajahnya seolah tak melihatku. Aku pun terbawa emosi dan berteriak.
"Tunggu kak Bias!!"
"Lo panggil gue?" ujarnya menoleh ke belakang menatapku.
"Iya, aku panggil Kakak. Aku mau bicara sama Kakak!!" geramku yang untung saja suasana sekolah telah sepi jadi aku tak begitu malu.
"Kamu punya hubungan sama dia, Yang." Kudengar kak Diana berujar pada kak Bias yang ditanggapi gelengan kepala oleh kak Bias. Isyarat yang seketika melemparkanku ke jurang terdalam.
"Sorry gue mau balik, gue nggak ada urusan sama lo," lontar kak Bias lagi.
Segera kudekati mereka, kuambil amplop pink dari dalam tas yang selalu kubawa kemanapun. Kulempar kini amplop tersebut ke tubuh kak Bias.
"Lalu apa arti surat itu untuk Kakak??" cetusku.
Kak Diana terlihat membungkukkan badan meraih amplop yang mendarat di atas sepatunya. Ia membuka amplop tersebut dan membaca lembaran di dalamnya, hingga raut wajahnya tiba-tiba berubah.
"Apa ini, Yang? Jadi kamu suka sama dia? Di belakang aku kamu berani mengirim surat untuk perempuan lain?" gusar kak Diana yang membuat kak Bias seketika menarik kertas tersebut dan membacanya.
"Ini bukan dari aku! Kamu kan hafal tulisan aku, Yang! Coba kamu lihat, apa ini tulisan aku?"
Setelah kak Diana melihat kertas itu kembali, ia berujar padaku. "Kasihan banget sih lo, sampai pake cara begini buat dapetin Bias!!" ketus kak Diana menarik lengan kak Bias menjauh.
"Kak …. Tunggu!!"
"Apa lagi?" decaknya.
"Bagaimana dengan perhatian yang Kakak kasih sama aku?" lontarku mengingat perilaku kak Bias di UKS hari itu.
"Perhatian apa? Gue biasa begitu sama yang lain, lo salah paham aja kayaknya!!"
DEG
Kata-kata yang seketika meluluhlantahkan hatiku tak tersisa. Teramat sakit di dalam sana.
Surat ini bukan dari kak Bias! Dan perhatiannya tak ada makna lebih. Kenapa aku bisa begitu bodoh. Tunggu!! Kalau bukan dari kak Bias … Lalu siapa yang mengirimiku surat ini?
Kedua sahabatku tiba-tiba mendekat dengan wajah penyesalan di sana------
"Sorry Zee …."
____________
Tetesan tangis kembali membasahi pipiku, rasa sesak yang teramat kembali memenuhi ruang rasaku. Hari itu benar-benar sangat berat untukku. Aku seakan ingin menyangkal segalanya pernah terjadi. Namun semuanya, nyata.
Tega! Hancur! Dua kata yang menggambarkan kepiluan rasaku.
Tiba-tiba sepasang tangan menelusup mengunci tubuhku dari belakang dan berbisik lirih, "Jangan ingat masa lalu!"
Aku berbalik menatap pria yang kini telah menjadi suamiku, Kak Bias!
------END------