Terjebak didalam satu situasi yang aku sendiri tidak tau harus berbuat apa lagi, sampai emosi yang meluap. Tapi sekarang air mata yang menjawabnya, aku tau aku seorang pria yang tidak seharusnya menangis, tapi aku juga manusia yang memiliki perasaan. Dan perasaan ini sama sekali tidak diperdulikan, dan malah diacuhkan.
Bukan tentang cinta atau karena ditinggal pasangan, aku yang kali ini tersandar dan membungkukan kepalaku harus terjatuh oleh kenyataan yang lebih pedih dari ditinggal pasangan. Orang tuaku sendiri, tidak lagi menghargaiku, aku tidak lagi didengarkan olehnya, yang dia inginkan adalah aku yang dia inginkan, tapi aku tidak bisa menjadi apa yang dia mau, karena itulah aku disini.
Dimana hati nurani seorang Ibu? apa dengan membanding bandingkan anaknya dengan anak orang akan membuatnya berubah? apa dengan keegoisannya mampu membuat aku menjadi apa yang dia mau? apa pendapatku tidak berarti baginya? kenapa tidak membiarkan anaknya memilih jalan yang ia pilih? Aku bukanlah anakmu yang dulu kecil, aku bukanlah anakmu yang dulu menangis karena terjatuh, aku bukanlah anakmu yang dulu perlu sebuah bimbingan. Anakmu sekarang sudah dewasa, tapi bukan berarti aku tidak menerima nasehatmu lagi. Aku hanya butuh kau mengerti perasaan anakmu.
Kematian Ayah membuat banyak hal terjadi, hingga sampai sekarang, aku masih tidak percaya Ayah sudah tiada, jika aku bisa menyusulnya. Percayalah aku akan menyusulnya, karena hidup didunia sudah tidak lagi ada artinya untukku, jika seorang Ibu sudah tidak lagi mengerti perasaan anaknya.
Ibu ingin aku berubah menjadi anak yang Ibu mau? tapi kenapa Ibu tidak biarkan aku melewati prosesnya?