Tidak ada semburat rona jingga menghiasi langit untuk mengawali pagi ini. Awan kelabu masih bertahta, hingga raja siang tak kuasa menembus kelabunya mendung. Sedari semalam gemuruh suara dari langit bersautan, tetapi, hujan masih enggan turun menyapa bumi. Ungkapan mendung tak berarti hujan mungkin memang benar adanya.
Mendung kelabu, abu-abu, tidak hitam, tidak pula putih. Sinar sang raja siang biasanya terik, hanya nampak samar, suasana jadi begitu sendu. Sesendu hati seseorang yang sedari tadi duduk di kursi penumpang gerbong lokomotif. Raut wajahnya terlihat seperti seseorang sedang bimbang.
Hesa nampak tak bergeming, ditepian jendela kaca. Ia bertopang dagu di tepian jendela. Matanya menerawang jauh. Satu setengah tahun berlalu, ia tidak bertemu dengan seseorang yang pernah singgah di hatinya. Sekaligus telah di kecewakannya. Ia merindukan sosok wajah ayu itu. Senyum simpul terukir di sudut bibirnya, ketika bayangan kenangan berputar di ingatannya, bak tayangan film sedang di putar ulang. Bersamaan dengan itu, kilasan percakapan terakhir kalinya dengan gadis itu pun tiba-tiba saja menggaung memenuhi indra pendengarannya.
"Kau tahu, Untuk mendapatkan cinta dan bisa menikahi Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso harus membuat 1000 candi sebagai syaratnya. Candi-candi itu harus selesai dibuat sebelum fajar menyingsing. Ketika tinggal satu candi lagi, justru usahanya dipatahkan, oleh tipu daya Roro Jonggrang. Roro Jonggrang membangunkan para wanita, menyuruh mereka menumbuk padi di lesung, hingga menimbulkan suara gaduh. Membakar jerami, untuk membuat kobaran api. Membuat ayam berkokok, seolah menjadi tampak seperti fajar telah tiba, dan waktu membuat candi habis. Membuat Bandung Bondowoso kalah telak, dari persyaratan yang dia ajukan".
"Aku tidak seangkuh itu, membuat syarat yang berat. Kesungguhan mu, hanya itu. Kesungguhan memperjuangkan perasaan di antara kita, pada jalan yang di ridhoi-Nya".
Hanya kata maaf saja, keluar dari kerongkongannya di akhir kalimat. Ia lebih memilih mendengarkan, dan hanya menjawab kata maaf saja di setiap akhir kalimat yang gadis itu ucapkan.
Meskipun saat itu seseorang yang ia kecewakan hatinya mengerti.Tetap saja ia sudah meninggalkan suatu kesan yang menurutnya tidak menyenangkan.
Seandainya ia tidak menancapkan anak panah, dengan kata-kata memantik sebuah harapan. Seandainya ia tidak mengajaknya menyelami dalamnya lautan perasaan, membiarkanya tenggelam kedalam lautan harap yang ia ciptakan. Seandainya ia cukup berpuas diri. Hanya dengan mengenal kata "saya" tanpa merubah menjadi "aku" untuk lebih mendekat. Maka tidak akan pernah ada luka bernama "kecewa".
Seandainya ia tidak menorehkan luka padanya, mungkin akan lebih mudah baginya, menemui gadis itu. Setidaknya masih dirinya masih memiliki keberanian menampakkan diri.
Ah .... terlalu banyak kata seandainya. Nyatanya seandainya itu tidak lebih dari sekedar angan-angannya saja. Mungkin kata maaf tidaklah cukup, untuk menyembuhkan luka. Tetapi, memang hanya maaf saja yang bisa ia lakukan pada saat itu, tidak ada lagi selain itu. Ia hanya tidak ingin menjanjikan sesuatu, tanpa bisa mewujudkannya, justru membuat luka itu menjadi semakin dalam. Memintanya menunggu adalah hal egois, sebab ia pun tidak bisa memastikan kapan waktunya.
Jika mengawali tanpa menyatakan, mengakhiri tanpa kata perpisahan, maka menjauhinya adalah cara paling tepat menurutnya.
Membiarkan semesta menuntunnya pada jalan takdir yang telah Tuhan tetapkan. Menuntun perasaannya. Bukankah cinta tahu kemana ia harus pulang?.
"Huft...." Ia menghembuskan nafas panjangnya, menengadahkan kepalanya keatas, mengusap rambutnya kebelakang dengan kedua tangannya.
Seperti kata pepatah, "sesuatu baru akan terasa sangat berharga, jika ia sudah kehilangan". Sama seperti dirinya yang merasa kehilangan setelah menjauh dan di jauhi. Satu tahun setengah ini mencoba menyingkirkan nama, senyum, wajah ayu gadis itu. Ternyata melupakan begitu sulit, tidak semudah ketika dalam sekejap ia tertarik pada sosoknya.
Apa yang membuatnya tidak yakin, untuk berjuang lebih saat itu?. Alih-alih memperjuangkan perasaan suci itu ke jalan yang seharusnya, agar tidak menjadi dosa. Ia justru seperti pejuang pengecut, berapi-api di awal,kemudian lari ke belakang ketika dekat medan perang, seolah takut gugur.
🥀
Sebentar lagi kurang dari satu jam, ia akan berada di kota yang sama. Berbagi udara di kota pelajar tempat gadis itu berada. Meskipun harus di akuinya kehadirannya ke kota ini bukan semata-mata untuk menemuinya. Namun, alasan ia langsung mengiyakan sebuah tawaran pekerjaan, tidak lain karena gadis itu. Berharap tali rindu yang melilit hatinya dapat terurai, tak lagi mencekiknya. Walaupun harus berpuas menatap wajah ayunya dari kejauhan.Tidak, ia tidak punya keberanian mendatanginya langsung. Ia tak cukup punya nyali menampakkan diri secara langsung.
Rindu di hatinya seolah memaksa untuk datang padanya. Di sisi lain akalnya menolaknya. Rasanya masih saja gamang. Ia takut jika kehadirannya akan membuat luka lama kembali menganga. Tetapi, ia sudah berada disini, di kota ini.
Sekarang hanya tinggal beberapa jarak kurang dari 100meter. Ia masih termangu duduk di dalam taxi. Akal dan hatinya masih saling berdebat antara menemuinya atau tidak. Suara pak supir taxi menyadarkan dari lamunannya.
Supir taxi itu menyeringitkan dahinya, merasa bingung mengapa penumpangnya belum juga turun. Lalu, supir itupun menanyakan kembali padanya. Apakah salah alamat atau bagaimana?. Sedangkan yang ditanyai justru diam terpaku menatap sebuah rumah dari kaca jendela taxi.
Sadar dirinya di perhatikan, ia menoleh ke arah supir, kemudian mengatakan untuk menunggu sebentar. Ia akan membayar lebih sebagai ganti kerugian waktu si supir. Si supir menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, laku mengangguk, menyetujui permintaan pelanggannya, sambil tersenyum geli. Ada-ada saja tingkah penumpang pikir supir taxi.
Hampir 30 menit ia menunggu, akhirnya yang ditunggu keluar juga dari rumah itu. Wajah ayu itu yang ia rindukan.
"Wulan... Ratna Wulandari.." gumamnya pelan, namun masih dapat didengar si supir. Menyebut sebuah nama, di yakini si supir taxi nama itu milik si empunya rumah.
Tanpa sadar ia tersenyum sendiri. Supir taksi melihat tingkahnya itu hanya geleng-geleng kepala.
Seperti penguntit takut ketahuan targetnya, ia memundurkan posisi duduknya. Saat gadis itu terlihat seperti berjalan menuju arahnya. Tiba-tiba ia merasa detak jantungnya lebih cepat dari biasanya.
"Huft.......". Ia menghembuskan nafas panjangnya. Merasa lega tidak ketahuan. Ini lucu, benar-benar lucu. Bagaimana ia akan ketahuan?. Kaca taksi saja berwarna hitam tidak akan terlihat jelas jika dari luar melihat. Ia menepuk dahinya sendiri merasa konyol dan.....ems...bodoh.
Sikap seperti apa ini, dulu dirinya menjadi pengecut. Haruskah sekarang ia kembali menjadi pengecut. Pecundang sejati memang predikat yang pantas disematkan untuknya. Ia mencoba mengumpulkan keberanian, tekat, keyakinan untuk menemuinya. Tidak peduli respon yang di terimanya nanti.
Saat ia menyentuh handel pintu taxi, hendak membuka pintu. Keberanian juga tekat kuatnya luntur menguap entah kemana, ketika ia melihat seorang wanita paruh baya menghampiri gadis itu, yang sedang asik menyirami tanaman.
Melihat wanita paruh baya itu, ia yakin bahwa dia adalah ibu dari gadisnya. Membuatnya berpikir ulang. Dirinya harus menjawab apa, jika nanti ditanya macam-macam. Seperti siapanya anak gadisnya misalnya?. Apalagi mengingat kota ini mayoritas masyarakat sekitarnya masih punya kepedulian tinggi sesama. Saking tingginya hingga tidak jarang apapun bisa menjadi bahan perbincangan alias gosib. Berbeda dengan kota tempat ia tinggal. Ia akan merasa sangat bersalah, jika kehadirannya menjadi bahan buah bibir orang, sedangkan masih belum jelas tujuannya untuk apa.
"Argrrrrrr " ia merasa frustasi sendiri bingung harus bagaimana. Ia hanya merasa rindu saja terhadap gadis itu. Ia sudah melihatnya, bukan?. Seharusnya itu lebih dari cukup. Ia tidak ingin membuat luka untuk kesekian kalinya pada gadis itu. Tidak!.
Tidak lagi, tetapi.... wajah ayu itu, senyum indahnya menari-nari di kepalanya. Rasanya ia belum cukup menuntaskan dahaga rindu dalam hatinya, juga tidak tahu harus bagaimana. Ingin memutuskan menemui, tetapi ia belum cukup yakin. Sungguh ia tidak berdaya. Sebenarnya apa yang ia inginkan.
"Seperti cinta yang tidak butuh alasan. Sama seperti itu, aku tak punya alasan mengapa merindu. Jika rindu ini, adalah alasan ingin ku padamu. Bantu aku menyadarinya."
~~~Mahesa Al Fajri~~~