Di tengah malam yang senyap kala langit gelap nan pengap tertutupi kabut tebal yang perlahan terhampar. Malam tanpa semilir angin, pucuk-pucuk daun tak lincah menari-nari, hanya ada selingkar embun yang enggan jatuh, seperti karang di mulut-mulut gua mungkin kelak ia akan membatu. Duduk selonjor di bawah sebuah pohon, pohon mangga yang sudah dua kali musim buah mogok berbuah, sesosok makhluk dengan perasaan yang gontai menengadahkan kepalanya ke angkasa malam yang hitam. Di sebelahnya sesosok makhluk bertubuh imut dan berkepala licin asyik mengendus jempol kakinya, yang selalu dia lakukan bergantian dari jempol kanan ke kiri, sampai kelak ia bosan sendiri.
"Yul, Yul, Yul..."
"Loe manggil gue!?"
"Nggak! Si Grandong! Ya elo lah!"
"Gue pikir loe manggil Mbak Yul!?"
"Mbak Yul?!"
"Tuh si hantu ngondek!!"
"Yulianto!?"
"Siapa lagi!?"
"Kamu pernah merasa bosan nggak jadi Tuyul?"
Yang ditanya seketika menghentikan aktivitasnya, lalu ia mengangkat dan menarik kepalanya hingga berdiri tegak, matanya pun tertuju ke satu arah, sambil nafasnya terhela dengan berat. "Loe mau gue jujur apa boong!?"
"Di cocol kue serabi enak itu,"
"Apanya?!"
"Cucur..."
"Jujur! Bukan cucur!"
"Oh! Saya pikir..."
"Dasar Kunti mabok! Minumnya kapan, maboknya kapan!"
"Bejanda, Yul!!"
"Loe tuh yang janda!"
"Amit-amit Yul, Kowe, kok sensian amat sih? Sementara si Amat aja nggak..."
"Nggak amit!? Garing!"
"Cengeknya dua,"
"Loe, gue mau jawab nggak sih!?"
"Dijawab syukur, nggak dijawab kamu kelewatan."
"Putar balik."
"Putar balik!?"
"Kelewatan kan,"
"Udah pintar guyon kamu sekarang,"
"Gue kalau dipikir-pikir, pernah juga merasa bosan."
"Emang kamu punya otak,"
"Jangankan otak, terpedo juga masih punya."
"Masih bisa!?"
"Ndak cuma nyantel doang,"
Si Kunti mesem-mesem lucu.
"Mau nyoba!?"
"Apa kata dunia!!"
"Sudah kubilang jangan bertempur, bertempur pula kau!
"Sekarang matilah kau! Kang Ujang oh Kang Ujang..."
"Dari Batak pindah ke Sunda
"Namanya juga Kunti blasteran,"
"Basun! Alias Batak-Sunda!"
"Balik ke topik,"
"Kayak kuwek!!"
"Kenapa kamu merasa bosan?!"
"Iya gimana nggak bosan, gue itu lebih sering jadi korban fitnah, marah udah nggak ada guna, yang ada gue dongkol, sudah dongkol apa coba, iya bosan. Gini-gini gue juga punya perasaan!"
"Tuyul juga masih punya perasaan... aaan... sama seperti dirimu..."
"Pake nyanyi lagi,"
"Loe merasa difitnah apa? Oleh siapa?!"
"Iya mereka-mereka yang memfitnah loe!"
"Saya!? Kapan!?"
"Secara kapan dan gimana ceritanya loe bisa nenggak kuah sup bakso segentong gede gitu, ah! Terus gimana ceritanya loe bisa nelan sate seratus tusuk sekali embat gitu, ah! Dikata loe monkey apa, monkey juga masih pake ngunyah!!"
"Iya, ya..."
"Bukan fitnah itu namanya!? Yang setan siapa, mereka kan!Kejadian kayak kemarin malam, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri gimana tuh bocah ngembat segepok duit Bokapnya dari lemari brankas, trus yang kena getahnya siapa!? Gue...!!"
"Duitnya diambil tuyul kali, begitu?"
"Apalagi! Segepok, gue! Selembar, juga gue! Gimana coba!? Mau banyak, mau dikit gue yang kena getahnya... Dikata enak apa jadi Tuyul,"
"Padahal Tuyul itu baik ya, imut-imut lagi, contohnya kayak di sinetron Tuyul dan Mbak Yul itu."
"Gue kirain loe mau ngomong, 'contohnya gue' naga-naganya loe juga bagian dari komplotan mereka juga ini."
"Dasar tidak berperi ketuyulan mereka!"
"Dan tidak berperi kuntilanak juga!"
"Hajar!!!"
"Bakar...!!!"
"Merdeka...!!! Merdeka...!!! Merdeka....!!!"
"Kunti stress!!!!"
"Gue Kunti jablay."
"Ngaku loe,"
"Daripada boong kan dosa,"
"Udah koit masih takut dosa loe,"
"Kunti tobat, Yul."
"Tobat loe telat!!!"