Mereka berdua duduk berhadapan. Dengan jelas kalian bisa melihat ekspresi tegang bercampur senang yang terpajang jelas di muka Jeni. Gimana ya? Semacam, kursi panas tapi di surga? Anggap aja gitu. #sayamaksa
Jeni tidak pernah membayangkan, sosok pria yang telah lama ia cintai mengajaknya bertemu di sebuah kafe romantis dengan penerangan yang hangat. Karena detik itu baru pertama kalinya Jeni berhadapan dengan Isak setelah selalu melihat dari jauh sejak masih maba. Tentu saja dia ngga tau maksud Isak. Tapi tenang saja, Jeni ditraktirin kok. #gratisgratisclub
Kaki Jeni gemetaran sebab super gugup. Memandang wajah Isak saja udah kayak menghadapi dosen killer tapi cogan. Takut tapi sayang kalo dilewatkan. Hehe.
Jeni mencoba memberanikan diri. "Ada yang..."
"Ini jusnya kak" Pelayan merusak keberanian Jeni. "Hampir aja copot jantungku" Batinnya saking terkejut. Suara pelayan yang biasa saja entah kenapa terdengar lebih lantang baginya.
Keduanya lalu diam. Walau sebenarnya sejak duduk Isak terus memandangi Jeni. Dari atas kebawah, kiri ke kanan, pokoknya semuanya deh. Lagaknya udah kayak detektif plus ilmuan yang hampir tahu jawabannya.
Sembari mengaduk aduk jus yang sebenarnya sudah dari sononya begitu. Jeni mencoba lagi.
"A... Ada yang mau kau katakan?" Kata Jeni malu sembari sedikit menundukkan kepala. Dia berusaha menahan kegugupannya dibalik senyum kaku yang kalian tahu pasti kelihatan aneh. Kaku gitu.
"Ufth" Isak tertawa kecil melihat ekspresi Jeni.
"Hmm...Sepertinya kamu yang mau mengatakan sesuatu? Benar bukan?" Sambung Isak percaya diri.
Ha? Tapi emang ada sih. Batin Jeni tetapi juga bingung karena yang mengajak bertemu adalah Isak.
"Ta...Tapi kan kamu yang ngajakin ketemuan." Jeni Hampir aja tersedak ketika mengatakannya.
"Iya juga sih. Tapi aku gamau bilang apa-apa. Pengen ngajakin aja." Timpal Isak santai.
"Terus kok tanya tentang ada yang mau aku katakan?"
"Emang ngga ada, kah? Kupikir ada." Diam sejenak.
"Beneran ga ada?" Lanjut Isak sembari menjorokkan badannya kedepan dan menyentuh meja. Tapi dia juga terlihat sedikit kecewa.
"Ada sih."
"Kan..." Celetuk Isak.
"Tapi jangan ketawa loh ya." Kata Jeni dengan sedikit ragu dan menahan rasa malu.
Entah kenapa udara di sekitar mendadak kosong seolah tersedot kedalam lubang hitam. Suara di sekeliling Jeni juga kian tidak terdengar selepas dirinya menarik nafas dalam. Dan dia pun menghembuskan sedikit kuat.
"Me... " Jeni mulai berbicara. Tapi kalimatnya tersendat di tenggorokan dan susah keluar.
"Apa!?" Timpal Isak dengan cepat. Sekali lagi menjorokkan wajahnya kedepan. Kali ini sedikit memiringkan kepala. Suara Jeni hampir tidak terdengar.
"Me...Me...Menikahlah denganku!" Tiba-tiba Jeni melantangkannya karena kalimat itu tak terbendung lagi. Bagai air menerjang akibat tanggul jebol. Ia juga menutup matanya, karena takut melihat raut Isak. Tapi juga penasaran dengan reaksinya.
Jeni sedikit bingung karena tidak ada suara. Padahal orang di sekitar cukup ramai, sekalipun dia tidak bisa mendengar dengan jelas. Fokusnya hanya tanggapan Isak.
"Aneh!" Batin Jeni. Kemudian ia menggerakkan kelopak matanya. Membuka sedikit lalu menutup. Mengintip dari celah kecil diantara lipatan kelopak mata.
Begitu wajah Isak terlihat. Jeni membuka mata lebar-lebar. Jantungnya berdegup kencang. Rasa malu dan panas sangat sulit ia kendalikan. Untuk itu, dia menundukkan kepala.
Isak terkejut dengan pengakuan itu hingga menyandarkan badan pada kursi. Wajahnya jelas menunjukkan "Ini tidak sesuai ekspektasiku, tapi...". Tapi dia tidak marah atau merasa aneh.
"Ehem..." Isak berdeham kemudian melanjutkan "Coba lihat aku..."
Jeni yang sangat malu ragu-ragu dan masih takut.
"Jenii...Coba lihat aku." Kata Isak dengan tenang dan lembut.
Kemudian Jeni mengangkat kepalanya.
"Ok. Itu jawabanku." Kata Isak percaya diri lalu tersenyum lebar. Sebenarnya dia sangat bahagia.
Kalian bisa menebak bagaimana reaksi Jeni.