Jika aku bisa, aku ingin mencongkel mataku, dan mematahkan urat-uratnya.
Jika bisa, aku akan membakarnya juga, kemudian memberikannya pada kucing hitam, dan memaksa untuk menelanya.
***
“Kau hanya akan diam saja !? , cepat buka jalannya!” mereka menggiringku dengan pengawasan ketat.
Cekrek…Cekrek…Cekrek…Cekrek
Suara kamera tak henti-hentinya mengambil mukaku dan memasukkannya dalam kotak-kotak memori kegelapan. Setiap sudut mata memandangku bak melihat monster mengerikan, tetap saja aku yang paling tahu hal itu.
Tiba-tiba… dia bertanya
“Kau benci dirimu?” begitu ucapnya dari mulut yang terlalu bangga.
“Kenapa, Kau tanya begitu? Tentu aku menyukainya.” Aku tersenyum dengan bangga kepadanya.
Kalian tahu? Kenyataannya adalah…
Aku...
Sangat membenci diriku. Hahaha. Jijik memandanginya melalui cermin di depanku. Gumpalan merah yang tertanam pada wajahku, memuntahkan isi perutku tiap kali melihatnya. Mata ini, Aku membencinya hingga seluruh uratku juga ingin membenciku. Hanya mulutku yang tak membencinya. Heterochromia sebutan penyakit yang kuderita. Mata berwarna merah darah, urat kehijauan, sementara skleranya putih, hampir membuatku gila.
Tapi apa kalian tahu apa yang membuatku lebih gila?
Aku memiliki dua, Benar sekali! Dua bola mata. Aneh bukan?
Pasti kalian berpikir bahwa aku sangat bodoh karena memberi infomasi semacam ini, namun aku akan tetap bercerita. Itu bukan karena aku bodoh, aku tak merasakan ada yang salah dengan otakku, setidaknya menurut pendapatku.
Tepat seperti kataku, dua bola mata, aneh ? Tentu saja karena tahun 2222, manusia memiliki dua pasang mata yaitu sebuah kacamata miopi dan mata aslinya. Hal itu bisa terjadi karena manusia terlalu memaksakan kehidupan berbasis cahaya, bekerja, transportasi, makanan, minuman bahkan buang air, semuanya bebasis cahaya. Sebuah peradaban yang tak pernah ku alami 200 tahun yang lalu.
Usiaku? aku lupa sudah berapa tahun, sementara saat ini aku sedang berada di sebuah balkon lantai delapan dan memandang peradaban kota dengan sangat jelas. Apabila memungkinkan, aku ingin melompat dari atas sini, namun aku tak bisa, pagar besi kokoh menghalauku. Bangunan berlantai sebelas tempatku berpijak bernama SEANTERO, pusat penelitian termaju sejagat. Aku mendengarnya ketika aku masih bisa berkeliaran di luar sana.
Keberadaanku disini, akibat kedokku terbongkar oleh rekan kerjaku, dan membuatku terisolasi di SEANTERO sebagai objek penelitian. Berada disini, aku tak terpaksa, justru aku sendiri yang datang kemari karena wajahku tak bisa kembali normal ketika bekerja. Ironi sekali bukan? Namun, kalian jangan menganggapnya begitu, kupikir orang yang kelaparan di jalanan lebih ironi dibanding diriku.
Tetapi, akhir-akhir ini…
Perubahan terjadi padaku, mataku mulai tak bisa melihat dengan benar, terutama ketika berada di ruang gelap dan malam hari. Para dokter SEANTERO mengatakan diriku mengalami rabun senja. Tapi sepertinya bukan itu.
Tiga malam sebelumnya…
Keganjilan yang aku peroleh membuatku yakin bukan rabun senja, karena ketika terlelap aku seperti melihat seorang wanita terbaring di sebuah tempat tidur. Sementara aku duduk termenung memandangi wanita itu di sebuah kursi berukir tidak jauh darinya. Apa itu sebuah bunga tidur? Aku juga tidak tahu pasti.
Kemudian…
Malam berikutnya aku kembali melihat sosok wanita itu terbaring di ranjang. Akan tetapi kali ini berbeda. Aku bisa berjalan mengelilingi ruang gelap itu tanpa terbentur apapun. Tentu saja mataku yang menjijikkan masih bergantung di tempatnya. Melalui cermin aku bisa memastikan bahwa itu adalah mataku. Semua pandangan itu menghilang saat sinar pagi menerpa, ketika aku terbangun tepat setiap percobaan akan dilakukan padaku.
Ruangan dimana wanita itu terlelap, cukup temaram. Kemewahan dari ruang itu bisa aku lihat dengan jelas. Bola mataku menangkap seluruh sudut ruangan dengan sangat tepat, tanpa ada keburaman sedikitpun, bahkan retakan sebesar tiga centimeter bisa kulihat dengan jelas. Ruang itu yang selanjutnya kusebut sebagai kamar, memiliki tiga buah jendela besar dengan berhias gorden berenda. Sedangkan perabotan di dalam sini bergaya klasik eropa, kursi berukir, karpet besar, ranjang besar, lemari, dan meja yang penuh buah dan makanan. Sepertinya kehidupannya makmur, gumamku dalam hati.
Tapi yang aku bingungkan wanita itu tak bangun sama sekali. Apa dia tak terusik dengan kehadiranku? Atau Dia tak bisa melihatku? Aku benar benar tak tahu karena ini malam ketiga ku berada di sini.
Bila kuperhatikan lamat-lamat, wanita itu memiliki ukuran badan yang sedikit lebih tinggi dariku, sementara rambutnya yang entah berwarna apa menghiasi mukanya, maksudku menutupi mukanya. Tangannya tak terlihat baik, dan aku benci melihat kondisi tangannya. Tubuhnya cukup kering, dan ia memiliki seorang penjaga di balik kamar tidurnya.
Kalian tahu?
Seantero tampak sangat megah dengan kerlip cermin di setiap jendelanya, tetapi kebusukan di dalamnya bagai sebuah tong sampah penuh yang membusukkan seluruh isinya. Setiap kali percobaan, mereka mengikatku pada sebuah ranjang, mematikan lampu dan menyuntikkan suatu cairan berulang-ulang hingga membuatku pingsan. Setiap kali, cairan itu menerobos melalui pori-pori kulitku, detik itu pula urat-uratku menjerit, memekik, mengerang dan berteriak. Tetapi keputusan adalah keputusan, itu hukumnya, kalian tak bisa lari dari sini. Satu satunya jalan, kematianmu, hanya itu. Sayangnya aku tak bisa mati.
Lebih parahnya, manusia-manusia di sini masih memilki secuil perasaan, karena setelah menyiksaku mereka memberikan waktu bagiku untuk duduk sejenak menatap kota dari lantai delapan seperti saat ini. Oleh karenanya satu-satunya hiburan untukku adalah ketika malam tiba, dan mataku terpejam tak melihat apapun, tak mendengar apapun, dan tak merasakan apapun. Bagian terbaiknya, aku bisa melihat wanita berambut panjang itu.
Memandangi wanita itu setiap malam, membuatku candu. Sesekali aku mendekatinya dan menyentuh kulitnya yang keriput dan penuh luka di ranjang yang megah dan indah. Lalu, aku kembali duduk di kursi dan memperhatikannya tidur. Bukankah aku seperti penguntit. Jika kalian berpikir demikian sepertinya kalian sangat benar. Tapi aku menyukainya, seorang penguntit.
Kalian pikir aku gila? Masa Bodo.
Ketika malam menjadi pagi, aku selalu ingin mati, tetapi sejak malam itu aku lebih ingin membunuh wanita dalam mimpiku.
Lalu, dua malam berikutnya dia menyadari keberadaanku.
“Siapa disana!?”
Aku hanya diam, tak menjawab, dan menahan nafasku, membuatku tak bisa melanjutkan rencanaku. Dia hanya terjaga semalaman seperti diriku kemarin malam. Kemudian selama seminggu penuh dia hanya terjaga dan tak tertidur sama sekali.
Kemudian malam kedelapan…
Ia tertidur dengan lelap, menghembuskan nafasnya dengan berat, serta mengucurkan keringat busuk dari lengan-lengannya yang berlubang. Sesekali suara tersedak membuatku terkejut ketika berjalan ke arahnya. Tapi, yang lebih bagus lagi, tidak ada penjaga di ruangannya. Aku menyeringai.
“Sepertinya kali ini aku akan berhasil. Haha.” Batinku rasanya akan lega dengan semuanya. Aku sangat bahagia akan melakukan semua ini dan berharap bisa tertawa sembari berjingkrak-jingkrak.
Aku mendekat dan terus mendekat padanya/
Hingga dengan sempurna, tepat aku berada di sisi kiri ranjang.
Lalu…
Aku melompat dengan cepat ke atas wanita berambut panjang sembari menjulurkan tanganku ke arahnya.
“Ohk… Ohk…Ohk” suaranya yang tersedak terdengar sangat merdu, hingga membuatku juga menangis. Kaki dan tangannya yang menendang membuat semangatku kian membuncah.
Semakin kutekan aku merasakan leherku juga sakit karena kering. Aku terus melakukannya hingga dia akhirnya… ahahah dia sudah tak bergerak sekarang.
Aku sangat senang, senang sekali, hingga air mataku mengucur kegirangan. Hahaha… hahaha
Malaikat, setan, jin bahkan iblis sangat tau semua kegembiraanku malam ini, aku berhasil !!
“Seperti yang kuduga…
…Baguslah aku bisa mati dengan tenang.”
Hembusan angin dari jendela bergorden putih menyapuku seperti debu. Aku kian lenyap sementara beberapa rambut pada wajahnya menyibak, menampilkan sebagian wajahnya. Menampakkan sebuah bola mata menjijikkan. Sekarang menghilanglah kau!! Hahaha
Tahun 2322.
Gambar : Eye of the Storm - Unsplash (@peter_forster)