Suatu kota. Kota ini berbeda. Suasananya, aromanya, pemandangannya, hingga perwujudannya pun berbeda.
Kota ini dijuluki Kota Badai. Entah kenapa orang sekitar tidak tahu pasti tentangnya.
Seluruh kota berselimut benteng raksasa menjulang ke angkasa yangn dikelilingi parit - parit selebar sungai Mahakam. Namun kemegahannya masih sanggup dipandang dari kejauhan.
Seringkali nampak bunga api meletup - letup dari balik pandangan ketika malam hari. Suara riuh tak lupa mewarnainya. Dan sunyi lekas menyusul selepas bunga api melaksanakan tugasnya.
Kudengar, kota itu dikenal sebagai kota tanda kematian. Menurut rumor yang beredar kota itu berisi jutaan tengkorak seolah puppet yang digerakkan oleh suatu energi. Sampai sekarang masih belum ada yang tau mengapa bangunan itu dikelilingi parit raksasa.
Selain itu, kota itu dipimpin oleh seorang jenderal turun temurun dan tak semua orang diperkenankan masuk. Hanya orang dengan kriteria yang memenuhi syarat saja yang diperkenankan melintasi Kota Badai dengan kebanggaan.
"Eh tadi kudengar Kota Badai mau membuka pendaftaran." Celetuk sekelompok orang.
Saat itu, aku berlari bukan kepalang kepada mereka untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang cara melakukan seleksi. Sayang, tidak ada yang tau caranya. Mereka sebenarnya lupa bahwa ada orang yang ikut seleksi. Karena begitu masuk kota, nama orang tersebut akan terhapus dari ingatan dan catatan apapun. Mereka mendengar seleksi dari sekelompok pemuda di depan Kota Badai.
Kalian tahu? Sebenarnya aku tidak mengerti alasan keberadaanku disini. Begitu sadar, aku terbaring di sebuah taman yang tak jauh dari Kota Badai.
Hal pertama yang kurasakan adalah angin yang bergerak saat sekelompok orang memasuki kota. Seketika angin yang tenang bergerak semilir menuju Kota Badai - memusat kearah sana. Semua angin tersedot kedalam dan kota itu bak menelan seluruh bangunan hingga puncak - puncaknya tak tampak lagi.
Singkatnya aku menemukan cara memasuki Kota Badai dari sekompok pemuda. Mereka mendapatkan informasi dari seseorang di taman tempatku dulu berada. Dan disinilah aku bersama peserta lainnya, tepat di tepi parit yang lurus dengan pintu masuk kota.
Tak lama kemudian terlihat juru selamat - seorang pria bertopeng, berjalan ke arah kami. Cara kemunculannya juga misterius. Dia hanya muncul saat hari memasuki kota. Padahal dirinya selalu memandu memasuki Kota Badai, tetapi tak ada orang yang pernah melihatnya keluar dari sana.
Sang juru selamat menaikkan tongkatnya dan seketika terbentuk jembatan batu selebar 5 jangkah. Jembatan itu muncul dari dalam air, mencuat perlahan dari sana dan membangun balok - balok berwarna kecoklatan yang sangat kokoh.
Peserta kemudian melangkah dengan pasti walau sedikit ragu bercampur senang. Namun, sang juru selamat tetap melangkah dengan gagah tanpa menoleh kebelakang.
Aku lupa bercerita bahwa jembatan itu terbagi menjadi 5 segmen. Setiap segmen terdapat sebuah pos . Setiap kali sang juru selamat melewati pos, tongkatnya berubah bentuk.
Ketika awal masuk, tongkatnya hanya berupa kayu biasa. Ketika melawati pos pertama menjadi berlumuran api, kedua keperakan, ketiga berwarna seperti tanah, dan keempat berwarna membara, terakhir berwarna kelabu dengan semburan abu dari puncaknya.
Aku mengikuti sang juru tanpa mengkhawatirkan apapun dan tidak menggubris kejadian yang baru saja aku saksikan. Karena sebentar lagi kami akan memasuki Kota Badai. Hanya beberapa langkah saja, akan tepat berada di depan mulut gerbang.
Sang juru selamat berhenti, kemudian berbalik dan membuka topengnya.
Ia berkata. “Selamat datang di Kota Badai. Semoga anda berhasil.” Begitu menutup topengnya nampak olehku ia menitikkan air mata sekaligus menyeringai dingin.
Gerbang mulai terbuka. Suara rantai terdengar jelas sedang berputar.
25 % pintu terbuka.
Susunan angka terpampang di atas gerbang itu. Kendati mulai terbuka dan diluar sedang terang benderang, Kota Badai masih gelap gulita.
50 % pintu terbuka.
85 % pintu terbuka.
90 % pintu terbuka.
98 % pintu terbuka.
99 % pintu terbuka.
Tiba - tiba gerbang terhenti. Bagian dalam sepertinya terlihat kehijauan dan samar - samar. Seperti gambar abstrak.
Krieeet…. Brak
Pintu sepenuhnya terbuka lebar. Nampak gelap dan tak ada satupun berkas cahaya, kecuali satu cahaya. Sebuah lilin yang mempertegas pintu kedua yang berukuran sangat besar. Lebih besar dari gebang utama.
Juru selamat menyuruh kami melangkah masuk dengan membawa lilin yang sudah disiapkan. Ketika sudah masuk, dengan sigap gerbang utama tertutup dan kami mendengar suara.
"Haloo…. Welcome to Badai City. You will happy. Hahaha." Sambut suara itu yang sejujurnya tidak ada perasaan kehangatan. Sehingga suasana tetap hening. Hanya temaram lilin yang mengelilingi.
Tak tak tak
Seorang wanita berjalan menuju sebuah tuas. Aku tidak bisa mengenali wajahnya. Bila kupikir sekali lagi, sambutan tak bersahabat barusan mungkin dibawakan olehnya.
Wanita itu memegang tuas dengan percaya diri. Kemudian menariknya sekuat tenaga. Dan...
"Aaa..." Semua peserta peserta berteriak sekencang - kencangnya, karena kami telah jatuh ditelan bumi.
Apakah aku akan mati ataukah aku akan selamat. Inikah Kota Badai itu? Kenyataan dibaliknya? Berakhir sudah hidupkuu. Batinku gelisah bertumpuk takut tiada akhir. Hingga aku menutup mata pasrah dan kami mencapai dasarnya.
Ha!? Lembut dan sangat empuk sekali? Pikirku bingung.
Ternyata kami mendarat di tengah - tengah padang rumput seluas stadion GBK. Sangat nyaman berada disana. Namun, seketika berkas cahaya menyoroti kami.
Iya. Kami semua berada di sana. Silau tapi pasti, aku bisa melihat begitu banyak lorong - lorong yang jauh dari jangkauanku.
Kemudian kembali terdengar suara.
“Kalian akan melewati lorong ini. Setiap orang akan memiliki lorong (labirin) mereka sendiri. Dan kalian akan diberikan peta yang akan menunjukkan jalan kalian. Segala pilihan mau melangkah kemanapun terserah kalian. Hanya kalian yang dapat menentukan. Sekali lagi hanya kalian yang dapat menentukan.”
"Orang Kota Badai suka banget sih bikin pengumuman mendadak." Gerutuku lirih.
Kemudian badan kami bergerak dengan sendirinya menuju labirin masing - masing dengan sebuah peta mengambang di mulutnya beserta perbekalan dan pencahayaan yang diperlukan.
Badanku sudah tidak terasa seperti di dorong lagi! Seruku dalam hati. Tetapi tak ada pilihan selain maju kedepan, karena ada dinding tembus pandang di belakangku. Aku sadar, sudah tak bisa kembali dan mulai memasuki labirin.
Saat itu, apa yang akan terjadi di dalam sana akupun tidak bisa memprediksinya.
***
"Begitulah kami sampai di Kota Badai. Tetapi aku kalah." Ceritanya padaku.
"Apa kau tau orang - orang disana menyebutnya kota apa?"
"Orang orang menyebutnya…" Sambil menyeringai lalu menoleh dan melotot kepadaku.
Ia berbisik.
"Kota Kehidupan." Kemudian ia diam sendu dan tersapu oleh awan.