Teriakkan itu masih menggema ditelingaku terus menerus…
"Kevin! Kamu sadar sedikit kenapa sih Hah! Mama capek lihat kegiatan kamu tidak jelas seperti ini dan lihatlah temanmu ada bekerja di kantoran sedangkan kamu, Hah ibu benar lelah Kevin!" bentak Ibu kepadaku dan selalu kata itu ucap ulang untuk menyadarkan aku tapi itu tidak berpengaruh padaku, kenapa?
Karena aku sudah terlanjur hanyut dalam permainan sejak aku masih duduk di kelas 3 SMP. Dimana perlakuan itu aku dapatkan dari ketidak pedulian Ibu yang selalu bekerja di kantor.
Perlakuan Ibu berubah sejak Ayah meninggal dunia. Setahun Ibu berdiam merenungkan kematian Ayah karena rasa cinta diantar kedua orangtuaku sangat dalam.
Kembali saat aku marahi, bentak oleh Ibu. "Kamu dengar tidak Kevin?!!," tanya Ibu dengan mata melotot sedangkan aku berdiam diri di sofa sembari menunduk kepala daripada aku harus melawan Ibuku.
Drrttt… Drrrtt…
Ponsel Ibu bergetar di atas meja menandakan panggilan masuk. Tak lain adalah panggilan kantor, Ya kebosanan ini mengulang. Aku berjalan pergi tanpa menunggu Ibu selesai telepon.
"Kevin!" panggil Ibu sesaat tanpa ku pedulikan.
Kumasuki kamar ku dekorasi sendiri dengan berbagai alat game, gitar, poster dan sertifikat hasil kerja keras ku dalam dunia permainan Online (Gamer). Meski semua itu Ibu anggap hanya benda-benda tidak berguna dan tidak pantas di pajang ataupun di dapatkan.
Memang sebagian besar orang tua lebih menyukai ketika anaknya belajar di dunia pendidikan dan mendapat pujian dari kalanggan Guru termasuk Ibuku.
Sampai teman-teman sekolahku menjauhi disekolah, ya itu karena nilai, absen rendah yang mengakibatkan aku memutuskan berhenti sekolah di bangku 12 SMA.
Aku tahu memang bodoh ya itu aku dan orang pintar berpikir aku bodoh sudah pasti. Seperti biasa kegiatanku hanya bermain game itu adalah hobiku sekaligus provesi ku. Dimana setiap permainan aku harus memenangkannya.
Ku hampiri kursi khususku. Lalu menutup mata sembari menenangkan diriku dan sesekali kebosananku terlupakan oleh tontonan +18 (positif 18).
Lelah dengan kegiatan bodoh itu, Aku menghidupkan komputerku tetapi entah mengapa layarnya hanya berwarna hitam dengan terlihat lubang kecil berwarna putih. Sontak ku sentuh layarnya dan Surhhhb!…
Tubuhku tersedot memasuki layar komputerku yang bisa dikata kecil. Mataku sesaat sakit akibat cahaya sekelilingku sangat bersinar bahkan melebihi senter pantulkan ke mata.
Perlahan kubuka mataku tapi kepalaku masih keadaan sakit. "Auww! Sakit." ujarku memegang kepalaku.
Lalu mulai kulihat jelas sekitarku yang tampak berbeda ditambah benda sekelilingku seakan berbentuk persis di permainan biasanya kumainkan.
"Hah! Aku dimana ini dan tempat aneh apa ini?" tanya ku sendiri sembari melihat sekitar.
Entah mengapa tempat ku berada semakin memudar dan tiba-tiba…
Tapp!…
Sesuatu seperti cakar mengangkat tubuhku ternyata seekor Naga hitam. "Haaaaaaa! Tolong aku! Ibu tolong aku!." teriakku dengan mencoba melepas cengkraman cakar Naga itu tapi kuat sekali.
Seketika Naga itu mulai mendarat kebawah dan Brukk!…
Tubuh mati rasa karena tiba-tiba melepaskan ku dan terjatuh di tanah aneh namun seperti nyata.
"Badanku remuk semua! Sakitnya… Ini semua karna hewan aneh itu." gerutu ku sambil kucoba berdiri.
Kulihat dari ujung kaki sampai wajah seperti cewek yang ternyata benar dihadapanku berdiri sesosok cewek berwajah imut dan badan kayak gitar apalagi dibagian kedua gunung itu. Pandanganku sesaat tertuju pada satu tempat di idamkan cowok umumnya.
Plakk!……
Tamparan mendarat di pipi kiriku tak lain perlakuan cewek itu. Sontak aku marah "Auww! kenapa lagi nih cewek main tampar aja apa dia lagi PMS kah?." gumamku.
"Kenapa kamu tampar aku?!" tanyaku kepadanya.
"Hei!, Aku tampar kamu karena itu dua mata jeli kali lihat open ya? Atau pengen dicongkel buat kasih Gana?" ujar Cewek itu.
"Gana?"
"Iya dia ada dibelakangmu." unjuk Cewek melihat kebelakang Kevin terdapat hewan tinggi, gigi bertaring, cakar tajam yaitu Naga yang di beri nama Gana.
Aku pun terkejut dan berlari kebelakang cewek itu karena saking takutnya. "Hei! Kamu jangan dekat pegang badanku!" ucap Cewek dengan menendang inti masa depanku (Tahulah itu tuh🗿)
"Matamu buta atau bisu? Itu depan Naga bukan Bebek woii!." kataku dengan gemetaran takut.
"Astaga gini amat cowok zaman now. Lepaskan tanganmu kalau nggak bakal aku lempar badanmu biar di makan." ancam Cewek dengan memberontak menjauh.
"Janganlah!!! Iya-iya ini juga mau menjauh." saut Kevin berjalan mundur 5 langkah dari Cewek itu.
"Nah gitu kek dari tadi. Ouh ya kenalin aku Emma seorang prajurit bintang 5.
"Apa prajurit? Emang ini dimana?"
"Kamu ada di Dunia Permainan."
"WTF!, Nggak aku pasti lagi mimpi basah ini ya kan? Coba cubit tangan ini." unjuk Kevin menyodorkan tangan untuk dilakukan Emma.
"OMG!, Rupanya asli yang ada badaknya. Gilak ini aku beneran di dunia jauh dari Bumi!." jerit Kevin melototkan mata.
"Terus kenapa aku bisa disini?"
"Coba buka bajumu cepat! Jangan banyak bacot"
Tanpa berlama Kevin melepaskan bajunya lalu Emma memutari badan Kevin sehingga terlihat ukiran melingkar berbentuk peta di tengah punggung Kevin.
"Ada apa dibelakang?"
"Ouh jadi ini. Oke kita harus pergi kerumah paman John." kata Emma menarik tangan Kevin.
Menaiki punggung Gana yang keras, berkulit kasar macam Gajah. "Pegang kuat pinggangku."
Dengan berdada telanjang Kevin memeluk perut Emma dengan erat.
Sesaat mulai mendarat dan sampailah sudah di rumah kecil bercerobong asap layak seseorang menempatinya.
Emma turun dan berjalan memasuki rumah tua itu begitu juga aku mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba sesosok tangan besar besar mendekatiku. "Haaaaaa! Tolong Emma!" teriakku sembari berlari dibelakang Emma.
"Rupanya Paman. Woii lepaslah ini paman John." kata Emma memukul dada Kevin.
"Ternyata sudah besar." ucap Paman John mendekati Kevin.
"Paman siapa?" tanyaku ketakutan..
"Aku adalah teman ayahmu. Aku tahu ayahmu pasti tidak cerita kepadamu kan?" ujar paman John.
Kevin menggelengkan kepalanya. Berjalan memutari badanku paman Jhon mengelus punggungku dan itu membuatku risih.
"Ini adalah peta aku dan ayahmu berjuang menggambilnya tidak sia-sia ternyata Ayahmu mendapatkannya." kata Paman Jhon
"Maksud paman dipunggungku ada Peta?" tanya Kevin mencoba melihat punggung belakangnya tapi tidak bisa.
"Iya nak, Peta ini sangat berharga bagi kami dan dengan adanya dirimulah yang mampu melawan Raja Helchrut.
"Apa cowok ini yang akan melawan Raja Helchurt?" tanya Emma heran.
"Kamu benar Emma dan Saat ini tugas kita adalah mencari 3 elemen batu yakni air, angin dan api di dalam satu pedang tersembunyi sesuai di peta punggung cowok ini" jelas Paman Jhon.
"Bagaimana bisa cowok lemah seperti dia bisa mengalahkan Raja sedangkan dekat Gana saja takut gemetaran." ejek Emma
"Hei! Siapa yang lemah? Aku bukan takut tapi terkejut baru lihat hal diluar nalarku yaitu kamu Emma." saut Kevin melihat sinis Emma.
"Ohhh… Kamu berani lawan aku? Hah sini lawan aku cepat!" ujar Emma menantang Kevin.
"Sudah-sudah sekarang kita harus berangkat ke Negeri Batu Elemen sekarang juga. Dan kamu anak muda siapa namamu?"
"Namaku Kevin." jawab Kevin.
"Emma kamu ajak Kevin untuk mengganti baju yang terletak di atas meja belakang." perintah Paman Jhon.
"Baik Paman. Ayok cundang." ajak Emma.
Berjalan mengikuti Emma tanpa harus melawan atas ejekkan seorang cewek. Tiba di ruangan layaknya dapur dengan meja diatas pakaian diambil Emma.
"Ini pakai cepat." kata Emma memberi pakaian kepada Kevin.
"Gantinya dimana?" tanya Kevin sedikit malu.
"Didepanku, Ya enggaklah di ruang kosong sana dan lagian tubuhmu itu nggak ada nafsunya dilihat." ucap Emma.
Kevin berjalan memasuki ruang di unjuk Emma. Kemudian beberapa saat Emma menunggu akhirnya Kevin keluar dengan pakaian cocok ditambah dibalik polos tubuh Kevin telah muncul gairah badan berotot tegap dan ketampanan rambut hitam pajang (Intinya Komplit).
Emma terdiam menatap wajah Kevin yang sangat tampan bak pangeran. Kevin melihat ekspresi Emma terkagum padanya dan pikiran jahil muncul di otak Kevin. Dengan sengaja mendekati Emma, lalu menekan lembut dagu Emma menghadapnya.
"Apa aku tampan baby?" goda Kevin
Tersadar Emma langsung memukul perut Kevin lagi. "Haaa! Sakit! Perutku sakit sekali." jerit Kevin.
"Aduh maaf aku nggak sengaja nendang." kata Emma sembari memegang perut Kevin tadinya ditendang.
"Kamu demen mukul atau apa?!!. ucap Kevin kuat.
"Ya maaf soalnya kamu sih main dekat aja jadinya kan aku salting." gerutu Emma membantu Kevin berdiri.
"Saltinglah orang baru lihat cowok ganteng langsung mikir travel emang biasa Cewek gini."
"Hei!! Malah disitu Baper. Dahlah aku malas ribut sama kamu."
"Kalian berdua cepat waktu kita tidak lama." teriak Paman Jhon.
"Yaudah ayok, Paman dah panggil." ajak Emma.
Emma berjalan duluan. Terlihat dibelakang Kevin mengikuti dengan mengejek dibelakang Emma. "Hei mau aku tendang lagi?" Emma tahu kalau Kevin sedang mengolok-ngolok dirinya dibelakang.
"Ayo kita harus berangkat ke Negeri Batu Elemen sebelum para prajurit Raja Helchrut menyusul duluan." kata Paman Jhon.
"Baik paman."
Terlihat hanya ada dua Naga. Kevin terdiam karena Naga besar selain Gana ada jauh lebih seram. Kevin terdiam melihat Paman Jhon menaiki Naga tinggi ditaksir 20 kaki dari tinggi manusia.
"Woii! Cepat naik ini malah bengong kesambet Gigi Naga ya? Hahahaha." tawa Emma melihat raut wajah Kevin ketakutan.
Paman Jhon tertawa kecil. Kevin melihat itu menjadi malu bukan kepalang soalnya dirinya bisa dikalahkan oleh Pria tua tak lain Paman Jhon.
Dengan rasa malu Kevin menaiki punggung Gana, lalu mencubit pelan pipi Emma tanpa segan. Hal itu membuat Emma merona.
Hari menjadi siang dimana bila di dunia manusia Kevin akan istirahat dengan makan tapi teringat kalau dirinya kini di dunia berbeda.
Ditambah perjalanan mereka diudara sangat lama hingga kepala Kevin menjadi pusing karena belum makan dan ketinggian.
Bertepatan dengan tibanya mereka di NBE tujuan pertama mereka. Berhenti dan hampir saja tubuh Kevin terjatuh mengenai batu besar dibawah. Emma saat itu memeluk erat Kevin yang tengah pingsan.
Emma turun dengan seluncur di ekor Gana. Lalu meletakkan tubuhnya di atas rumput hijau. Paman Jhon melihat Kevin tanpa berlama memunculkan sihir ditangannya dan mengarahkan ke tubuh Kevin. "Haaa! Sakit!" jerit Kevin kesakitan akibat sihir mengenainya.
Sesaat juga Kevin merasa badannya kembali kuat, normal biasanya tanpa harus makan atau minum. "Amazing! Tubuhku kembali vit lagi padahal mulutku masih bau kering nggak makan." ujar Kevin terkejut.
"Paman tahu kamu kelaparan jadi terpaksa menggunakan sihir memang sedikit sakit." kata Paman Jhon.
"Paman ajarin Emma dong?"
"Belum waktunya Emma."
"Heheheh…" tawa Kevin melihat wajah cemberut Emma tampak lucu.
"Hiih! Paman jahat." gerutu Emma imut.
Emma berjalan duluan memasuki gua terdapat rumput menutupinya. "Mau kemana?" panggil Kevin.
Emma tetap berjalan masuk dan seketika terlihat pemandangan kejam, gelap dengan hujan melanda tempat itu. Kevin pun ikut masuk sedangkan Paman Jhon perlahan berjalan mengikuti. Naga mereka tertinggal di luar.
"Suram juga nih tempat tapi ajaib juga hujan tanpa ada awan." gumam Kevin.
"B aja kali." ucap Emma.
"Loh B gua A."
"Paman apakah benar ini tempatnya?" tanya Emma.
"Benar ini tempatnya."
"Lalu selanjutnya dimana pedang itu berada paman?" tanya Kevin lagi.
"Kevin kamu perlihat kan punggungmu agar paman bisa tahu." seru Paman Jhon.
Sesuai perintah Kevin langsung berbalik membelakangi Paman Jhon sehingga terlihat kembali Peta menunjuk keberadaan Pedang BE berada.
Seusai melihat Paman Jhon berjalan melewati Emma dan Kevin. Tak banyak bertanya Emma, Kevin berjalan mengikuti Paman Jhon.
Berhenti di hadapan pancuran air dan Paman Jhon memasukkan sehelai kain ke air dihadap mereka. Sontak kain itu berubah menjadi cair. Perubahaan itu menandakan kalau air biasa itu sangat berbahaya jika terkena.
Kevin menelan salivanya secara kasar. "Paman airnya tampak bahaya jadi bagaimana kita melewatinya?"
"Kevin kamu yang harus melewati dahulu pancuran air itu untuk menekan benda bulat di tengah pancuran itu." kata Paman Jhon.
"Aku? Paman nyuruh aku?" tanya Kevin.
"Iya Kevin, Sudahlah kamu pasti tidak berani biar aku saja paman yang melakukannya." kata Emma
"Tidak! Aku cowok mana mungkin aku kalah dengan cewek bacot sepertimu." saut Kevin berani.
"Silahkan kami menunggu disini. Dan tangkap ini apabila ada bahaya." ucap Emma melepar benda kecil layaknya stik.
Pelan-pelan Kevin melangkah melewati pancuran air. Tepat sekali celah masuk itu berpas pasan dengan tubuh Kevin. Menyampingkan badannya dan beruntung dirinya selamat dari derasnya air itu tetapi saat hendak menekan bulatan tengah, entah mengapa dari atasnya terjatuh air lendir ke tangannya. Matanya membulat, lalu melihat keatas ternyata sesosok wanita menyeramkan dengan berekor ular sedang menggantung di atas batu tepat di tubuh Kevin. Dengan cepat Siluman Ular itu terjatuh di belakang benda bulat yang hendak Kevin tekan.
"Kamu ingin menekan benda ini pria tampan?" tanya Siluman Ular.
"Iya cepat minggir dari benda itu!" kata Kevin dengan perlahan menyodorkan benda tadi diberi Emma.
"Kamu bisa menekannya jika kamu masuk ke perutku yang lapar ini. Hahahaha!" tawa Siluman Ular.
"Itu tidak akan terjadi!"
"Kalau begitu biarkan aku memakanmu sekarang juga!." ujar Siluman Ular dengan cepat menangkap dan melilit tubuh Kevin.
Kevin tertangkap hanya bisa mengeliat kesakitan dililitan ekor ular. Terlebih lagi benda ditangannya tidak tahu ia gunakan.
"Hahahaha! Aku akan kenyang dengan tubuh lezatmu. Tapi karena kamu tampan akan aku beri kesempatan dengan mendampingiku seumur hidup disini." kata Siluman Licik itu.
Siluman Ular di hadapannya semakin dekat, langsung Kevin memantulkan kepalanya ke kepala Siluman Ular itu dengan keras. Sehingga cepat tubuh Kevin terlepas dari lilitan ekornya.
"Haaa!! Kepalaku sakit!!" jerit Siluman Ular itu sembari memegang kepalanya.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan Kevin menekan tombol di benda kecil itu, lalu keluar benda tajam tak lain adalah Pedang. "Ternyata benda ini Pedang." gumam Kevin terkagum akan pedang perak berkilau itu.
Siluman Ular yang semakin tersadar. Melihat Pedang ditangan Kevin semakin kemarahan memuncak.
"MATI SAJA KAU MANUSIA BODOH!!" teriak Siluman Ular yang secepat kilat hendak menangkap Kevin tapi…
Jleb!!…
Pedang perak berkilau itu kini menembus tubuh Siluman Ular itu. Sontak Kevin secepatnya menarik pedang dari dada siluman itu.
Tubuh Siluman Ular itu terjatuh begitu saja di tanah dengan darah mengalir dari tengah dadanya.
Kevin pandangannya tertuju pada Siluman Ular di depannya sudah tidak bernyawa. Perlahan menekan benda bulat di tengah. Pancuran air pun menghilang dan Secara tiba-tiba benda bulat itu terpisah membentuk pintu masuk.
Paman Jhon dan Emma sejak tadi menunggu dapat menghampiri Kevin. Mata Emma terkejut bukan main didepannya terlihat Ular besar menyerupai setengah manusia wanita.
"Nak, Apa kamu baik-baik saja?" tanya Paman Jhon kepada Kevin tengah terdiam.
"Kamu berhasil mengalahkan penjaga pintu gerbang ini yang tak lain adalah Ular di hadapanmu." ujar Paman Jhon sembari menepuk punggung Kevin.
"Daebak! Tak kusangka jiwa cundangmu semakin menurun. Tapi keren lanjutkan mentalmu nanti lawan Raja. Hehehe…" kata Emma terkagum.
"Emma, Apa kamu keberatan jika pedang itu diberi kepada Kevin?" tanya Paman Jhon.
"Nggak kok paman lagian Emma masih banyak Pedang jadi tidak masalah." saut Emma
"Yasudah, Kita lanjutkan perjalanan." ajak Paman Jhon.
"Kevin, Ayo kamu jangan diam aja karena selangkah lagi Impianmu keluar dari Dunia ini akan berakhir." bisik Emma ditelinga Kevin.
Mendengar itu Kevin tersadar dari lamunanya yang memikirkan sesuatu.
Sesaat kugenggam pedang yang tadinya berlumuran darah telah bersih mengkilat seakan kejadian mengerikan ini hanya sebuah hayalan.
Kevin berjalan sambil menoleh Siluman Ular perlahan meleleh berwarna hitam.
"Apakah yang dikatakan benar?" batin Kevin bertanya-tanya.
Diruangan kini terdapat lemburan mag-mag kental berhawa sangat panas terus menerus bergelembung berada di bawah kaki mereka.
Paman Jhon menunjukka di tengah mag mag panas terlihat pintu berukuran 7 kaki manusia normal.
"Itu pintu masuk selanjutnya paman?" tanya Kevin terheran.
"Kamu benar Kevin karena hanya melalui pintu itu kita dapat melanjutkan perjalanan menemui Pedang 3 Elemen." ujar Paman Jhon.
"Apa kita harus melintasi jalan bebatuan kecil bahkan sangat pas dengan telapak kaki." kata Emma sembari melihat jalan setapak itu.
"Terpaksa harus menjalaninya tetapi dengan perlahan." saran Paman Jhon.
"Kalau begitu kita lakukan." ucap Kevin sambil berjalan pelan duluan.
Ditengah perjalanan terdengar suara raungan tepat di belakang.
Arrgghh!…
Raungan itu ternyata berasal dari Monster berbadan besar jika dihitung sekitar 10 kaki dari manusia normal. Atau bisa dikata seperti HULK tetapi ini berlumuran mag mag merah pekat mengalir di tubuhnya dan berbalut tanah di tangan, kaki, kepalanya seakan menjadi pelindungnya.
Monster Mag mag berjalan hendak menyusul mereka bertiga. "Paman bagaimana ini jika makhluk itu menyusul kita maka jalan ini akan roboh." tanya Kevin kepada Paman Jhon.
"Emma cepat dorong Kevin sampai di pintu itu." perintah Paman Jhon sejenak berhenti menghadap Monster Mag mag.
"Tapi Paman." kata Kevin
"Ayo Kevin jangan membantah ikuti kata Paman Jhon." ajak Emma mendorong paksa Kevin melintasi tanah setapak.
Kini Paman Jhon mengeluarkan sihir di tongkat lalu mengarahkan kepada Monster itu. Tetapi satu persatu serangan tidak berpengaruh hingga tubuh tua Paman melemas.
Kevin melihat Paman Jhon tersungkur rdi tanah. Langsung saja menarik tubuh Emma untuk sampai di pintu masuk.
Emma terkejut sebab perlakuan Kevin membuat dirinya khawatir kepadanya begitu juga Paman Jhon.
"Huk! Huk!." batuk Paman Jhon.
BERSAMBUNG…
✏Asli Hasil Hayalan Semata
✏Jika kurang menarik, Maaf
✏Dilarang Plagiat
Sekian Terimakasih:)