takut-takut kau letakkan pemantik api itu di antara dua gelas plastik berisikan kopi hitam yang kita pesan di warung kecil ujung jalan. untuk sekejap, kita terdiam menikmati hangatnya asap yang ujungnya kita hempaskan. mengepul, menari, berputar dan menghilang. terus mengulang hingga aku mengekeh pelan.
kutanyakan kabarmu, apakah kau baik. karena sudah cukup lama kita tak bertemu dan kau masih saja seperti dulu. dengusmu bersama angin membuatku tertawa juga. aku bercerita, kalau mbok penjual bala-bala yang sering kita makan hasil masaknya dan menyetor beberapa rupiah lebih sedikit dari jumlahnya sering kali menanyakanmu. kubilang saja, kau sudah menemukan bala-bala impianmu. lalu si mbok hanya bilang bahwa kita harus menghitung dengan benar kali ini. ternyata dia tak benar-benar bodoh, kitanya saja yang merasa terlalu pintar dan malah mendapat pengasihan.
lagi pula, kita memang setuju bala-bala si mbok tak pernah lebih nikmat dari oplosan yang kita racik tiap malam rabu dengan uang seadanya dari hasil tepuk-tepuk manja antar mobil angkutan kota. ah, kenapa malam ini tak kita hiasi dengan oplosan seperti biasa. tapi dalam diam, aku tau kau sepakat bahwa kopi memang teman yang lebih menjanjikan daripada oplosan yang harus menjadi sebuah perayaan. lagi pula tak ada yang perlu kita rayakan, bukan? selain yang satu itu.
yenimu akhirnya digandeng cowok yang kau reka-reka sebelumnya, walau aku selalu menangkis tiap kemungkinan tebakkanmu. entah kau jenis pria seperti apa yang punya insting terlalu feminim. kuambil gelas plastik wadah kopiku, tanganku seketika gemetar. perlahan kuseruput dengan syahdu isinya. sepat pahit manis bercampur dengan padu dalam tegukanku. aku mengumpat. aku suka yeni juga. tapi karena dia milikmu tak bisa aku mengambilnya. sampai sekarang. mana aku tenang karena itu bekas labelmu. kau mengukuk, kan? aku yakin kau sudah tau itu. diammu mengiyakan. ah, lupakan saja. kejujuranku barusan hanya setitik yang tidak kubuka.
asapmu mengepul ke segala arah. kau marah? tak pernah sekalipun kau menghembuskan dengan cara demikian. inikah gaya barumu menghembus asap setelah kita lama tak bersua? kuisap asapku sendiri, dengan getir. kau sepertinya enggan untuk membagi kabar. kau lebih memilih mendengar ocehanku. tak bosankah?
gemerisik dedaunan dari puluhan pohon memintaku untuk terus berkata. kau tau, aku lelah selama ini. bersembunyi dari isi kepalaku sendiri. bersembunyi dari sengatan ingatan saat itu. saat yang harus kita rayakan, dengan tawa dan canda. dengan gelak dan serapah.
haruskah kau membuatku marah? kita sudah sering kali berjanji untuk tidak mengorek apapun saat oplosan menjadi bintang utama malam itu? kau hanya berkata untuk membawa pulang berkali-kali tepat di depan wajahku. adakah kau tau dimana rumahku? di saat tempat hangat yang aku harap bisa menerimaku namun nyatanya aku seperti hantu tembus dinding tiap hari!
tanganku bergetar, asap pekat dari pangkal itu membuat sketsa ular naga yang tak ada bagusnya. tapi terus saja, kau mengatakan itu, berputar di kepalaku dan tak ingin berhenti. aku harap kau ingat, malam itu kau yang inginkan api unggun. itu membuat cowok si penggandeng yeni yang baru harus memotong kayu-kayuan. ditangannya sebilah golok tajam rangka memotong kayu ada di tangannya. saat mantramu untuk membawa pulang kewajahku masih kau dengungkan tak henti. aku rasa, kau akan terdiam jika kau sedikit kudorong. kurasa kau akan senyap dan tau aku tak suka mendengarnya. kudorong bahumu dan kau lemah. kau terhuyung dan kakimu menginjak gelas tak bertuan membuatmu tergelincir.
apakah iya, sebuah golok ditangan cowok penggandeng yeni yang baru menusukmu? itukah yang membungkammu? yang membisukanmu? ya, ya, ya. tentu bukan aku. aku tak punya senjata. bahkan aku hanya memegang setengah asapku yang aku lupa cara hirup malam itu. aku tak bersalah. cowok perebut gandenganmu yang salah, dia yang bermotif di sini bukan? tentu. karena ia ingin merebut yeni darimu dan dengan sengaja membawa bilah tajam yang akhirnya menembusmu dari tulang punggung hingga tepat di bawah hatimu. dia benar-benar ingin mematahkan hatimu, secara alami!
aku mendengar yeni berteriak malam itu. aku mendengar ia berderap pergi bersama cowok gandengan barunya. aku mendengar derap langkah kakiku yang meninggalkan tatapanmu sedirian di sana. aku ingat matamu, aku ingat kolam merah yang aku heran kau tak bercita-cita pindah dari kubangan itu. aku ingat semua. tapi kalian tak menemukanku. bayangan ku menemukanku, pikiranku menemukanku. kesadaranku menemukanku.
asap putihmu menghilang, kubakarkan satu namun angin membawa apinya pergi entah kemana. kau marah? tentu tidak! aku tak melakukan apapun malam itu. tidak, tidak, tidak. kuhempaskan pemantik itu marah dan kuletakkan lintingan putihku yang tersisa sekenanya di tempatmu. aku harus pergi lagi. jangan bosan mendengar ceritaku. ini rangkaian cuci otakku padamu. bukan aku yang melakukannya malam itu. bukan?
asap putihmu tiba-tiba menghilang. takut-takut kuambil pemantik apiku, perlahan kuangkat bokong malasku meninggalkan pusaramu. lalu bersatu bersama bayangan magrib dan sampai jumpa lagi teman.