Pesona dan daya tarik yang begitu kuat, adalah hal yang membuat orang sulit untuk berpaling dari dirimu. Aura layaknya seperti magnet mampu menarik segala pandangan mata dan raga mendekatimu. Berharap mereka dapat menjadi orang istimewa bagi dirimu kelak. Dan dirimu sulit untuk dijangkau, yaitu bagi diri ini.
Terina adalah namamu. Perempuan terpopuler dan di impikan bagi banyak orang. Engkau bukanlah perempuan usia sekolahan layaknya sebuah cerita novel kebanyakan. Namun, dirimu adalah seseorang yang begitu dewasa dengan daya tarik yang cukup berbeda. Bersikap tidak manja dan memiliki pemikiran yang jauh ke depan.
Devlin, seorang lelaki yang sudah lama mengagumi seorang Terina. Dahulu mereka adalah mahasiwa di salah satu kampus dan pernah satu kelas di suatu mata kuliah. Kini mereka sudah tidak bisa sedekat itu lagi. Devlin merasa sudah berada di jarak yang cukup jauh dan sulit menjangkau seorang Terina.
Hal itu makin terasa jauhnya setelah lulus dari kuliah yang baru saja terjadi.
Devlin ingin memanfaatkan waktu kelulusan itu untuk mendekati Terina. Namun, Terina begitu jauh dari gapaian tangannya. Hari kelulusan yang seharusnya membahagiakan, malah menjadi kesedihan bagi seorang Devlin. Terina semakin melangkah jauh dari posisi Devlin saat ini.
Masih teringat di ingatan Devlin akan daya tarik Terina itu. Ia hanya mampu mengenang tanpa ada memori spesial, seperti berduaan. Hatinya tidak mampu menerima orang selain Terina. Padahal ia tahu bahwa Terina sulit untuk digapai. Bahkan perjuangannya selama ini selalu gagal.
Satu hari di musim hujan.
Devlin berjalan sambil meminum minuman kaleng.
Dibawah payung yang ia bawa, dirinya melangkah melewati guyuran hujan. Pandangan ke depan sembari menghilangkan dahaga.
Saat ingin menyebrang, Devlin terhenti sejenak.
Matanya mengarah ke sebelah kanan. Terlihat seseorang berada di dekatnya. Devlin hanya diam dan tidak bergerak menyebrang. Sementara orang di sebelahnya...
"Kamu..."
Devlin di suruh untuk berjalan segera, dan lelaki itu pun langsung bergerak. Setelah menyebrang dan berteduh di sebuah toko, mereka berdua pun saling berhadapan secara empat mata.
Orang yang numpang berteduh di payung milik Devlin tersebut adalah perempuan bernama Terina.
Kini ia dapat berdekatan dengan perempuan itu setelah sekian lamanya.
Terina berterima kasih pada Devlin karena sudah mau berbagi payung dengannya. Kemudian Terina pun segera pamit untuk pergi. Sebelum pergi, Devlin menahan perempuan itu dengan cara memegang sebelah tangannya.
"Aku ingin berbicara sebentar denganmu."
Ucapan dari Devlin itu membuat Terina beralih.
Terina bersedia mendengarkan lelaki yang ada di hadapannya. Kemudian Devlin mulai angkat bicara, dimulai dengan menjelaskan soalan mereka yang dahulu sempat satu kelas dan berbagai momen lainnya.
Setelah bicara mengenai semuanya, Terina mengangguk.
Lalu perempuan itu berbisik di telinga Devlin.
Lelaki itu mendengar apa yang dikatakan oleh Terina.
Tak berapa lama beberapa orang datang menghampiri Terina. Mereka adalah teman-teman dari Terina. Melihat hal itu, Devlin pun hanya bisa menjauh. Lalu ia memutuskan untuk pergi dari lokasi. Devlin melambaikan tangannya pertanda berpisah, meskipun Terina tidak tidak melihatnya lagi.
Tangan sudah bisa menjangkau setelah sekian lama. Walau pada akhirnya harus berpisah di akhir kisah.
-----SELESAI-----