Suara nyaring dari sepatu heels itu menghiasi seluruh ruangan. Seorang wanita sedang berjalan seperti bak model menuju dimana resepsionis berada.
"Apa Jhon ada di ruangannya?" Tanya seorang wanita berparas cantik itu.
"Ada nyonya, tapi Tuan sedang kedatangan tamu. Nyonya bisa menunggu di lobi." Jawab karyawan itu dengan ramah.
"Tidak perlu." Tolaknya, "Aku hanya sebentar." Wanita itu kembali berjalan ke arah dimana ruangan Jhon berada.
Tak berapa lama kemudian dia sampai di depan ruangan Jhon. Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara kasar. Membuka pintu dengan pelan dan terpampanglah seorang pria sedang memangku seorang wanita yang begitu asing di lihat. Mereka berdua saling beradu lidah, kemudian sang pria meremas kedua gundukan sang wanita dengan nafsu dan menciptakan suara yang sangat menjijikkan bagi siapapun yang mendengarnya.
Wanita itu masuk. Dia bersandar di dinding dengan melipat kedua tangannya di bawah dada sambil melihat adegan panas itu dengan smirknya.
"Lanjutkan di rumah saja, tidak bagus di lihat orang." Ucap wanita itu santai dengan posisi sama.
Sontak kedua pasangan yang sedang bergulat lidah itu menghentikan aktivitasnya. Sang pria menoleh dan memasang wajah terkejut saat melihat wanita yang sangat dia kenal kini menatap mereka dengan tatapan mematikan.
"Clara? Tu-tunggu, ini bukan yang seperti yang ka-kau pikirkan." Gugup Jhon.
"Benarkah? Tapi apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri, itu sudah menjelaskan semuanya."
Jhon bangkit dari duduknya, hendak mendekati Clara.
"Berhenti disana dan jangan dekati aku! Maaf aku mengganggu aktivitas kalian, tapi aku hanya ingin menyampaikan hal yang--- yeah, tidak terlalu penting sih bagiku."
"Apa yang ingin kau sampaikan sayang? Aku harap itu bukan hal yang buruk."
Clara kembali menampilkan smirknya dan menegakkan badannya.
"Pernikahan kita batal! Jangan pernah menemuiku apalagi muncul di hadapanku!" Tekannya dan segera pergi dari sana.
"Clara! Sayang!! Dengarkan dulu penjelasanku! AARRRGGGHHH!!! SHIT!" Jhon mencampakkan semua benda yang ada di dekatnya dan mengusap kasar wajahnya dengan frustasi.
"Apa dia calon istrimu? Seharusnya kau bilang padaku! Seandainya aku tahu, aku tidak akan melakukan itu!" Ucap wanita bernama Luna.
"Ini semua gara-gara dirimu sialan! Seharusnya kau tidak menggodaku dengan pakaian minimmu!!" Bentak Jhon.
"What?! Sekarang kau menyalahkanku?!" Tanyanya tidak percaya.
Jhon memijat pelipisnya, merasa pusing dengan keadaan, "Ssshhh pergilah, aku tidak ingin berdebat denganmu."
Luna dengan moodnya yang kacau akhirnya angkat kaki dari ruangan itu. Sekarang waktunya bukan saling menyalahkan. Jhon sedang mencari cara bagaimana menyeret kembali wanitanya ke dalam pelukannya. Jhon sangat frustasi sekarang. Dia tidak bisa meninggalkan Clara begitu saja.
***
Tiga tahun kemudian
Suara jepretan dan berbagai kilat dari kamera kini memenuhi ruangan yang sedang melakukan pemotretan. Seorang wanita berparas cantik dan memiliki body goals itu sedang melaksanakan prmotreran. Berbagai pose dia lakukan, mengganti dari satu gaya ke gaya lainnya. Dia sangat profesional dalam melakukan pekerjaannya.
"Baiklah, untuk sekarang sudah selesai. Kau bisa istirahat satu jam dan kita akan melakukan pemotretan dengan tema lainnya." Ucap Leo sang Fotografer.
"Hm, okay." Wanita itu berjalan ke arah asisten pribadinya yang sedari tadi menunggunya. Dia mengambil air mineral dan meneguknya dengan tandas.
"Apa kau lelah? Ingin membutuhkan sesuatu?" Tanya sang asisten bernama David.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku ingin ganti baju dulu." Belum sempat dia melangkah, David mengatakan sesuatu dan membuat wanita itu jengah.
"Jhon menghubungiku tadi. Dia ingin menemuimu."
Ya, wanita itu adalah Clara, calon istrinya Jhon. Ah ralat, yang benar adalah mantan. Yeah, mereka seharusnya sudah menikah kalau Jhon tidak melakukan hal menjijikkan tiga tahun yang lalu.
Clara menatap tajam sang asisten, "Sudah ku bilang bukan untuk tidak berhubungan dengannya lagi! Mau dia sampai bersujud di hadapanku, prinsipku tidak akan berubah!" Tekannya dan segera pergi dari sana menuju ruang ganti.
David menghembuskan nafasnya dengan gusar, "Dasar keras kepala. Apa salahnya untuk menemuinya sekali saja?"
Drrrttt.. Drrrttt..
Ponsel Clara bergetar, David yang melihat segera mengambil ponsel itu. Terlihat nama Maya disana, tanpa menunggu lama David segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, ada apa?" Tanya David.
"Ya halo? Kok yang angkat suara laki-laki? Ini siapa? Kau penculik ya?" Tuduh Maya dari seberang sana.
"Sembarangan kalau ngomong. Ini aku David."
"Ah, benarkah? Maaf, hehe.."
David berdehem, "Ada apa?" Tanyanya lagi.
"Aku ingin bicara dengan Clara, dimana dia?"
"Dia sedang ganti baju."
"Oh, dia sedang pemotretan ya? Kalau begitu sampaikan aja pesanku padanya."
"Apa?"
"Aku ingin menemuinya hari ini, bilang padanya tiga puluh menit lagi aku akan sampai."
"Hmm, baiklah. Hanya itu?"
"Iya hanya itu, terimakasih. Aku tutup telfonnya." Maya pun memutuskan panggilannya.
Tak berapa lama kemudian, terlihat Clara keluar dari ruang ganti.
"Tadi Maya menelfon." Kata David to the point.
"Dia bilang apa?"
"Dia ingin menemuimu, tiga puluh menit lagi dia akan sampai."
"Tumben sekali dia datang kesini. Apa ada hal yang mendesak?" Tanya Clara.
David mengangkat bahu, "Tidak tahu, dia hanya bilang begitu." Clara hanya mengangguk paham.
"Lapar? Ingin makan?" Tanya David.
"Yaiyalah lapar, ini kan waktu jam makan siang." Ketus Clara.
David terkekeh, "Ayo ke kafe sambil menunggu Maya disana." David menggenggam tangan Clara dan menariknya keluar dari ruangan itu.
Kini mereka sedang menyantap makanan dengan lahap. Hening, tidak ada yang bersuara, sampai suara getar handphone Clara mengganggu aktivitasnya.
"Ada apa?" Tanya Clara mengangkat panggilan itu sambil sesekali menyuapkan steak ke mulutnya.
"Kau dimana? Aku sudah sampai."
"Aku di cafe depan kantor. Kau kemarilah."
"Okay." Maya memutuskan panggilannya dan segera menuju ke lokasi.
Saat sudah sampai di cafe, Maya mengedarkan pandangannya guna mencari keberadaan Clara, sahabatnya itu.
"Disini!" Teriak Clara sambil melambaikan tangannya.
Lantas Maya melangkah ke arah Clara dan duduk di samping David.
"Ada apa kau ingin menemuiku?" Tanya Clara saat dia sudah selesai dengan acara makannya.
"Nothing, hanya ingin bertemu saja. Tidak boleh?"
"Bukan tidak boleh, aku bertanya karena tidak biasanya kau datang disaat aku sedang bekerja."
"Kau salah. Aku datang disaat kau sedang istirahat."
"Terserah." Clara memutar bola matanya malas. Ya, dia malas menanggapi perkataan Maya lagi. Bisa-bisa hanya karna masalah sepele mereka akan berdebat sampai esok hari.
"Selain ingin menemuimu, ada hal penting yang ingin ku sampaikan." Kali ini nada suara Maya berubah, dia lebih serius.
Clara memicingkan matanya, "Apa? Kalau soal laki-laki brengsek itu aku tidak ingin membahasnya."
Maya menghembus nafasnya kasar. Dia sudah tahu kalau Clara pasti tidak ingin membahas soal itu.
"Kumohon, dengarkan aku kali ini saja. Setelah itu terserahmu ingin bagaimana." Mohon Maya dengan nada memelas.
Clara mendesah kemudian mengangguk, "Katakanlah, tapi ingat jangan terlalu mendramatisir keadaan. Ucapkan seperlunya saja."
Maya terkekeh, "Baiklah nyonya.. Tapi bisakah dia pergi? Aku ingin bicara secara pribadi denganmu." Sindir Maya ke David.
"Kau mengusirku? Hei, apa kau kira aku tidak tahu permasalahan mereka? Aku tahu! Apa kau beranggapan aku ini seorang pengganggu?" Ucap David tidak terima.
"Bukan begitu. Iya, aku tahu kalau kau mengetahui segalanya, tapi kami ingin bicara antara sesama wanita."
David mendecih mendengarnya.
"Sudahlah, kepalaku pusing melihat kalian berdebat. Tidak malu di lihat orang? David, pergilah. Nanti aku menyusulmu."
David melayangkan tatapan tajam ke arah Maya, "Waktu kalian tinggal dua puluh menit lagi, sebaiknya manfaatkan waktu itu." Dia bangkit dari duduknya dan beranjak dari sana.
"Apa dia lagi PMS? Sensi amat jadi orang."
Clara hanya terkekeh, "Waktu terus berjalan."
"Ah, baiklah. Jadi begini, Jhon minta bantuanku agar kalian bisa berjumpa. Dia ingin meminta maaf padamu. Kejadian tiga tahun yang lalu, dia sangat menyesalinya. Dia bilang wanita itu yang menggodanya duluan jadi dia terbawa nafsu. Yah, kau tahu sendirilah bagaimana seorang pria jika melihat seorang wanita berpakaian minim. Pasti nafsunya langsung naik."
"Dan sekarang kau membelanya?" Tanya Clara dengan nada remeh.
"Bukan, bukan begitu. Tentu saja aku tidak membelanya karena disini mereka berdua yang salah. Di satu sisi Jhon tidak bisa mengontrol nafsunya dan di sisi lain wanita itu berusaha menggoda Jhon."
"Siapa wanita itu?"
"Mantannya."
"Mantan? Tapi kenapa aku tidak mengenalnya? Selama aku pacaran dengannya, dia selalu memberitahu wajah serta nama mantannya. Tapi wanita ini sangat asing bagiku"
"Mungkin dia lupa memberitahumu." Maya menyandarkan punggungnya ke kursi, "Jadi bagaimana? Kau mau berjumpa dengannya?"
"Tidak." Jawab Clara dengan cepat.
"Ayolah La, kasihan dia. Sudah tiga tahun kau menghukumnya, apa kau tidak kasihan dengannya?"
"Sejak kapan aku menghukumnya? Aku tidak pernah menghukumnya. Malah aku membatalkan pernikahan kami agar dia bisa leluasa bermain dengan wanita lain!"
Maya menutup matanya, "Susah sekali bicara dengan orang yang keras kepala." Pikirnya.
"Maksudku dalam arti kau menghukumnya, kau tidak mau berjumpa dengannya barang sekalipun. Dia hanya ingin menjelaskan kejadian itu padamu. Tidak lebih."
Clara menopang dagunya dengan sebelah tangannya, "Kau sudah menjelaskan kejadiannya. Katakan saja padanya, aku sudah memafkannya."
Maya merasa jengah. Jengah karena sahabatnya itu susah sekali di atur.
"Ayolah, jangan melarikan diri seperti ini. Jangan-jangan kau masih mencintainya?" Tebak Maya dengan senyum lebarnya.
"Kau gila? Aku sudah mati rasa dengan pria itu!" Tukas Clara.
"Yah, siapa tau tebakanku benar. Jadi bagaimana? Kau setuju? Ayolah La, satu kali ini saja." Mohon Maya dengan menyatukan kedua tangannya.
Clara melihat Maya dan mendesah mengalah, "Baiklah, sekali ini saja."
Maya terperanjat dari duduknya dengan antusias sampai banyak pengunjung cafe melihat ke arah mereka, "Benar kan? Kau harus tepati janjimu!"
Clara menunduk malu karena perilaku Maya kini mereka jadi bahan tontonan orang.
"Duduklah May, apa kau tidak malu di lihat mereka?" Bisik Clara dengan pelan namun masih bisa di dengar Maya.
"Ah, maaf." Dia segera duduk di kursi dan menundukkan kepalanya menahan malu.
"Kenapa kau begitu senang saat aku menyetujuinya?" Tanya Clara saat keadaan kembali normal.
"Jawabannya simple, agar aku tidak di ganggu terus olehnya. Bayangkan saja, tiap hari dia menelfon dan mengirimku sms untuk menyampaikan hal ini padamu. Kan pekerjaanku jadi terganggu." Omel Maya.
Clara tertawa, "Benarkah? Wah.. Ternyata dia sangat gigih ya."
"Dia begitu karena masih mencintaimu." Clara hanya diam tersenyum dan tidak membalas perkataan Maya.
Maya melirik jam dinding yang ada di dinding kafe, "Sudah dua puluh menit, pergilah atau singa betina itu akan memarahiku."
Clara terkekeh, "Baiklah. Kau tidak ingin minum? Pesanlah biar aku yang bayar."
"Tidak perlu, aku tidak haus." Tolaknya.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi." Clara bangkit dari duduknya.
"Hati-hati, jaga kesehatanmu terutama bodymu agar tetap sexy."
"Kalau itu pasti." Clara mengedipkan matanya.
"Untuk tempat dan waktu akan ku kabari secepatnya."
Clara mengangguk, "Bye~" Ucapnya melambaikan tangan dan di balas oleh Maya.
Disaat Clara ingin membuka pintu, dia tidak sengaja melakukan kontak mata dengan seorang pria yang memakai setelan hitam dari atas sampai bawah, begitu pun masker dan topinya. Clara acuh dan melewati pria itu. Sang pria terus memperhatikan Clara dengan senyum di balik maskernya.
"Kau makin cantik sayang. Apapun yang terjadi, kau harus kembali padaku. Aku masih mencintaimu." Gumamnya.
Kini Clara sudah sampai di ruangannya. David menoleh saat dia merasakan seseorang datang menghampirinya.
"Kau telat sepuluh menit." Ucap David melihat arlojinya.
Clara berdecak, "Apa kau kira aku tidak butuh waktu untuk berjalan kemari?" Dia duduk di samping David. "Dimana semua orang? Kenapa masih sepi?" Tanya Clara lagi sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.
"Mereka ada rapat mendadak, jadi untuk kegiatan akan di lanjutkan esok hari."
"Benarkah? Kalau begitu ayo pulang. Aku sangat lelah hari ini." Clara yang tadinya ingin bangkit dari duduknya mendadak di tahan David.
"Eh, kau kenapa sih?" Tanya Clara heran.
David menatap wajah Clara, seperti sedang mengintrogasinya.
"Hei, kau kenapa? Tatapanmu itu santai dong, mau ku tusuk matamu itu?" Ketus Clara menatap David.
"Hanya satu pertanyaanku, Apa yang kalian bicarakan tadi?"
Clara menganga tidak percaya, "Apa-apaan ini? Dia menatapku seperti itu untuk bertanya hal ini?" Batinnya.
"Hei, jangan melamun. Jawab pertanyaanku." Tukas David melayangkan tangannya di depan wajah Clara.
Clara tersadar dan dia mengerjapkan matanya, "Ah maaf. Soal itu ya? Kurasa kau sudah tahu apa yang kami bicarakan."
David menaikkan satu alisnya, "Tentang Jhon?" Clara mengangguk, "Ada apa lagi dengannya?" Sambung David.
Clara menghela nafas kasar, "Dia ingin bertemu denganku dan dia minta pertolongan Maya untuk mengatakan hal ini. Ternyata dia sangat gigih ya?" Clara terkekeh.
"Dan kau setuju?"
"Hmm, awalnya aku tidak setuju tapi melihat Maya seperti orang putus asa membujukku, akhirnya aku setuju. Kasihan dia di ganggu terus."
"Lalu bagaimana denganku? Aku juga di ganggu terus olehnya dan kau tetap tidak ingin bertemu dengannya." Sungut David menatap jengah Clara.
Wanita itu terkekeh, "Maafkan aku, saat itu aku belum siap."
"Lalu sekarang kau siap?" Clara mengangguk. "Hah, tapi aku yang belum siap." Desah David kemudian dia menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap langit-langit ruangan itu.
Clara melihat David heran, "Apa maksudmu kau belum siap? Kau juga ingin bertemu dengannya?"
David menggeleng, "Bukan itu, aku belum siap jika kau akan bertemu dengannya."
Clara memukul lengan David, "Bicara yang jelas bodoh! Aku tidak mengerti apa yang kau katakan." Ketusnya.
David meringis kesakitan saat Clara memukul lengannya, dia mengelus guna meredakan rasa perih itu.
"Aku mencintaimu Clara Rosemary! Aku tidak ingin kau kembali dengan pria brengsek sepertinya!"
Oh tidak, apa yang telah ku katakan?
Clara terdiam mematung saat David mengatakan itu sambil menyebutkan nama aslinya. Apa-apaan ini?
"K-kau? Apa maksudmu?" Tanya Clara gugup.
David menggaruk tengkuk lehernya, bingung harus bagaimana sekarang. Kenapa dia bisa keceplosan begini?
"Aah, tidak. Jangan percaya ucapanku tadi. Aku hanya bercanda, hahaha..." David tertawa paksa mengatakan itu, keadaan sekarang sangat menegangkan.
"David, kau tidak boleh mencintaiku. Aku bukan wanita yang kau harapkan. Jangan mencintaiku karena kau yang akan tersakiti nantinya." Ucap Clara lembut.
David menghentikan tawanya dan dia diam membisu setelah mendengar Clara mengatakan hal itu.
"Maaf jika perkataanku membuat hatimu sakit, tapi apa yang ku katakan memang benar dan itu untuk kebaikanmu juga."
David mengeluarkan senyumannya. Ya, senyuman palsu untuk menutupi hatinya yang sedang sakit. Sudah lama dia bekerja dengan Clara dan bohong jika dia tidak punya perasaan apapun kepada wanita itu. Tapi apa boleh buat? Ini hanya cinta sepihak, hanya David yang mencintainya tapi tidak dengan Clara. David tidak ingin memaksa Clara untuk mencintainya. Biarlah takdir yang akan menentukan apa bisa dia hidup bersama dengan Clara atau tidak.
"Aku tidak apa-apa, lagian aku juga yang salah bercanda padamu kelewatan batas. Maafkan aku."
Clara membalas senyuman David, "Iya, aku memaafkanmu."
Setelah kejadian itu, keadaan menjadi agak canggung. Diam dengan pikirannya masing-masing, tidak ada yang membuka percakapan sampai akhirnya David bertanya sesuatu dan itu membuat Clara sedikit terkejut.
"Apa kau masih mencintai Jhon?"
Clara diam sesaat dan akhirnya dia menjawab, "Sudah tiga tahun kami bersama dan itu mustahil bagiku tidak mencintai dia lagi. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Kami selalu bersama dengan keadaan apapun, menanamkan rasa kepercayaan satu sama lain, sampai akhirnya dia merusak kepercayaanku. Aku masih mencintainya walaupun sudah berkurang, tidak seperti dulu. Terkadang, setiap malam aku menangisi dia karena rindu. Ah, bodohnya aku." Clara terkekeh mengingat kejadian itu. Bisa-bisanya dia menangisi pria yang sudah berkhianat di belakangnya.
David menepuk pelan punggung Clara untuk memberi kekuatan kepada wanita itu. Clara terlihat sangat tegar walau dia sudah di khianati. Walaupun begitu, hati David tetap masih sakit saat tahu bahwa kenyataannya Clara masih mencintai Jhon. Pupus sudah harapannya.
"Aku yakin, Jhon masih mencintaimu. Buktinya dia ingin sekali bertemu denganmu kan? Aku rasa dia ingin memperbaiki hubungan kalian." David bangkit dari duduknya dan dia berdiri di hadapan Clara, "Kau tenang saja, kalau Jhon masih menyakitimu, datang padaku. Aku masih mencintaimu dan itu tidak pernah berubah."
Clara melotot mendengar ucapan David, "Kau ini! Tadi apa ku bilang? Jangan mencintaiku bodoh!" Clara ikut bangkit dari duduknya dan memukul habis David. Pria itu tertawa walaupun sakit dia rasa, mereka berlari kesana kemari seperti anak kecil.
***
Saat ini Clara sudah berada di kediamannya. Dia merasa lelah karena pekerjaannya cukup banyak menguras tenaga apalagi memukul habis-habisan David karena perkataannya itu. Untungnya hanya bercanda semata. Bercanda?
"Dia tidak sungguh-sungguh berkata itu kan?" Gumam Clara sambil masuk ke kamarnya. Membuka sepatu, meletakkan tasnya di kursi dan duduk di tepi kasur sambil memijit pelipisnya yang di rasa sedikit pening.
Saat mengingat perkataan David yang sedikit mengganggu pikirannya itu, handphone Clara berbunyi tanda pesan masuk.
"Angel City Brewery, lusa jam delapan malam. Jangan lupa kenakan pakaian yang bagus agar kau semakin cantik saat bersama Jhon." Kira-kira seperti itu lah isi pesannya dari Maya.
Clara mendecih dan memilih tidak membalas pesan Maya. Dia berdiri dan berjalan ke arah cermin meja riasnya.
"Aku masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Hanya saja yang berubah hatiku dan emosiku. Soal aku cantik tidaknya kau sendiri yang akan menilainya." Seusai mengatakan itu Clara pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Ding.. Dong..
Clara yang tadinya sedang fokus menonton film aksi favoritnya menoleh ke arah pintu karena bel berbunyi. Dia melihat jam dinding pukul sembilan malam.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" Clara lekas mendekati pintu dan membukanya.
"David?" Clara terpelongo.
"Hai! Menganggu tidak?" Tanya David.
Clara menggeleng, ''Ada apa? Kenapa kau datang malam-malam begini? Ini sudah larut."
David melihat jam tangannya. Tidak mungkin sudah larut sedangkan dia dari rumah berangkat pukul delapan lewat tiga puluh. Hanya butuh tiga puluh menit untuk sampai ke rumah Clara.
"Astaga... Ini masih pukul sembilan Clara, larut apanya?" Ucap David setelah mengecek jam tangannya. Ternyata tidak rusak.
"Iya aku tahu tapi kenapa kau kemari? Bahas pekerjaan? Kalau iya besok saja, aku lelah."
"Aku kemari bukan bahas pekerjaan. Aku ingin datang saja."
"Kalau kau datang tidak ada tujuan lebih bagus kau pulang saja. Aku mau tidur." Clara memundurkan langkahnya dan ingin menutup pintu tapi David berhasil menahannya.
"Padahal aku bawa makanan Avocado Toast dan Burrito kesukaanmu. Kalau tidak mau tidak apa, aku akan membuangnya." Ucap David sambil menatap Clara dengan Licik.
Mendengar nama makanan kesukaannya itu, air liur Clara hampir jatuh. Tapi dia kembali mengatur ekspresinya dan kembali membuka pintu.
"Jangan di buang, kau pasti membelinya sangat mahal. Hmm, masuklah. Maaf soal tadi ya." Kata Clara salah tingkah.
David tertawa, "Jangan bohong, aku tahu kalau kau ingin makan makanan ini. Baiklah tidak masalah."
David kemudian masuk ke dalam dan di ikuti Clara yang sedang mengutuk dirinya sendiri. Sementara itu tampak di kejauhan ada seseorang yang sengaja melihat kegiatan mereka tadi.
"David, kau dapat kartu kuning dariku." Ucap orang itu dan memilih pergi dari sana.
"Mau minum apa?" Tanya Clara saat melihat David sedang mengeluarkan makanan yang dia bawa.
"Ada vodka tidak?"
"Cih, pilihanmu terlalu berkelas. Dasar tidak tahu diri." Walaupun Clara mengatakan seperti itu, dia tetap mengambilnya. Berbeda dengan David, dia tampak santai saja saat Clara mengatainya.
Disaat Clara ke dapur, handphone David bergetar. Dia segera merogoh saku celananya dan melihat pesan masuk dari seseorang.
David mengernyit, "Kartu kuning? Apa maksudnya?" Gumamnya. Dia tetap dengan ekspresinya tapi pada akhirnya dia paham apa maksud dari pesan itu.
"Aaahh, jadi itu maksudmu." Batin David sambil tersenyum smirk.
"Kau kenapa? Senyum-senyum tidak jelas." Ketus Clara menghampiri David sambil membawa minuman dan tidak sengaja melihat ekspresi pria itu.
David menoleh dan menyimpan handphonenya, "Tidak ada, hanya ada sedikit hal yang lucu."
"Lucu? Pesan dari pacarmu ya?"
David yang tadinya sedang minum vodka mendadak menyemburkan air ke wajah Clara karena terkejut.
"YAK! CARI MATI KAU YA?!" Bentak Clara sambil melotot.
David menutup mulutnya dengan tangan seakan tak percaya dengan kondisi sekarang, "M-maafkan aku. Aku tidak sengaja melakukannya." Ujarnya sambil mengambil tisu yang terletak di meja dan memberinya kepada Clara.
Clara mengambil kasar tisu itu kemudian membersihkan wajahnya.
"Maafkan aku."
"Diamlah! Untung saja ini bukan minuman yang terlalu keras. Kalau wajahku rusak karena kelakuanmu bagaimana?! Bisa kau ganti? Tidak kan?!"
David terdiam seribu bahasa. Dia tidak bisa menjawab perkataan Clara karena apa yang wanita itu katakan memang benar. Jika kadar alkohol di Vodka itu tinggi, bisa saja wajah mulus Clara rusak karenanya.
"Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf." Sendunya sambil menundukkan wajahnya. Hanya itu yang bisa dia katakan.
Clara melirik ekspresi menyedihkan David. Dia memutar bola matanya malas dan menghembuskan nafas kasar, "Hentikan ekspresi jelekmu itu. Baiklah aku memaafkanmu."
David langsung mengalihkan pandangannya secepat kilat, "Benarkah?" Dan hanya di jawab deheman oleh Clara.
"Ahh.. Aku lega kau memaafkanku." Ucapnya sambil tersenyum. "Ayo kita makan, nanti keburu dingin." Sambungnya dan mereka menikmati makanan itu dengan damai tanpa hambatan.
Hari berganti hari dan tiba saatnya Clara menemui Jhon, mantan kekasihnya.
"Kau jadi kan pergi hari ini?" Tanya Maya yang ada di samping Clara. Mereka sedang duduk santai di balkon rumah Maya.
"Hmm jadi, kenapa?"
"Tidak ada, hanya bertanya. Ku kira kau lupa."
Clara terkekeh, "Tidak mungkin aku lupa."
Maya menoleh menatap Clara, "Apa yang akan kau lakukan nanti? Apa kau akan menghajarnya?"
"Untuk apa aku menghajarnya? Itu hanya membuang tenagaku." Jawab Clara kemudian menyesap minuman anggur yang dia pegang. Mengalir ke tenggorokan dan menyisakan rasa yang nikmat.
"Tapi mungkin aku akan melakukan sesuatu." Sambungnya dengan tatapan licik.
"Apa maksudmu? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Maya lagi dengan ekspresi bingung.
"Kau akan segera mengetahuinya." Clara bangkit dari duduknya, "Kurasa sampai disini saja pembicaraan kita. Aku harus pulang untuk bersiap-siap."
Maya pun ikut bangkit dari duduknya, "Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu dan jangan lakukan hal yang aneh." Ucap wanita itu dengan nada peringatan.
Clara meletakkan gelasnya di atas meja, "Tenang saja, aku akan melakukan sesuatu yang akan menguntungkan kami berdua. Aku pulang dulu."
"Kau tahu? Sebenarnya aku penasaran dengan kata-katamu tapi aku berusaha menahannya." Kesal Maya.
"Sudah ku bilang nanti kau bakal tahu."
"Terserahmulah. Sudah sana pulang, hati-hati di jalan. Maaf tidak bisa mengantarmu ke bawah, aku malas turun."
Clara menganggukkan kepalanya, "No problem." Setelah mengatakan itu Clara pergi dari sana dan perlahan punggungnya menghilang dari pandangan Maya.
"Apapun yang akan kau lakukan, ku harap kau tidak akan menyesalinya Clara." Gumam Maya.
Clara masuk ke mobil sport mewahnya dan melajukan kendaraan itu dengan kecepatan sedang. Menatap lurus ke jalanan sambil memikirkan sesuatu.
"Apa rencanaku nanti tidak akan membuatku menyesal? Ah tidak-tidak, rencanamu pasti berhasil Clara. Seharusnya kau melakukan ini dari dulu. Ya, aku tidak akan menyesal." Gumamnya kepada dirinya sendiri kemudian menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi.
Menghabiskan tiga puluh menit di perjalanan akhirnya Clara sampai di kediamannya. Memarkirkan mobil dan segera keluar. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya.
"Ahhh lelahnya." Desah Clara berbaring di kasur. Dia menatap langit kamarnya dengan diam dan tanpa sengaja Clara tertidur.
***
"Dimana dia? Kenapa belum datang juga? Dia tidak lupa kan?" Jhon sedari tadi melihat ke arah pintu masuk, berharap Clara segera datang, tapi nyatanya sampai sekarang Jhon belum melihat kehadiran wanita yang dia tunggu.
Tanpa berfikir panjang dia segera menelfon Maya untuk menanyakan keberadaan Clara. Sebenarnya dia ingin langsung saja menelfon Clara, tapi apa boleh buat, Clara sudah memblokir nomornya beserta semua akun sosial medianya. Membuat akun baru juga percuma karena Clara akan melakukan hal yang sama.
"Ada apa Jhon?" Tanya Maya di seberang sana ketika panggilan sudah terhubung.
"Clara mana? Kau sudah memberitahunya agar datang malam ini kan?"
"Iya sudah, dia bilang akan datang. Kenapa?"
"Dia belum datang juga. Ini sudah lewat tiga puluh lima menit. Aku dari tadi menunggunya tapi dia tak kunjung datang."
"What? No no, tidak mungkin dia lupa kan? Tadi sore dia ke rumahku dan dia juga pulang cepat karena janji temu kalian."
"Kalau begitu cepat hubungi dia dan tanya dia ada dimana."
"Iya-iya sebentar, nanti ku hubungi lagi." Setelah Maya mengatakan itu panggilan pun terputus.
"Ayolah sayang, kau dimana? Tidak mungkin kau lupa kan? Kumohon cepat datang, aku sangat merindukanmu." Jhon menyenderkan punggungnya ke sofa empuk itu sambil menunggu Maya menelfonnya untuk memberi kabar. Dia memijat pelipisnya karena tiba-tiba dia pusing karena memikirkan Clara.
Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..
Jhon mengalihkan atensi ke handphone dan segera mengangkatnya ketika nama Maya tertera di layar.
"Bagaimana?" Tanya Jhon sedikit mendesak.
"Dia tidak mengangkat panggilanku. Aku sudah menelfonnya berkali-kali tapi tetap saja tidak di angkat.
Jhon menghela nafas kasar. Frustasi dengan jawaban Maya.
"Sabar Jhon, mungkin handphonenya di silent atau jalanan lagi macet. Tunggu sebentar lagi, pasti dia akan sampai."
"Kalau handphonenya di silent mungkin masuk akal. Tapi jalanan macet tidak mungkin May, aku kesini tadi jalanan tidak terlalu ramai. Lagi pula Clara hanya butuh lima belas menit ke tempat ini."
"Jadi mau bagaimana lagi?"
Jhon terdiam sebentar seakan memikirkan sesuatu, "Hanya ada satu cara memastikan dia ada dimana sekarang."
"Apa?" Tanya Maya penasaran.
"Aku akan datang ke rumahnya."
Tidak memerlukan waktu yang lama bagi Jhon untuk sampai ke rumah Clara. Dia benar-benar datang walau sudah di larang oleh Maya. Sebenarnya mereka sempat berdebat soal ini. Tapi apa boleh buat, Jhon yang keras kepala tetap memilih untuk datang dan Maya tidak bisa menahannya.
Tok.. Tok.. Tok..
Jhon berkali-kali mengetuk pintu yang terbuat dari kayu dengan ukiran minimalis, tapi sayangnya tidak ada sahutan dari dalam rumah. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam. Memegang gagang pintu dan mendorongnya.
"Tidak di kunci?" Gumamnya sambil masuk ke dalam. Jhon menelusuri ruang tamu, ruang keluarga, dapur, bahkan halaman belakang, tapi hasilnya nihil. Clara tidak ada disana.
"Dimana dia? Apa di atas?" Jhon segera menaiki tangga menuju dimana kamar Clara berada.
Cklek
Pintu kamar pun terbuka. Gelap, tidak ada satu pun penerangan disana. Jhon mencari letak saklar, setelah menemukannya dia pun menghidupkan lampu.
Jhon mematung kaget melihat Clara sedang tidur dengan pulasnya. Perasaan kaget, cemas, lega, bercampur menjadi satu, itulah yang di rasakan Jhon. Dia memajukan langkahnya untuk membangunkan wanita cantik itu. Tapi baru beberapa langkah, dia mengurungkan niatnya.
Mata Jhon terbelalak saat melihat posisi Clara tidur sangat sexy baginya. Rambut yang sedikit berantakan, dress yang dia pakai naik ke atas perut sehingga paha mulus beserta dalamannya terpampang jelas di mata Jhon.
"Oh shit!" Umpat Jhon. Nafasnya kali ini tidak teratur seakan dia habis lari maraton. Tidak, ini bukan masalah lari maraton, tapi nafsunya naik karena melihat posisi Clara yang sangat erotis itu.
Sang junior yang tadinya santai di dalam sangkarnya, kini mendadak menegang. Dia seakan tahu apa yang di inginkan tuannya.
Clara yang sedikit terusik dengan cahaya dan nafas seseorang yang dia dengar, akhirnya memilih membuka matanya. Dia mengerjap kaget saat melihat Jhon di kamarnya. Tapi anehnya wajahnya merah dan tubuhnya menegang seakan menahan sesuatu.
"Jhon? Apa yang kau lakukan di kamarku? Kenapa kau bisa ada disini?!" Tanya Clara sedikit memekik.
"Seharusnya aku yang tanya, kenapa kau lupa dengan janji kita?" Tanya Jhon kembali kemudian dia melangkahkan kakinya dan duduk di birai kasur.
Clara yang mendengar pertanyaan Jhon sontak kaget dan langsung mendudukkan tubuhnya, "Jam berapa sekarang?"
Jhon melirik jam dinding yang ada di kamar itu, "Jam sembilan malam."
Clara membulatkan matanya, "Astaga, aku ketiduran? Maafkan aku Jhon, aku tidak berniat untuk melupakan pertemuan kita. Tadi aku cuma ingin tidur sebentar tapi ternyata malah ketiduran sampai jam segini."
Jhon tersenyum, "Tidak apa, aku paham. Mungkin kau lelah karena pekerjaanmu. Apa kau sangat sibuk?"
Clara mengangguk, "Iya, akhir-akhir ini jadwal pemotretanku padat, jadi aku jarang istirahat."
"Tunggu dulu, bukankah ini sedikit aneh? Kenapa aku harus menjawab pertanyaan dia? Dan kenapa pula dia seperti mengkhawatirkanku? Ada apa ini?" Batin Clara.
"Clara, a-aku... Nngghh.. Aku sudah tidak tahan lagi." Racau Jhon dengan suara beratnya.
"Kau kenapa?" Clara terus memperhatikan wajah Jhon tapi matanya seperti menatap sesuatu. Clara mengikuti pandangannya dan betapa kagetnya Clara saat tahu Jhon diam-diam melihat belahan dadanya yang sedikit terlihat dan paha mulusnya di balik dress yang dia kenakan.
"Dasar kurang ajar!! Pria mesum!" Bentak Clara dan dia langsung menutup tubuhnya menggunakan selimut.
"Sebenarnya aku tidak ingin melihat itu, tapi apa boleh buat? Mataku ingin terus melihatnya." Ucap Jhon santai tanpa dosa.
Mulut Clara menganga lebar, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Pergi, aku tidak ingin melihatmu lagi. Keluar!" Teriak Clara mengarahkan tangannya ke pintu kamar. Bukannya pergi, Jhon malah bangun dari duduknya dan menindih tubuh Clara.
"Apa yang kau lakukan hah?! Lepaskan aku bodoh!" Clara terus memberontak dengan sekuat tenaga tapi tetap tidak bisa karena tenaga Jhon tidak sebanding dengan tenaganya.
"Aku merindukanmu sayang. Aku menginginkanmu."
"Jhon, sadarlah apa yang telah kau lakukan! Oke, aku memaafkan kesalahanmu tiga tahun yang lalu dan kau boleh menemuiku jika kau ingin. Tapi kumohon, lepaskan aku Jhon. Ini salah, ini tidak benar." Clara terus mengoceh tidak hentinya agar Jhon segera melepaskan dirinya dan tidak berbuat lebih jauh seperti yang dia pikirkan sekarang.
Jhon menggeleng, "Sudah bertahun-tahun aku menahan diriku agar tidak menyentuhmu lebih jauh. Dan kurasa ini waktu yang tepat. Jika kau hamil, bilang dan datang padaku. Aku akan bertanggung jawab dan segera menikahimu."
Tes..
Air mata Clara lolos begitu saja tanpa di suruh. Jhon yang melihatnya langsung menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
"Kau sedang bernafsu Jhon, pikiranmu sedang tidak jernih. Hentikan sekarang sebelum terlambat."
"Kau benar kalau aku sedang nafsu sekarang. Tapi aku cukup sadar dengan apa yang ku lakukan. Kau akan ku jadikan milikku sehingga orang lain tidak bisa memilikimu, begitu pun dengan David." Usai mengatakan itu, Jhon langsung mencium dan melahap rakus bibir merah Clara.
Jhon mencium dan melumat bibir Clara dengan sangat lembut sampai Clara terbuai dengan permainan pria yang ada di atasnya. Yang tadinya dia memberontak ingin di lepas, tanpa sadar Clara membalas ciuman itu. Jhon yang sedikit tidak percaya akhirnya dia memperdalam ciuman dan lidahnya menelusuri kedalam. Bohong jika Clara tidak rindu dengan Jhon. Bahkan dia rindu di saat Jhon menciumnya seperti ini. Dulu mereka sewaktu pacaran sering seperti ini, hanya saja tidak melewati batas seperti bersetubuh, dengan alasan karena Jhon tidak ingin merusak Clara sebelum menikah.
Clara memukul pelan bahu Jhon agar pria itu berhenti dengan aktivitasnya.
"Kenapa?" Tanya Jhon terengah-engah.
"Aku butuh oksigen! Kau ingin aku mati?!" Ucap Clara menggebu sambil menarik oksigen sebanyak-banyaknya. Seakan dia takut oksigen di bumi ini akan habis.
Jhon tersenyum, "Kau menyukainya?"
Clara menoleh sinis menatap Jhon, "Tidak. Pergilah, kejadian ini cukup sampai disini. Aku akan melupakannya." Bohong. Tentu saja Clara menyukainya, dia sedang sok jual mahal agar harga dirinya tidak jatuh begitu saja.
Jhon tetap tersenyum, tapi kali ini senyumannya lembut dan menawan. Sangat berbeda dengan yang tadi, sampai Clara yang melihatnya pun mematung.
"Kalau kau membalas ciumanku, aku anggap kau menyukainya."
Setelah mengatakan itu, Jhon langsung mencium Clara dengan lembut, sangat lembut sampai Clara merasa nyaman. Yang tadinya Clara hanya diam menikmati permainan bibir dan lidah pria itu, kini dia membuka sedikit mulutnya dan membalas permainan Jhon. Pria itu tersenyum dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
Tangan Jhon meraba paha mulus Clara dan kemudian naik ke atas, tepat di payudara Clara. Dia meremasnya dan itu membuat Clara sedikit mengeluarkan desahan. Perlahan Jhon membuka dress itu dengan cepat hingga menyisakan pakaian dalam saja.
Ciuman beralih ke daun telinga dan ke tengkuk leher. Nafas Jhon terdengar jelas di telinga Clara dan itu sedikit membuatnya geli. Jhon mencium pundak putih itu dan membuat kissmark di leher dan di dada Clara. Clara menggeliat dan menjambak pelan rambut Jhon, dia sedang menyalurkan kenikmatan yang tiada tara.
"Sshh.. Aahh, Jhon.." Desah Clara sambil menutup matanya.
Jhon yang mendengarnya pun tidak tahan lagi. Dia segera membuka semua pakaian yang ada di tubuh mereka. Setelah semua terlepas, Jhon menatap tubuh Clara dengan intens mulai dari atas sampai bawah.
"Kau sangat pandai merawat tubuhmu sayang. Sangat indah." Puji Jhon sambil berdecak kagum. Clara yang mendengarnya hanya tersipu malu.
Jhon kembali mendekatkan wajahnya dan menarik pelan dagu wanitanya, "Mungkin terasa sakit tapi percayalah, rasa sakitnya hanya sebentar. Kau bisa melampiaskannya dengan menjambak rambutku atau mencakar punggungku." Setelah Jhon mengatakannya dengan lembut penuh perhatian, permainan panas pun di mulai.
***
Pagi harinya, tampak dua pasangan masih tidur saling berpelukan. Mereka masih di bawah alam mimpi masing-masing walaupun hari di luar sana sudah terang.
Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..
Handphone Jhon bergetar. Sang empunya yang masih tidur akhirnya terusik dengan getaran handphone itu. Pelan-pelan dia berbalik agar Clara tidak bangun dari mimpinya yang indah itu.
Jhon mengerjapkan matanya yang masih sayu dan melihat nama Yuna, sekretarisnya yang menelfon. Tanpa menunggu lama, Jhon segera mengangkatnya.
"Ada apa?" Tanya Jhon dengan suara serak khas bangun tidur.
"Maaf menganggu pak, hari ini kita kedatangan klien dari Australia. Bapak tidak lupa kan?"
"Sekarang? Tunggu, ini hari apa?"
"Senin pak. Janjinya di mulai pukul sepuluh nanti."
Sontak Jhon mengalihkan pandangannya ke jam dinding, pukul sembilan.
Jhon memukul jidatnya, "Astaga aku lupa. Aku akan segera kesana, tapi mungkin aku akan telat sepuluh sampai lima belas menit. Tolong sampaikan permintaan maafku.
"Baik pak."
Setelah Yuna mengatakan itu Jhon mematikan panggilannya dan meletakkan handphonenya di atas nakas. Dia menoleh dan melihat Clara masih tertidur pulas dengan keadaan tubuhnya tertutup selimut tebal. Jhon tersenyum dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan menutupi wajahnya.
"Sayang, bangunlah. Ini sudah siang, aku harus ke kantor." Jhon menepuk pelan pipi Clara hingga wanita itu merasa terganggu dan membuka matanya perlahan.
"Eeuunngghh.. Ada apa?" Clara menggeliat pelan sambil mengucek matanya.
"Sudah siang, ayo bangun. Kau tidak kerja?"
"Jam berapa sekarang?"
"Sembilan pagi. Bangunlah, aku mau pergi ke kantor. Aku lupa kalau sekarang klienku dari Australia datang."
Clara kaget, "Sembilan? Astaga aku sudah terlambat!" Clara segera mengecek handphonenya dan melihat panggilan tak terjawab dari David sebanyak lima belas kali.
"Arrgghh bagaimana ini?!"
Clara yang ingin turun dari kasurnya mendadak menjerit karena merasakan sakit dan perih yang luar biasa.
"Aaawww!!" Pekiknya memegang area kewanitaannya di balik selimut.
"Ada apa?" Tanya Jhon cemas.
"Area kewanitaanku sakit. Kenapa bisa sakit? Kau apakan aku semalam hah?!"
Jhon menaikkan satu alisnya, "Apa maksudmu? Kau tidak ingat kejadiannya?"
Clara terdiam dan berusaha mengingatnya. Disaat dia mulai mengingat semuanya, tiba-tiba saja air matanya menetes begitu saja dan itu membuat Jhon panik.
"Kenapa? Kenapa kau melakukannya Jhon? Kenapa?!" Teriak Clara sambil menangis.
"Karena aku mencintaimu! Aku ingin menjadikanmu sebagai milikku sehingga kau tidak bisa di miliki orang lain!" Jelasnya.
Clara menggeleng kepalanya pelan, tidak percaya dengan jawaban pria itu.
"Kau gila! Kau egois!"
"Ya, aku tau kalau aku itu egois. Tapi hanya dengan cara ini kau bisa ku miliki. Kau akan segera mengandung anak dariku."
"Apa maksudmu?"
"Aku membuangnya ke dalam agar kau hamil anakku, anak kita berdua."
Plak!!
Satu tamparan kuat mengenai pipi kanan Jhon.
"Dasar pria kurang ajar! Apa tidak cukup kau melukaiku dan menghianatiku? Dan sekarang kau malah merusakku?! APA JALANG DI LUAR SANA KURANG UNTUKMU?!!" Bentak Clara dengan wajah merah padam.
"Kau juga menikmatinya, jangan munafik Clara! Bahkan kau mendesah keenakan di bawah kungkunganku!"
Clara memilih diam tidak merespon ucapan Jhon. Dia terlampau sakit hati karena ternyata Jhon masih ingin menghancurkan hidupnya. Mendesah keenakan katanya? Itu hanya nafsu! Ya, dia terbawa nafsu saat itu dan tidak sadar dengan semua kejadian itu.
"Keluar sekarang juga." Kata Clara penuh tekanan.
"Tapi aku--"
"KELUAR!!!" Bentaknya memenuhi seluruh ruangan.
Jhon menghela nafas kasar. Dia turun dari kasur dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai kemudian memakainya. Clara mengalihkan pandangannya agar tidak melihat Jhon yang sedang memakai baju di depannya.
"Aku akan bertanggung jawab Clara. Aku akan bertanggung jawab untuk kalian berdua. Jangan sakiti bayi itu karena dia tidak bersalah. Dengarkan aku baik-baik, jika kau positif hamil dan itu hasil buah cinta kita, datang padaku dan aku akan menikahimu."
Jhon yang ingin menggenggam tangan Clara, buru-buru wanita itu tepis dengan kasar.
"Aku tidak butuh ocehanmu yang tidak ada gunanya itu. Lagian aku percaya bahwa aku tidak akan hamil. Akan ku pastikan itu, karena aku tidak ingin hamil dari laki-laki bejat sepertimu! Cepat pergi dari sini!!"
Clara kembali menangis terisak dan itu membuat hati Jhon ikut sakit melihatnya. Dia tidak bisa apa-apa sekarang. Membujuk Clara pun percuma karena wanita itu pasti akan marah dan membentaknya.
Jhon melangkahkan kakinya berat menuju pintu. Dia membuka knopnya dan kembali melihat Clara yang masih saja menangis.
"Aku akan ada selalu di sisimu. Aku akan selalu memantaumu." Setelah mengatakan itu, Jhon benar-benar pergi dari sana. Meninggalkan Clara seorang diri yang masih saja menangisi nasibnya.
***
Dua minggu kemudian.
"Cut! Aduh Clara, kenapa kau tidak fokus dari tadi? Apa kau sakit?" Tanya Leo sang Fotografer.
"Maafkan aku, mungkin ini efek kelelahan. Bisa minta waktu sepuluh menit? Aku ingin istirahat sejenak." Ucap Clara memegang kepalanya yang terasa pusing.
Leo menghela nafas pelan, "Baiklah. Jika kau masih merasa lelah pulang saja, kita lanjutkan besok."
Clara mengangguk paham dan segera pergi ke ruang ganti dan di ikuti David dari belakang.
"Kau kenapa? Tidak seperti biasanya. Apa benar kau sakit? Perlu ku beli obat?"
Clara menggeleng, "Tidak perlu, aku hanya kelelahan saja. Kepalaku rasanya pusing sekali, perutku juga dari tadi mual."
"Mual? Kau sarapan apa tadi pagi?"
"Aku tidak sarapan, akhir-akhir ini aku tidak nafsu makan. Apa yang ku makan selalu saja ku muntahkan."
David sedikit bingung dengan perkataan Clara. Tapi tiba-tiba suatu hal terlintas di pikirannya.
"Dari gejala yang kau alami, ini seperti tidak asing untukku." Ucap David.
Clara menoleh, "Apa maksudmu?"
David diam menatap mata Clara, ragu-ragu untuk mengatakan hal yang ada di pikirannya saat ini.
"Hei, kau kenapa?" Sedikit dengan nada bentakan agar menyadarkan David dari lamunannya.
David tersentak kemudian tersenyum canggung, "Apa? Kenapa?"
Clara menepuk jidatnya pelan, kenapa dia bisa-bisanya mempekerjakan orang aneh ini sebagai asisten pribadinya.
"Maksudmu tadi apa? Gejala apa yang kau maksud?" Tanya Clara sedikit dengan nada tekanan.
"Oh itu." David menggaruk tengkuk lehernya, "Maksudku, mungkin kau sedang masuk angin karena jadwalmu sangat padat dari biasanya. Karena itu kau merasa lelah dan tidak enak badan."
Clara mendesah malas, "Karena itu? Jadi kenapa tadi kau seperti orang kebingungan saat aku tanya?"
David gelagapan, bingung harus berkata apa, "Eh, itu.. Aku hanya teringat sesuatu tadi."
Clara hanya ber oh ria menanggapi perkataan David. Sangat malas baginya jika melanjutkan perbincangan mereka, apalagi dengan sikap David yang sedikit aneh. Clara jadi penasaran, sepertinya David menyembunyikan sesuatu darinya.
Ting!
Satu pesan masuk ke handphone David. Segera dia lihat siapa pengirimnya dan apa isinya.
"Bagaimana keadaannya? Ada kabar baik? Kalau ada hal yang aneh atau pun bagus, segera beritahu aku secepatnya. Dan jangan lupa jaga dan pantau dia terus."
David menghela nafas pelan, "Lagi-lagi orang ini seenak jidatnya menyuruh orang." Batinnya.
David melihat jam di handphonenya, "Waktu kita tersisa lima menit lagi. Apa kau yakin ingin lanjut?"
Clara mengangguk tanpa melihat David, "Aku mau ke toilet dulu."
Setelah sampai di toilet, Clara membasuh wajahnya agar terlihat lebih fresh. Dia bercermin dan melihat dirinya di pantulan kaca yang ada di hadapannya. Melihat wajahnya dan kemudian beralih ke perutnya. Tiba-tiba dia memasang ekspresi syok, sontak dia memegang perutnya yang rata itu.
"Tidak benar kan? Apa yang ku pikirkan tidak benar kan?" Monolognya sendiri.
"Ya, tidak mungkin hal itu terjadi. Tapi, sudah dua minggu aku belum menstruasi. Ah, mungkin aku telat, itu biasa terjadi ke semua wanita. Yang terpenting sekarang hal itu tidak akan terjadi. Tidak sudi aku jadi istri dari pria egois sepertinya." Clara bergumam sendiri seperti sedang membela dirinya sendiri. Dia kembali membasuh wajahnya dan keluar dari toilet itu.
***
Malamnya Clara terlihat lemas tidak berdaya. Dari tadi dia harus keluar masuk kamar mandi karena rasa mual yang dia derita tidak kunjung reda. Sangat sakit rasanya dan Clara tidak kuat menahannya.
Dia mengambil handphone yang terletak di atas nakas, ingin menghubungi Maya agar dia bisa menemani dirinya.
"Halo?" Tanya Maya di seberang sana ketika panggilan sudah terhubung.
"May, kau bisa datang ke rumahku sekarang?"
"Bisa, ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?"
"Tidak, aku sedang sakit sekarang. Aku butuh teman."
"Sakit? Kau sakit apa? Aku akan segera kesana."
"Tidak parah, hanya--- hooeekk!" Ucapan Clara terpotong karena dia kembali merasakan mual di perutnya. Clara segera lari ke kamar mandi dan memuntahkan segala isi perutnya walaupun yang keluar hanya air saja.
"Clara, kau tidak apa? Tunggu aku ya, aku akan segera kesana." Maya sangat panik karena dia mendengar Clara muntah-muntah.
"Kalau kau kesini bisa belikan testpack?"
"Testpack? Untuk apa dan siapa?" Tanya Maya heran.
"Untukku."
Maya mematung di seberang sana, "Apa maksudmu?"
"Sudahlah jangan banyak tanya, belikan saja dan cepat datang kesini. Aku tutup telfonnya."
Clara sudah menutup telfonnya dan Maya masih tidak mengerti apa maksud dari perkataan sahabatnya itu.
"Testpack? Untuk apa dia meminta itu?" Tiba-tiba bola mata Maya melotot, ''Tidak, tidak mungkin!!" Teriaknya dan langsung bergegas pergi.
Brak!
Maya membuka kasar pintu kamar Clara dan melihat sang pemilik rumah sedang duduk di sofa dengan keadaan yang kacau. Maya segera menghampirinya.
"Clara, are you ok? Aku tadi mampir ke apotik beli obat. Kau sudah makan? Kalau belum makanlah dulu setelah itu minum obatnya."
Clara menggeleng lemah, "Aku tidak nafsu makan."
"Kalau kau tidak makan bagaimana mau sembuh? Kau harus makan, setidaknya dua atau tiga sendok saja biar kau bisa minum obatnya."
"Aku tidak memerlukan itu. Yang ku perlukan sekarang testpacknya. Mana? Kau membelinya kan?"
Maya menatap dalam mata Clara, "Ada apa denganmu? Kau habis berbuat dengan siapa, hah?"
Clara memilih tidak menjawab pertanyaan Maya. Dia merampas tas wanita yang sedang duduk di sampingnya dan mencari benda itu.
"Berhenti Clara! Jawab pertanyaanku, siapa yang membuatmu seperti ini?!" Bentak Maya. Kesal? Tentu saja dia kesal sekarang.
"Jhon! Dia meniduriku dua minggu yang lalu! Si keparat itu sengaja berbuat seperti itu padaku May. Apa salahku? Kenapa pria egois itu tidak pernah berhenti membuatku hancur? Aku tidak mau hamil anaknya, aku tidak mau!" Clara menangis histeris dan itu membuat hati Maya sakit melihatnya. Dia membawa sahabatnya itu ke dalam pelukan dan memberikan kenyamanan disana.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi dua minggu yang lalu."
Sambil menangis tersedu-sedu, Clara menceritakan kejadian yang membuat dirinya kacau sekarang. Maya yang tadinya diam mendengarkan, kini dia ikut menangis. Dia bisa merasakan bagaimana penderitaan sahabatnya ini. Hatinya ikut sakit mendengarnya. Jhon sudah keterlaluan!
"Maafkan aku, seharusnya aku bisa mencegahnya agar tidak datang ke sini. Dia datang karena kau tidak kunjung datang menemuinya. Dia mengira kau lupa, jadi dia menelfonku dan memaksa ingin datang ke rumahmu. Seandainya aku bisa mencegahnya, hal ini tidak akan terjadi. Maafkan aku."
Clara menggeleng pelan, "Ini bukan salahmu. Ini salahku karena ketiduran dan akhirnya dia berani datang ke rumahku. Seharusnya aku bisa menahan dia agar hal itu tidak terjadi, tapi aku tidak bisa."
Maya mengelus pundak Clara dengan kasih sayang, "Nasi sudah menjadi bubur, bagaimana pun kita harus bisa menerima kenyataan. Kita tidak bisa melawan takdir."
"Hm, kau benar. Takdir sungguh kejam." Clara bangkit dari duduknya, "Mana testpacknya? Aku ingin segera mengeceknya."
Maya mengambil alat itu dan memberikannya dengan sedikit keraguan, "Bagaimana kalau hasilnya positif? Apa kau menerimanya?"
Clara menutup matanya, menghela nafas kemudian berkata, "Apapun hasilnya aku akan menerimanya. Jika aku benar hamil, aku akan minta pertanggungjawabannya. Bagaimana pun juga, anak ini tidak bersalah."
Maya tersenyum terharu, dia kembali menangis dan memeluk Clara, "Aku akan selalu ada di sampingmu. Jika kau membutuhkan sesuatu, katakan padaku. Aku tidak akan meninggalkan dirimu. Kau wanita tangguh yang pernah ku kenal."
Clara membalas pelukan itu dan mengangguk, "Terima kasih May, kau sahabat terbaikku."
Mereka melepaskan pelukan dan Clara segera pergi ke kamar mandi untuk mengecek bagaimana hasilnya. Apakah takdir sungguh akan mempersatukan Clara dengan Jhon atau malah sebaliknya.
Maya duduk di sofa sambil sesekali menggigit kukunya. Dia sangat gelisah menantikan hasilnya. Maya sudah seperti seorang suami yang menunggu istrinya yang sedang di periksa dokter. Dia terus melihat ke arah pintu kamar mandi berharap Clara segera keluar dari sana.
Tidak lama kemudian suara decitan pintu terdengar dan Clara keluar dari kamar mandi. Dia menatap Maya sambil berjalan ke arahnya dengan senyuman mengambang di wajah manis itu.
"Bagaimana hasilnya? Positif atau negatif?"
Clara tersenyum, "Positif, aku mengandung anak Jhon. Anak kami."
Maya lunglai dan terduduk lemas. Dia berharap hasilnya negatif karena dia tidak ingin Clara punya suami yang brengseknya seperti Jhon.
"Jangan seperti itu. Ku bilang tadi apa? Apapun hasilnya aku akan menerimanya, begitu pun denganmu. Kau harus bahagia karena sekarang kau akan punya keponakan."
Maya terenyuh mendengarnya, "Aku bahagia jika kau bahagia. Jadi sekarang aku ingin bertanya, apa kau bahagia mengandung anaknya?"
Clara terdiam sesaat namun dia tetap menjawab pertanyaan Maya, "Awalnya aku tidak menginginkan hal ini terjadi, tapi setelah tahu hasilnya positif aku merasakan hal yang berbeda dari sebelumnya. Aku seperti merasakan kebahagiaan dan aku yakin, anak yang ku kandung ini membuatku seperti ini."
Maya tersenyum mendengarnya, dia ikut bahagia sekarang.
"Kuharap Jhon bisa memberimu kebahagiaan selepas apa yang telah dia perbuat padamu."
"Ya, ku harap begitu. Ayo tidur, aku sangat lelah dan mengantuk. Kau akan menginap kan?"
"Iya, mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian disini dengan keadaan seperti ini. Baiklah ayo kita tidur, besok pagi aku akan mengantarmu ke kantor Jhon."
Clara mengangguk dan mereka bersiap-siap untuk beristirahat. Hari baru akan segera menanti mereka berdua, terutama Clara.
***
Pagi telah tiba dan kini mereka tengah bersiap-siap.
"Apa kau merasa lebih baik hari ini?" Tanya Maya yang sedang memperhatikan Clara merapikan pakaiannya.
"Iya, jangan khawatir, aku baik-baik saja." Jawab Clara melihat Maya dari pantulan cermin yang ada di hadapannya.
Maya tersenyum lega mendengarnya. Dia barharap Jhon benar-benar serius ingin menikahi Clara dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Ayo pergi, aku sudah selesai." Ucap Clara membuyarkan lamunan Maya.
"Baiklah, ayo." Maya meraih pergelangan tangan Clara dan menggandengnya. Mereka keluar dari kamar menuju keluar rumah.
"Kita naik mobilku saja ya? Nanti aku akan mengantarmu pulang." Kata Maya dan di balas anggukan kepala oleh Clara.
Setelah tiga puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di Jhon's Crop, perusahaan milik Jhon. Ya, mereka ke sana untuk mengatakan langsung apa yang terjadi pada Clara dan meminta pertanggungjawabannya sesuai apa yang dia katakan dua minggu yang lalu.
Seusai memarkirkan mobil, mereka berdua keluar dari mobil dan masuk ke dalam perusahaan itu. Clara dan Maya menghampiri meja resepsionis.
"Apa Jhon sudah datang?" Tanya Maya dengan nada dingin.
Resepsionis yang di ketahui bernama Sasa menjawab, "Tuan sudah datang tapi dia sedang meeting dengan klien. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kami ingin bertemu dengannya. Dia ada di ruangan mana?" Tanya Maya lagi.
"Apa nyonya sudah membuat janji? Tuan sedang meeting, satu jam lagi nyonya bisa menemui Tuan."
Maya mengeram kesal dan akhirnya dia memukul meja dengan sangat kuat sampai para karyawan disana kini memperhatikan mereka.
"May, tenanglah.. Lihat, mereka semua sekarang melihat ke arah kita." Ucap Clara berbisik sambil menenangkan amarah Maya. Clara heran sendiri, kenapa jadi dia yang sangat emosi padahal seharusnya yang emosi itu dirinya.
Sasa, itu namamu kan?" Yang di panggil menganggukkan kepala takut. "Tolong katakan di lantai mana ruangan Jhon, hal ini lebih penting daripada meeting dia bersama klien yang tidak jelas itu." Ucap Clara menekan perkataannya di akhir.
Sasa mengangguk kelimpungan dan akhirnya dia memberitahukan dimana ruangan Jhon, "Di lantai enam, nanti ada ruangan bacaannya 'Private Meeting Room' di sebelah kanan."
Clara tersenyum, "Terima kasih." Clara segera pergi dan menarik Maya dari sana yang masih setia menatap Sasa dengan tatapan nyalang. Sasa yang takut dengan tatapan itu, dia segera menundukkan kepalanya.
"Dasar resepsionis bodoh! Tinggal bilang ruangan mana susah sekali. Kalau aku jadi bos dia, sudah ku pecat sekarang juga." Sinis Maya.
"Sudahlah, dia tidak bersalah. Apa yang di katakannya memang benar, kita harus buat janji dulu. Lagian Jhon juga sedang meeting, siapa tau meetingnya dengan klien yang sangat penting kan?" Ujar Clara menekan tombol lift dan tak lama kemudian pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalam, Clara langsung menekan tombol angka enam.
"Untuk sekarang, hal yang lebih penting itu dirimu, bukan klien itu. Aaarrgghh kesalnya aku!" Gerutu Maya mengacak rambutnya dan Clara hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap sahabatnya itu.
Ting~
Pintu lift terbuka di lantai enam dan mereka berdua langsung keluar.
"Apa tadi nama ruangannya? 'Private Meeting Room'?" Tanya Maya di balas anggukan kepala Clara.
"Itu dia." Tunjuk Maya dengan jari telunjuknya, "Kau ingin sendiri atau aku temani?" Tanyanya menatap Clara.
"Sendiri saja. Kau tunggu saja disini, aku tidak akan lama." Maya mengangguk paham dan Clara segera pergi menuju ruangan itu.
Clara berjalan angkuh seperti seorang model, Maya melihatnya terkekeh gemas. Clara berhenti tepat di depan ruangan yang memiliki dua pintu. Dia menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.
Brak!
Pintu terbuka dengan kasar dan memperlihatkan tujuh orang sedang meeting di dalam sana. Semua orang kaget mendengar suara dobrakan pintu itu, segera mereka mengalihkan tatapannya ke arah Clara, begitu pun dengan Jhon.
"Clara?" Gumamnya nyaris tak terdengar.
"Maaf mengganggu kalian, tapi aku ada sedikit urusan dengan Jhon." Ucap Maya tersenyum melihat para klien dan tatapannya berhenti di Jhon.
"Ada apa sayang? Kenapa kau kemari?" Tanya Jhon bingung
"Aku ingin minta pertanggungjawabanmu." Jawab Clara to the point.
Jhon yang tadinya tidak mengerti maksud dari perkataan wanitanya itu, kini dia memasang ekspresi senang dan bahagia. Bahkan senyum lebarnya terpampang jelas di wajahnya.
"Kau hamil? Baiklah, kita akan menikah sekarang juga! Meeting hari ini di batalkan!!" Ucap Jhon dengan lantang.
-THE END-