Ke sekian kalinya. Berkali-kali terjadi. Serta berakhir dengan satu hal yang sama. Membuat satu pertanyaan timbul dari dalam diri.
"Apakah alur kehidupan hanya seperti ini?"
Melangkah menaiki anak tangga sambil menundukkan kepala. Rambut panjang telah menutup sebagian wajah dan langkah terkesan begitu pelan dan tak beraturan.
Ini bukanlah soalan mabuk, melainkan letih akan menjalani kehidupan yang berakhir tanpa suatu perubahan.
Sampai di sebuah atap bangunan tanpa seorang pun berada disana kecuali dia. Angin bertiup sesaat dan membuat rambutnya terbawa hembusan angin. Wajah yang sebelumnya tertutup sebagian itu, kini sudah nampak sepenuhnya. Wajah tersebut hanya menampilkan sebuah ekspresi sedih dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipi.
Tangisan tanpa suara tersebut menggambarkan bahwa dirinya sudah rapuh.
Menghembuskan nafas dan melihat ke area sekitar.
Deretan gedung-gedung dan langit yang sudah berubah warna ke jingga adalah satu pemandangan yang dilihat kedua matanya.
"Hadir karena keinginan. Perhatian karena tulus. Dan Berani karena tekat."
Gumaman di tengah rasa sedih yang sedang menerpa.
Maju sedikit beberapa langkah. Terlihat sesuatu yang cukup mendebarkan. Deretan gedung tinggi itu tampak menekan dirinya karena memberi rasa deg degan bila dilihat dari atas. Pandangan ke bawah itu membuat tubuh menjadi bergetar. Niat dan Takut menjadi berlawanan dalam satu momen.
Walau merasa begitu, keputusan harus diambil secepatnya.
Lalu...
Terhempas dengan rasa putus asa.
Namun... itu bukanlah jawaban dari semuanya.
Beberapa waktu kemudian.
Dirinya menyadari bahwa kehidupan tidak sebatas itu. Dan ia yakin bahwasannya hidup bisa dirubah oleh diri sendiri.
Setelah lepas dari kejadian sebelumnya, kini dia berambisi untuk melakukan sesuatu yang memberi pengaruh yang baik bagi hidupnya. Serta tak terpaku pada satu bagian saja. Hidup tidak hanya tentang satu soalan saja. Melainkan ada banyak hal yang bisa di telusuri dan di lakukan oleh diri ini.
Tertanda
Relita
-----SELESAI-----