Dari pintu depan, seorang anak dara masuk, dengan berseragam sekolah, berlari kencang ke arah kamar, sambil tasnya ia lemparkan ke atas sofa, gegas ia buka pintu kamar dan tutup dengan bantingan keras, lalu melompat ke atas ranjang, "aaaaah..." ia terlempar hingga hampir menyentuh langit-langit kamar, sepertinya ia lupa kalau per ranjang tidur itu masih ajeg, namanya juga spring bed ke 1, dan juga baru datang dari toko belum juga sejam, karuan badannya terpantul-pantul sampai tiga kali.
"Mamaaaa..."
"Saya, Non."
"Mama?"
"Panggil Mak Ijah kah?"
"Bukan! Mak Erot!"
"Oh..!"
"Oh Ah Oh...!"
"Mama mana?!"
"Mamanya Non Mak Erot, eh, Mamanya Non Mak Erot. Eh, Mak Erot..."
"Latah dipelihara..."
"Kukuruyuk, Kukuruyuk, Kukuruyuk..."
"Kok Kukuruyuk?"
"Ayam kan?"
"Kok Ayam sih!?"
"Ayam Sorry... Ayam Sorry..."
"Apa sih Mak Ijah!?"
"Pelihara Ayam, Non."
"Pelihara Ayam apaan!?"
"Tuh Papinya si Non,"
"Kenapa!?"
"Ayam Kampus!!"
"Apa Papa pelihara Ayam Kampus!?"
"Eh, iya, eh, iya, tadi baru ke sini."
"Papa bawa Ayam Kampus!? Terus Ayam Kampusnya di bawa kemari!? Papa...!!! Mama mana..!?"
"Nangis di dapur."
Si anak dara meloncat turun, berlari ke arah pintu, ke luar, terus berlari ke lorong sebelah kiri, berbelok ke arah kanan, terus ke dapur, tetapi berhenti tepat di ruang makan. Di meja makan duduk seorang wanita paruh baya yang menyekah wajahnya dengan lembar-lembar tisu. "Mama..." Anak dara tersebut menghampiri dan buru-buru mendekap wanita paruh baya itu kemudian terisak di bahu wanita paruh baya itu. "Nasib kita sama..."
"Iya mama tahu kok,"
"Papa jahat! Adith juga jahat...!"
"Kok!?"
"Adith selingkuh! Papa juga selingkuh!"
"Papa selingkuh!?"
"Ma..."
"Dengan siapa?"
"Rita, Ma."
"Masak Papa selingkuh dengan Ce'k Rita? Pembantu tetangga sebelah!? Emang Mama separah apa sampai milih selingkuhan setuir itu! Ihh Najis Trilili..."
"Bukan Adith!"
"Adith selingkuh dengan Ce'k Rita!? Masak!? Ihhh Najis Trilili pangkat dua... Kapan ngopi barengnya!?"
"Rita Repulsa, Ma."
"Rita Repulsa?! Sejak kapan si Rinto anaknya Mbak Re tukang pulsa ganti nama begitu!? Ihhh Najis Trilili pangkat tiga... Laki-laki sekarang kok ada aja yah! Bagus-bagus udah dikasih pedang kok iya... Ihhh Najis Trilili..."
"Mama! Pedang apaan sih?"
"Pedang itu loh, si Rinto."
"Apaan!?"
"Yang di sangkar itu loh,"
"Burung si Rinto?"
"Emang kamu pernah lihat?"
"Pernah..."
"Ya, Tuhan, Raisa...!"
"Seuprit, Ma."
"Ya, Tuhan, Raisa... Kamu pernah pegang?!"
"Pernah cium malah,"
"Ya, Tuhan, Raisa..." sampai gebrak-gebrak meja.
"Emang kenapa sih Ma?"
"Dosa, Raisa! Dosa...! Ya, Tuhan... Ampuni hamba ya Tuhan..."
"Masak cium love bird dosa?"
"Punya nama juga? Burungnya dikasih nama Love Bird? Ya, Tuhan, segala burung dikasih nama!?"
"Nama!?"
"Terus sekarang masih ada!?"
"Iya, udah gede lagi,"
"Ya, Tuhan, Raisa, berarti kamu sering lihat..."
"Masih. Kan ngegantung..."
"Ya, Tuhan, Raisa, Kamu..."
"Mama kenapa sih!? Dari tadi ya, Tuhan, ya, Tuhan... Kalau nggak percaya lihat aja noh di teras depan rumahnya noh. Tuh sangkarnya ngegantung di situ. Udah pintar berkicau lagi, kicaunya merdu..."
"Burung kicau!?"
"Iya, ya, emang apaan!?"
"Ya, Tuhan, Najis Trilili sekali pikiran Mama..."
"Maksud Mama!?"
Disahut dengan anggukan kepala.
"Mamaaaaaa..... Najis Trilili pangkat seribu!"
"Maaf, maaf, maaf kan Mama mu ini sayang. Tapi tadi kamu bilang nasib kita sama iya?!"
"Gimana nggak sama, Adith selingkuh dengan Rita. Terus Papa juga selingkuh, nggak sama gimana coba?" Raisa mendekap mamanya.
"Tunggu dulu, tunggu dulu, Adith selingkuh dengan Rita. Terus Papa selingkuh dengan siapa?!"
"Iya dengan wanita muda, masak iya wanita peot kayak Mak Ijah!?"
"Wanita muda siapa!?"
"Emang Mama gak ketemu!?"
"Ketemu? Siapa?"
"Lah kata Mak Ijah tadi Papa tuh orang kemari."
"Kapan?"
"Tadi, Ma."
"Tadi kapan?"
"Mak Ijah bilang ketemu."
"Siapa?"
"Selingkuhan Papa, siapa lagi coba?"
"Namanya?"
"Mana Rai tahu tanya Mak Ijah dong."
"Mak Ijah... Mak Ijah..." Panggil Mama. Raisa mengimbuhi dengan teriakan. "Mak Ijah Mak Ijah buruan kemari..."
Yang dipanggil datang dengan tergopoh-gopoh.
"Saya, Nya, Non."
"Ngomong Mak Ijah buruan,"
"Ngomong, eh, ngomong,"
"Buruan ngomong!"
"Ngomong apa, Non, kan gaji Mak Ijah baru dinaikan sama Mamanya e-Non."
"Kok gaji sih!?"
"Terus?!"
"Selingkuhan Papa yang tadi dibawa kemari!"
"Selingkuhan!?"
"Sephia, Mak Ijah. Sephia." ujar Mama.
"Oh iya..."
"Tuh benarkan!!"
"Kapan!?"
"Kemarin, Nya."
"Kok kemarin? Barusan katanya, tadi." Raisa melongo bego
"Kemarin. Tuh masih ada di kulkas."
Raisa dan Mama serentak menanggapi. "Di Kulkas!?"
"Iya, di kulkas. Bakpia kan!?"
Mama ngagak. Raisa kaget. "Bakpia!?"
"Iya, yang dibawa Papa kemarin."
"Bukan, Mak Ijah." ujar Mama. "Yang lagu kesukaannya Mak Ijah itu loh 'selamat tidur kekasih gelap ku Hei Sephia...' yang itu..."
"Oh. Sheila on seven."
"He-eh."
"Mau main ke rumah?!"
Raisa kesal Alang kepalang. "Ihhh Najis Trilili..."
"Lah mereka kan manusia, Non, kok dibilang najis. Dosa loh."
"Mamaaaaaa..."
"Bentar, bentar, bentar. Tenang, tenang, tenang... Mak Ijah, Mak Ijah tadi ada ngomong apa sama Raisa."
"Emang saya ada omong apa, Non."
"Kukuruyuk..."
"Oh iya. Benar, Nya. Kukuruyuk."
"Kukuruyuk!?"
"He-eh! Kukuruyuk!"
"Maksud Mak Ijah."
"Ayam, Nya. Ayam yang tadi dibawa Bapak kemari, kampus."
"Tuh, benarkan, Papa selingkuh!!"
"Selingkuh!? Emang hubungan Ayam sama selingkuh itu apa ya, Nya."
"Mak Ijah aja bingung apalagi saya,"
"Emang apa, Non?!"
"Ihhh begonya pada najis Trilili..."
"Lah kita bingung kok dikata bego sih, Non? Benar nggak, Nya?!"
"Seratus buat Mak Ijah."
"Bener, bener deh... Masak begitu aja gak ngerti!?"
"Emang nggak ngerti!"
"Papa punya Ayam Kampus!"
"Oh iya tadi ada tiga kotak."
"Tiga kotak!?"
"Sekotak sama Mak Ijah, terus sekotak lagi sama Nyonya, terus sekotak lagi ada noh di kulkas. Kalau Non mau ambil aja tinggal dipanasi, itu jatah, Non, juga kok. Fried Chicken Ayam Kampung pedas mampus! Iam Kampus, bukan begitu, Nya."
"Paham saya, paham saya..."
"Pedasnya uih crazy abiz... Nyonya aja sampai nangis Bombay iyakan, Nya."
Kesal, Raisa, mengulang omongan Mak Ijah, dengan bibir yang meletat-meletot, maksud hati ingin mengejek," Bombay, Bombay. Iam Kampus, Iam Kampus." Lalu ngeloyor pergi.
"Kenapa sih, Nya..."
"Otaknya lagi Najis Trilili pangkat sejuta..."
"Nambah ya, Nya?!"
"Maksud Mak Ijah?!"
"Lah burung si Rinto yang dipegang-pegang itu najis Trilili pangkat seribu kan?"
Dari dalam kamar Raisa menggerung keras. "Mak Ijah..." Lalu melompat ke ranjang dan kejadian yang persis diawal pun berulang. "Ihhh Najis Trilili..."
***