Suri baru saja lulus dari SMA. Suri telah berpikir akan memasuki jenjang perkuliahan. Mimpi yang selalu ia inginkan, di mana ia memakai masker dan mengobati orang lain, setidaknya dapat membantu orang yang mengobati.
Tapi sayang beribu sayang, semua yang ia impikan baru saja hilang menjadi angan-angan. Pasalnya, ada sebuah masalah yang tak dapat ia hindari, Suri dijodohkan.
***
Suri memiliki adik. Di saat yang bersamaan, Suri lulus SMA bersama dengan adiknya, Nurul. Dulu saat SMP, Suri sempat tidak naik kelas. Sedangkan selisih umur Suri dengan adiknya tidak beda jauh, yaitu hanya satu tahun. Sehingga, ketika Suri tidak naik kelas, Nurul dapat menyusul kakaknya dan sekelas dengannya.
Waktu itu, Suri jadi bahan pembicaraan karena ia sangat mirip dengan adiknya. Sebagai seorang kakak, Suri sangat malu karena sekelas dengan adiknya. Hingga pada saat naik ke jenjang pendidikan SMA, Suri memilih untuk tidak satu sekolah dengan adiknya.
Pada masa SMA, Suri menjadi orang yang populer akan kecantikannya. Banyak kaum Adam yang mencurahkan hatinya kepada Suri. Hampir setiap hari Suri mendapatkan dua tiga lebih surat cinta dalam lacinya.
Berbeda dengan adiknya. Nurul adalah orang yang rajin di masa SMA-nya. Ia selalu ikut andil dalam perlombaan keagamaan, baik antar sekolah maupun antar desa. Nurul selalu saja mendapatkan sebuah penghargaan, baik berupa piagam maupun berupa uang.
Kedua orang tua mereka sangat bangga kepada kedua anaknya. Tapi, ketika keduanya lulus. Orang tua kedua bersaudari itu mengalami krisis ekonomi. Secara terpaksa, hanya salah satu di antara Suri dan Nurul yang bisa masuk ke jenjang perkuliahan, salah satunya lagi akan dijodohkan. Orang tua mereka pun akhirnya memutuskan.
“Suri, ada yang mau kuberi tahukan kepadamu. Nurul kamu juga ke sini.”
Ayah Suri duduk di ruang keluarga bersama dengan ibu. Sepertinya ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan. Suri dan juga adiknya keluar dari kamarnya dan duduk di depan ayahnya.
“Aku mau beri tahu sesuatu ke kalian. Dengar baik-baik.” Ayah Suri duduk sila, ibu mematikan televisi. Suri dan juga adiknya menganggukkan kepala.
“jadi Nak, aku mau beri tahu. Uang bapak tak cukup untuk kalian berkuliah berdua. Jadi bapak memutuskan, Nurul akan lanjut kuliah dan Suri akan bapak jodohkan.”
Suri yang mendengar akan hal itu, lantas kabur dari rumah karena shock. Seluruh impiannya telah menjadi angan-angan.
“kakak!” Nurul berdiri ingin mengejar kakaknya.
“Nurul, biarkan kakakmu.” Ayah Suri memberhentikan langkah Nurul. Nurul tak bisa membantah, ia langsung pergi ke kamarnya.
“Bukannya itu terlalu berlebihan pak?” ibu Suri berdiri, ia takut anaknya kenapa-kenapa di luar.
“Dia sudah besar, biarkan saja. Nanti dia juga bakal pulang ke rumah.” Ayah Suri berdiri dan berjalan keluar. Ibu Suri mengikutinya dari belakang.
“Dia sudah jauh.” Ayah Suri kembali masuk ke rumah. Ibu Suri memandang keluar halaman, berharap Suri akan pulang secepatnya.
Tiga sampai lima hari kemudian Suri tetap tidak pulang ke rumah. Suri terkadang menghubungi adeknya untuk mengetahui keputusan kedua orang tuanya, apakah berubah atau tidak. Dan ternyata kedua orang tuanya masih tetap dalam pendiriannya.
Apalagi ayah Suri, orang yang tegas dan sedikit egois, tak pernah lepas akan pendiriannya. Sekali sudah memilih maka itu yang harus dipilih, tidak ada kata tidak, itulah ayah Suri.
Sampai hari yang ketujuh, Suri akhirnya kembali ke rumah. Dengan berat hati, Suri harus menerima perjodohan tersebut yang pastinya akan berujung untuk menjadi ibu rumah tangga.
***
Sahril, itulah nama dari orang yang akan dijodohkan dengan Suri. Seorang laki-laki yang tengah dalam masa perkuliahan, cukup populer dalam bermain gitar, tampangnya pun cukup menarik perhatian kaum Hawa. Dia juga adalah orang yang mudah bergaul, orang yang selalu bersabar dan bersyukur.
“Dijodohkan?!” begitu pun dengan Sahril, ia sedikit terkejut karena begitu tiba-tiba.
“iya, kamu dijodohkan dengan anak yang di desa sebelah, namanya Suri.” Hikmah, kakak perempuan Sahril, berjalan menuju sofa kemudian duduk. Lalu, Ia menunjuk sofa di depannya, memberikan kode agar Sahril duduk di sana.
“Kok tiba-tiba sekali sih?” Sahril berjalan ke sofa depan kakaknya. Ia ikut duduk bersama dengan seluruh anggota keluarganya.
“Ayah mau beritahu. Tapi kamu kan sibuk terus ... ooh, jadi kamu sudah punya pujaan hati yah. Kalau iya, beri tahu ayah dong.”
Ayah Sahril menggoda anaknya yang akan dijodohkan.
“Ya sudahlah.”
Sahril tidak mau bertanya lebih lanjut lagi. Ia tahu bahwa jika ia bertanya, maka ayahnya akan menggodanya dengan pertanyaan yang usil.
Tok tok tok
“Assalamualaikum.” Keluarga Suri telah datang ke rumah Sahril.
“Waalaikumsalam.” Ayah Sahril membukakan pintu dan menyambut kedatangan keluarga Suri. Ibu Sahril, Hikmah, dan Sahril, berdiri menyambut keluarga Suri.
Keluarga Suri mulai masuk saat dipersilahkan. Mereka mulai bercakap-cakap dan saling memperkenalkan diri. Begitu pun dengan Sahril dan Suri, keduanya saling memperkenalkan diri walau Suri tampak tak acuh kepada Sahril. Di bawah kelopak matanya masih sedikit memerah karena semalam Suri menangis. Sahril yang melihat hal itu sedikit prihatin kepadanya.
Saat di tengah pembicaraan, ayah Sahril mengalihkan perhatiannya ke arah Sahril dan mengedipkan sebelah matanya.
“Jadi gimana?” tanya ayah Sahril. Sahril mengetahui maksud dari perkataan ayahnya. Lantas Sahril mengalihkan perhatiannya dari ayahnya menuju wajah Suri. Semua pembicaraan terhenti, mereka menunggu jawaban dari kedua calon PASUTRI (pasangan suami-istri).
Sahril mulai menganggukkan kepalanya, tanda bahwa Sahril setuju dan sedikit malu-malu kucing. Tinggal Suri yang ditunggu-tunggu, selang beberapa menit akhirnya Suri bersuara.
“Baiklah.”
Suasana seketika heboh. Ayah Suri bahkan menggoda anaknya lagi sambil merangkul bahunya.
“Ciee ciee, akhirnya gak jomblo lagi kamu nak.”
“Dasar ayah! Bikin malu ajah.”
Sahril dalam hati menggerutu melihat tingkah ayahnya. Di lain hati pula Sahril merasa sedikit kecewa mendengar perkataan Suri tadi yang sedikit berat.
Seminggu kemudian, akhirnya mereka berdua akan menempuh hidup baru sebagai pasangan suami-istri. Suri telah di dandani dengan begitu elok, kecantikan natural sebelumnya menjadi kecantikan yang lebih daripada bidadari di mata Sahril. Walau sebenarnya dibalik riasannya, Suri terus meratap tak pernah tersenyum walau setipis mungkin.
Sahril juga memakai busana pengantinnya. Dengan sarung yang berwarna hitam keemasan ditambah pakaian adat yang berwarna hitam polos dan kuluk yang menghiasi kepalanya.
Mulailah mereka berdua datang ke tempat duduk berpasangan. Tamu mulai datang satu persatu, hingga pada siangnya tempat mulai menjadi ramai. Sebagian ada yang menonton panggung para pedangdut dan sebagiannya pula naik berfoto bersama dengan pengantin.
Suasana memang ceria, tapi dibalik pengantin hanya ada kesedihan dan kecanggungan. Dalam foto, pengantin pria tersenyum tipis dan pengantin wanita tampak tidak berekspresi.
Andai keduanya tersenyum bahagia, pasti para tamu akan melihat pasangan tersebut seperti pangeran dan putri kerajaan yang serasi, sama-sama memiliki wajah yang aduhai.
Acara pernikahan telah usai. Kini mereka telah tinggal dalam satu atap. Sudah beberapa minggu setelah acara pernikahan mereka saling tak berbicara. Sahril telah berusaha menghibur Suri, tapi Suri tak pernah mau mengeluarkan suaranya. Untungnya Sahril selalu bersabar menghadapinya.
Hingga pada suatu hari terjadi sebuah permasalahan.
“Bu ... Suri, aku sudah mulai sibuk kuliah. Aku bakal tinggal di kota ... Mau ikut?”
Sahril berbicara di luar kamar Suri. Ia menunggu jawaban dari Suri. Beberapa menit menunggu, Suri mengeluarkan suaranya yang tak pernah ia keluarkan setelah pernikahan.
“Apa?!” Suri keluar dari kamarnya. Ia terkejut.
“Iya, ayah ... aku bakal tinggal di kota. Kamu mau ikut.”
“kapan?” Suri tak menjawab pertanyaan dari Sahril. Namun ia memberikan pertanyaan kembali.
“Besok Lusa.” Sahril yang berdiri di depan kamar Suri, berpapasan muka dengan Suri saat Suri mencongak.
“....”
Suri hanya diam dan kembali masuk ke dalam kamar kemudian kembali menutup pintu kamarnya.
Sahril menundukkan kepalanya.
“Jadi gimana?”
“....”
Suri tidak menjawab. Sahril akhirnya menyerah untuk bertanya, ia hanya berharap secepatnya mendapatkan jawaban. Sahril beranjak pergi mengambil gitar favoritnya, ia duduk bersandar di dinding, memainkan gitarnya untuk menghibur diri.
Ruangan tengah telah di penuhi oleh suara khas lelaki yang serak nan merdu diiringi dengan gitar yang tak kalah lembutnya. Terus bermain hingga lima jam kemudian seorang wanita keluar dari sarangnya.
“Aku tidak ikut,” ucap wanita itu yang tidak lain adalah Suri.
Sahril menghentikan permainan gitarnya. “Baiklah, jadi kamu tetap tinggal di sini? apa mau ke rumah orang tuamu?”
“Aku tetap di sini.” Suri mengatakannya tanpa pikir panjang. Kebetulan rumah mereka dibangun di dekat rumah orang tua Sahril. Suri berpikir lebih baik tinggal berdekatan dengan mertuanya.
“kamu sibuk terus. Kuliah? Kenapa tidak kerja aja,” ucap pelan Suri.
Sahril terdiam, terkejut dengan apa yang dikatakan Suri. Benar, perekonomian mereka hanya mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari saja. Apalagi Sahril hanya sibuk dalam perkuliahannya.
“Untuk apa kuliah kalau buang-buang uang ...."
Prak..
Suara benda hancur membuat Suri memberhentikan perkataannya. Sahril tampak marah, gitar di depannya telah hancur berkeping-keping. Walau begitu, Sahril tetap menahan emosinya, ia tak membentak apalagi memukul Suri.
Suri terdiam hanya melihatnya. Air mata mulai mengalir di pipinya, ia meminta maaf atas ucapannya. Sahril memaafkannya dan memeluk istrinya.
“Berat yah. Aku gak apa-apa kok ... kamu tetap di sini kan. Kalau begitu aku bakal pulang tiap pekan. Kalau butuh apa-apa kamu bisa bilang ke aku.” Sahril menenangkan hatinya, juga hati istrinya. Ia tak ingin masalah menjadi lebih rumit lagi.
Suri tak berkata, tangisannya mulai mereda. Ia melepaskan tangan Sahril dan sekali lagi meminta maaf dan masuk ke kamarnya kembali. Sahril merasa sedikit lega dan sedikit ada senang di hatinya walau tadi ia tak dapat mengendalikan amarahnya.
Lusa telah tiba, saatnya Sahril pergi ke kota untuk kuliah. Suri tetap tinggal di rumah dekat mertuanya. Mobil ongkos temannya telah datang, Sahril beranjak keluar setelah mempersiapkan diri sebelumnya.
“Aku berangkat ya. Aku janji tiap pekan akan kusempatkan untuk pulang.” Sahril berpamitan kepada istrinya juga orang tuanya. Ia mengambil tangan ibunya dan menundukkan kepalanya mencium kedua tangannya.
Hari-hari telah berlalu, tiap pekan Sahril pulang ke rumah sesuai janjinya. Dua bulan kemudian, ada kabar bahwa Suri telah mengandung. Sahril begitu senang mendengar kabar tersebut. Hingga lima bulan kemudiannya, tiba-tiba tak ada kabar dari Sahril. Bahkan tiap pekannya pun, Sahril tak kunjung pulang ke rumah.
Tiap hari Suri menunggu kabar dari Sahril. Tapi begitulah, Sahril sama sekali tak ada kabar darinya. Untuk dihubungi pun tak pernah diangkat. Entah apa yang merasukinya, hingga membuat Suri berpikir negatif. Suri depresi, tapi untunglah ada mertuanya yang selalu menghibur dirinya.
Bulan kesembilan, tibalah waktunya Suri melahirkan. Dan entah mengapa, tiba-tiba Sahril pulang berpapasan saat Suri akan melahirkan. Suri masih belum menyadari kedatangan Sahril.
Perasaannya bercampur aduk antara perasaan bahagia karena akan dikaruniai seorang anak, dan perasaan sedih juga kesal karena pikirnya Sahril tak kunjung pulang saat ia akan melahirkan.
Di rumah sakit, di ruang tunggu pasien. Sahril duduk menunggu Suri melahirkan. Sejam kemudian akhirnya terdengarlah suara tangisan bayi, sang buah hati yang manis nan menggemaskan ia dikaruniai anak laki-laki.
"Huwwoooooo!"
Sahril berteriak memenuhi salah satu koridor rumah sakit, ia sangat senang. Ibu dan ayah Sahril malah terkejut bukan kepalang, melihat anaknya yang begitu bahagia berteriak, ia juga senang karena telah memperoleh cucu baru.
“Sahril, kamu mau buat kami jantungan ya?” Ayah Sahril memegang dadanya karena masih terkejut. Sahril lantas tersenyum tanpa berkata sepatah kata pun.
“Waduh Sahril. Kalau senang jangan berlebihan dong, nanti yang di dalam malah kaget juga gara-gara kamu.”
Ibu Sahril menegur putranya, ia kemudian berdiri dari kursi tunggu pasien. Berjalan ke arah pintu di mana Suri melahirkan di dalamnya.
“Iya Bu, maaf kelepasan tadi.”
Krek....
Seluruh perhatian teralihkan kepada dokter yang baru saja keluar berhadapan dengan ibu Sahril. Sahril langsung mendekati perawat tersebut.
“Gimana dok?”
“Alhamdulillah, anaknya lahir dengan selamat begitupun dengan ibunya.” Dokter tersebut masih berdiri di depan pintu.
“Bisa, silahkan masuk.” Pak Dokter membuka jalan untuk Sahril masuk. Sahril masuk ke dalam dan melihat istrinya dan anaknya yang berada di tempat bayi.
Sahril menggendong anaknya.
“Alllahu Akbar allaaahu Akbar, allaaahu Akbar ....” Sahril memberikan adzan di dekat telinga buah hatinya.
Suri yang mendengar suara Sahril alih-alih menoleh ke arah Sahril, ia terkejut dan hanya diam melihat suaminya. Sahril yang selesai adzan lantas melihat istrinya, Sahril kemudian tersenyum kepada istrinya.
“Mau diberi nama apa anak kita?” tanya Sahril.
“Rasyad,” ucap Suri.
“Nama yang bagus. Rasyad, petunjuk jalan yang lurus. Kalau begitu aku tambah nama depannya Ahmad. Jadi namanya Ahmad Ar Rasyad.” Sahril mengangkat buah hatinya ke atas, ia tampak bahagia.
Keesokannya saat masih di rumah sakit, di ruangan yang berbeda. Kedua orang tua mereka telah pulang ke rumah, kemarin. Semalam pun mereka sudah cukup bercakap-cakap. Kini yang berada di ruangan tersebut hanya Suri, Sahril, Anaknya, dan pasien lain di balik tirai
“maaf ya, baru pulang.” Sahril berdiri menggendong anaknya, matanya menatap ke bawah, ia merasa bersalah. Suri hanya memanyunkan bibirnya, matanya berpaling dari suaminya.
“kamu tahu kan, bentar lagi aku bakal lulus kuliah. Jadi aku bisa bebas nanti dari perkuliahan. Lima bulan yang lalu aku kerja di kota jadi salesman. Aku tidak ada kabar gara-gara HP-ku tiba-tiba rusak dan lama kuperbaiki, mau pulang tidak ada yang antar, temanku juga pada sibuk.
"Pendapatan yang kudapat juga hanya cukup untuk biaya makan. Terus yang kemarin itu akhirnya HP-ku selesai diperbaiki, aku menelepon ke kamu malah tidak diangkat.
"Jadi, aku telpon ibuku dan di situ aku dengar kabar bahwa kamu sudah mau melahirkan. Jadi aku pulang secepat mungkin pakai motor. Motor itu adalah motor yang baru kubeli dari uang hasil kerjaku, aku masih punya sebagian kok untuk keperluan kita.” Sahril heboh sendiri menjelaskan kepada Suri.
Suri yang mendengar penjelasannya lantas merasa bersalah. Sahril yang melihat Suri menundukkan kepalanya langsung meminta maaf kedua kalinya kepada Suri. Suri menoleh kepada Sahril dengan mata yang berkaca-kaca, ia menganggukkan kepalanya.
Beberapa minggu kemudian, Sahril akan di wisuda. Bersama dengan keluarganya mereka berfoto, buah hatinya yang kecil tampak lucu mereka akhirnya perlahan saling membukakan hati, di foto mereka telah tersenyum tampak mulai timbul keceriaan dalam hati mereka.
Sahril yang telah lulus dari perkuliahan kini mulai bekerja sebagai guru. Tak cukup itu, Sahril juga mulai membuka bengkelnya di rumah. Tiap hari ia bekerja, pagi hingga siang di sekolah dan sore hingga malam untuk bengkelnya. Walau terlihat sibuk akan pekerjaannya, sebenarnya luang waktunya selalu untuk keluarganya.
Perlahan demi perlahan Suri membuka seluruh hatinya. Sifat aslinya yang ceria perlahan mulai terlihat. Kecantikannya akhirnya bersinar.
Suri juga mulai berusaha untuk membahagiakan suaminya. Dari pekerjaan rumah yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, hingga memijat suaminya di saat pulang bekerja atau letih.
Sudah tak ada lagi gembok di hati Suri, gembok di hatinya telah ia buka. Kini yang ada di hatinya hanya lah seseorang yang selalu berusaha untuk membahagiakannya, yang tak lain ialah suaminya.
***
“Sayang, lihat Rasyad sudah bisa jalan!” Sahril duduk sambil bertepuk tangan, menunggu Rasyad berjalan ke arahnya.
“Iya Pa, Rasyad terlihat kuat. Pasti Rasyad akan menjadi orang yang kuat, sama seperti papanya.”
Suri keluar dari dapur, membawakan kue ringan yang baru saja ia coba buat. Suri duduk di samping suaminya, tertawa lepas bersamanya.
“Iya dong! Rasyad harus kuat seperti ayahnya. Biar nanti dia punya istri idaman yang seperti ibunya.” Sahril memeluk istrinya dan mencium keningnya. Rasyid yang tengah berjalan akhirnya sampai, memeluk ibunya.
“Lihat Bu, Rasyid ajah gak mau kalah nih.”
“Ah, Papa ada-ada ajah. Pasti Rasyad sayang dong sama ibunya yang cantik ini.” Suri mengangkat Rasyad kemudian mencium pipinya yang kembem nan menggemaskan.
“Iih, gemes deh punya istri kayak kamu.” Sahril mencubit pipi istrinya.
“Papamu nakal Rasyad.” Suri mengembungkan pipinya.
Rasanya ikatan keluarga mereka semakin erat. Senyum dan tawa mereka telah menghiasi hidup mereka. Kebahagiaan yang tak pernah diduga dari sebuah perjodohan.
Istri idaman lelaki, cantik dan pandai dalam urusan rumah tangga dan sekarang sudah pandai mengurus hati suaminya. Suami yang terus bersabar dan berusaha untuk membahagiakan keluarganya dan kini ia telah menaklukkan hati istrinya.
Orang-orang yang melihat keluarga ini, pasti sangat iri. Lihatlah keduanya kini sangat mesra seperti seorang kekasih yang masih pacaran. Wajah kebahagiaan yang cantik dan tampan juga yang imut. Hiburan mini yang selalu didendangkan bersama-sama dari gitar barunya dan suara merdu istrinya ditambah goyangan dari sang buah hatinya.
Mereka sudah tak akan pernah runtuh lagi. Dinding keluarganya sudah tebal dan akan semakin menebal. Tak ada yang bisa menghancurkan kehidupan sehari-hari mereka. Malahan semakin lama mereka akan semakin bahagia dan terjalin erat.
Masalah perekonomian pun sudah tak ada lagi, karena Sahril sekarang telah menjadi seseorang yang sukses. Ia membangun sekolah sendiri, ia juga memiliki banyak usaha lain.
Tak ada lagi masalah di kehidupan mereka, karena mereka adalah keluarga bahagia. Kisah susah bukanlah kisah yang selalu gelisah dan sedih, melainkan kisah SUSAH adalah kisah antara Suri dan Sahril yang akan bahagia forever.
END