‘Sudah hampir setahun setelah kejadian itu.Kejadian yang membuat diriku kehilangan semuanya’batin seorang gadis dengan tatapan kosong.
‘Deira rindu Bu’batin deira dan tanpa sadar air mata mulai jatuh di pipinya.
Dia deira,gadis yang masih duduk di bangku Smk yang harus merasakan pahitnya dunia di usia muda.Tapi dengan penuh semangat dan keceriaan dia menghadapi semuanya.
Dimana kejadian setahun silam,kedua orang tuanya harus merenggang nyawa dengan cara tragis.Orang tuanya di tabrak lari oleh seorang pengemudi mobil di malam hari.Sebenarnya jika orang tua deira di tangani secepatnya mungkin masih bisa di selamatkan tapi saat kejadian itu terjadi tak ada orang di sana.Hingga deira sampai di lokasi orang tuanya,tapi sayang nyawa orang tuanya sudah tak ada lagi.Dengan ditemani kesunyian deira menangisi jasad kedua orang tuanya dengan pilu.
“Deira! Cepat ambil pesanan meja nomor 7 jangan melamun terus!”kata salah seorang wanita dengan nada tak suka.
“Eh? Iya mbak”kata deira dengan segera berjalan menuju meja nomor 7.
“Permisi kak mau pesan apa?”tanya deira dengan nada ramah.
“Jus jeruk”kata sang pelanggan dengan datar.
“Ada yang lain kak?”tanya deira dengan senyum ramahnya.
“Tidak” kata pria tadi dengan malas.
“Baik kak mohon di tunggu sebentar”kata deira dan berjalan meninggalkan meja nomor 7.
Beberapa menit kemudian deira datang kembali ke meja tadi dengan nampan di tangganya.
“Ini pesanannya kak,selamat menikmati”kata deira dengan badan sedikit membungkuk.
“Hm”balas sang lelaki tadi dengan acuh.
Setelah itu deira mulai berjalan menjauhi sang pelanggan dengan langkah tenang.Baru beberapa langkah dia berjalan meninggalkan meja nomor 7 ada seseorang yang memanggilnya.
“Deira!”panggil orang tadi dengan nada cukup keras.
“Iya mbak ada apa?”tanya deira sambil berjalan ke arah orang tadi.
“Ini anter ke meja nomor 13 aku mau ke ruang bos sebentar”kata orang tadi sambil menyerahkan nampan ke arah deira.
“Iya mbak”kata deira dengan nada pasrah.
Deira mulai melangkahkan kakinya menuju meja nomor 13.Entah karena tak konsen atau tak fokus pada langkahnya.Tiba-tiba kaki deira tersandung oleh kakinya sendiri yang mengakibatkan makanan yang dia bawa terjatuh di atas lantai.
“Akhh”ringis deira pelan saat merasakan sakit di pergelangan kakinya.
“Sepatu gue!”kata seorang gadis muda sambil bangkit dari duduknya.
“Punya mata gak sih lu!”kata gadis tadi sambil menatap ke arah deira marah.
“Maaf kak,saya tak sengaja”kata deira sambil menundukkan kepala takut.
“Buta mata lu hah! Tau gak lu sepatu gue mahal,gaji lu gak bakal mampu buat beli sepatu gue”kata gadis tadi dengan raut wajah marah.
“Udah sel dia gak sengaja”kata seorang gadis yang duduk di sebelahnya dengan raut wajah malu.
“Tapi kak sasa,liat sepatu selly jadi kotor”kata gadis tadi yang bernama selly dengan raut wajah kesal.
“Dia gak sengaja sel”kata sasa dengan nada suara menenangkan.
“Gak ada”kata selly yang masih tak terima.
“Maaf ada apa ini?”tanya seorang wanita dengan nada ramah.
“Anda siapa?”tanya selly sambil menatap orang tadi dengan nada malas.
“Saya manajer di kafe ini.Ada yang bisa saya bantu?”tanya sang manajer kafe dengan sopan.
“Bagus kalau anda manajer kafe ini.Lihat perbuatan pelayan anda”kata selly dengan nada marah.
“Deira kenapa ini?”kata sang manajer setelah melihat kekacauan yang di buat oleh deira.
“Maaf mbak saya tidak sengaja”kata deira dengan kepala menunduk.
“Saya ingin meminta maaf soal kejadian tadi”kata sang manajer dengan bada bersalah.
“Iya mbak gak apa-apa”kata sasa dengan nada ramah.
“Tapi kak-“kata selly tak terima akan ucapan sasa tadi.
“Udah duduk”kata sasa dengan tatapan tajam.
“Sekali lagi saya minta maaf kak”kata sang manajer dengar penuh sesal.
“Iya gak apa-apa”kata sasa dengan ramah.
Setelah mendengar jawaban dari sasa,sang manajer mulai berjalan menjauh dari sana.
Dengan wajah menahan kesal sang manajer berjalan ke tempat peristirahatan bagi waters.
“Deira!”panggil sang manajer sambil menatap deira marah.
“...”deira yang di panggil hanya diam di tempat dengan kepala menunduk dalam.
“Kamu sudah berapa kali buat masalah di kafe ini?! Bukankah saya sudah bilang jangan bikin ulah lagi!”kata sang manajer dengan tatapan nyalang dan nada geram.
“Maaf mbak tadi saya tidak konsen saat jalan”kata deira dengan kepala yang masih menunduk.
“Kali ini saya tidak bisa beri kamu toleransi.Kesalahan kamu sudah fatal kali ini.Dengan berat hati saya pecat kamu,mulai besok kamu gak perlu repot-repot lagi berangkat kerja”final sang manajer dengan serius.
“Tapi mbak kalau saya tidak kerja di sini saya mau kerja di mana lagi mbak.Saya mohon jangan pecat saya”kata deira dengan nada memohon dan air mata yang mulai mengalir.
“Ini sudah keputusan saya yang tak bisa di ganggu gugat”kata sang manajer kafe dengan wajah datar dan berjalan pergi meninggalkan deira yang sedang terduduk di atas lantai dengan air mata yang mengalir.
“Makanya jadi orang itu jangan gak tau diri.Udah di beri kesempatan eh malah ngelunjak.Makan tuh di pecat”kata salah satu rekan kerjanya dengan tatapan sinisnya setelah itu berjalan meninggalkan deira dengan senyum sinisnya.
“Ibu deira di pecat”kata deira dengan air mata yang masih mengalir.
Dengan susah payah deira bangkit dari duduknya sendirian.Tidak ada yang membantunya atau menguatkannya dalam kondisi saat ini.
Dengan lesu deira berjalan keluar kafe dari pintu belakang.
“Kalau aku di pecat dari kerjaan,bagaimana dengan biaya sekolahku dan bagaimana dengan pengeluaranku kedepannya?”kata deira dengan lesu saat memikirkan itu semua.
‘Hufft’helaan nafas dari deira untuk meredakan perasaannya saat ini.Deira menghentikan langkahnya dan menatap ke atas dengan tatapan sedih sedetik kemudian air matanya jatuh dan secepat kilat deira menghapus air matanya sambil tersenyum paksa.
“Ayo semangat deira! Kamu pasti bisa!”kata deira menyemangati dirinya sendiri.
“Ya pasti bisa!”kata deira sambil mengepalkan tangan kuat.
“Semangat! Besok sepulang sekolah aku harus cari kerja!”kata deira dengan penuh semangat.
Deira kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.Dengan semangat baru deira berjalan menyusuri jalan.
Deira bersenandung riang untuk mengisi kesepian di sepanjang jalan.Baginya sudah biasa pulang di jam-jam segini.Bahkan ada satu malam dia harus lembur dan pulang jam 1 malam.
Beberapa menit kemudian deira sampai di rumah yang sebagai tempat berlindungnya beberapa bulan terakhir.
Dengan langkah lebar deira berlari ke dalam rumah menuju kamar kedua orang tuanya.Jika dia punya keluh kesal,deira akan mencurahkan semuanya di kamar kedua orang tuanya.Karena di kamat itu dia bisa merasakan seperti di peluk seseorang dan dia menganggap jika itu pelukan semangat dari ibunya.
Deira duduk di atas lantai dan kasur sebagai tempat sandarannya.Entah kenapa air mata yang tadi menghilang mulai kembali meneteskan diri di pipi deira.
“Ibu”kata deira dengan lirih.
Beberapa saat kemudian deira sudah terlelap dengan posisi yang sama dan air mata yang belum mengering di pipinya.
~~~~~~~~♤♤♤♤~~~~~~~~
Pagi harinya.
Deira bangun dari tidurnya dengan tubuh yang terasa pegal karena posisi tidur yang tidak nyaman.
“Emm,jam berapa sekarang? ”gumang deira sambil mengumpulkan nyawanya.
Deira mulai melihat ke arah jam dinding berarda dan jam menunjukan pukul 05.30 pagi.
Dengan nyawa yang masih melayang,deira mulai bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar kedua orang tuanya.
Beberapa saat kemudian dia sudah bersiap dengan seragam sekolahnya.
Dengan senyum mengembang deira berjalan melangkahkan kakinya menuju ke sekolahannya.
Beberapa menit kemudian deira sampai di depan gerbang sekolah dengan senyum mengembang.
Dengan langkah mantap deira berjalan memasuki area sekolahan.Sudah banyak siswa yang ada di lingkungan sekolah.
Saat deira berjalan menyusuri koridor ada beberapa siswa yang menghentikan langkahnya.
“Woy! Senyum-senyum sendiri udah gila lu?”kata seorang gadis dengan senyum mengejek.
“Maaf saya sibuk permisi”kata deira dengan pandangan ke bawah.
Saat deira ingin berjalan meninggalkan mereka salah satu di antara mereka menjambak rambut deira dengan kasar.
“Anak beasiswa aja sombong lu”kata salah satu di antara mereka dengan tatapan remeh.
“S-sakit”gumang lirih deira dengan air mata yang mulai mengalir.
‘Ibu deira rindu’batin deira dengan air mata yang masih mengalir.