🥀
Biarkan aku mengatakan sesuatu yang sudah kupikirkan dari lama. Dimana saat senyum tawamu mekar indah di binar mataku. Disaat hangatnya jemari mu mengengam tanganku.
Jika kita bisa kembali berteman, maka aku tak akan meminta apapun lagi. Biarkan aku yang menanggung semua karma ini. Karma hati yang tak tahan untuk tak terpesona denganmu.
Selama kau tidak apa-apa dengan ini, aku tak keberatan. Biarkan mawar yang tengah mekar ini menebarkan wanginya sebelum layu.
"Kau tau, aku tak mengharapkan balasan mu."
Itulah kata dusta yang keluar dari mulutku kala itu. Dimana ada hati yang rela hancur dalam jiwa yang rapuh ini? Ada? Jika ada itu hanya milik sang pembohong.
Aku seorang pembohong, menyanyikan lagu cinta yang bertentangan dengan pikiranku. Menanam benih yang tak sanggup ku pandang kala menjadi bunga. Yang tak sanggup ku petik kala menjadi buah. Haruskah ku biarkan dia membusuk tanpa ku sentuh? Namun, harumnya membuat hati ini tak sanggup untuk diam.
Cuaca hari ini biasa dengan hujan deras di sekitar kita. Awan mendung, rintik hujan, angin dingin yang tak diam, sungguh biasa. Tapi aneh, kenapa mata ini tak bisa henti melihatmu yang bercerita penuh semangat dan warna itu?
Tanpa sadar senyum kecil tulus tergerak di wajahku. Sudah sejak kapan mata ini memandang mu dengan jantung yang berdebar ini?
Kemarin aku menggunakan waktuku sepenuhnya untuk menganggur. Berbaring di lantai rumah yang dingin. Memandang langit-langit kamar yang diam. Ini bukan berarti aku memikirkan mu. Aku hanya sedang diam mendengar detak jantung yang tak henti berdebar kencang setelah membaca pesan singkat mu.
Padahal, itu hanya kata sapaan biasamu padaku. Namun, kenapa begitu terasa sespesial itu? Sebodoh ini kah aku sudah jatuh di depanmu? Baiklah, aku mungkin sedikit memikirkan mu.
🥀
Sekarang, pikiranku berputar-putar seperti komedi putar. Terus berputar hingga membuatku sulit untuk menelan ludahku sendiri. Aku coba untuk berjalan mendekati langkah mu. Ku harap kali ini tak akan berakhir dengan sapaan selamat siang.
"Fan!" Panggilku dengan pupil mata yang mulai bergetar karna gugup.
Dia menoleh dengan segera saat mendengar suara ku yang memanggilnya.
Ah ... Wajah itu! Wajah itu begitu indah dan membuat jantungku tak karuan lagi.
"Apa?" Jawabnya singkat, tapi cukup membuat cinta semakin menumpuk di hati ini.
"Aku ingin bicara sesuatu dengan mu." Ucapku dengan hati yang yakin.
"Katakan apa?"
Dua kata itu, cukup membuat jantung ini seakan ingin meletus.
"Aku ... Aku MENCINTAIMU, FAN!"
Seketika itu, semua orang yang tengah sibuk dengan tujuan masing-masing melihat kearah ku yang menundukkan kepala menyembunyikan wajah yang kian memerah.
Aneh, wajahku yang menunduk tak melihat kaki jenjang Ifan bergerak mendekatiku. Kenapa dia diam? Kenapa dia tak mengatakan sesuatu? Katakan sesuatu Ifan! Aku ingin mendengar sesuatu walau hanya satu kata.
"Maaf, apa tak bisakah kita hanya berteman seperti dulu?"
Tidak! Itulah kata yang ingin ku teriakkan dari mulut terketub ini. Namun, senyuman itu cukup membuat hati ini berhenti tak mendengarkan otak. Jika itu yang kau katakan dengan wajah tulus mu itu, tak ada yang bisa ku lakukan lagi. Aku akan berhenti.
🥀🥀
Sejak itu tumpah dari tanganku, dimanakah aku harus membuang cinta untukmu ini? Bagaimana caraku meredam detak jantung kencang ini saat menatapmu? Apa yang harus ku lakukan?
Hal-hal yang tidak aku gunakan, aku tak membutuhkannya lagi. Tapi, hal yang menyatu dengan jiwaku itu harus ku buang kemana?
Biarkan aku mengatakan sesuatu yang sudah ku pikirkan dari lama. Kau tak bisa melihat bentuknya, tapi bisa melihat kata-katanya. Aku merasa frustasi berdasarkan fakta bahwa ada hal yang tak ku ketahui. Apakah perasaanku ini indah atau kotor? Aku tak tau dan tak punya tempat untuk membuangnya.
Aku akan menunggu sampai aku mendapatkan makna terdalam dari kata-kata itu. Menunggu terdengar tidak buruk.
Itulah deretan rencana yang sudah ku tetapkan sebelum ku ungkapkan kata itu padamu saat itu. Namun, melihat mu memandangku dengan mata mu yang terbesit kata tidak, aku cukup paham untuk menjaga jarak ku denganmu mulai sekarang.
Tapi kenapa ... Kenapa begini?
Kau yang melanjutkan hidup dan aku yang terhenti. Apa yang harus ku lakukan untuk mengisi jarak antara kita? Kau semakin jauh, sudah tak sanggup ku genggam lagi tangan hangat itu yang berayun jauh dari jangkauan ku.
Haruskah aku benar-benar berhenti? Berhenti mengusik hidupmu? Berhenti berjalan beriringan dengan mu? Haruskah ku perluas jarak ini hingga bayang punggungmu hilang dari jangkauan mataku?
Aku ... Aku belum bisa jujur, aku masih seorang pengecut. Aku tak berani lagi untuk tersenyum bersamamu. Aku ingin menutup mata dan telinga ini untuk tak mendengar suaramu dan wajahmu.
Maafkan aku yang sudah dengan bodoh mencintaimu yang hanya menerimaku sebagai teman dalam hidupmu.
Sudah cukup, aku akan diam sekarang. Aku akan berhenti melihat mu. Maaf Ifan, aku tak bisa menerima permintaanmu itu.
Mulai saat ku tetapkan detak jantung ini sebagai cinta untukmu, aku sudah tak bisa kembali. Jika aku kembali maka akan ada api yang akan membakar ku hingga mnejadi debu. Dan aku juga tak akan maju, karna jurang tak berdasar akan menyambut ku dalam kegelapan.
Jadi, Aku akan berhenti. Tak akan mundur atau maju. Hanya disitu, di tempat dimana aku diam melihat kau tak bisa menerima cinta ini dengan senyuman mu.
🥀🥀🥀
Hari ini, cuaca tak biasa. Dimana matahari kian terik mengeringkan apapun yang disentuhnya. Bahkan, langit-langit kamarku terlihat semakin biasa. Apa yang aku pikirkan sekarang?
"Ah! selain dirimu, kepada siapa aku harus memberikan cinta ini? Aku tidak berpikir akan menemukan seseorang dengan mudah. Aku masih menunggu."
Gumaman pahit itu mengakhiri cerita singkat ini. Jangan berpikir hati yang diam tak lagi dapat berucap. Akan ku tunggu waktu dimana hati ini kembali berwarna seperti mawar merah yang mekar dibasahi embun.
Semoga kau tak tertipu dengan cinta yang tidak hanya memberi senyuman tapi juga air mata hati yang terluka.
🌹TAMAT🌹
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA... AYO BAGI KALIAN YANG SEDANG BAHAGIA ATAU TERLUKA TETAP TERSENYUM DALAM HIDUP YANG SEPERTI KOMEDI PUTAR 😌😚❤️❤️❤️❤️💋