Perhatian sebelum membaca!!
Cerpen ini merupakan remake dari cerpen Kak Rin Gumi yang berjudul Si Jaket Merah, sebelumnya author sudah mendapat izin untuk me-remake dan juga mem-publish cerpen karya Kak Rin Gumi. Jadi jangan lupa untuk membaca karya aslinya, dan juga selamat membaca!!
–//– –//– –//– –//– –//– –//–
Hari ini merupakan pagi yang cerah serta indah. Namun aku merasakan penat dan sakit di telingaku, karena teriakan dari senior-seniorku. Namaku Nanami Tachibana Putri, berusia tujuh belas tahun. Di Jepang nama asliku adalah Tachibana Nanami Putri atau Tachibana Nanami. Hal tersebut karena ayahku dari Jepang sedang ibuku orang Indonesia.
Tak terasa hari ini adalah ospek terakhir sekolah. Aku melihat anak laki-laki turun dari tangga, mengenakan jaket merah yang sangat keren. Dia memiliki postur tubuh yang cukup tinggi, namun aku tidak tidak bisa melihat jelas wajahnya, karena jarakku yang cukup jauh dengannya.
"Na, ayo ke aula," ujar Fardil yang membuatku agak terkejut.
"Iya-iya, Far. Gangguin banget, sih," kataku kesal.
"Hah, Ganggu?" tanyanya kebingungan. "Jangan-jangan kamu udah dapat cowok incaran kamu, Na?" lanjutnya.
"Apa sih, Far?" tanyaku balik sembari melihat ke arahnya.
"Hei ... Dengerin aku, Na. Di sini kamu itu sekolah yang benar, bukannya malah nyari cowok. Kamu mau di buang lagi ke Jepang?" tanyanya dengan nada agak keras.
"Hai-hai, Wakatta, [iya-iya, paham,]" jawabku malas.
Kemudian kami pun menuju ke aula. Sesampainya di sana, guru dan juga para senior meminta maaf, serta mengobrol satu dengan lainnya. Tetapi berbeda denganku, yang terus mencari sosok cowok berjaket merah tersebut.
"Eh, Na. Coba lihat itu," kata Fardil sembari menunjuk. "Dia itu senior paling tampan di sekolah, loh. Dia juga Ketua OSIS, dan juga menjadi ketua klub basket sekolah, yang kabarnya nyumbang banyak piala, Na," tambahnya.
"Oh, gitu," ucapku singkat.
"Kamu lagi lihatin siapa, Na?" tanyanya sembari melihat-lihat sekitar.
"Si jaket merah, Far," jawabku.
"Yang mana, Na?" tanyanya kebingungan. "Aneh kamu, Na. Cari orang yang enggak ada wujudnya, dan belum tentu ada," lanjutnya dengan nada mengejek.
"Eh ... Aku serius, Far. Tadi aku lihat ada cowok pakai jaket merah turun di tangga sana," ucapku untuk menyakinkannya.
"Iya, udah. Nanti kita lihat siapa cowok yang kamu maksud itu," kata Fardil sembari melihatku dengan santai. "Tapi kamu harus ingat, Na. Di sini kamu sekolah yang benar, jangan bikin ayahmu marah, dan membuatmu harus balik ke Jepang lagi. Aku bisa sedih nanti," lanjutnya dengan nada pelan.
"Kamu tenang aja, Far. Enggak perlu khawatir," ujarku sambil menepuk pundaknya.
Hari pun menjelang siang. Aku, dan Fardil sedang duduk di kantin, menikmati jam istirahat ospek. Aku melihat cewek-cewek yang kegirangan karena Kak Zulfy, siswa paling popular di sekolahan. Aku pun masih saja mencari sosok jaket merah tersebut, namun tidak bisa menemukannya.
"Kenapa, Na?" tanya Fardil penasaran.
"Itu, Far. Aku nyari cowok yang tadi enggak ketemu-ketemu," jawabku kecewa.
"Yang sabar, Na. Nanti juga bakalan ketemu sama dia," ujarnya sembari mengelus-elus pundakku. "Ngomong-ngomong, Na. Di sini itu ada cowok yang cukup keren, tapi dia suka banget bolos sekolah, sama berantem gitu, lah," lanjutnya.
"Hah? Terus pihak sekolah enggak ngeluarin dia gitu?" tanyaku santai.
"Hei, Na. Asal kamu tahu, ayah dia itu pendiri sekolah ini, mana mungkin anaknya sampai di keluarin," jawabnya tegas.
"Eh ... Benar juga sih, Far," ujarku sembari tetap melihat sekitar. "Emang dia kayak gimana, Far?" tanyaku penasaran.
"Tuh, Na. Lagi di pojokan kantin sana," ucapnya dengan menunjuk seorang yang menggunakan jaket berwarna merah tersebut.
"Astaga, Far. Dia itu cowok yang aku maksud tadi," ujarku sembari memukul-mukul pelan pundak Fardil.
"Yang itu, Na?" tanyanya untuk menyakinkan.
"Iya, Far. Cowok itu," jawabku kegirangan. "Far, kamu tahu enggak namanya?" tanyaku.
"Hm ... Jangan panggil aku Ratu Gosip kalo enggak tahu hal-hal di sekolah ini," ucapnya dengan nada sombong. "Namanya Haikal Dirgantara, ayahnya pemilik Perusahaan Dirgantara," lanjutnya.
"Oke, Far. Terus?" tanyaku penasaran.
"Eh ... Tunggu dulu, Na. Kalo mau tahu info tentang dia, kamu harus traktir aku makan di Restoran HanaYumi dulu," jawabnya sambil tersenyum manis kepadaku.
"Udah, tenang aja. Beres masalah itu," kataku dengan nada santai, kemudian Fardil menceritakan semua hal yang dia ketahui tentang cowok berjaket merah tersebut.
Hari sudah sore, dan waktunya pulang sekolah. Seperti biasa, aku selalu di jemput oleh sekretaris pribadi ayahku, yang sering aku panggil Kak Noel. Saat sudah berada di dalam mobil, aku melihat Haikal pulang dengan menggunakan sepeda, dan seketika aku mendapat ide untuk mendekatinya.
"Kak Noel, besok aku ke sekolah naik sepeda," perintahku yang membuatku Kak Noel melihatku serius.
"Maaf, nona. Nanti saya bisa di marahin sama tuan besar jika tahu akan hal tersebut," kata Kak Noel dengan nada pelan.
"Ya, aku tahu Kak Noel. Maka dari itu kakak harus menutupi hal tersebut dari ayahku. Karena ini adalah perintah dariku," ucapku agak keras.
"Baik, Nona. Akan saya usahakan," katanya dengan menyalakan mesin mobil, dan kami pun pulang.
Sesampainya di rumah, banyak pelayan menyambutku seperti biasanya. Hal tersebut karena aku merupakan putri dari pemilik Perusahaan Tachibana Enterprise. Perusahaan yang cukup besar di Negara Jepang. Alasanku bisa sekolah Indonesia karena amanah dari mendiang ibuku. Di sini aku tinggal hanya bersama Kak Noel, dan para pelayan. Sedangkan ayahku sibuk bekerja di Jepang.
Malam telah tiba, aku pun kemudian bersiap untuk makan malam bersama dengan para pelayan. Di sini, kami semua sederajat, atau bisa di bilang tidak ada perbedaan antara majikan, serta pelayan. Bibi Naki, merupakan pelayan paling lama, alias paling lama. Dan Bibi Naki sudah aku anggap sebagai ibu sendiri. Saat di meja makan kami semua bercerita, serta bersenda gurau. Hal itu, hanya bisa aku lakukan saat aku pindah di Indonesia sekarang.
Selesai makan malam, aku pun ke kamar untuk bersiap tidur. Namun saat hendak tidur, aku terus-menerus cowok yang bernama Kak Haikal tersebut.
"Cowok setampan dia, kenapa memiliki banyak musuh di sekolah? Tapi dia keren banget, kayak tokoh anime yang sering aku tonton," batinku sembari tersenyum melihat langit-langit kamarku.
Keesokan Harinya ....
Melihat cahaya matahari mulai menerangi kamarku. Aku pun membuka pintu balkon, dan melihat Kak Noel sedang mengelap sepeda yang akan ku pakai untuk berangkat sekolah nanti.
"Noel Niichan, Ohayou, [Selamat pagi, Kak Noel,]" sapaku dengan berteriak cukup kencang, dan hal tersebut membuatnya terkejut. Kemudian dia hanya melambaikan tangannya, sembari tersenyum manis kepadaku.
Segera aku mempersiapkan, buku serta barang-barang yang di perlukan untuk sekolah. Aku pun mendapat informasi dari Fardil jika, Kak Haikal biasanya sampai sekolah jam enam lebih empat puluh lima menit pagi. Hal tersebut membuatku harus berangkat lebih awal, karena jarak rumahku ke sekolah yang lumayan jauh. Saat di garasi, aku melihat jika sepeda milikku telah di bersihkan oleh Kak Noel.
"Hati-hati, Nona Nanami," ucap Kak Noel mendekatiku. "Sekarang buka mulut anda, nona," lanjutnya.
"Ahhkk."
Aku pun membuka mulutku tanpa pikir panjang, dengan lembut Kak Noel memasukkan roti isi rasa selai berry. Aku pun hanya bisa kebingungan, sedangkan Kak Noel hanya bisa tertawa setelah mendengarkanku menggerutu sembari menggigit roti isi.
"Hahahaha, Nona sangat lucu. Sekarang, nona berangkat, nanti bisa telat," ujarnya.
Saat aku agak kesal, aku pun teringat jika ingin bertemu dengan Kak Haikal di parkiran sekolah. Hal tersebut mengurungkan niatku untuk memarahi Kak Noel, dan segera berangkat ke sekolah.
Sesampainya di parkiran sekolah aku melihat jam tanganku menunjukkan pukul enam lebih empat puluh menit, artinya masih ada waktu lima menit sampai Haikal sampai ke sekolah.
"Ah ... Ah ... Capek banget," kataku sembari memakirkan sepeda milikku.
Tidak lama kemudian, aku melihat seseorang memakai jaket hitam dengan tudungnya, hingga membuatku tak bisa melihat wajahnya. Lalu dia memakirkan sepedanya di dekat sepedaku, sembari membuka tudung jaketnya. Alangkah terkejutnya aku saat mengetahui sosok tersebut adalah Kak Haikal. Memiliki badan yang tinggi, serta ideal. Berkulit putih, dan bermuka dingin namun tetap keren. Aku menatap dia yang sedang berjalan menuju ke arahku.
"Aku harus berani, Aku harus bisa," batinku semangat.
"Pa ... Pa ... Pagi, Kak Haikal," sapaku dengan gugup.
Namun bukannya menjawab sapa dia pun hanya berjalan melewatiku dengan santai. Melihat hal tersebut, aku pun segera bejalan mengikuti, hingga tak sadar sudah berada di sampingnya.
"Astaga, dia tampan banget," batinku dengan jantung berdebar-debar.
"Eh ... Kak Haikal udah sarapan, kah? Kalo belum aku punya roti isi untuk kakak," ujarku sembari mengeluarkan roti isi dari bekal milikku.
"Hm ... Kau siapa?" tanyanya dengan nada dingin.
"Anu ... Kak. Namaku Nanami dari kelas sepuluh-A, biasa di panggil Nana," jawabku pelan.
"Oh ...."
Kemudian dia pun berhenti berjalan, dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Dengan mengambil roti isi milikku, dan menggigit ujung rotinya.
"Enak, makasih," katanya dengan berjalan meninggalkanku.
Melihat kejadian tersebut, aku pun hanya bisa terdiam seperti patung. Namun hal tersebut tidak berangsur lama saat aku mendengar seseorang memanggil-manggil namaku.
"Nanami ... Nanami-chan," sapa Fardil sembari menepuk pundakku. "Eh ... Kamu kerasukan apaan, Na?" tanyanya kebingungan.
"Far ... Nanti aku ceritain waktu istirahat," jawabku sembari berjalan ke kelas, di ikuti Fardil yang masih bingung.
Setelah mata pelajaran di mulai, aku pun masih teriang-inang di pikiranku. Pelajaran demi pelajaran, aku mencoba untuk tetap fokus agar tidak membuat nilai ujianku menurun.
Saat jam istirahat, aku dan juga Fardil pergi ke taman sekolah dekat kelas untuk makan bekal bersama. Walaupun memiliki banyak pelayan di rumah, aku tetap membuatku bekalku sendiri. Kemudian aku pun menceritakan kejadian tadi pagi ke Fardil sembari menikmati bekal makan siang, namun Fardil nampak kurang percaya dengan cerita, dan aku tidak mempermasalahkan hal tersebut karena dia belum bertemu langsung dengan Kak Haikal.
"Hei ... Kamu Nana, kan?" tanya seseorang yang membuatku langsung menoleh ke arahnya.
"Eh ... Iya benar, aku Nana? Siapa, ya?" tanyaku bingung.
"Na, dia itu Kak Zulfy. Orang paling populer di sekolah kita ini," bisik Fardil sembari tersenyum ke arah Kak Zulfy.
"Kak Zulfy? Populer?" batinku.
"Haduh ... Maaf, Kak Zulfy. Emang Nana suka lupa orangnya," ucap Fardil dengan nada senang.
"Hahaha. Enggak apa-apa," katanya dengan tersenyum ke arahku. "Maaf kalo ganggu makan siang kalian," lanjutnya.
"Enggak kok, kak. Silahkan, kak. Duduk sini," ujar Fardil, dan Kak Zulfy pun langsung duduk di dekat Fardil.
"Eh ... Iya, makasih," kata Kak Zulfy dengan terus melihatku.
"Na, aku punya firasat buruk kalo kamu dekat-dekat sama dia, jadi mending kamu pergi aja dari sini. Biar aku urus dia," bisik Fardil dengan nada semangat.
"Bilang, aja. Kalo kamu ingin berduaan sama dia," bisikku.
"Udah, sana," usirnya dengan nada pelan.
"Eh, maaf. Nana ada urusan, dah," pamitku.
Segera aku pun pergi meninggalkan mereka hingga membuatku tidak sadar jika aku berlari menuju parkiran sekolah. Saat hendak kembali ke kelas aku melihat Kak Haikal yang nampak akan membolos sekolah dengan sepeda miliknya.
"Kak Haikal!" teriak sambil menghampirinya.
Mendengar hal tersebut dia pun hanya menoleh ke arahku, dan tidak membalas perkataanku. Dengan segera dia pun pergi dengan sepeda, melihat hal tersebut aku pun segera mengikutinya dengan sepeda milikku. Tanpa aku sadari, aku ikut dengan untuk bolos sekolah pertama kalinya. Saat sampai di perempatan yang cukup jauh dari sekolah, Kak Haikal melihatku sembari tertawa.
"Hahaha. Apakah ini pertama kalinya kamu membolos sekolah?" tanyanya.
Aku hanya bisa mengangguk pelan, sembari melihat ke arah sekolah.
"Udah, enggak usah takut. Sini ikut aku," ajaknya.
Aku pun terus mengikutinya dari belakang, dan hal ini merupakan momen seru dan juga menegangkan bagiku. Beberapa saat kemudian, kami pun sampai di sebuah tempat rumah yang tidak layak huni. Rumah tersebut memiliki tembok yang retak, serta terdapat coretan-coretan di dinding. Seketika Kak Haikal langsung menarik tanganku, dan membawaku masuk ke dalam rumah tersebut.
"Kenapa Kak Haikal mengajakku masuk ke dalam rumah ini? Apa jangan-jangan aku mau di apa-apain sama Kak Haikal?" batinku takut.
Setelah masuk ke dalam aku pun terkejut, karena melihat ada enam anak-anak kecil tengah berkumpul dengan membawa buku dan juga pensil tulis mereka masing-masing.
"Mereka ngapain, Kak?" tanyaku kebingungan.
"Oh, mereka? Mereka adalah anak-anak yang bisa mendapat pendidikan di bangku sekolahan," jawabnya sambil duduk di depan mereka. "Di sini aku membantu mereka untuk bisa membaca dan juga berhitung, hanya itu lah yang aku bisa," lanjutinya.
Segera aku duduk di sebelah Kak Haikal dan mengambil buku tulis salah satu anak tersebut untuk melihat hal-hal yang sudah di ajari oleh Kak Haikal.
"Halo, adik-adik. Namaku Kak Nanami," sapaku dengan ceria.
"Hei, kak," sapa mereka bersamaan.
"Aku enggak menyangka kalo kakak orangnya baik, banyak yang bilang kalo kakak mirip iblis, tapi aku melihat kakak seperti malaikat tanpa sayap," kataku dengan membantu anak-anak tersebut.
Dengan sigap Kak Haikal hanya tersenyum manis, sembari mengacak-acak rambutku. Dan aku pun juga membalas senyuman manisnya.
Enam Bulan Kemudian ....
Setelah enam bulan kemudian, hubunganku dengan Kak Haikal semakin akrab dan juga lengket layaknya permen karet. Kak Haikal memiliki kegemaran yang sama seperti aku, yaitu menonton anime, band ganre rock dan juga lainnya. Hari-hari aku lalui dengan Kak Haikal, seperti bolos sekolah untuk mengajari anak-anak tidak mampu tersebut, ataupun mencari tempat-tempat keren lainnya. Namun karena aku sering bersama dengan Kak Haikal, pernah sekali membuatku harus beradu argumen, dan terkena pukulan dari preman gang.
Aku pun tidak sadar jika di bulan dan hari ini, merupakan hari di mana ayahku pulang ke rumah setelah berbulan-bulan di jepang.
"Aku pulang," kataku dengan melihat ayahku duduk santai di sofa ruang tamu. "Otousama, [Ayah,]" lanjutku kaget, dan Kak Haikal hanya bisa terdiam.
"Kare wa dare? Anatano kareshii? Ha ... Dare ... [Cowok itu siapa? Pacarmu? Ha ... Siapa?]" tanya ayahku dengan nada tegas. "Jaa raishuu nihon he ikimasu, [Kalo begitu minggu depan pergi ke Jepang,]" lanjutnya.
"Demo otousama, kare wa watashi no tomodachi dake, kareshii dewanai, [Tapi ayah, dia itu teman, aja. Bukan pacar,]" ujarku serius, namun ayahku tidak berkata apapun dan pergi meninggalkanku.
Selama satu minggu terakhir ini, aku menghabiskan waktu bersama dengan Kak Haikal. Hal tersebut membuat kami berdua sangatlah sedih, namun yang hanya bisa kami lakukan hanyalah menerima keadaan. Hingga hari aku berangkat ke Jepang akhirnya datang juga, di bandara Kak Haikal menemani aku, dan di situlah aku terakhir kali melihat Haikal Si Jaket Merah.
Saat berada di dalam pesawat, aku melihat pemandangan kota, sembari terus mengingat momen-momen indah bersama dengan Kak Haikal. Aku pun juga membuatnya surat, yang aku titipkan ke Fardil untuk di berikan setelah aku berangkat ke Jepang.
–//– –//– –//–
Untuk: Haikal Si Jaket Merah
Hey, kak.
Maaf, ya. Karena sudah merepotkanmu waktu aku bersamamu dulu, aku harap kita bersama lagi. Oh, ya. Jika kakak menerima surat ini berarti aku sudah berangkat ke Jepang, namun ada hal yang belum aku sampaikan waktu kita bersama dulu. Sejak pertama kali melihat kakak, aku langsung jatuh cinta pada kakak. Dan di saat itulah petualanganku di mulai, saat kakak mengajakku untuk membantu anak-anak yang tidak mampu untuk belajar, kemudian ke tempat-tempat yang belum aku kunjungi sebelumnya, dan lain sebagainya. Aku hanya bisa berterimakasih pada kakak. Serta aku mau bilang kalo semua kontak dan juga akun media sosialku, semua telah di ganti oleh ayahku, dan hanya orang tertentu saja yang mendapatkan izin untuk memilikinya. Terima kasih untuk segalanya, kak. Dan juga jangan sering bolos sekolah. Aku sayang, kakak.
Tachibana Nanami
–//– –//– –//–
Lima tahun kemudian ....
Saat ini aku kuliah di salah satu kampus terbaik di Jepang, serta aku juga sedang belajar untuk mengelola perusahaan ayahku, dengan di bimbing langsung oleh Kak Noel. Beberapa hari lalu, aku sangat terkejut karena Kak Noel menyatakan cinta kepadaku, namun aku pun menolaknya dan menganggapnya sebagai kakakku sendiri. Hal ini karena hatiku masih belum bisa melupakan Kak Haikal.
Saat sedang menikmati daun-daun merah yang berguguran di musim gugur, aku mendengar ponselku berdering. Saat aku lihat ternyata nomer orang tak di kenal, aku pun yang penasaran langsung menjawab teleponnya.
"Hai, moshi-moshi, [Iya, halo,]" kataku santai.
"Ternyata benar kalo ini Nana, ngapain kamu berdiri sendirian di taman sembari melihat pohon?" tanya seseorang yang suaranya seperti aku kenal.
"Taman? Tunggu-tunggu siapa ini?" tanyaku sembari melihat kanan-kiri.
"Lihatlah ke belakang, Na," perintahnya.
Saat menoleh ke belakang aku pun melihat Kak Haikal memakai jaket merah miliknya, sembari melambaikan tangan kepadaku, dan tersenyum manis ke arahku. Melihat hal tersebut aku langsung berlari menuju ke arahnya, dengan perasaan yang sangat senang.
"Bagaimana bisa kakak ke sini? Dan juga mendapat kontak nomerku?" tanyaku sembari memeluknya dengan erat.
"Sekarang aku sudah mewarisi perusahaan milik ayahku, dan perusahaanku sekarang berkerja sama dengan perusahaan milik ayahmu. Itu lah yang membuatku bisa mendapat kontakmu dari ayahmu," jawabnya sambil membalas pelukanku.
Setelah hampir lima tahun lebih, akhirnya aku bisa bertemu dengan seseorang yang sangat aku sayangi. Seseorang yang tidak bisa aku lupakan, dan sering aku ingat. Kemudian kami pun berjalan keluar taman, sambil aku memeluk erat tangan kirinya dengan erat. Karena aku tidak ingin sekali lagi kehilangan Kak Haikal si Jaket Merah.
–//––//–TAMAT–//––//–
Jangan lupa untuk Like, dan Comment. Agar Author semakin semangat menulis ceritanya.
Ide & Penulis Cerita: Rin Gumi
Editor: Rusian07