Sinopsis :
'Awas jatuh cinta.' Mungkin itu terdengar seperti kalimat sederhana, biasa saja, dan justru malah terdengar seperti suatu peringatan. Tapi untuk beberapa orang, kalimat itu dapat membuat jantung berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ini bukanlah sebuah cerita romantis penuh perjuangan seperti kebanyakan cerita lainnya. Ini hanyalah sebuah cerita tentang bagaimana kalimat tersebut disampaikan kepada orang yang pernah menyampaikan kalimat ini juga.
⚠️ Warning:
- GxG story
- Menggunakan unsur K-Pop (Hanya Cast)
Yg gak suka/anti terhadap 2 hal di atas, lebih baik minggat sekarang.
Sekian~
------- Happy Reading -------
.
.
.
.
.
09/01/2019
.....................
Author POV
12.10 A.M
Hwang Yeji, seorang wanita cantik nan imut yang tentu saja baik saat ini sedang melamun.
Tidak sepenuhnya melamun, hanya sedang mengingat-ingat hal apa yang membuatnya berada di sini sekarang. Sambil menatap seorang perempuan yang lebih muda darinya sedang bekerja melayani berbagai pelanggan di sebuah toko hewan peliharaan.
.
.
.
Yeji POV
Untuk seseorang yang mengisi kekosongan hatiku selama ini. Shin Ryujin. Maaf peringatanmu waktu itu sudah tidak berlaku. Karena aku sudah jatuh dan sampai sekarang aku masih sangat mencintaimu. Walaupun begitu, aku tidak tau bagaimana denganmu.
Dulu dia pernah mengatakan kalau ia sangat menyukai hewan, apalagi hewan peliharaan. Oleh karena itu sekarang dia berada di sini. Dulu juga, matanya menatapku dengan pancaran kelembutan sekaligus cinta. Tapi sekarang....
Aku pun mulai mengingat berbagai hal yang terjadi dari pertemuan pertama kami.
.
.
.
Flashback On
2 tahun yang lalu...
12.15 A.M
Hari ini seperti biasa, setelah pulang kuliah aku bekerja sebagai seorang kasir di sebuah cafe. Cafe tempatku bekerja bukanlah cafe kecil. Biasanya yang datang ke tempat ini hanya orang-orang kantoran yang akan meeting atau anak-anak kuliahan yang kaya dan akan menongkrong ataupun hanya sekedar mengerjakan tugas mereka. Berbeda denganku yang malah menjadi seorang pegawai bagian kasir di cafe ini.
Lokasi cafe ini strategis, harganya bisa dibilang terjangkau untuk para kaum atas, para pelayan yang good-looking, dan juga terdapat halaman parkir yang luas. Itu semua adalah daya tarik dari cafe ini.
Aku bekerja disini sudah mulai dari saat aku masih berada di kelas 12. Kondisi ekonomiku saat itu kurang bagus. Walaupun aku akan menjadi seorang pewaris tunggal perusahaan yang dimiliki ayahku yaitu Hwangs Company, saat itu belum tiba sekarang. Jadi, aku memutuskan untuk memenuhi kebutuhan hidupku sendiri.
Tidak satupun dari sahabat-sahabatku mengetahui hal tersebut. Dan mereka terlihat memang tulus mau bersahabat denganku, itu salah satu nilai positifnya.
Aku bisa melakukannya. Buktinya aku bisa hidup sampai sekarang tanpa fasilitas dan uang sepeser pun dari ayahku. 'Asalkan ada kemauan pasti ada jalan.' Begitu kata pepatah.
Kembali ke kondisiku saat ini. Aku sedang berdiri di depan komputer yang ada di atas meja kasir ini. Saat ini pelanggan sedang sepi. Aku pun memutuskan untuk istirahat sejenak, sebelum...
"Permisi, saya mau pesan," terdengar suara berwibawa dari seorang perempuan.
"Oh, iya kak. Selamat siang, mau pesan apa?," tanyaku dengan sopan.
"Saya mau pesan hot cappuccino, french fries, vanilla latte, dan burger masing-masing satu ya. Udah itu aja," jawab perempuan itu. Wajahnya imut sekali. Tapi dia terlihat berwibawa dengan jas putihnya.
"Baik, saya ulangi. Hot cappuccino satu, french fries satu, vanilla latte satu, dan burger satu. Totalnya 43.000 won, kak,"
"Oke, ini uangnya. Ambil aja kembaliannya buat kamu," katanya sambil tersenyum seraya menaruh beberapa selembar uang 50 ribuan won.
"Ah, baik kak. Terima kasih," jawabku.
"Mhm, iya sama-sama. By the way, namaku Shin Ryujin. Kamu bisa panggil aku Ryu, Ryujin, atau saya juga gak papa hehehe, biar gak terlalu formal," katanya memperkenalkan diri. Padahal kan aku tidak bertanya. Ya sudahlah, pelanggan adalah raja.
"Baik kak Ryujin," kataku dengan kata kak. Aku sedikit merasa tidak enak jika memanggilnya langsung dengan nama.
"Gak usah pake kak juga kali. Berasa tua banget akunya. Aku masih 20 tahun loh. Masih muda kan?," Katanya. Sepertinya dia meminta persetujuan dariku.
"Iya, kak eh- maksud saya Ryujin. Iya Ryujin,"
"Nah, begitu dong. Kan jadi enak ngobrolnya kalo gini. Oh iya, kamu masih kuliah atau udah kerja sekarang? Keliatannya aku sedikit lebih muda deh daripada kamu," Ini maksudnya apa? Kok jadi panjang begini? Kan tadi aku menjawab pertanyaannya hanya untuk formalitas. Kenapa dia jadi kepo begini?
"Hm... Masih kuliah sih kak eh- maaf lagi Ryujin maksudnya. Iya, aku sedikit lebih tua dari kamu. Aku 21 tahun," jawabku. Sebenarnya aku masih merasa tidak enak jika seperti ini. Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya kami bertemu.
"Ohh... Pantes. Oh iya, nama kamu siapa? Tadi kamu belum kasih tau loh," tanyanya.
"Namaku Hwang Yeji. Biasanya dipanggil Yeji," jawabku memperkenalkan diri.
"Ah, ini pesanannya sudah siap Ryu,"
"Oke cantik," katanya. Ha? Loh kok? Maksudnya? Tanpa sadar aku terus memerhatikannya dari belakang.
Oh, ternyata dia sedang bertemu dengan temannya. Pantas saja pesanannya cukup banyak. Pelanggan cafe ini sedang sepi dan itu memudahkanku untuk tetap memerhatikannya tanpa tergganggu dengan pesanan para pelanggan.
Dia terlihat berdebat dengan orang itu. Lalu menyandarkan punggungnya ke senderan kursi tersebut. Aku masih terus memerhatikannya. Hingga akhirnya dia mulai beranjak dari kursinya. Tapi tunggu....
Kenapa dia malah berjalan ke arah sini? Apa yang harus aku lakukan? Apa dia mengetahui kalau daritadi aku memerhatikannya terus? Atau apa? Ah sudahlah, aku pura-pura tidak lihat saja.
"Kalau mau merhatiin mah, ya perhatiin aja kali. Gak perlu jadi pura-pura gak liat gini. Tapi Ji, kalo merhatiin terus orang lain kayak tadi, aku cuma mau bilang. Awas jatuh cinta," Aku tidak tau itu peringatan atau apa. Tapi aku cukup lega, karena setelah mengatakan itu ia langsung keluar dari cafe. Dia sedikit membuatku penasaran.
Tadi dia bilang apa? Jatuh cinta? Astaga. Sepertinya dia suka ngelantur, ya. Mana mungkin juga aku jatuh cinta kepada orang sepertinya. Kalau hanya penasaran sih, mungkin iya.
Aku menghabiskan waktu di cafe sampai jam 7 malam. Setelah itu, aku bertukar shift kerja dengan temanku yang mendapat shift malam. Aku pun kembali ke rumahnya seperti biasa.
.
.
.
Sesampainya di rumah...
"Aku pulang!," kataku dengan sedikit berteriak.
"Wah, putri kita yang sangat pekerja keras sekaligus kelas kepala ini sudah pulang rupanya, Yah," Ini perkataan bundaku.
"Iya Bun. Kayaknya capek banget tuh. Pijitin kali ya?," tanya ayah. Aku tau itu hanya bercanda.
"Hahahah.... Ayah bisa aja. Yaudah Ji, makan malem sana. Pasti kamu belum makan kan?," tebak bunda.
"Iya Bun. Belum nih. Yaudah, aku bersih-bersih dulu ya sebentar. Abis itu baru makan," kataku.
"Iya, cepetan ya. Kamu udah ketinggalan 10 menit dari kita," Kalau yang ini perkataan abangku. Namanya Hwang Hyunjin.
"Iya bang. Aku nyusul nanti. Makannya jangan cepet-cepet banget juga, oke? Tungguin aku ya," aku memberikan peringatan kepada ketiga orang di ruang makan tersebut.
.
.
.
09.16 P.M
Aku sudah merebahkan diriku di atas kasur empuk milikku.
Hari ini, aku bertemu dengan seseorang bernama Shin Ryujin saat sedang melakukan shift tugasku di cafe. Dia cantik, imut, terlihat berwibawa, sangat dewasa, dan yang pasti dia juga terlihat tampan.
Aku kembali teringat dengan perkataannya yang ia katakan tepat sebelum keluar dari cafe tadi. 'Awas jatuh cinta' itulah kata-kata yang aku pikirkan. Dan mungkin akan menjadi sesuatu yang mengganggu pikiranku mulai saat ini hingga beberapa hari ke depan nanti.
Aku sudah lelah berpikir. Oleh karena itu, mari tidur. Selamat malam dunia.
.
.
.
Hari ini adalah peringatan 1 tahun kami berpacaran. Iya, aku berpacaran dengan Shin Ryujin. Seorang wanita yang aku temui di cafe waktu itu.
Aku tidak menyangka hubungan kami bisa seserius ini. Padahal, awalnya kupikir ini hanya akan menjadi hubungan singkat seperti yang dulu kulalui. Tapi ternyata, dia sepertinya sangat menyukaiku. Hingga membuatku luluh dan merasa sepertinya aku juga menyukainya.
Ryujin sampai sekarang masih belum tau bahwa aku adalah seorang pewaris tunggal perusahaan besar Hwangs Company. Dan dia terlihat tidak penasaran juga dengan asal-usulku. Justru aku yang sedikit penasaran dengan asal-usulnya. Ingat, hanya sedikit loh ya....
"Hai kak," Kalau dia sudah panggil aku dengan sebutan 'Kak' pasti dia sedang menginginkan sesuatu dariku.
"Mau apa kamu?,"
"Idih, galak banget sih pacar aku... Gini kak, kan aku baru dateng, jadi ya wajar dong aku nyapa kamu dulu. Kan kamu udah di sini duluan. Hehehe,"
"Buruan kenapa? Gak usah sok sopan sama aku. Biasanya juga kamu manggil aku Ja-Ji-Ja-Ji aja tuh,"
"Iya-iya. Tapi sebelumnya, Happy our 1st Anniversary. Jadi, aku mau minta satu ciuman dari kamu. Itu yang aku minta,"
"Hah? Gimana? Gak ah. Jangan aneh-aneh Ryu," Aku merasa wajahku sedikit memanas.
"Gak aneh kok. Aku juga minta itu bukan tanpa alasan. Ada alasannya. Jadi, besok aku bakalan pergi ke rumah sakit yang ada Mokpo sekaligus kerja di sana selama 1 tahun. Tapi, tenang aja. Aku bakalan nyempetin ke Seoul kok,"
Tanpa banyak tanya lagi, aku langsung mencium dia tepat di bibirnya. Saat ini aku sedang berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau aku benar-benar menyukainya. Mungkin jawabannya sudah kudapatkan, karena sepertinya aku bukan hanya menyukainya tapi juga mencintainya.
"Makasih banyak ya kak. Aku akan terus ingat hal ini sampai kapanpun. Aku gak akan pernah ninggalin kakak. Aku janji. Sekali lagi, Happy our 1st anniversary ya kak,"
"Iya Ryu. Happy our first anniversary,"
Iya, ini adalah hari jadi pertama kami. Kuharap, aku bisa terus bersamanya walaupun jarak memisahkan kami. Semoga Tuhan mendengar dan mengabulkan hal itu.
.
.
.
11.52 P.M
Ryujin sudah pergi ke Mokpo selama 11 bulan. Huh, semangat Yeji. Tersisa 1 bulan sebelum kepulangannya ke sini. Aku sudah tidak sabar menanti kedatangannya.
Selama 11 bulan ini, dia sering sekali menghubungiku. Kami usahakan untuk tidak pernah miscommunication apalagi sampai lost contact.
Aku sudah mulai memikirkan harus melakukan apa saat dia pulang nanti. Kira-kira apa yang harus aku lakukan, ya? Membelikan dia kado spesial? Membuat makan malam di tempat romantis? Atau apa?
Ha! Aku dapat ide. Bagaimana kalau aku menulis sebuah puisi lalu menggambarkan wajahnya di sebelah tulisan puisinya? Tapi, aku tidak bisa menulis puisi apalagi menggambar. Hmmm... Apa yang bisa kulakukan? Memasak? Aku tidak bisa melakukan itu juga. Merangkai bunga? Membuat polaroid? Atau apa ya??? Hah, masa' tidak ada satupun hal yang dapat kulakukan di dunia ini?
Tenang saja Yeji, masih ada waktu 30 hari lagi sebelum dia datang. Aku terus menerus menenangkan hatiku sekaligus mencari suatu hal yang harus kulakukan untuknya. Apapun itu nantinya, yang pasti itu harus benar-benar spesial.
Aku jadi bingung sendiri memikirkannya. Sudahlah, tidur saja. Siapa tau aku mendapat hikmat setelah bangun dari tidur. Selamat malam.
"Kak Yeji, ini aku Ryujin,"
"Oh Ryu. Ada apa? Biasanya kalo kamu manggil aku pake 'Kak' pasti bakalan minta sesuatu. Sekarang kamu mau apa?,"
"Gini kak. Aku cuma mau bilang terima kasih untuk selama ini. Aku mencintai kakak. Aku tidak akan meninggalkan kakak. Hanya saja untuk beberapa waktu kedepan, aku mungkin tidak menjadi seperti biasanya. Maafkan aku untuk hal itu,"
"Hah? Tidak seperti biasanya? Kamu mau berubah? Yaudah, pesen aku berubah jadi lebih baik ya. Jangan jadi lebih buruk. Oke?,"
Dia hanya tersenyum. Kenapa tidak menjawab? Pertanyaan yang kuberikan itu simple kok. Sangat mudah untuk dijawab.
Biasanya, kalau aku memberi pertanyaan dengan akhir 'oke?' dia pasti langsung meresponnya dengan lantang dan cepat. Kenapa sekarang tidak?
Tiba-tiba, aku merasa Ryujin seperti terpental dengan sangat keras. Setelah itu, semuanya menjadi gelap.
.
.
.
06.06 A.M
"AAA!!! Hah-hah-haahh. Apa itu? Kenapa aku bermimpi seperti itu? Apa terjadi sesuatu kepada Ryujin? Ah, aku harus mengeceknya,"
Aku segera mengambil handphone-ku yang berada di atas nakas sebelah kasurku. Langsung saja aku mencari kontak atas nama Ryujin.
"Yeobseo? Yeobseo, Ryujin-ah. Are you okay?,"
"Ne, eonni. I'm okay, how about you? Are you okay? Why did you ask this to me?,"
"Ah... Ehm-, ye gwenchanhayo," Aku daijoubu kok. Aku malah mengkhawatirkanmu Ryu...
"Hmmm... If you're okay, I'm sorry for disturbing you. And also, please keep yourself okay. Annyeong," Aku langsung menutup teleponnya begitu saja setelah mendengar bahwa dia baik.
Aku harap mimpi buruk tadi hanyalah sebuah mimpi. Bunga tidur yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Ya, kuharap begitu. Tapi bagaimana jika harapanku itu hanya menjadi sekedar harapan?
Ah, sudahlah. Lagipula tadi Ryujin bilang dia baik-baik saja. Aku harus melanjutkan persiapanku untuk menyambutnya.
.
.
.
11.12 A.M
Dering handphone-ku berbunyi dengan keras menandakan ada seseorang yang menelponku. Kemudian aku membaca nama si pemanggil di ponselku. Oh, dari Ryujin rupanya.
"Ya, halo Ryujin. Ada apa menelponku?,"
"Mohon maaf sebelumnya. Shin Ryujin saat ini berada di rumah sakit 'Haengboghan' karena sebuah kecelakaan bus. Kontak terakhir yang dia hubungi adalah kamu. Jadi, mohon datang ke sini secepatnya. Terima kasih," Sambungan tersebut mati.
Ha? Apa? Otakku sedang memproses semuanya. Ryujin. Jadi, yang di dalam mimpiku itu, benar-benar terjadi sekarang?
"RYUJIN!!!," Aku langsung melesat mengambil kunci mobilku lalu pergi ke rumah sakit yang disebutkan oleh perawat tadi.
Semoga Ryujin bisa ditangani oleh dokter dan dalam kondisi baik-baik saja. Semoga begitu.
.
.
.
12.01 A.M
Sesampainya aku di rumah sakit tersebut, aku langsung berlari ke arah meja resepsionis untuk menanyakan letak ruang rawat Ryujin.Setelah itu, aku pun melangkahkan kakiku menuju ke sana.
Aku baru sadar ternyata banyak yang sepertiku di sini. Kulihat seorang dokter keluar dari ruangan itu.
"Dok! Dokter! Bagaimana keadaan kekasih saya? Shin Ryujin,"
"Terjadi benturan yang cukup keras di bagian kepalanya. Tapi tenang saja, tidak ada masalah serius. Untung saja dia tidak duduk di barisan belakang. Kita hanya perlu menunggunya sadar. Kalau begitu, saya permisi,"
Huh... Semoga kamu cepat sadar Ryujin. Aku menunggumu di sini.
Flashback Off
Mari kita kembali ke masa sekarang...
Hal itulah yang membuat Ryujin menjadi seperti sekarang. Sudah 1 bulan Yeji berusaha menghindarinya.
Dia merasa Ryujin memang sedikit berbeda dari biasanya. Tapi bukan itu yang membuat dia menghindarinya. Justru dia menghindar karena tidak tahu harus melakukan apa jika sudah berada di dekatnya.
Namun hari ini berbeda. Yeji yang biasanya hanya menatap Ryujin dari kejauhan, sekarang mau untuk mulai berjalan mendekat.
Setelah 5 menit ber-flashback, dia pun masuk ke dalam toko hewan peliharaan di depannya tersebut.
.
.
.
Ryujin POV
12.15 A.M
Aku melihat seorang wanita yang sering kali kulihat berdiri sambil menatapku dari luar tempat ini masuk ke dalam. Apa yang dia inginkan? Entahlah. Aku harus tetap profesional.
"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?," Aku bertanya dengan sopan.
"Ya. Dimana bagian penjualan kucing di sini?,"
"Oh, di sebelah sana kak. Mari, saya tunjukkan," Aku juga menjawab pertanyaannya dengan sopan.
"Oh begitu ya. Baiklah,"
Tanpa kusadari, aku terus memerhatikannya yang sedang memilih kucing mana yang akan dibelinya.
Jantungku berdegup kencang saat memerhatikan bagaimana caranya menatap kucing itu satu persatu, bagaimana keningnya berkerut saat sesuatu yang mungkin dia tidak sukai dilakukan oleh kucing tersebut, dan juga bagaimana caranya tersenyum saat mendapatkan apa yang ia mau.
Aku merasa familiar semuanya itu. Hingga dia menoleh ke arahku. Langsung saja aku mengarahkan pandanganku ke arah lain dan berusaha untuk tetap terlihat biasa saja. Sepertinya aku ketahuan...
"Aku pilih yang ini ya," Dia menunjuk seekor kucing yang sangat cantik. Bulunya putih lebat, matanya bulat berwarna biru, dan pastinya terlihat imut sekaligus cantik. Seperti yang memilihnya. Ih, aku berpikir apa sih...
"Ah, ehm-, baiklah. Kami akan menyiapkannya dalam 5 menit. Silahkan di tunggu," Aku langsung berjalan menjauhinya. Tapi baru saja aku berjalan 3 langkah, suaranya terdengar lagi. Lalu aku menghentikan langkahku.
"Kalo kamu mau merhatiin mah, ya perhatiin aja kali. Gak perlu jadi pura-pura gak liat gini. Tapi Ryu, kalo merhatiin terus orang lain kayak tadi, aku cuma mau bilang. Awas jatuh cinta," katanya.
Entah mengapa, aku merasa familiar dengan kalimat itu. Seperti pernah kudengar entah dimana. Dan darimana dia mengetahui namaku? Aku kan tidak sedang mengenakan nametag, seragamku juga tidak ada papan nama nya.
Setelah dia mengatakannya, dia pergi begitu saja meninggalkanku yang diam membeku di tempat.
'Hah... Aku harus menyiapkan pesanannya. Baiklah mari kita lanjut bekerja Ryujin. Fighting.'
-Awas Jatuh Cinta-
.................................
End