"Teruntuk Juni yang membawa mu lari bersama ceritanya"
######
Hari itu Sabtu di bulan Juni, kami bertemu di sebuah kedai kopi. Aku memesan americano dan kau cappuchino kesukaan mu, katamu hidupku sudah pahit untuk secangkir kopi hitam tanpa gula tetapi menurutku ada kau yang lebih manis itu pun sudah cukup. Kita sama- sama menikmati suasana, saling berbincang tentang keseharian hari ini. Tumpukan masalah seolah menguap di udara bersama asap kopi yang mengepul, dengan hanya bercakap dan bersitatap dengannya. Lagu Michael Learn To Rock mengalun indah mengisi ruangan, kau pun bersenandung mengikuti iramanya dengan riang. Dentum jantung menggema di telingaku, terpesona olehnya. Ku alihkan perhatianku pada tembok bata di ujung pandang, sambil meneguk kopi dengan asap yang masih mengepul. Rasa panas dan pahit terasa dari mulut menuju kerongkongan, tetapi siapa peduli ada kau dengan senyumanmu sudah cukup memberiku rasa manis. Kau tersenyum lagi, jantungku berdegup lebih kecang lagi, ku harap kau juga sama. Dengan memberanikan diri ku raih jemarinya ku genggam erat, kau tersenyum lagi. Kita saling menikmati degup jantung masing-masing. Tidak terasa tiga jam sudah berlalu, kita memilih pergi dari kedai itu setelah aku menyerahkan beberapa lembar uang kepada kasir.
Langit jingga dilandasan cakrawala kala itu tak nampak seperti biasanya terganti warna hitam keabuan. Kau menadahkan telapak tanganmu rintik- rintik kecil menempel disana, kau tersenyum lagi. Betapa hal sederhana mampu membuatmu bahagia. Ku rentangkan payung hitam yang ku siapkan ramalan cuaca di televisi tadi pagi memang benar. Ini hujan pertama di bulan Juni. Di bawah payung, bahu kami saling bersentuhan karena keterbatasan ruang debaran itu hadir lagi. Langkah kami seirama menyusuri trotoar jalan sama seperti hari- hari kemarin. Rintik hujan dan desiran angin terasa dingin menyentuh kulit. Jemari kami bertaut semakit erat menyalurkan kehangatan masing- masing. Katamu ini mirip adegan film romansa yang sering kau tonton atau sepotong cerita cinta di novel- novel. Disana terselip harapku kisah kita juga berakhir bahagia seperti kebanyakan naskah cerita atau film dimana sang lelaki dan wanitanya hidup bahagia hingga akgir hayat. Tetapi sebaik apapun kita berencana, sejauh apapun kita melangkah, bukankah Tuhan yang menghendaki semua hal? Kita hanya bisa berdoa. Hanya 30 menit perjalanan langkah kami terhenti di gerbang coklat tinggi. Itu rumahnya. Seperti biasa kau berbasa basi mengajak ku singgah, seperti biasa pula aku dengan penolakanku. Kau mengangguk maklum berpamitan dengan kata- kata manis pengantar tidur. Saat ingin pergi ku tahan tanganmu dalam tautan mata mu penuh tanda tanya yang kentara. Aku bisa melihatnya dengan begitu jelas penerangan jalan disini sangatlah memadai. Aku mendekatkan tubuhku padanya jantungku kembali berdegup kencang ketika sebuah kecupan ku daratkan di keningnya untuk pertama kali setelah dua tahun kebersaaman kami. Kau tersipu malu, aku tersenyum mungkin hari ini adalah moment terbaik sejak hari aku dilahirkan ke dunia untuk pertama kali.
Ku benarkan kerah denimku di depan cermin kamar mandi, senyumku mengembang melihat buket mawar merah yang telah ku persiapkan. Jantungku berdegup kencang hanya dengan memikirannya saja. Ku segera keluar mencari meja dekat jendela kaca, kau suka melihat keramaian jalan. Rumah makan ini tidak terlalu ramai pengunjung hanya ada satu keluaga yang terdiri dari empat orang terduduk di meja tengah dan seorang gadis di depan meja kami. Denting lonceng berbunyi pertanda ada orang masuk, ku lirik penuh harap itu adalah kau. Namun bukan, lelaki itu menuju meja gadis di depanku. Ku tebak mereka adalah sepasang kekasih. Sembari menunggu ku teguk air mineral yang tadi disuguhkan oleh si pelayan. Perihal dirimu aku selalu punya kesabaran tak terbatas yang entah datang dari mana. Suara ricuh terdengar dari luar rumah makan ini. Semua pengunjung berhamburan keluar. Aku pun salah satunya, halau-balau kendaraan terhenti, orang-orang berkerumun mengelilingi. Aku penasaran menghalau beberapa orang. Disana aku melihat kau, jantungku berpacu begitu cepat detakannya menggema di telinga tidak biasa. Segera ku peluk dirimu sambil berbisik "Kau akan baik-baik saja" dekapan ku semakin erat aroma anyir menyengat indra penciumanku. Mata ku merabun berlinang air mata orang- orang yang mengelilingi kami mungkin menatap iba kepadaku tetapi siapa peduli. Wajahnya memucat senyum cantiknya telah pudar. Aku lelaki egois yang telah membuat seorang wanita berpulang ke surga Tuhan saat pertama kali hadir di dunia. Apa kini harus kembali terulang? Ingin ku menyerahkan segenap napasku padanya, berbagi debaran jantung yang sama. Kau terkapar lemah dan aku tak berdaya. Ambulance datang tak lama mereka membawa mu pergi dan aku yang tetap berada di sisimu berbagi penuh kekhawatiran.
Hari itu Selasa di bulan Juni, kau memilih memejamkan abadi mata cantikmu sementara aku tetap disini menunggu dengan memori yang berputar ulang seperti sebuah kaset. Buket mawar merah dan secangkir cappuchino ku letakan di atas pusaramu, hari ini Selasa di Bulan Juni aku akan menunggumu lagi di rumah makan itu yang entah kapan kau akan menepatinya. Untukmu kesabaranku selalu tanpa batas. Aku tersenyum mengelus puncak kepalamu. Berpamitan seperti kencan kita seusai dari kedai kopi bedanya tidak ada kata-kata pengantar tidur darimu. Aku tersenyum jantungku masih sama berdegup kencang karena mu. Kemudian aku memilih pergi dari sana menuju tempat kita berjanji. Percayalah cerita cinta kita jauh lebih luar biasa dari sekadar film atau novel bahwa kita berada pada penantian masing- masing. Hari ini Juni kembali menghadirkan sosokmu dalam ingatan setelah membawamu lari bersama ceritanya.