Hujan dari pagi menghiasi kota Palembang, walaupun tidak deras tapi bisa membuat suasana menjadi sejuk. Dari pagi aku sudah duduk di sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku.
Tak terasa sudah satu tahun aku meninggalkan Bandung dan datang ke Palembang dengan membawa luka yang sangat dalam.
Hai namaku Safira Maharani dan biasa orang memanggilku dengan Fira. Usiaku sekarang dua puluh empat tahun, dan di Palembang ini aku kerja di rumah sakit menjadi cleaning servis.
Lumayanlah untuk buat aku hidup selama satu tahun ini.
Aku anak tunggal, orang tuaku mempunyai perkebunan teh di Bandung. Dan aku mempunyai kakak angkat bernama Dirga Kusuma.
Kami berdua tumbuh bersama dari kecil, dan kak Dirga sangat menyayangi dan melindungi aku dari apapun juga.
Tapi seiring berjalannya waktu, ada rasa yang berbeda yang aku rasakan untuk kak Dirga. Rasa seorang wanita dengan lawan jenisnya.
Tapi kak Dirga sudah mempunyai tunangan, aku tidak suka dengan tunangannya. Jadi setiap mereka ingin kencan aku selalu membuat rencana membatalkan kencan mereka berdua.
Sampai suatu hari, kak Dirga marah besar denganku karena aku mungkin sudah kelewatan
mengerjai tunangannya.
"Fira, apa yang kamu lakukan dengan Lia" tanya Dirga.
"Tidak ada kak" jawab aku berbohong.
"Kalau tidak ada, tidak mungkin dia menangis seperti itu" tanya Dirga lagi.
"Kakak selalu percaya dengan wanita ular itu, dari pada adikmu sendiri" ucap aku tidak mau kalah dengan kak Dirga.
"Tapi Fira...".
Aku langsung pergi meninggalkan kak Dirga yang belum selesai bicara, aku kesal karena dia selalu membela pacarnya yang sok cantik itu.
Dua minggu dari kejadian itu, aku tidak pernah bicara lagi dengan kak Dirga dan hari itu aku mendapatkan kabar kalau kak Dirga dan wanita ular itu akan mempercepat pernikahan mereka.
Dan itu kak Dirga sendiri yang memintanya. Aku pun berniat berbicara dengan kak Dirga, tapi waktu aku sampai di pintu kamarnya aku mendengar pembicaraan kak Dirga dengan seorang.
"Aku tahu kalau Fira menyukai aku, tapi itu tidak mungkin terjadi. Sampai kapanpun aku tidak pernah menyukai dia melebihi rasa suka seorang pria dengan wanita" sahut Dirga.
perkataan kak Dirga menghancurkan perasaan aku, aku tidak akan pernah ada harapan untuk memiliki dia. Akhirnya dengan keberanian yang aku miliki, aku minggat dari rumah dan pergi ke Palembang.
Mengingat kejadian itu membuat aku kembali merasakan rasa sakit hati yang ingin aku lupakan.
Aku menatap jalan melalui jendela yang sudah dibasahi oleh hujan. Betapa terkejutnya aku, diluar sana sudah berdiri orang yang paling ingin aku hindari. Tapi penampilannya sangat berubah, dia bukan kak Dirga yang aku kenal yang selalu mengutamakan penampilan.
Aku pun pura-pura tidak melihatnya dan melanjutkan acara makan aku yang tertunda tadi.
"Safira Maharani" tegur suara yang sangat aku kenal.
aku pun menengok kedepan, disana sudah berdiri kak Dirga dengan tampang lusuhnya.
"Kak Dirga" ucap aku pelan.
Aku pun langsung berangkat dari tempat aku duduk dan membayar makanan yang aku makan. Kemudian melangkah meninggalkan kak Dirga yang masih berdiri.
Aku pun berjalan menerobos hujan yang masih rintih-rintih. Tapi tangan aku di pegangin oleh seorang yang aku yakini itu pasti kak Dirga.
"Fira jangan pergi, kita harus menyelesaikan semua masalah yang terjadi satu tahun yang lalu". kata Dirga memohon
"Tidak ada yang harus di selesaikan kak" ucap aku tetap dengan perdirian aku.
"Tapi banyak yang harus kita selesaikan, aku capek Fira" keluh Dirga.
Fira pun berjalan meninggalkan Dirga yang masih berdiri. Tanpa sepatah kata, Dirga mengikuti Fira, sampailah mereka di sebuah rumah yang sederhana yang jaraknya tidak terlalu jauh dari cafe tempat mereka bertemu tadi.
"Masuk kak" ajak Fira.
Dirga memasuki rumah yang sudah setahun di tempati oleh Fira, bukannya duduk Dirga memeluk Fira dari belakang.
"Maaf....maafkan aku. Seharusnya aku menuruti perkataan ayah dan ibu dan bukannya memilih untuk menikah dengan Lia" ucap Dirga yang masih memeluk Fira.
Mendengar nama Lia yang keluar dari mulut Dirga, Fira langsung melepaskan pelukan Dirga.
"Ada apa kakak kesini?, kakak tidak kasihan lihat Lia yang menunggu kakak di Bandung" sahut Fira.
"Kenapa aku harus kasihan dengan Lia?, Sekarang dia sudah mempunyai kehidupan sendiri" ucap Dirga enteng.
"Maksud kakak apa?, bukannya satu tahun yang lalu kakak menikah dengan Lia" tanya Fira binggung.
"Sekarang dengarkan cerita kakak" ujar Dirga dan Fira mengangguk untuk mendengarkan cerita Dirga satu tahun yang lalu.
Flashback satu tahun yang lalu.
Waktu aku berumur sepuluh tahun, aku diangkat oleh keluarga yang sangat baik dan mereka mempunyai seorang anak perempuan yang berumur lima tahun. Keluarga ini sangat menyayangi aku seperti anak mereka sendiri terutama ibu.
Dari pertama aku tinggal di keluarga ini, Perempuan kecil itu yang ternyata bernama Safira Maharani dan akrab dipanggil Fira. Fira memang sangat dekat dengan aku, aku selalu menjaga Fira selayaknya seorang kakak menjaga adiknya.
Tapi waktu aku mau masuk SMA, setiap aku melihat Fira ada perasaan yang berbeda yang aku rasakan.
Bertahun-tahun aku menepis rasa ini, sampai aku harus mengajak Lia sahabatku untuk bersandiwara bahwa kami saling mencintai. Tapi Kenyataannya Lia sudah mempunyai tunangan yang sekarang ada di luar negeri.
Aku sampai menekan perasaan aku agar rasa ini tidak sampai meluap keluar. Dan tidak tahu dari mana ayah dan ibu mengajak aku bicara dari hati kehati soal perasaan aku dengan Fira.
Sampai Akhirnya aku jujur dengan ayah dan ibu soal perasaan aku dengan Fira. Mereka berdua pun ketawa mendengar perkataan Dirga.
"Bagus, memang ini rencana kami dari dulu ingin menjodohkan kalian berdua" ucap ayah.
"Maksud ayah, aku dan Fira memang sudah di jodohkan" ucap Dirga tidak percaya dengan ucapan ayah. Ayah dan ibu mengangguk mengiyakan ucapan Dirga.
Dirga sangat senang tapi semuanya sudah terlambat karena Fira pergi meninggalkan rumah tanpa tahu penyebabnya.
Berbulan-bulan Fira tidak pernah memberikan kabar tentang dirinya. Sampai ibu harus jatuh sakit karena memikirkan Fira yang tidak tahu dimana.
Sampai hari itu, Dirga tanpa sengaja menemukan buku diary milik Fira. Yang isinya tentang perasaan dia terhadap Dirga, dan sebuah tempat yang sangat dia kunjungi bersama Dirga yaitu Palembang.
Dan Dirga melakukan pencarian ke kota Palembang dengan bantuan seorang detektif. Dan sekarang di sinilah Dirga, dirumah Fira.
Flashback end.
"Kenapa kakak tidak bilang dari dulu?, jadi aku tidak membuat ibu sampai sakit dan membuat semuanya khawatir" tangis Fira.
"Kakak takut, dan kakak tidak enak dengan ayah dan ibu yang telah membesarkan kakak. Tapi dengan beraninya mencintai anak perempuan mereka" ucap Dirga.
"Tapi tidak perlu bersandiwara dengan Lia, kasihan Lia selalu aku kerjain karena aku tidak suka melihat Lia dengan kakak" ucap aku menunduk.
"Jadi Fira cemburu, makanya selama ini selalu menolak cowok karena cinta dengan kakak" goda Dirga.
"Siapa bilang?, jangan gr kak. Mereka aku tolak karena memang aku tidak suka dengan mereka bukan karena kakak" kata Fira ketawa.
Dirga langsung memeluk Fira "Ikut pulang bareng kakak ke Bandung, nanti setelah kita menikah baru kita kesini lagi".
"Siapa yang mau menikah dengan kakak".
"Kalau menolak, akan kakak ikat kamu seperti anak kambing biar tidak bisa lari" kata Dirga menarik hidung Fira.
Fira hanya bisa cemberut sambil memegangi hidungnya. Bagi Fira sampai kapanpun tidak akan pernah bisa mengalahkan kak Dirga.
Akhirnya dengan segala bujukan Dirga, Fira mau ikut pulang ke Bandung. Tapi sebelum mereka pulang, Dirga sudah menghubungi orang tua mereka.
"Assalamualaikum" ucap Fira yang sudah satu tahun, tidak menginjak kakinya dirumah yang telah membesarkan dirinya.
"Wa'alaikumsalam" kata ibu dan langsung memeluk Fira yang sudah satu tahun tidak dia temui.
"Fira anak ibu, jangan seperti ini lagi. Pergi tanpa kabar, kalau ada apa-apa bicara dengan ibu bukannya diam".
"Maafkan Fira Bu" ucap Fira menangis.
"Sudah Bu, biarkan Fira istirahat. Dia harus banyak istirahat karena sebentar lagi dia akan menikah" sahut ayah.
"Menikah dengan siapa Bu" tanya Fira penasaran.
"Rahasia" jawab orangtuanya pergi meninggalkan Dirga dan Fira berdua.
"kak, siapa yang mau menikah" tanya Fira penasaran.
"Kamu dan kakak" jawab Dirga santai.
"Ohhhh... maksudnya kakak akan menjadi suamiku. Benaran kak" tanya Fira sambil menggandeng tangan Dirga.
Dirga tersenyum dan mengusap rambut Fira.
"I love you adik angkatku Fira Maharani"
"Love you to kakak angkatku Dirga Kusuma".
END.