Waktu memasuki jam pulang kerja, berlalu lalang kendaraan menimbulkan macet. Suara klakson yang bersautan menambah pusing para pengendara.
"Semoga saja tidak telat." Ia melirik jam tangan di lengannya yang menunjukkan pukul lima sore. Sepeda motornya terjepit diantara mobil tak bisa bergerak. Ia menepikan sepedanya di depan toko berlari menuju tempat yang Ia tuju.
"Semoga Kamu masih disana." Ia berlari sekuat tenaga, tak sengaja menabrak beberapa orang. Langit tampak semakin gelap, sang surya tenggelam diantara kerumunan gedung pencakar langit. Buliran keringat bercucuran dahinya, kaos dan kemeja flanel yang Ia pakai basah oleh keringat.
Sampailah Ia di depan bandara keberangkatannya, Ia berlari mencari sosok yang Ia rindukan. Berjalan mengitari ruang tunggu. Mengusap dahinya dengan lengan kemeja, berharap sosok yang Ia cari masih menunggunya.
Matanya terpaku menemukan perempuan yang Ia cari, duduk membaca majalah dengan anggun. Sosok yang Ia tatap menoleh tersenyum kepadanya, Ia berlari menuju perempuan menjatuhkan diri di samping perempuan itu.
"Terima kasih sudah menungguku dan maaf Aku telat, biar Aku jelaskan dulu." Perempuan itu menggeleng memberikan tisu dan air minum. Ia menegak habis minum itu tak tersisa dan mengelap dahinya yang penuh keringat.
Perempuan itu berdiri "Aku pulang ya." Ia menggigit bibir bawahnya, menahan pergelangan tangan perempuan itu. Kedua rahangnya mengeras, menarik napas dalam-dalam.
"Kamu tidak memberiku waktu sebentar?" Ia menatap dalam-dalam mengamati rupa yang sudah Ia rindukan. Menarik tubuh perempuan itu menghamburkan ke dadanya, memeluknya melampiaskannya rasa rindunya. Deru napas hangat menerpa leher perempuan itu, Ia memejamkan matanya merasakan nyaman dipelukan itu. Pelukan itu masih terasa nyaman seperti sebelumnya.
Ia mencium kening perempuan itu, hangat. Mengelus kepala belakangnya pelan menatap mata yang sudah Ia rindukan lamat-lamat. Perempuan itu diam membeku tak membalas pelukannya. Ia meletakan dagunya di pucuk kepala perempuan itu membisikan kata "Tolong kembali. Tolong kembali." memejamkan mata memeluknya erat-erat.
"Aku tadi sudah memberimu waktu, tolong hargai waktuku juga." Perempuan itu melepaskan pelukan pria itu. Memegang kedua pergelangan lengan Pria yang bersamanya tersenyum kepadanya. Ia tidak suka dengan senyuman itu, senyuman dengan ruah mata yang mengatakan Kita sampai disini saja.
"Aku merindukan mu Fifi. Aku mencintaimu." Suaranya gemetar melepaskan pegangan Fifi di lengannya, balik menggenggam jari-jari Fifi. Ia menundukkan kepalanya menyembunyikan kedua matanya yang berkaca-kaca, menahan sakit yang perlahan menjalar di dada kirinya.
"Aku tahu perasaanmu cerita Kita itu sudah dulu Rangga, Kita buat cerita baru dengan jalan masing-masing ya." Kata Fifi dengan suara tenang menghibur Rangga. Rangga masih menunduk, menggeleng menolak apa yang dikatakan Fifi.
Fifi tersenyum, Rangganya masih sama seperti dulu yang selalu bersembunyi ketika menangis. Ia menuntun Rangga duduk di kursi, meraup kedua pipi Rangga mengangkatnya. Fifi membersihkan air mata yang membasahi Rangga.
Kedua mata Rangga yang memerah menatap Fifi dengan raut tak suka. Fifi masih senantiasa tersenyum.
"Kita berada di jalan yang tidak seorangpun tahu, seberapapun Kita berlari dan menghindar Kita akan tetap kembali pulang. Jika Kamu memaksakan diri berada di jalan yang tidak seharusnya Kamu berada, jalan itu pasti akan kembali membawamu pulang ke tempat seharusnya." Kata Fifi hangat tersenyum ke arah Rangga.