Laki-laki itu sudah hidup setengah abad. Dari cerita-cerita orang yang tinggal di sekitar sini, tiap malam Minggu selalu saja seperti itu. Mabuk dan tidur di emperan toko. Minggu paginya sudah menghilang, karena banyak lalu lalang orang yang meramaikan Car Free Day (CFD).
Aku pernah bertanya kepada seorang tukang becak, yang katanya ia cukup mengenal baik laki-laki itu.
"Pak becak, yang biasanya mabuk di depan toko Bu Elly itu orang sini kah?"
"Oh, si laki-laki itu. Bisa dibilang begitu. Karena masa mudanya dihabiskan di daerah sini. Orang-orang yang sudah lama tinggal di sini sudah paham dan kenal betul sama laki-laki itu."
"Oh, begitu ya pak? Nggak punya rumah dan pekerjaan kah dia?"
"Ya, ada sih. Pekerjaannya serabutan. Dia menumpang di rumah orang. Tak tahu itu siapa. Desas-desusnya itu istrinya. Dan dia punya anak yang masih kecil."
"Jadi, setelah mabuk-mabuk semalam, dia pulang ke rumahnya? Apa gak kasihan ya istri sama anaknya?"
"Ya gimana lagi, dari muda banget dia sudah seperti itu. Bisa dibilang sekarang sudah berkurang, kok."
"Dulu lebih parah dari sekarang ya, pak?"
"Haha... Begitulah. Dulu dia sering mentraktir banyak orang. Ya, termasuk saya ini. Bisa dibilang dia raja mabuknya wilayah sini."
"Sekarang mendingan gitu, pak?"
"Di mata saya sih begitu. Soalnya saya nya yang udah nggak ikut-ikutan lagi."
"Owalah... Pak becak punya nomor telponnya?"
"Ah, dia nggak punya telpon. Kalau mau menghubungi buat pekerjaan, bisa telpon ke tetangganya."
"Oh, baik, pak. Saya minta ya, pak Becak."
"0313578906"
"Terima kasih, pak becak."
Begitulah awal pertemuanku dengan laki-laki yang bekerja di rumahku. Rumah yang baru ku tempati dan ku hadiahkan kepada keluargaku, ibu dan adik-adikku. Aku merasa telah melakukan kewajibanku sebagai anak Lanang sekaligus anak pertama. Dan aku memanggil laki-laki pekerja serabutan untuk membenahi bagian-bagian yang berlubang dari rumah ini. Karena rumah ini rumah lama dan harga jualnya juga cukup murah. Yang penting kami punya rumah.
Laki-laki itu bekerja sendirian. Berangkat ke mari menaiki sepeda ontel rongsokan. Di keranjang dan boncengannya dipenuhi alat-alat bangunan seadanya. Tampak niat hidupnya sebagai seorang pekerja, walaupun serabutan.
Untung saja, kemarin aku sudah menyiapkan bahan-bahan untuk menembel bagian-bagian berlubang. Syukurlah aku tak menambah beban laki-laki malang itu.
Sesampainya lelaki itu di rumah, ia langsung menurunkan perkakasnya. Bertanya sebentar mau ku seperti apa dan melihat-lihat apa yang harus dibenahi. Tak butuh waktu lama, ia memulai pekerjaannya. Aku membantunya, sekadar mengaduk semen atau menimba air.
Laki-laki itu begitu ulet dalam bekerja. Pekerjaannya juga terbilang cepat. Entah kepribadiannya seperti itu atau ia ada motivasinya bekerja.
Saat makan siang, makanan yang kubelikan dari warung depan dengan porsi nasi kuli, dilahapnya cepat. Ia minta izin untuk rebahan di pojokan teras. Inginku ajak ia bercakap-cakap, tapi apalah daya letihnya tak karuan.
Matanya yang merah, karena mungkin terlalu lamanya ia minum alkohol atau kurang nyenyak tidurnya. Sesekali ku lihat, wajahnya memiliki banyak cerita hingga ada bagian dari dirinya yang membuka mata bahwa ia kesepian.
Lalu, kerjanya untuk apa? Apa karena itu, dia mabuk setiap malam Minggu? Untuk menghibur diri ketika kesepian itu mendera? Seberat apa sepi yang selama ini ditanggungnya?
Lama ku menatapnya. Orang itu terusik dengan perasaan tak nyaman. Ia akhirnya tak jadi tidur dan melanjutkan pekerjaannya.
Sebelum senja, pekerjaan itu usai. Kami membekalinya lagi dengan makanan-makanan lainnya. Ia terlihat sangat bahagia.
"Suwun, mas!"
"Nggih, cak! sami-sami. Niku bonuse!"
"Kesukaannya anak saya ini, mas."
"Owalah, nggih. Umur berapa?"
"Masih kecil."
"Semoga kelak anaknya kalau besar jadi anak yang bermanfaat."
"Amin... Amin... Biar nggak kayak bapaknya yang gak bisa apa-apa ini. Yo wis, cak! Suwun."
Laki-laki itu pulang dengan girang. Sepinya sepintas memudar. Apakah anaknya pelipur sepinya? Apakah anaknya jadi harapan agar hidupnya tak kesepian seperti dirinya sampai harus berkhayal dengan sengaja dalam mabuknya?
Ah... entahlah.
Lagi-lagi ku tatap punggung laki-laki itu. Kayuhannya semangat. Namun punggungnya tak bisa berbohong. Bahwa ia kesepian.