Ketika aku bertemu dengannya saat itulah duniaku berubah. Dunia yang awalnya hitam putih seketika bewarna saat melihat senyumannya.
Ketika itu aku sedang berjalan menuju gerbang sekolah lalu bertemu dengan seorang perempuan berpakaian rapi namun rambutnya berantakan. Dia berlari terburu-buru kearah ku, aku yang ingin menghindarinya malah dia yang seperti mengincarku untuk ditabrak. Betul saja dia menabrakku dan kami berdua jatuh, aku terluka dan untungnya dia tidak terluka.
"Maaf! Maaf! Aku sedang buru-buru! Ada rapat pagi yang harus aku pimpin."
Perempuan kantoran. Terlambat itukah dia sampai lupa merapikan rambutnya. Ditambah lagi barang-barangnya yang berserakan jatuh dari tasnya habis menabrakku.
Aku berdiri dan membantunya berdiri. Dia baru sadar barang-barangnya berserakan di jalanan. Dia tambah panik dan aku melihatnya seperti ayam yang panik melihat banyak makanan disekitarnya.
Karena kasihan aku membantunya mengambil barang-barang yang berserakan. Sakin paniknya dia tidak sadar aku membantunya.
"Aku harus pergi segera!," ucapnya lalu dia memberiku kartu namanya. "Ini nama dan nomorku! Hubungi saja aku nanti sore untuk ganti rugi karena menabrakmu!".
Dia langsung lari secepatnya dan lupa kalau ada beberapa barangnya masih ada denganku. Aku melihat kartu namanya yang ada no.telepon dan alamat perusahaannya. Hmm? Alamat perusahaannya tidak asing.
Higaki Nazumi? Nama yang indah.
Aku melihat barang-barangnya yang kupungut dan ternyata ada flashdisk kecil dengan gantungan bunga dandelion. Kalau tidak salah dia bilang harus memimpin rapat pagi ini kan? Flashdisk ini pasti isinya bahan presentasi nya...
Sungguh wanita yang ceroboh. Salahku juga karena membantunya memungut barangnya.
Aku juga sudah terlambat dan jika ke sekolah sekarang adanya aku kena hukum sama komite kedisiplinan. Aku akan mengantarkan barang-barang ke kantornya dan setelah itu bolos sekolah.
***
Setelah dua kali naik kereta akhirnya aku sampai ke kantornya. Kantor yang sangat familiar denganku.
Usi-Game Corp.
Dia bekerja di kantor ini? Aku yakin dia terlambat dan kena marah sama bos nya. Kebetulan aku familiar dengan tempat ini jadi aku bisa menjelaskan serta membantunya kenapa dia bisa terlambat.
Aku memasuki kantor, mengisi daftar tamu walau dicurigai kenapa anak SMA siang bolong datang ke kantor ini, lalu pergi ke lantai 4 dimana Higaki Nazumi bekerja.
Saat sampai aku mendengar suara yang sangat familiar. Suara itu bernada tinggi yang artinya pemilik suara itu sedang marah.
Jika tebakanku benar maka dia sedang bertugas disini, ya kemungkinan nya 100%.
"Oi kak Rika! Aku datang berkunjung!".
Semua orang melihat kearah ku termasuk kak Rika yang kupanggil.
Wajahnya langsung kaget dan pucat melihatku. Wajar saja, dia tidak pernah memperlihatkan wajah marah ataupun kesal kepada adiknya sendiri.
"J-Jun?! Kenapa kamu kemari?! Apa kamu boloss???!??!".
"Tenanglah kak. Aku kesini untuk menjelaskan sesuatu."
Aku melihat sekeliling dan menemukan perempuan bernama Higaki Nazumi yang sedang menunduk sedih.
"Sebenarnya pagi ini aku menabrak karyawan kakak yang bernama Higaki Nazumi."
Orang yang kusebut langsung sadar dan melihat kearahku.
"Jadi dia terlambat itu bisa dibilang salah ku jadi maafkanlah dia."
Walaupun yang menarbak itu Higaki Nazumi, bukan aku.
Wajah kakak langsung tenang dan kembali memunculkan aura keagungan. Dia menyilangkan kedua tangannya dan melihat ke arahku.
"Aku hargai atas penjelasan mu, Jun dan aku masih bisa toleran atas keterlambatannya. Tapi Nazumi tidak membawa hasil presentasi nya untuk proyek game baru, karena itu aku memarahinya."
Aku merogoh kantung celanaku dan memberikan flashdisk Nazumi ke kakak.
Kakak kebingungan, "Flashdisk apa ini?".
"Milik kak Nazumi. Saat kami bertabrakan, isi tasnya berserakan dan saat dia mengambilnya satu-satu dia melupakan barang-barangnya yang aku bantu pungut."
Kemudian aku melihat wajah kak Nazumi yang terkejut sambil mengeluarkan air mata. Aku yakin itu air mata kesedihan sekaligus air mata bahagia.
Kakak mengangguk-angguk. Dia memegang pundakku dan menghargai jasaku menjelaskan semua masalah yang ada di kak Nazumi.
"Sekali lagi aku hargai jasamu, Jun. Tapi! Nazumi akan tetap aku hukum. Tidak ada makan siang untukmu Nazumi, kerjakan semua pekerjaan yang kamu kacaukan pagi ini."
Kak Nazumi berdiri dan menuduk untuk berterima kasih kepadaku. Kemudian dia mendekatiku dan memegang tanganku lalu menggoyangkannya berkali-kali. Dia terlalu senang, aku bingung meresponnya.
Setelah itu aku dibawa kakak ke ruangannya dan kakak menyuruhku untuk berada di kantor ini sampai sore. Anak SMA bolos adalah masalah besar apalagi ketahuan polisi, karena itu aku ditahan kakak di kantor ini.
Selagi kakak bekerja, aku bermalas-malasan di kantin sambil membaca buku yang aku rencakan untuk baca ketika istirahat. Tapi punya waktu yang melebihi jam istirahat itu sangat lah istimewa.
***
"Jun, Jun."
Aku dibangunkan oleh seseorang. Aku tidak sadar jika tertidur. Tidurku pulas, sepertinya aku tidak bisa tidur nanti malam.
"Jun, terima kasih untuk hari ini."
"Oh, kak Nazumi? Jangan berterima kasih kepadaku. Aku cuman menjelaskan apa yang terjadi saja, walaupun bagian menabraknya itu berbohong."
Dia meminta maaf berkali-kali saat aku membahas bagian dia menabrakku.
"Aku tidak menyangka kamu adik dari ketua Rika. Ugh... hidupku dua kali diselamatkan oleh keluarga Higa ya..."
"Dua kali? Apa kakak pernah membantumu?".
"Benar. Tanpa ketua Rika, mungkin aku sekarang sudah menikah dengan pria yang aku cintai di desa."
Wow sungguh informasi yang wadidaw.
"Aku hanya bisa menggambar dan mendedikasikan hidupku kepada dunia seni menggambar. Orang tuaku memaksaku untuk menikah saja di desa dan melanjutkan usaha keluarga, namun aku menolak dan berkata bahwa tanganku bisa menuntun ku kepada takdir yang sesungguhnya. Tapi aku gagal, gagal, dan gagal sampai ketua Rika mengajakku bergabung ke Usi-Game Corp."
Kisah yang menarik. Aku bisa menebak umur kak Nazumi hanya beda 7 tahun dengan kakak dan beda 6 tahun denganku. Dia sudah bisa merasakan kegagalan dan berhasil membalikan kegagalan itu di perusahan game yang kakak bangun.
Berarti kak Nazumi adalah seorang ilustrator game ya. Aku punya beberapa nama ilustrator dari perusahaan kakak yang ingin aku temui terutama ilustrator bernama 'Hizami".
Walaupun aku berada di cabang kedua Usi-Game Corp mungkin aku bisa menanyakan keberadaan ilustrator Hizami ke kak Nazumi.
"Berarti kakak kenal dengan ilustrator Hizami."
Kak Nazumi terkejut. "Heh?".
"Aku ingin sekali bertemu dengan ilustrator Hizami! Gambarannya sangat indah bahkan membuatku berdebar-debar melihatnya. Jika kak Nazumi mengenalnya dan memiliki fotonya, biarkan aku melihatnya!".
Kak Nazumi kelihatan bingung. Dia ingin berbicara namun tidak tahu harus bicara apa.
"Itu... Jun... Ilustator Hizami itu sebenarnya... Aku."
...
"Heh?".
Aku berusaha mencerna informasi yang baru saja dikonfirmasi oleh kak Nazumi.
"Kak Nazumi? Ilustator Hizami?".
Kak Nazumi mengangguk-angguk. Dia kelihat kebingungan dengan wajahku yang tidak percaya.
Tidak, tidak bukannya aku tidak percaya dengan kak Nazumi yang bilang dia adalah ilustrator Hizami. Hizami sendiri sudah bilang kalau dia seorang perempuan di akun Twiteng nya.
Aku merasa gambaran indah, penuh arti, dan bisa membuatku menangis dari ilustator Hizami yang ternyata adalah orang ceroboh, terlalu panik, dan polos? Ilustrasi nya yang berjudul "Kisah Sore Dandelion" itu membuat duniaku yang awalnya hitam putih menjadi sangat bewarna.
Ilustrasi wanita dengan senyuman indah itu dibuat oleh kak Nazumi? SAMA SEKALI TIDAK MENGGAMBARKAN ILSUTRASINYA!!
"Ada apa Jun?".
"Tidak. Maafkan aku kak Nazumi. Aku tidak bisa menerima bahwa ilustrator Hizami itu adalah kaakk sebenarnya."
Kak Nazumi berdiri dan berbicara dengan nada marah. "Hah?! Apa maksudnya itu?".
"Kisah Sore Dandelion adalah ilustrasi yang mengubah hidup saya, dan baru saja saya menerima fakta bahwa yang mengambar ilustrasi indah itu adalah kak Nazumi yang ceroboh."
Kak Nazumi membentak meja atas responnya yang tidak terima dengan perkataan ku. "Kau tahu?! Wanita dalam ilustrasi itu adalah diriku sendiri."
"Hah? Kak Nazumi yang bahkan lupa merapikan rambutnya sendiri ternyata adalah perempuan di ilustrasi itu? Heh, habislah. Aku akan kembali ke dunia suramku."
"Apa?! Mau aku buktikan kalau aku yang menggambar itu?!".
Setelah itu kami berdebat hebat sampai malam. Karena kantor tutup dan aku ditinggal kak Rika pulang duluan, jadi aku harus pulang sama kak Nazumi.
Dia masih mengoceh dan bersikeras kalau Hizami adalah dirinya. Padahal sudah berkali-kali aku menjelaskan kepadanya kalau aku hanya tidak percaya kalau "Kisah Sore Dandelion" adalah hasil karyanya.
"Um, Jun bisa kita istirahat sambil minum dulu? Tenggorokan ku kering, hehe."
Aku membeli sekotak susu strawberry dan sebotol air putih.
Kak Nazumi meminum botol air putih itu seperti memakannya saja. Hilang semua air itu dalam beberapa detik.
"Aku merasa hidup lagi. Hmm?".
Kak Nazumi melihat kearah susu strawberry yang sedang aku minum.
"Kamu... wajah aja seram tapi hati Hello Kitty ya."
Aku tersedak mendengar kata-kata lucu dari kak Nazumi. Iya wajahku seram tapi bukan berarti aku minum strawberry hatiku seperti Hello Kitty.
"Susu strawberry adalah kenangan bagiku. Dulu waktu ibu masih ada, dia sering membuatkanku susu strawberry. Yah walaupun rasanya sangat beda dengan susu kotak ini."
Kak Nazumi langsung tidak nyaman saat mendengar kalau ibuku telah tiada.
"Maaf, aku bercanda sesuatu yang sensitif bagimu."
"Haha. Tenang saja. Aku tidak peduli jika dikata Hello Kitty sekalipun." Aku melihat ke langit dan ada dua buah bintang yang bersinar terang. "Susu strawberry yang membuat hidupku sedikit bewarna. Kehilangan sosok ibu membuatku terpuruk sampai aku lupa bahwa telah menyakiti kakakku sendiri."
Kak Nazumi mengelus kepalaku. Dengan segera aku menepis tangannya untuk berhenti mengelus kepalaku. Wajahnya langsung cemberut dan membuang wajahnya dari pandanganku.
Aku agak benci saat seseorang mengelus kepalaku. Aku tidak ingin dikasihani, aku sudah merelakan ibuku dan hidup apa adanya sekarang. Setelah bertemu ilustrasi itu pun, duniaku kembali bewarna.
"Yah... ketua Rika juga pernah cerita kepadaku bahwa dia memiliki adik yang sangat bisa menyembunyikan perasaannya, sampai ketua Rika merasa tersakiti karena kehebatan adiknya yang dapat menyembunyikan perasaannya."
Aku melihat ke arah kak Nazumi. Dia berdiri di depanku dan mengelus kepalaku lagi. Aku berusaha menepis namun dia memukul tanganku dengan wajah yang kesal.
"Aku tahu kamu tidak ingin dikasihani bukan? Jadi ini bukan rasa kasihan ku, tapi pujian kepadamu atas usahamu melawan kesedihan mu."
Aku melihat kearah kak Nazumi. Dia tersenyum kepadaku. Senyuman itu. Senyuman yang mengubah duniaku. Senyuman yang pernah aku lihat.
Aku berdiri dan memegang kedua tangan kak Nazumi dan memeluk nya. Ini refleks, aku baru sadar aku memeluknya saat memeluknya. Kak Nazumi juga mengeluarkan suara-suara aneh saat aku memeluknya.
Aku melepaskannya dan memegang kedua pundaknya lalu melihat wajahnya dengan seksama. Senyuman barusan memang dari kak Nazumi. Senyuman dalam ilustrasi "Kisah Sore Dandelion" membang benar dari senyuman kak Nazumi.
Aku melepaskan pundak kak Nazumi dan duduk kembali di meja taman. Menutup wajahku dengan kedua tangan lalu tertawa sekencang-kencangnya.
Aku bodoh telah meragukan kak Nazumi. Memang benar, "Kisah Sore Dandelion" adalah hasil tangan kak Nazumi.
Kak Nazumi kebingungan dengan tindakanku yang terlalu aneh tadi. Aku kembali bediri dan melihat serius ke arah mata kak Nazumi.
"Aku mencintaimu, sejak lama sekali sepertinya."
Wajah kak Nazumi memerah hebat. Dia memalingkan wajahnya dan menutup wajahku dengan tangannya.
"Sebentar! Sebentar! Sebentar! SEBENTAR!!!!".
Dia panik sekali. Aku ingin menjahilinya.
"AKU! SANGAT! MENCINTAIMU! SEJAK AKU! PERTAMA! KALI! MELIHAT! KISAH SORE DANDELION!!!".
"Uwahhhhh!!! Hentikan kamu membautku malu!!!".
Setelah kak Nazumi tenang dan aku puas menjahilinya, barulah kak Nazumi merespon.
"Ju-Jun... Umurmu berapa?".
"17 tahun. Umur bukan masalah! Cinta itu abadi!".
"Ugh!!".
Wajah kak Nazumi semakin memerah. Setelah itu dia mendekatiku dan memelukku.Tapi dia mencubitku dari belakang.
"Ughh... wajah apa yang harus aku pasang dihadapan ketua Rika nanti."
"Jadi jawabanmu?".
"Bodoh. Kita beda 6 tahun loh."
"Aku mencintaimu."
Wajahnya semakin memerah dan dia panik, sangat panik.
"Iya! Iya aku mau! Jangan ucapkan itu lagi!!".
Ah!! Aku ingin menjahilinya lagi dan lagi.
"Aku belum mendengarnya darimu."
"Apa itu?".
Aku tersenyum jahat, "Bilang 'Aku mencintamu' kepadaku."
"Gheh??!?!?!".
"Kalau tidak aku akan mencium mu disini."
Nazumi semakin panik. Dia ingin melepaskan pelukannya namun kutahan dengan kedua tanganku. Dia mencubitku berkali-kali tapi kuhiraukan rasa sakitnya.
Setelah dia puas menyakitiku dengan cubitannya baru dia ingin mengatakannya.
"Aku... mencintaimu juga Jun. Sosokmu yang melindungi ku siang tadi bagaikan pangeran yang telah lama aku tunggu."
Sebentar... aku yang jadi malu nih! Aku tidak ingin mendengar alasan kenapa dia mencintai ku.
Aku menutup wajahku karena malu. Dia tahu aku malu karena mendengar penjelasannya tentangku, sekarang dia yang ingin menjahiliku dengan kata-katanya.
Agar bisa menghentikannya, aku menggunakan kartu as sebagai langkah Ultimate.
Aku mengangkat dagunya dan menciumnya.
"Ugh!!!!!!".
"Aku menantikan ciuman yang akan datang darimu."
"Jun!!!!".
***
—6 Tahun Kemudian
Aku sedang berdiri di bawah pohon sakura. Aku menunggu seseorang yang sedang bersiap-siap berangkat. Sekedar informasi saja, aku telah menunggu dan berdiri di bawah pohon sakura selama 1 jam!
Suara pintu terbuka sangat keras terdengar. Jelas itu adalah suara yang terdengar tergesa-gesa.
"Maafkan akun Jun! Aku lupa hari ini kita akan tinggal bersama."
Aku mendatanginya dan memukul kepalanya dengan pelan. "Mulai hari ini kita adalah sepasang suami-istri. Jadi biasakanlah jangan bangun siang terus!".
"Ugh... iya maaf."
Aku tersenyum dan mencium keningnya. "Dasar."
Aku meraih tangan nya lalu kami berjalan bersama menuju tempat dimana kami akan tinggal bersama selamanya.
"Jadi kapan kita akan punya anak?".
"Ugh... kita baru nikah 2 hari loh."
Kita tidak bisa melihat takdir bahkan kami saja tidak tahu bahwa sebuah gambaran dapat menemukan kami berdua sampai sekarang.