Sedang rada-rada, begitulah nasib cinta Gio sepekan kurang lebih. Dibilang putus nggak, dibilang masih main bareng juga jarang; Lebih tepatnya, hubungan itu sedang berada di persimpangan jalan. Kalau dari satu pihak ada kelepasan suara naik satu oktaf saja, yakin seyakin yakin-yakinnya, itu hubungan bakal bubar jalan. Dapat dipastikan hubungan yang telah dibina hampir setengah dekade itu akan musnah tanpa jejak.
Apa soal bisa begitu?
Bilangnya sih karena terlalu disibukkan dengan kegiatan masing-masing, ya, balik-baliknya, balik ke persoalan komunikasi lagilah, plus, katanya lagi, perkara waktu yang kata oleh para masing-masing pihak tidak bisa disinkronkan.
Lah kalau sudah tahu begitu, ya, kenapa juga tidak diperbaiki, lain cerita kalau tidak tahu. Apa jangan-jangan... Ya, namanya orang pasti ada rasa jenuh juga kali ya. Jenuh bagaimana? Ya, bosan, terutama pada status yang masih kayak begitu itu, kata satu pihak, yang menurut pengakuannya usia kian merangkak tua, lalu minta disegerakan.
Sementara, yang satunya lagi, berpikir kesana juga belum. Tapi itu juga masih praduga loh ya, meski, semuanya dapat dibaca dan terbaca dari gerak-gerik masing-masing pihak. Jadi, ini bukan praduga yang tak beralasan.
Sebenarnya, usia keduanya belum tua-tua amat kok, belum paruh baya juga, berkepala dua pun belum di penghujung, tengah juga nggak, masih diawal-awal sesungguhnya. Jadi, kalau mau dibantah, akan mudah untuk disanggah, tapi kalau memang mau dijadikan sebagai kendala, itupun dengan mudahnya dapat dijadikan sebagai kendala, meski sebagian. Kendala lain, apalagi kalau bukan perkara mimpi, alias cita-cita yang dimiliki oleh seseorang dari mereka.
Seperti yang ditegaskan sebelumnya, satu pihak ingin statusnya diperjelas, bukan cuma diperjelas secara sementara, tetapi permanen, minta segera disahkan, yang nyata-nyata dan ternyata karena pilihannya yang ingin menjalani kehidupan biduk rumah tangga di usia muda, alias menikah muda, dengan segala kelebihan-kelebihan yang diyakini tentunya.
Sementara yang satunya lagi masih berambisi dengan mimpinya, alias cita-cita, yang menurutnya masih membutuhkan kerja keras, fokus, dan juga yang terutama aliran modal, alias aliran dana, yang deras dan stabil. Jadi boro-boro nikah, tunangan aja masih pikir-pikir.
Jadi, inti permasalahan sesungguhnya bukanlah perkara komunikasi ataupun waktu melainkan perkara pilihan hidup, maksudnya, bagaimana cara menjalani hidup dengan pilihan hidup masing-masing, mudahnya, prinsip dalam menjalani hidup, hidup buat hari ini dan kedepannya nanti.
Kalau sudah apa iya kita sedang menanti keputusan dari masing-masing pihak? Sangat- sangat terbuka kemungkinan. Cuma yang masih mengganjal iya perkara yang satu ini, hati. Di dalam hati masing-masing pihak, terutama di dalam yang terdalam dari hati mereka telah terukir nama masing-masing dari mereka. Jadi, apakah prinsip akan mengalah ataukah prinsip yang akan menjadi vonis mati bagi hubungan mereka.
"Io, kita harus bicara?"
"Aku juga berpikir begitu."
"Kamu mau ketemuan di mana?"
"Ya terserah kamu mau di mana,"
"Terserah! Terserah! Kamu itu bagaimana sih, kamu itu laki-laki mestinya kamu..."
"Gak ada hubungannya kali dengan jender,"
"Udah deh Io aku capek,"
"Kamu pikir aku nggak,"
"Maksud kamu!?"
"Iya sama seperti kamu."
"Io, kamu itu gak ada serius ya..."
"Ro..."
"Suara kamu jelek! Gak usah nyanyi!"
"Kemarin aja katanya merdu."
"Kapan, dimana kamu yang putuskan!"
"Biasanya juga kamu,"
"Gak! Aku mau kamu!"
"Iya nggak ngegas juga kali,"
"Buruan,"
"Oke! Di kafe B! Jam tujuh malam. Dress code-nya batik berwarna merah jambu!"
"Apa sih!?"
"Katanya aku yang memutuskan,"
"Iya gak pake dress code juga kali,"
"Kamu lupa, kapan dan bagaimana kita pertama kali bertemu?"
"Iya udah, terserah."
"Lah sekarang kok kamu yang jadi terserah,"
"Apa perlu rambutku kusasak!?"
"Ide brilian!"
"Ngacoh kamu! Ya udah besok kita ketemu!"
"Ok! Ngomong-ngomong kemarin aku mimpi kamu loh,"
"Kamu kan memang tukang tidur,"
"Iya bagaimana nggak, dalam enam hari aku bekerja dari pagi hingga ke malam, sekalinya dapat libur, ya, aku tidur seharian, memang aku robot?"
"Iya, udah terserah,"
"Lah kok terserah lagi,"
"Terus aku mau bilang apa coba,"
"Iya tanya kek kamu mimpinya apa, Gio?"
"Bukan cuma sekali, Io. Bosan kali,"
"Sama aku?"
"Kok..."
"Oh, berarti mimpi aku?"
"Terserah deh,"
"Lah terserah lagi,"
"Udah deh cukup daripada kita nanti ribut."
"Kamu capek iya kalau nangis lagi,"
"Kamu pikir,"
"Air matamu itu gak akan pernah jatuh dengan sia-sia, Juminten."
"Juminten, Juminten. Namaku, Yuli."
"Oh, iya, Yuli. Yulianto!"
"Garing!"
"Renyah berarti padahal aku baru belajar masak eh,"
"Kamu tuh iya .."
"Giordano Prana Putra."
"Nama kok merk t-shirt,"
"Yang penting bukan merk bra atau kutang. Lagian itukan brand, Non, bukan cuma t-shirt."
"Gak usah ceramah,"
"Ceramah? Wah, wah, ternyata aku ini ada potongan jadi pendeta ya baru ngeh ini aku, makasih loh. Besok, besok, aku ambil sekolah pendeta ah."
"Io, mau sampai kapan begitu,"
"Begitu apanya!? Sekolah pendeta kan sekolahnya cuma empat tahun, masak gitu aja kamu nggak tahu."
"Serius, Io, please, serius... Jangan pake nyanyi!"
"Hahaha... Tempe aja kamu ya,"
"Kamu tuh ya, segala tempe dibawa-bawa."
"Lah kemarin itu aku mimpinya kamu itu goreng tempe loh."
"Goreng tempe!?"
"Iya goreng tempe tepung dicocol sama saus gedebak-gedebuk."
"Gedebak-gedebuk!?"
"Itu loh yang enak itu."
"Lah menurut kamu semua sambal itu kan enak,"
"Iya yang dulu sering kita makan di warung dekat kampus itu loh, yang sering aku cocol pake goreng pisang."
"Dabu-dabu...!"
"Oh udah ganti toh,"
"Kamu tuh ya..."
"Kamu kangen ya dengan candaannya Ike."
"Iya udah ketemuan besok deh bakal gak ada selesainya ini kalau diterusin."
"Kamu gak mau dengar bagaimana aku mengunyah gorengan tempe yang kamu buat?"
"Krenyes, Krenyes kan?"
"Bukan!"
"Kriuk, kriuk, kriuk..."
"Salah!"
"Terus!?"
"Lemes, lemes, lemes..."
"Kok!?"
"Lah tempenya letoy..."
"Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya..."
"Bukan! Di ruang rindu kita bertemu..."
"Itu mah Letto,"
"Itu kamu tempe,"
"Tahu!"
"Bosen!"
"Udah ah!"
"Belum masuk juga,"
"Apa sih!?"
"Kok judes!?"
"Otak kamu itu!"
"Bercandaanya belum masuk,"
"Pinter ngeles kamu. Udah aku mau tidur."
"Mimpikan aku ya,"
"Eh...."
"Please..."
"Gak janji ya..."
"Aku aja mimpi kamu, kok, kamu nggak, ada cowok lain!?"
"Udah deh jangan mulai,"
"Fore play juga belum,"
"Kamu udah pengen ya,"
"Banget, banget..."
"Pengen kena tinju?!"
"Takut...,"
"Bye...."
"Miss you..."
"Hmmm..."
Hari dan jam yang dinanti pun tiba, meski agak telat sedikit, berhubung hujan yang sempat turun dengan derasnya, yang tak pelak menghadirkan genangan di jalan-jalan, kurang lebih dua jengkal tangan orang dewasa, yang perlahan-lahan surut hingga tersisa genangan semata kaki. Belum lagi dengan jalan yang macet, agak lumayan parah, imbas dari hujan itu juga tentunya. Cafe B, duduk di pojokan sambil menyeruput kopi cappucino dan buku yang menggeletak terbuka di atas meja.
"Maaf kamu menunggu lama ya?"
"Baru satu jaman setengah,"
"Aduh! Lama dong maaf ya, soalnya..."
"Tahu, hujan kan?"
Disahut dengan anggukan kepala.
"Pasti macet juga kan,"
Kembali disahut dengan anggukkan kepala.
"Dari sini juga kelihatan kok," menunjuk ke arah jendela kaca. "Parah ya?"
"Banget...!"
"Ke sini naik apa?"
"Taksi online apalagi,"
"Oh..."
"Kamu?"
"Si Jago...!"
"Gak kehujanan?"
"Sebelum hujan sudah di sini."
"Berarti..."
"Iya habis tiga gelas lah."
"Niat banget ya kayaknya."
"Namanya juga kangen,"
"Alah...Lebay,"
"Emang kamu nggak?"
"Bosan?"
"Sama hubungan kita?"
"Kok gitu?"
"Lah kan kamu yang ngomong,"
"Gombalan kamu,"
"Aku nggak gombal kok,"
"Iya nggak gombal, tapi, gombel."
"Hantu dong?"
"Emang,"
"Seperti lagu Dewa itu ya?"
"Yang mana?"
"Kamu seperti hantu terus menghantui ku..."
"Di dalam keramaian aku merasa sepi..."
"Lagunya pas ya dengan kondisi hubungan kita,"
"Masak!?"
"Lah buktinya... Ngomong-ngomong kamu mau pesan apa?"
"Ndak, aku ndak pengen."
"Terus?"
"Iya aku ngomong."
"Soal?"
"Iya apalagi..."
"Prinsip kamu masih seperti yang kemarin?"
"Kamu?"
"Gak jauh beda."
"Terus?"
"Terus... Iya sekarang aku menunggu vonis dari kamu aja deh."
"Kok aku? Kamu dong kamu kan laki-laki."
"Ada emang hukumnya begitu? Bukannya sekarang sudah jamannya kesetaraan gender ya?"
"Emang kamu..."
"Siap nggak siap!"
"Belum juga selesai ngomong,"
"Bisa aku baca dari tatapan mata kamu,"
"Apa emang?"
"Iya vonis mati..."
"Oh..." Menganggukkan kepala.
"Sakit sih,"
"Masak?"
"Belum diomongin aja udah kerasa,"
"Perih ya?"
"Banget..."
"Menusuk-nusuk?"
"Mengoyak-ngoyak malah."
"Oh..." Mengangguk lagi.
"Sakit," berlagak mencabik dada sendiri.
"Lebay...!"
"Buruan aku sudah bernafas dengan kepayahan ini."
"Kalau aku ngomong kamu bakal mati nggak!?"
"Mudah-mudahan nggak,"
"Berarti ada yang lain dong?"
"Paling nggak, matinya nggak di sini begitu."
"Kenapa?"
"Malu..!"
"Ke siapa?"
"Ke siapa saja yang ada di sini, iya, terutama kamu."
"Gio..."
"Iya..."
"Kamu tuh lelaki baik,"
"Apa kamu mau bilang, 'aku nggak cocok buat kamu, karena aku nggak sebaik yang kamu pikir' begitu?"
"Sok tahu,"
"Iya kayak sinetron-sinetron di tivi."
"Mimpi kamu itu, Gio..."
"Dan keinginan kamu nggak seia sekata, sering sejalan begitu?"
"Kamu tuh iya nyamber aja,"
"Jujur aku takut kamu putusi!"
"Kok?"
"Gak tahu, mungkin karena wajahku yang rada minus ini, jadi agak ragu gitu, kalau aku nanti putus sama kamu, aku bisa cari pengganti apa gitu."
"Jangan pesimis gitu dong,"
"Dua, temanku kan banyakan cowok, selain dengan kamu mana pernah aku jalan dengan perempuan lain, jangan kata jalan, kenalan juga nggak! Takut-takutnya aku bakal jadi..."
"Ihh amit-amit jabang bayi, Gio, kamu tuh ngelanturnya sampai ke sana-sana."
"Segala sesuatu itu kan dimulai dari curhat,"
"Maksud kamu?"
"Iya teman curhatku siapa coba!?"
"Ihhh Gio kamu tuh iya..."
"Terus gimana dong?"
"Gimana kalau..."
"Aku gak mau jadi sahabat kamu, sakit tahu!"
"Kamu tuh nyamber mulu, kesal aku!!"
"Mau ke mana?"
"Pulang...!"
"Terus...?"
"Suka-suka kamu lah."
"Kita gak jadi putus!?"
"Kalau kamu mati di sini badan kamu berat aku susah mengangkatnya."
"Iya panggil ambulans aja,"
"Di luar macet, Gio...!"
"Berarti kita nggak jadi putus!?"
"Prett...."
"Yul, Yul... Yulianto Sambesi..."
"Emoh...!"
"Aku padamu, Yul. Yulianto Sambesi..." Teriak Giordano Prana Putra padahal orang yang diteriaki sudah jauh di luar sana. "Aku juga padamu, Mas." tiba-tiba muncul seseorang menanggapi seruan tersebut.
"Kamu siapa? Giordano Prana Putra kaget.
"Saya Yulianto Sambesi." kata yang menanggapi dengan lagak kemayu, tangan Giordano ia jabat, lalu lidahnya ia julurkan sambil kemudian melingkar-lingkarkannya di langit-langit bibir, setelah itu giliran sebelah matanya mengedip. "Cling..."
"Ogaaah...." Giordano Prana Putra pasang langkah seribu.
"Ihhh sok jual mahal," Dengan lagak kemayu, si lelaki bewok, Yulianto Sambesi, menuding kesel ke arah Giordano Prana Putra yang kian kencang berlari. "Di obral aja gue masih pikir-pikir, nek!"
***