Jam 06.00 aku terbangun dari tidurku, mengucek mataku dengan kedua tanganku lalu melihat sekeliling kamar. Tak ada yang berubah selama setahun ini aku menjalani hidup yang begitu menyedihkan. Tidak! ini bahkan sangat menyedihkan membuatku ingin mati saja. karena aku tau menjalani hidup yang seperti ini lebih buruk daripada berhenti bernapas.
aku terdiam beberapa saat, mencoba untuk tetap kuat. setalah kepergian kedua orang tuaku hidupku menjadi kacau. kedua orang tua ku meninggal dalam kecelakaan aku yang saat itu juga bersama mereka mengalami koma selama sebulan. Dan hari terburuk ku pun dimulai, setelah kedua orang tuaku pergi keluarga almarhum ayahku tidak peduli lagi denganku mereka sibuk memperebutkan harta dan mengabaikanku.
setelah mereka mendapat bagiannya masing-masing mereka membuang ku, dan saat itu aku bersumpah bahwa aku bukan lagi anggota keluarga 'Danedra'
Aku diusir dari rumah oleh keluarga ayahku karena sejak dulu mereka tidak menyukai kehadiran aku dan ibuku dikarenakan ibuku hanya orang miskin sedangkan ayahku adalah seorang pewaris seluruh kekayaan kakek ku yang tidak lain adalah pengusaha sukses. Dan ayahku adalah anak pertama sekaligus satu-satunya anak laki-laki dikeluarkannya. jadi secara langsung juga menjadi pewaris tunggal meski pun kedua saudarinya mendapat bagian tapi itu tak sebanding dengan ayahku.
Ayahku adalah pahlawan untukku dan ibuku, ia tak begitu peduli dengan semua harta karena baginya kebahagiaan ku dan ibu adalah harta terbesar baginya. aku sangat mengagumi nya, sungguh.
sedangkan ibuku adalah perempuan berhati malaikat, ia mencintai ayahku apa adanya. ia bahkan jarang menggunakan uang dari ayah. Ya! ibuku mempunyai sebuah toko kue, ia ingin menghasilkan uang sendiri tak ingin bergantung pada ayahku. meskipun sebenarnya ayah tidak mengizinkan ibu bekerja tapi karena kegigihan ibu ayah pun menyetujui nya.
Jujur ketika itu hidupku benar-benar bahagia. aku tak ingin apa-apa lagi. cukup ayah dan ibu tetap disisiku itu sudah membuatku bahagia.
Hingga hari itu tiba, ketika kami berangkat bersama. seperti biasanya kami berangkat bertiga. ayah akan mengantarku kesekolah lebih dulu, setelah itu mengantar ibu ke toko kuenya dan baru setalah itu ayah akan berangkat ke kantor.
''Arsy sayang, mom mo tanya deh. nanti kamu mau jadi apa?" mommy menoleh kebelakang sambil tersenyum
"emm...Arsy pengen bareng terus sama mom sama dad. That's it." jawabku dengan membalas senyum
"kamu ada-ada aja sayang, maksud mom itu. cita-cita kamu itu apa? masa nanti kalo mom sama dad Uda gada kamu gatau jadi apa" seolah mom punya firasat, namun dalam hati aku menyangkalnya, aku tidak siap jika mereka harus pergi. Dan aku gabakal rela.
Deg! entah mengapa kata 'gada' itu membuatku kuatir. Aku tak pernah berpikir bagaimana nanti aku hidup tanpa orang tua yang sangat aku cintai, apa aku masih bisa hidup
"mom, dad. janji sama Arsy, kalian gabakal pergi apapun alasannya. Arsy gamau ditinggal sama kalian. kalian itu hidup Arsy. Arsy mo mati aja kalo kalian ninggalin Arsy" jawabku mulai terisak
Dad menghentikan mobil dipinggir jalan. mom dan dad menghampiriku yang ada di bangku belakang yang masih terisak.
"No, sayang. jangan nangis, mom sama dad gabakal ninggalin Arsy" kata mom sambil mengelus punggungku dad juga melakukan hal yang sama
"Matahari nya dad, gabole nangis. dad sama mom bakal selalu jagain kamu" dad pun memelukku begitu juga dengan mom
selepas itu mom dan dad kembali ke kursi mereka lagi, kamipun melanjutkan perjalanan.
aku pengen jadi pengacara mom, dad. nanti setelah lulus aku bakal kasih kejutan buat kalian kalo aku Uda diterima di universitas terbaik.
batin Arsy.
Ditengah perjalanan saat dad berbelok aku melihat sebuah truk besar melaju kearah kami aku berteriak namun terlambat truk itu menabrak mobil kami. Mobil kami terjun kejurang beserta truk dan muatannya.
samar-samar aku melihat ayah tersenyum kearahku tangannya patah ketika berusaha melindungi kepalaku dari benturan dengan darah yang mengucur deras dari kepalanya. sedangkan ibuku, ia nampak merintih kakinya terjepit kulihat air mata membasahi kedua pipinya. Namun ia masih memberi senyum hangatnya padaku.
Tolong Tuhan katakan bahwa ini mimpi. Napasku tercekat, aku menangis berteriak namun sia-sia aku tak bisa berkata apapun.
Dan aku melihat ayah dan ibu menutup mata dengan senyum, betapa hancurnya yang kurasakan saat itu. tak lama pandanganku kabur dan semua nampak gelap.
drttt...drttt
suara handphone ku membuat kenangan suram itu seolah berhenti dari pikiranku.
"Ar, lu bangun kesiangan lagi. cepetan siap-siap sana. Gue jemput"
"gue bisa sendiri" kututup telepon tanpa menghiraukan Maxim yang sepertinya akan mengomel lagi padaku.
aku masuk kedalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri. 15 menit akupun sudah siap. aku mengunci kamar dan menunggu angkot untuk kesekolah. kubuka tas ku lalu mengambil headset hitam lalu menyelipkan nya dikedua telingaku, memutar musik untuk menghilangkan kenangan kelam ku, aku..aku tak kuat.
Tak lama Maxim datang dengan moge nya, ia laki-laki tampan, pintar, tapi ia sangat temperamen. Entah mengapa kami bisa berteman. mungkin karena kami sama. ya! nasib kami hampir sama. Ia kehilangan kasih sayang ibunya, ketika ia berumur 5 tahun. Dan mulai saat itu ia memiliki temperamen yang tak stabil.
ketika ia merasa terganggu maka ia cenderung menghajar siapapun itu, tak terkecuali. Tapi dia tak pernah sekalipun membentakku apalagi marah dengaku. aku merasa ia melindungiku. atau mungkin ia memang bersikap seperti itu karena mengganggap aku sama dengannya. Dan aku juga tak begitu peduli.
"bengong mulu Lo, sini naik" Maxim turun dari motornya dan mengambil sebuah helm hitam yang tak terlalu besar dan memasangkannya ke kepalaku.
"gue bisa sendiri" menepis tangannya.
"Uda sih, tinggal naik doang" katanya tak menghiraukan ucapaku. akupun tidak ingin berdebat lagi dengannya dan langsung menaiki motor gedenya ini.
jarak dari dari rumah kesekolah hanya 30 menit jika naik angkot tapi karena naik motor kami lebih cepat sampai. Maxim mematikan motornya dan melepas helmnya aku juga melakukan hal yang sama.
kamipun menuju kelas bersama. Sesampainya dikelas aku memilih duduk dikursiku dan tidur. Maxim yang juga semeja denganku selalu menggangguku ketika tidur kadang ia menyenggol lenganku, menjatuhkan pulpenku, meniup telingaku dan masih banyak hal aneh yang ia lakukan.
aku kadang merasa heran kenapaa ia seperti orang gila saat bersamaku tapi ketika dengan orang lain ia seperti orang yang begitu cuek dan dingin, jangan tanya aku. aku juga tak punya jawabannya.
Ting...Ting
lonceng tanda kelas mulai pun berbunyi, suasana kelas yang tadinya seperti pasar seketika berubah senyap dan diam. Tak lama pintu kelas terbuka dan sesosok laki-laki berumur 37 tahun masuk kedalam kelas dengan membawa sebuah buku paket ditangan kirinya. Ia adalah pak Fahmi guru Agama sekaligus guru matematika yang nebjadi guru favorit semua siswa-siswi di SMA. ia ramah, dan sangat suka membuat lelucon. kali ini ia akan mengajar matematika dikelas ini. semua siswa sangat antusias dengan pelajaran nya.
"selamat pagi anak-anak" sapanya dengan senyum khasnya. meski sudah berumur hampir kepala empat ia masih terlihat sangat muda, berwibawa, pintar dan memiliki tubuh proporsional tak lupa dengan wajah teduhnya yang sangat amat tampaan menurut semua siswi.
"pagi pak" jawab kami serempak
"hari ini kita tidak akan belajar matematika ataupun Agam, bapak mau hari ini, kita bercerita tentang mimpi, keluarga, dan hidup" seketika suasana senyap berubah ricuh
"Tolong, Jagan ribut"
"beneran nih pak? bapak tumben ngajak bercerita" tanya Erin, siswi dengan rambut pendek sebahu. sependek pengetahuan ku ia adalah siswi paling cerewet dikelas ini. Dan aku tidak peduli
"Benar,Erin. bapak mau denger dari kalian satu persatu. oke"
"sekarang kita mulai dari Mike, silahkan berdiri dan ceritakan mimpi, keluarga dan hidupmu Mike"
Mike berdiri dengan gagahnya, ia juga lelaki tampan dikelas ini. ia tersenyum hangat.
" hai semua gue harap kalian ga bosen denger suara gue"
"gue malah candu sama suara Lo Mike" kata Jesika yang langsung disambut tawa oleh semua orang
"uuuuuuu....uuuuuu"
"apasih, sitik lu pada ya" katanya
" oke temen-temen gue punya mimpi jadi pemain basket nasional dan bisa bawa nama baik sekolah kita, jadi gue minta dukungan kalian semua. Keluarga gue adalah orang-orang yang selalu dukung gue, terutama nyokap gue. Dia adalah senyuman buat gue, dan bokap gue adalah pahlawan buat gue. Menurut gue hidup itu tentang kebebasan. terimakasih" katanya mengakhiri pidatonya lalu disambut tepuk tangan meriah
"wah, bagus Mike. bapak juga dukung kamu. Sekaran bapak mau denger dari Felicia. silakan"
"pak, kok bukan saya sih. kan saya juga pengen"
keluh Jesika sembari bersikap sok imut
"Nanti bapak kasih kesempatan buat kamu, tapi serang Felicia dulu"
Felicia adalah satu-satunya siswi yang berhijab dikelas kami meski rata-rata beragama muslim mereka nampak tak suka mengenakan hijab. kecuali aku, soalnya aku Kristen.
"terimakasih pak, Assalamualaikum semua. saya Felicia Adara, mimpi saya menjadi seorang perawat. keluarga saya adalah hidup saya. ayah saya adlaah kekuatan saya dan pelindung saya dan ibu saya adlaah surga untuk saya. Bagi saya hidup adlaha ketulusan dalam menjalaninya. terimakasih"
"Bagus Felicia, bapak doakan semoga bisa tercapai. tepuk tangan untuk Feli. sekarang Arsy. silakan"
"ssttt, Ar. Lo dipanggil tuh. oy bangun Lo" bisik Maxim. sebenarnya aku tidak tidur. aku pun berdiri dan melepas headset dari telingaku
"gue Arsy. mimpi? apa gue punya? kayaknya engga"
aku menarik napas berusaha menahan sesak ketika mendengar yang lain berbicara tentang keluarga. lalu apa yang akan kukatakan. haruskan aku bercerita keluargaku gila harta?
"keluarga bagi gue adalah mereka yang datang dengan senyum palsu dan mereka adlaha orang-orang yang dengan sengaja ngehancurin hidup gue" kataku tersenyum kecut
"mereka adalah orang asing yang berlebel keluarga. haha. mereka juga adalahorang yang paling gue benci, gue berharap gue gapunya darah dari mereka tapi sialnya gue malah punya. bagi gue mereka ga lebih dari sekumpulan iblis berwujud manusia. Dan menurut gue hidup adalah kematian. gue juga gabutuh belas kasihan dari kalian"
setelah berbicara seperti itu akupun duduk tanpa menghiraukan mereka. sedangkan pak Fahmi ia nampak kaget. lalu berusaha menyembunyikannya.
tiba-tiba lonceng tanda istirahat pun berbunyi
" baik anak-anak karena waktunya habis kita sudahi dulu pertemuan kita. Minggu depan kita sambung" ia pun meninggalkan kelas
seluruh siswa siswi mulai meninggalkan kelas dan pergi ke kantin ada beberapa yang ngegibah dan aku juga mendengar mereka sedang membicarakan ku, dan apa peduliku.
tepat jam 13.00 sekolah pun berakhir
" gue anter ya"
"gausah"
"gada penolakan" Maxim memasangkan helm padakau dan mau tak mau aku harus diantar olehnya, lagipula aku juga harus menghemat karena masih belum dapat pekerjaaan aku hanya diberika 300 ribu oleh saudari ayahku tiap bulan sebagai kompensasi. meskipun aku ingin menolaknya tapi aku juga membutuhkan nya untuk bertahan hidup.
ditengah jalan kami dihadang oleh beberapa preman, Maxim menancap gas nya. aku juga bingung mengapa tiba-tiba ada orang yang ingin mencelakai kami.
Tapi tunggu apakah ini perbuatan Tante Vera dan Tante Alena. karena aku menolak menandatangani surat perjanjian untuk menyerahkan perusahaan kerangan mereka? jika ia aku benar-benar tidak akan memaafkan mereka. belum puaskah mereka membuang ku, mengambil rumahku dan skrng mereka ingin mengambil perusahaan dan toko ibuku? mereka benar-benar keterlaluan.
jika begitu cara kalian bermain maka mulai sekarang akan kubuktikan bahwa aku tak selemah yang kalian kira. aku akan mengambil semua apa yang menjadi hak ku, dan tak kan kubiarkan kalian mendapatkan apapun dariku barang sepeserpun