CINTA...
Sebuah anugerah dari tuhan yang belum tentu semua orang bisa merasakannya. Itulah yang aku rasakan.
Semula berawal dari pekerjaan, kala itu SPV ku memintaku menyelesaikan sisa ekspor barang hasil produksi perusahaan.
"Aina tolong cepat selesaikan sisa ekspor barang nya hari ini ya." Perintah SPV ku.
"Iya kak." Jawabku.
Kami memang akrab memanggil atasan dengan sebutan itu, karena SPV yang meminta. Berhubung aku mendapat perintah tersebut, aku pun di pindahkan ruangan.
Setibanya di ruangan tersebut, tiba-tiba aku terpesona pada salah satu karyawan yang bekerja di sana. Dia begitu tampan, berkulit putih dan tinggi. Seketika itu pula, jantungku terus berdebu kencang, aliran darahku terus mendesir.
Deg...
Jantungku dibuat lagi berdetak kencang, saat SPV ku memintaku duduk di sebelahnya. Tentu saja aku pun gugup dan salah tingkah. Dia melempar senyum padaku, membuatku semakin tak karuan. Rasanya jantungku terasa mau copot.
"Hai, kenalin aku Firman." Sapanya.
Mendengar suaranya yang lembut, membuat aku semakin terpana. Dia menjulurkan tangannya padaku untuk berjabat, sementara aku hanya terdiam mematung.
"Jangan di pandang terus."
Sebuah suara itu mengejutkanku dari lamunan. Ternyata itu suara SPV ku, dia cekikikan melihatku kala itu. Dengan perasaan malu, aku pun berusaha menjabat tangannya.
"A..aku Aina."Ucapku tersendat-sendat.
Wah...tak hanya wajahnya yang mulus, tangannya pun begitu lembut. Berbeda jauh dari tanganku yang kasar, Seketika aku merasa sangat malu rasanya ingin menyayat habis telapak tangan ini saat itu juga. Tapi Oh No... Jika aku terluka bagaimana aku bisa kerja, Otak sok pintarku menyadarkan aku dari keterpanaan ini.
Lalu aku duduk di sebelahnya dan memulai tugasku. Kulihat dia begitu sibuk dengan kerjaannya. Dengan perasaan yang gak karuan aku memulai bekerja. Dari sudut mataku, aku terus memperhatikan gerak-geriknya, Sungguh... aku jatuh cinta pandangan pertama.
Karena kehadirannya yang mampu menggetarkan hatiku, waktu pun sampai tak terasa sudah tibanya Jam pulang. Aku pun bergegas untuk pulang, secara tak sengaja aku melirik ke belakang. Ternyata dia berada di belakangku saat Check Body oleh Security.
"Hai." Dia melambai padaku.
Ah... dia lagi-lagi membuatku klepek-klepek dengan pesona tampannya, rasanya tak tahan lagi aku dengan perasaan ini, wajahku sepertinya sudah memerah merona. Sampai pulang ke rumah pun aku terus membayangkan wajah tampannya itu sampai-sampai aku di buatnya tak bisa tidur semalaman.
Keesokkannya aku sangat bersemangat untuk pergi bekerja, ya siapa lagi kalau bukan si Dia yang membuatku bersemangat seperti ini.
Pagi itu seperti biasa dia melempar senyum padaku dan menyapaku.
"Pagi." Sapanya.
"Oh Bambang ini masih pagi, kenapa sudah bikin aku klepek-klepek." Ucapku dalam hati.
Aku di sana terdiam terpaku saat sepasang mata kami menatap lekat. hingga hampir setiap hari bertemu aku selalu di buatnya klepek-klepek, rasanya perasaan yang aku miliki saat ini tak bisa terbendung lagi, apa lagi ketika dia dengan sabarnya membantu menyelesaikan masalah pekerjaanku.
Begitu juga sekarang, dia selalu melakukan hal yang sama, membantu pekerjaanku, berbagi makanan denganku, Sampai perasaan cinta itu benar tumbuh di hatiku.
"Rajin banget, ini masih pagi loh jam masuk kerja masih setengah jam."Ujarnya. Saat melihatku sudah lebih dulu datang ke tempat kerja kami.
"Eh iya, tak apalah." Jawabku malu-malu.
Selama jam kerja itu, aku terus memikirkan dia yang berada duduk di sampingku saat ini. Dia sungguh pria kriteria yang aku cari, aku sibuk dengan pikiranku yang sedang berkhayal, berandai-andai aku jadi pacarnya, aku jadi Istrinya Pasti dunia ini terasa indah, serasa dunia ini milik berdua yang lain hanya ngontrak.
"Mas. Kepalaku sakit."
Tiba-tiba sebuah suara membangunkan aku dari khayalanku, Aku melirik ke arah sumber suara itu. Kulihat ada seorang wanita berparas manis berdiri di sampingnya. Cewek itu berkulit sawo matang namun wajahnya cantik, lebih tepatnya hitam manis. Saat itu juga hatiku merasa cemburu.
"Siapa sih cewek ini." Gerutuku dalam hati.
Aku mencoba mendengarkan percakapan mereka, hanya sebatas ingin tahu. Karena aku lihat dia dan cewek itu begitu dekat dan mesra. Membuat hatiku semakin terbakar api cemburu. Sambil berpura-pura bekerja, aku mengupingnya.
"Mas kepalaku pusing lagi, aku mau pulang duluan iya." Ucap si cewek itu.
"Iya sayang, apa mualnya masih sering?"Tanya Firman saat itu.
"Nggak terlalu, cuma nggak tahan sama bau obat di sini."
"Ya sudah, kamu pulang dan istirahat. Nanti sore kita cek kandungan kamu."
Mendengar kata "KITA CEK KANDUNGANMU." Seketika hatiku hancur dan shock, bak di sambar petir di siang bolong. Badanku gemetar, jantungku dag dig dug menahan rasa sesak di dadaku. Iya, Si Dia yang aku kagumi selama beberapa hari ini, ternyata sudah milik orang lain. Sakit memang, tapi mau bagaimana lagi inilah kenyataan yang harus ku terima.
Tak sanggup lagi mendengar pembicaraan Pasutri muda itu, aku pun berlari ke toilet. Di dalam toilet aku menangis sambil menatap diri di cermin.
"Kenapa aku begitu lemah ya tuhan, hanya karena dia ramah hatiku langsung meleleh. Sampai berangan jauh jika kelak dia akan jadi milikku kenapa?" Aku bertanya pada diriku sendiri.
Memang Bodoh. Hanya karena dia begitu baik dan ramah, kamu pikir dia akan tertarik dan menyukaimu? belum tentu. Otak sok pintarku kembali menasehatiku. Aku pun berusaha melapangkan dada menerima kenyataan itu. Biarlah Cinta yang pernah aku miliki cukup aku pendam.
Semenjak itu, aku menutup diri agar tidak mudah tergoda atau terpana akan ketampanan seseorang maupun keramah tamahannya. Bisa saja itu memang hanya caranya dia berkomunikasi dengan orang baru seperti yang Dia lakukan padaku sejak itu.
The End...
Hai teman-teman jangan lupa kadih likenya ya. Mampir juga ke karyaku ya, masih on going judulnya "Single Mom."
Di tunggu ya man teman kehadirannya. thank you