Hari ini adalah hari dimana Dylan akan menemui sekolah barunya di SMA Seni Musik. Dia sudah bersiap siap sejak pukul 5 pagi.
Tap tap tap....
Suara langkah kakinya saat dia tiba di SMA Seni Musik. Dia memasuki sebuah ruangan kelas di sudut kiri halaman sekolah.
Dia menaruh ranselnya di kursi yang akan ia duduki. Kemudian beberapa anak berikutnya mulai memasuki ruangan kelas itu juga.
Ada satu anak perempuan yang terakhir kali memasuki ruangan kelas itu, namanya adalah Giselle.
Terlihat Giselle sedang menangis saat memasuki ruangan kelas. Wajahnya pucat dan penampilannya begitu berantakan.
Kring!!
Suara bel istirahat. Semua siswa di SMA Seni Musik itu keluar dari kelas masing masing dan berlarian menuju kantin sekolah.
Ketika Dylan melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan toilet, dia melihat Giselle sedang di rundung oleh perempuan lain entah itu teman atau musuhnya.
Dylan yang melihatnya tidak hanya terdiam, dia langsung mendekati Giselle dan menarik tangannya.
Anak perempuan lain kagum ketika melihat seorang lelaki tampan, yakni Dylan mau membantu Giselle, anak miskin.
"Seharusnya tidak seperti ini cara kalian memperlakukan orang lain". Ucap Dylan sambil membersihkan kotoran yang tertinggal di baju Giselle.
Sontak, perempuan yang lain kini terdiam. Satu anak yang di sebut sebagai ketua genk itu akhirnya menyuruh kawanannya untuk pergi meninggalkan Giselle.
Giselle tersenyum, dia kemudian menundukkan badannya dan beranjak pergi dari tempat itu. Namun ketika Giselle hendak melangkahkan kakinya, Dylan secepat mungkin meraih tangannya dan menariknya kembali.
"Siapa namamu?". Tanya Dylan sambil menampakkan wajah dinginnya pada Giselle.
Giselle hanya terdiam karena merasa malu dirinya di bantu oleh lelaki tampan yang dingin.
Dylan kembali bertanya, namun Giselle hanya tersenyum lalu pergi. Dylan hanya bisa berharap kalau dirinya bisa bertemu lagi dengan Giselle dan Giselle mau memberi tau namanya.
Hari berganti hari...kali ini adalah hari dimana festival seni musik di SMA Dylan diadakan.
Hari itu semua siswa yang akan tampil sudah bersiap di posisi masing masing, kecuali Giselle.
Giselle hanya termenung di sebuah ruangan kelasnya. Dia menangis karena lagi lagi di rundung oleh teman temannya. Bukan hanya di sekarang, saat sekolah di sekolah sebelumnya dia juga sempat mengalami hal yang sama. Begitu juga saat ia masing duduk di SD.
Plak!
Seorang perempuan yakni ketua genk itu menampar keras wajah Giselle. Namun Giselle hanya terdiam, dia memang lemah soal masalah bullying.
"Kau memang cantik, namun lihatlah keberadaan mu. Kau hanyalah seorang wanita miskin yang tidak mempunyai keluarga!". Ucap ketua genk itu. Namanya adalah Selena.
"Merundung Ku itu tidak ada untungnya, kau hanya akan di hukum atas tindakanmu padaku!". Teriak Giselle sambil menangis tersedu sedu.
Tak lama setelah itu, Dylan datang ke kelasnya untuk mengambil sebuah kamera miliknya. Namun kebetulan saja dia melihat Giselle yang sedang menangis. Karena tidak tega melihatnya terus terusan menangis, akhirnya Dylan pun mendekatinya dengan tangan kosong.
"Apalagi yang kalian lakukan padanya? Apa kalian ini tidak punya hati nurani?". Tanya Dylan yang kembali menunjukkan wajah dinginnya pada seorang wanita.
Selena tersenyum dan mendekati Dylan, dia kemudian menarik keras kerah Dylan.
Bang!
Dylan mendorong Selena sampai terjatuh, Selena hanya tersenyum karena dirinya di perlakukan buruk oleh seorang lelaki.
"Aku tidak akan mengampuni mu karena telah memperlakukanku seperti itu. Serta kau sudah membantu wanita murahan ini dengan tangan mu sendiri!". Ucap Selena sembari meludahi pakaian Dylan.
Kemudian Selena dan kawanannya meninggalkan Dylan dan Giselle di ruangan kelas.
"Maaf. Karena diriku, kau yang menjadi sasaran". Kata Giselle sambil menundukkan kepalanya.
Dylan hanya tersenyum dia kemudian mengelus elus kepala Giselle dengan tangannya.
"Apa sebaiknya aku menghubungi polisi?". Tanya Dylan sembari mengambil ponselnya di saku kiri bajunya.
"Tidak perlu. Aku baik baik saja". Jawab Giselle sambil melambaikan tangannya.
Tanpa sepatah katapun, Giselle kemudian berlari menuju halaman belakang sekolah.
Dylan dengan cepat mengejarnya sampai halaman belakang sekolah. Terlihat Giselle sedang duduk di kursi taman.
Dylan pun mendekatinya, dan dia kemudian duduk tepat di samping Giselle.
"Bisakah kau memberi tau namamu?". Tanya Dylan.
Namun Giselle hanya terdiam, dia merasa malu jika dirinya memberi tau namanya pada Dylan.
"Namaku Dylan. Aku adalah anak kedua dari keluarga ku. Kakakku telah tiada sejak aku duduk di SMP". Ujar Dylan sambil mengulurkan tangannya.
Kali ini Giselle benar benar memberi tau namanya pada Dylan. Dia merasa tidak enak jika dirinya sudah di bantu oleh Dylan namun tak mau memberi tau namanya.
"Namaku Giselle. Aku tinggal seorang diri di bangunan Madam". Jawab Giselle sembari menangkap tangan Dylan.
Dylan kemudian tersenyum mengetahui nama Giselle.
"Memangnya dimana keluargamu? Mengapa kau hidup seorang diri. Dan lagi kau tinggal di bangunan Madam". Ujar Dylan sambil jongkok di bawah Giselle.
"Keluargaku membuang diriku saat aku berusia 3 tahun. Namun apa boleh buat? Saat itu aku belum mengerti apa artinya keluarga". Jawab Giselle sambil tersenyum tipis menunjukkan bahwa dirinya sedang sedih.
Dylan kemudian meneteskan air matanya ketika mengetahui kisah sebenarnya tentang Giselle.
Hari demi hari Giselle lalui berbagai macam kenangan bersama Dylan. Kali ini sudah 2 tahun lamanya mereka bersekolah di SMA Seni Musik.
Saat itu adalah hari kelulusan mereka. Dylan terlihat rapi mengenakan kas kelulusan. Begitu juga dengan Giselle yang terlihat begitu anggun mengenakan dress kelulusan.
Ketika semua anak sedang sibuk dengan kelulusannya, tak di duga Giselle mendapat sebuah pesan dari Dylan lewat WeChat Nya.
-Aku sedang berada di halaman sekolah. Bisakah kita bertemu sebentar?-
Tanya Dylan melalui WeChat.
Giselle tersenyum mendapat pesan darinya, dengan cepat kemudian Giselle berlari menuju halaman belakang sekolah.
"Ah, akhirnya kau sampai". Ucap Dylan saat dirinya melihat Giselle sampai di halaman belakang sekolah.
Giselle mengangguk dia kemudian mendekati Dylan dan memeluknya erat erat.
"Tak kusangka, hari dimana kita akan berpisah telah tiba". Kata Giselle sembari memegangi dress-nya.
Tanpa rasa ragu, Dylan kemudian menekuk kan sebelah kakinya dan berjongkok tepat di depan Giselle.
"Selama ini...aku sangat mencintaimu". Ucap Dylan yang akhirnya membuat Giselle terkejut.
Detak jantung kini berdetak kencang, rasa senang dan sedih menimpa Giselle serta Dylan.
"Aku...aku juga mencintaimu. Aku sangat mencintaimu!". Teriak Giselle sambil meneteskan air matanya melihat semuanya telah berakhir begitu cepat.
Dylan akhirnya memeluk Giselle erat erat dan memberinya sebuah kain rajut buatannya sendiri. Dylan berharap kalau Giselle menyimpan kain rajut itu selamanya.
Dengan rasa sedih dalam hatinya, dia pun menerima kain rajut yang di beri oleh Dylan dan memegangnya begitu erat.
Tamat**
.Mohon dukungannya!