Ini adalah hari ulang tahun sahabat baikku—Harry Styles. Aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku padanya hari ini. Kubungkus roti kering kesukaannya yang selalu aku berikan padanya setiap tahun di hari ulang tahunnya secara diam-diam semenjak aku menyadari perasaanku padanya.
Namun, dulu sampai tahun lalu, aku masih belum punya keberanian untuk menyatakan perasaanku. Entah mendapat keberanian dari mana, kurasa ini adalah hari yang paling tepat untuk mengungkapkan rasaku.
Drrt....
Ponselku bergetar. Kuambil ponselku dan kutatap nama pengirim pesan yang sukses membuat bibirku melengkung ke atas.
[09:00] •Harry Styles.
Gwen, ada yang ingin kubicarakan padamu. Bisakah kita bertemu di Café biasanya? Tempat yang menjual kopi kesukaanmu.
Kebetulan sekali. Kurasa ini adalah hari yang baik untukku. Aku segera membalas cepat pesan Harry.
[09:02]•Gwen Anderson.
Kebetulan sekali, Harry. Ada yang ingin kubicarakan denganmu juga. Jadi, mari bertemu. Aku akan segera ke sana. Ke Café yang kau bicarakan.
Aku segera berganti baju dengan gaun musim panas terbaikku. Berdandan secantik mungkin. Adrenalinku rasanya tiba-tiba berpacu. Jantungku berdetak tak sesuai irama. Kumasukkan kedalam tas kotak hadiah yang tadi kupersiapkan untuk Harry. Segera aku bergegas ke Café tempat kami harusnya bertemu.
Aku tiba di depan Café bernuansa Prancis di hadapanku. Kulihat dari luar Harry sudah duduk di tempat favorit kami biasanya—di samping dinding kaca yang menghadap ke arah jalanan kota London.
Harry nampak tidak melihatku. Wajahnya terlihat sumringah. Aku menyentuh dadaku. Merasakan debaran tak beraturan yang muncul dari sana. Aku menarik napas panjang sebelum menghembuskannya kembali. Mempersiapkan diriku.
Aku segera membuka pintu kaca dan lonceng di atasnya bergerak membentuk dentingan indah. Aku menatap ke arah Harry yang mendongak ke arahku. Iris matanya yang berwarna hijau menatapku. Senyum manisnya yang menawan terlukis seketika di wajahnya. Ia melambaikan tangannya ke arahku.
Aku membalas lambaian tangan Harry dan mendekat ke arahnya. Senyuman Harry yang menular kepadaku tidak juga kuhapuskan. Aku segera duduk di hadapannya. Kuletakkan tas di atas pangkuanku di bawah meja.
"Gwen! Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ini serius," kata Harry bersemangat.
Masih dengan senyum di wajahku, aku menyentuh kotak hadiah di dalam tasku. "Aku juga, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Jadi sebenarnya—"
"Biar aku dulu. Aku benar-benar sudah tidak sabar mengatakannya padamu!"
Aku menganggukkan kepalaku sambil masih tersenyum. Jantungku semakin berdebar. Aku semakin gugup. Kira-kira apa yang ingin dikatakan Harry padaku? Aku menahan kotak hadiah yang sudah keluar setengahnya dari dalam tasku. Kubiarkan Harry mengatakan apa yang ingin dia katakan terlebih dahulu.
"Aku berkencan dengan Olivia! Kurasa dia adalah gadis yang mengirimiku kue kering kesukaanku setiap tahunnya di hari ualng tahunku. Dia gadis misterius yang selama ini kucari! Hari ini ia memberikanku kue kering itu lagi. Meskipun rasanya tidak sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kurasa itu masih tetaplah kue kering yang sama. Aku tidak peduli dengan rasa kue keringnya, yang terpenting aku mencintainya."
Deg!
Jantungku berhenti berdetak sejenak. Aku mengedipkan mataku beberapa kali. Berusaha mencerna kalimat yang dilontarkan Harry.
Setelah sadar, aku akhirnya menyungingkan senyum terbaikku. Berusaha bersikap sewajarnya. Berusaha menahan tangisku. Berusaha menampilkan raut wajah ikut berbahagia.
Kumasukkan kembali kotak hadiah yang hampir keluar dari dalam tasku tadi. "Benarkah? Akhirnya kau menemukannya juga. Aku turut berbahagia denganmu Harry!" kataku berusaha terlihat antusias. Yang kurasa malah terlihat berlebihan. Karena sekarang Harry malah mengerutkan dahinya menatap lekat ke arahku.
"Soal yang ingin kubicarakan denganmu adalah aku akhirnya berpacaran dengan Louis. Seniorku di kampus yang pernah kuceritakan padamu kalau dia mendekatiku." Aku berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan kebohongan.
Harry tampak tersenyum canggung. "Benarkah? Bagus untukmu," gumam Harry pelan.
Aku membuang wajahku menatap ke arah jalanan kota London yang terlihat di balik dinding kaca di sampingku. Kurasa aku tak mampu lagi menatap ke arah mata Harry.
Aku memutuskan untuk tidak jadi menyatakan perasaanku karena hubungan kita nantinya akan berakhir canggung. Tidak. Aku tidak ingin hubungan kami berubah. Aku belum siap kehilangan Harry.
Kurasa mencintai sepihak sudah cukup untukku. Aku sudah terlatih selama bertahun-tahun seperti ini. Yang terpenting Harry bahagia.
Aku menghembuskan napas pelan. "Biar aku saja yang mencintaimu. Kau tak perlu tahu. Semoga kau bahagia, Harry," lirihku dalam hati.
Selesai/End.