Aku berlari menuju rumah bibiku yang berada di desa sebelah. Dengan tangisan aku berlari sangat kencang. Setelah sampai aku menarik tangan bibi untuk menuju ke rumah. Awalnya bibi menolak dan menyuruhku untuk bercerita namun aku tetap memaksa bibi untuk ikut ke rumah terlebih dahulu.
Saat sampai di rumah kakakku sudah terbujur lemas di ruang tamu. Bibi yang melihat itu shock dan membawa kakak menuju kamar tidur. Setelah mengecek keadaan kakak bibi bertanya apa yang terjadi.
Saat kakak pulang malam tubuhnya terasa sangat berat dan sakit. Aku pikir itu hal yang wajar karena kakak bekerja di pabrik besar dan setiap hari harus pulang malam. Karena kasihan dengan kakak aku memutuskan untuk memijat tubuh kakak. Senyuman manis kini terukir dari wajahnya.
Seperti biasa setelah selesai bekerja kakak selalu bercerita tentang tempat kerjanya, temannya, dan juga makanan yang sering kakak makan. Aku mendengarkan cerita Kakak dengan semangat.
Kakak menceritakan bahwa ada 1 hantu yang selalu bersamanya ketika jaga malam. Hantu itu sangat baik dan selalu membantu kakak. Kakak juga bercerita tentang temannya yang iri akan kesuksesan kakak. Kalian tahu setelah kakak bercerita tentang temannya tiba-tiba terdengar suara keras menghantam genting rumah. Saat aku melihat ke luar tidak ada apapun di atas.
Sejak saat itu hal-hal aneh terjadi. Setiap kali kakak selesai bekerja dia selalu muntah-muntah, kadang kesurupan, sampai kejang-kejang. Kakek yang sehat tiba-tiba jatuh sakit. Nenek yang tidak bisa melihat makhluk gaib selalu di teror oleh mereka. Awalnya aku mengira itu hanya suatu kebetulan. Namun, kebetulan macam apa yang terjadi secara terus-menerus.
Waktu itu hari Jum'at aku bersama teman-teman pulang les setelah isya. Karena tempat les tak jauh dari rumah aku memutuskan untuk memakai sepeda. Belum sampai setengah perjalanan, Bukan hanya aku tapi teman-teman yang lain juga melihat sosok tubuh hitam, tinggi, besar, dan memiliki mata menyala sedang mengawasi kami dari balik pohon tebu. Sebenarnya jalan yang kami lalui adalah jalan sepi yang di apit oleh tumbuhan tebu, lapangan luas dan beberapa pohon pisang. Melihat hal itu kami mengayuh sepeda dengan cepat. Untungnya saat kami melewati masjid, Jin itu sudah tidak ada.
Waktu jam 3 subuh aku terbangun dan melaksanakan shalat tahajud. Awalnya berjalan lancar sampai ada bunyi piring jatuh. Saat aku mengecek dapur memang benar kalau ada 1 piring yang jatuh Namun, bagaimana bisa piring yang sudah dimasukkan ke dalam lemari bisa jatuh?. Setelah membereskan pecahan piring aku memutuskan untuk sekalian memasak.
Saat aku baru saja menggoreng ikan tiba-tiba ada tangan panjang berwarna hitam masuk dari celah-celah fentilasi dapur. Sebenernya aku sudah biasa melihat hal-hal ini jadi aku acuhkan dia. Namun, dia mengganggu ku dengan menjatuhkan alat-alat dapur. Sontak itu membuat diriku marah. Aku membaca surat-surat pendek dan ia menghilang.
Ke esokkan harinya saat kakak hendak mandi dia berteriak sangat kencang membuat beberapa warga datang. Saat di cek ternyata ada tanah liat yang berbau busuk, banyak belatung, paku berkarat, dan juga ular hitam besar. Untungnya pak RT datang dan dibantu warga untuk menangkap ular dan sekaligus membersihkan kamar mandi.
Setelah semua selesai beberapa warga bertanya kepada kakak apakah ada orang yang mempunyai niat jahat kepada keluarga kami? Kakak hanya menggeleng. Tetanggaku memaksa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Karena kemarin anaknya melihat banyak jin yang mengerubungi rumahku. Kakak merasa terkejut, padahal kami sekeluarga suka beribadah dan selalu membaca ayat suci Alquran setelah sholat. musholla juga hanya beberapa meter dari rumah. Mana mungkin menjadi sarang jin?.
Ke esokkan harinya ku lihat ada tanah lempung beserta belatung yang tercecer di lantai rumah. Rumah kami itu memiliki pagar yang tinggi dan tertutup Jadi, siapa juga yang iseng menyebarkan tanah berserta belatung di rumah orang. Saat aku tanya ke tetangga mereka juga tidak pernah melihat ada orang yang berada di rumahku.
Pada sore hari tiba-tiba kakek sakit. Kata kakek tubuhnya seperti ditusuk-tusuk jarum. Karena kakek tidak kuat jadi beliau di rawat di rumah sakit disusul nenek yang selalu ketakutan pada malam hari. Karena sudah berminggu-minggu kejadian di rumah ini sangat aneh. Aku memutuskan untuk memanggil guru mengaji untuk meminta bantuan. Saat guruku datang beliau begitu terkejut karena melihat banyak sekali makhluk gaib yang berada di rumahku. Guruku juga berkata bahwa keluarga kami sudah disantet.
Setelah berkata demikian guru meminta senior dan teman-teman untuk membantu mengaji. Pada surat pertama keadaan begitu ricuh. Semua orang juga mendengar rumahku seperti pasar yang sangat berisik. Beberapa ayat telah terbaca membuat hawa/suhu di rumahku semakin tinggi. Beberapa tetangga kami membantu untuk membaca surat-surat pendek. Akhirnya setelah 2 jam guru memutuskan berhenti membaca.
Guru berpesan jika nanti kakak pulang dia harus segera mandi dan membaca Alquran. Aku mengangguk dan menyampaikan amanah dari guru. Setelah 1 Minggu berlalu sekarang di rumah terasa damai. Kakek juga sudah kembali ke rumah. Kata dokter kakek tidak memiliki penyakit apapun/sehat. Nenek juga tidak pernah melihat hal-hal yang mengerikan.
Yang paling membuatku marah sekaligus kasihan adalah ketika teman kakak datang ke rumah untuk meminta maaf. Dia berkata karena santet yang ia gunakan ke keluarga kami kembali kepadanya Jadi, dia selalu di teror makhluk suruhannya. Kalau dia tidak meminta maaf dan mengakui kesalahannya dia akan di bunuh dengan perlahan oleh jin suruhannya.
Karena kasihan kami sekeluarga memaafkannya. Setelah itu teman kakak menggali tanah yang berada di gang dan mengambil kain hitam yang entah dari mana asalnya. Mungkin itu adalah perantara untuk mengirimkan santet.
Hanya karena iri seseorang bisa berubah menjadi sosok yang mengerikan. Orang baik selalu di hina. Orang kayak selalu di Fitnah. Yah, Begitulah masyarakat Indonesia yang tidak berpendidikan. Jika mereka pintar, pasti mereka berpikir untuk berusaha dari pada melakukan hal yang berbau maksiat.