"Mika!!! Bisa kau foto aku disini!?" Pekik gadis itu bersemangat.
Aku mengagguk dan bersiap mengambil beberapa foto. Dedaunan berwarna kuning emas mulai berjatuhan. Menciptakan pemandangan dan efek foto yang luar biasa. Gadis itu tersenyum lembut dengan anak rambutnya yang berantakan.
Selesai mengambil beberapa gambar di hutan itu, kami bergegas kembali ke gerbang masuk untuk mencari makan siang.
Hawa dingin menyelimuti punggungku yang terbuka lebar. Membuat tubuhku bergetar pelan. Seolah ada sesuatu yang mengawasiku tak jauh dari tempatku berpijak.
Bukan hal aneh bagiku. Hawa dingin itu aktif ketika ada sosok yang mengawasi atau mengikutiku meskipun berjarak 500 meter dari tubuhku berada.
"Aah-?!"
Sebuah tangan melambai tepat di depan mataku. Membuatku sedikit terkejut, tepat ketika lamunanku buyar
"Mikaa- Kebiasaan lagi kau melamun!?" Ucapnya dengan mulut yang mirip seperti bebek.
"Ah- Maaf..Lain kali gak lagi."
"Sampe diulang...Kugebuk boleh ya?" Jawabnya yang membuatku terkekeh dan refleks mengangguk.
Lily pelan menyodorkan crepe ke depanku.
Aku pelan mengambilnya dan menggigit sedikit di salah satu sisinya. Aku sengaja menghabiskannya perlahan untuk tau siapa yang mengawasiku.
Ada banyak hal yang mengganggu di otakku. Entah apa gadis di depanku ini menyadarinya atau tidak.
Aroma crepe tercium samar. Membuatku kembali sadar dengan apa yang ada di depan mataku.
"Kau seperti gadis kecil. Lihat, saus hampir berada di seluruh sudut dagumu."
Aku pelan menunjukkan ponselku yang menampilkan wajahnya yang belepotan saus crepe.
Gadis itu buru-buru menarik tisu dari tanganku dan membersihkan saus yang belepotan di wajahnya. Aku pelan menahan tawa melihat sikapnya barusan.
"Mau mencobanya?" Tawarnya sambil menyodorkan crepenya yang tinggal separuh.
"Habiskan saja. Kalau kau kurang, kau bisa memakan milikku Lily."
"Kau tidak bercanda kan ... Mika?" Desisnya dengan ekspresi muka yang aneh.
Aku menggeleng sebagai jawaban dan melanjutkan memakan crepeku yang masih lumayan banyak. Angin pelan berhembus. Hawa dingin itu juga lenyap perlahan. Tempat ini mulai ramai ketika hari semakin sore. Mataku pelan menerawang sekitar. Memastikan tak ada bahaya yang mengintai dari jaram berapapun.
"Selesaikan makanmu dan kita pulang. Sudah semakin sore, aku khawatir jika Mama mencarimu."
"Baiklah ... Ayo kita pulang!!!" Pekiknya seperti gadis usia lima tahun.
Aku pelan menikmati crepeku yang tersisa sambil menikmati perjalanan pulang. Angin sore berhembus sama seperti biasanya.
Piip ...
Suara itu terdengar pelan. Lily pelan menggenggam erat tanganku yang bebas begitu melewati tempat scan tiket. Tak ingin melepaskannya.
Kereta tiba tepat waktu. Kami bergegas masuk setelah pintu kereta terbuka dan mencari kursi yang kosong.
Mataku pelan mengawasi sekitar, berharap tidak ada hawa dingin yang menyerangku. Aku khawatir dengan keamanan Lily.
Crepe di tanganku perlahan habis. Gadis itu sudah terlelap di bahu kiriku. Aku pelan meremuk kertas pembungkus crepe dan menyimpannya di dalam saku jaketku.
Kami tiba di stasiun tujuan dalam waktu 30 menit. Aku pelan menggendong Lily yang tertidur di pundakku dan berjalan keluar stasiun. Mataku pelan mengawasi sekitar, menghindari ancaman sekecil apapun.
TING TONG ...
Suara itu terdengar setelah tombol itu ditekan.
Bunyi anak kunci yang diputar terdengar.
"Wah ... maaf merepotkanmu Mika. Ayo masuk .." Ucap wanita itu ramah.
"Permisi ..."
Aku pelan mengikuti wanita itu menuju ruang tamu.
"Maaf merepotkanmu."
"Tidak apa-apa Tante. Sudah tugasku menjaga Lily ketika diluar."
"Baiklah, tolong antar dia ke kamarnya. maaf merepotkanmu." Ucap wanita itu ramah.
"Baik Tante. Tidak masalah."
Aku pelan berjalan menuju lantai atas dengan Lily yang masih di punggunggku. Tertidur lelap.
"Oh ya ... Mika, pintu kamarnya yang berpapan bunga Lily. Setelah itu turunlah ke dapur untuk makan malam bersama kami."
"Baik Tante. terima kasih banyak."
Aku pelan menaiki tangga lantai atas. Mencari pintu yang memiki papan bergambar bunga Lily. Aku pelan membuka pintu itu dan menidurkannya di atas kasur. Lantas bergegas turun ke lantai bawah. Menuju ke dapur untuk menemui Mamanya Lily.
"Ayo sini, maaf sudah merepotkanmu." Ajak wanita itu sambil menarik tanganku.
"Itu ... Maaf sepertinya aku harus segera pulang. kebetulan Bunda menelponku. ada sesuatu yang harus di urus di bakery."
"Ah ... sayang sekali kalau begitu. Tolong sampaikan ke Bundamu. kalau ada waktu aku akan mampir." Ucap wanita itu dengan wajah yang sedikit memelas.
Aku bergegas pamit dan berlari menuju toko yang berada 2 blok dari rumahnya Lily.
KLANG KLANG ...
Suara itu terdengar ketika aku membuka pintu toko.
"Maaf agak terlambat kemari. Ada apa Bunda?"
"Akhirnya, ayo bantu Bunda menyelesaikan beberapa pesanan." Jawab Bunda yang sudah sibuk dengan nampan kue di tangannya.
Beberapa pekerja terlihat hilir mudik antara dapur dan ruang pemasaran di depan. Aku bergegas mengambil apron yang terlipat di lemari dan bergegas membantu bunda yang sibuk menghias cupcake di meja lain. Jaketku ku simpan di kapstok yang ada di pintu keluar bersama dengan milik Bunda dan pegawai lain.
kau pasti kebiasaan lagi ... bisik Bunda pelan.
"Eh- lagian Bunda yang minta segera kan? mana kepikiran buat hal lain."
"Buang dulu sampah kemasan crepe di saku jaketmu lalu bantu Albert menyusun kue di etalase depan." Perintah Bunda dalam hitungan menit.
"Baik Bunda ..."
Aku bergegas mengambil bungkus crepe di saku jaketku dan membuangnya ke tempat sampah di dekat pintu keluar-masuk dapur. Lantas bergegas menemui Albert di ruang depan.
"Ah- ternyata kau, tolong bawa nampan kosong itu kedalam, yang disini biar aku saja yang mengerjakan." Ucap Albert yang tau keberadaanku.
"Baiklah .."
Aroma kue kering dan basah yang baru matang tercium ke seluruh penjuru ruangan. Aku bergegas menuju ruang lain yang bersebelahan dengan dapur untuk mengganti nampan kosong yang kubawa dari depan.
"Kau rajin sekali Mika" sapa seorang pegawai ramah.
"Sudah tugasku. Lagian Bunda yang memintaku untuk kemari. Akan ku kerjakan sesuai permintaan Bunda."
"Begitu. Ah- tolong bawa nampan ini dan serahkan ke Albert, dia yang tau posisi setiap kue di etalase dengan baik." Ucap pelayan itu ramah sambil menunjuk dua nampan penuh di meja sebelahnya.
aku pelan mengangguk dan membawa dua nampan kue itu kedepan. Selesai lima putaran, seorang pegawai memberitahuku bahwa Bunda memanggil di kantor utama.
"Ada apa Bunda?"
"Pulanglah. Kau sudah bekerja keras hari ini." Jawab bunda pelan.
"Bagaimana dengan Bunda?"
"Bunda pulang agak malam. Tolong kirim pesan ke Papa agar menjemput Bunda di toko." Pinta Bunda sambil menyelesaikan bagiannya.
"Baik, kalau begitu Mika pamit."
"Hati-hati di jalan sayang." Balas Bunda cepat.
Aku melepas apron dan meletakkannya di tempatku menyimpan jaket. Hari sudah malam ketika aku pulang dari bakery.
Suara kendaraan saling bersahutan memenuhi jalan. Aku bergegas pulang sebelum sesuatu kembali mengikutiku dari kejauhan. Aku pelan mengirim pesan ke Papa agar menjemput bunda di bakery setelah pekerjaannya selesai.
CKLAK...
Suara anak kunci diputar terdengar. Aku bergegas masuk dan mengunci kembali pintu. Langkahku pelan menuju lantai atas. Entah kenapa aku berpikir bahwa seseorang sedang di atas. Aku pelan menarik tongkat bisbol yang kugunakan untuk berlatih ketika SMU.
"SIAPA DISANA!!"
Hening. Tak ada reaksi apapun. Suara-suara mencurigakan juga lenyap. Aku bergegas mencari steker dan menyalakan lampu. Tangan kiriku tetap memegang tongkat bisbol.
Suara dengkuran terdengar dari kamar yang batu saja ku lewati. Pintu kamar itu terbuka sedikit dengan lampu yang menyala. Tanganku pelan mendorong pintu agar terbuka lebih lebar.
Lho?? kak Ren? kapan dia datang?
Aku pelan mengguncang tubuh kakakku satu itu yang tertidur lelap.
"Ngapain ganggu, sana ..." Ucapnya sambil mengibas tangan kanannya yang hampir mengenai mukaku.
"KAK RENO!! INI AKU MIKA!!"
Lelaki itu membuka matanya dan berusaha bangun meskipun setengah sadar. Aku pelan mengatur nafas untuk meredam emosiku.
"Ukh ... Kenapa membangunkanku? Perjalanan panjang membuatku lelah. Boks kecil di meja, itu untukmu. Aku akan kembali tidur." Ucapnya lantas menarik selimut dan kembali mendengkur dalam hitungan detik.
Aku hanya menggelengkan kepala dan mencari boks yang dimaksud kakakku satu itu. Sebuah kotak kecil berlabel putih tergeletak di atas meja belajar miliknya. Aku pelan mendekati meja untuk mengamati lebih jelas tulisan yang berada di label putih itu.
Mika Devaro
Label di kotak itu bertuliskan namaku. Aku pelan memasukkannya ke saku jaketku dan menutup rapat pintu kamar kak Reno.
note: maaf kalau endingnya masih gantung. authornya masih sibuk dengan persiapan kuliah dan beberapa draft lain yang menunggu. Terima kasih atas dukungannya.