Saat istri gendut ku minta cerai
"Sayang, nanti malam kita video call ya. Abang kangen nih, " Ucapku pada tika dalam sambungan telepon
Sengaja ku kencangkan suara supaya maya istri ku mendengar. Entahlah, akhir akhir ini seperti nya menyenangkan menyakiti hati nya.
Tika sendiri adalah pacar ku. Janda beranak empat yang saat ini tengah bekerja di negeri jiran. Segera ku tutup sambungan telepon saat tika mengiyakan. Aku jadi tak sabar menunggu malam tiba.
Masuk ke dalam kamar, ku lihat maya sedang melipat baju. Entahlah dia marah atau tidak aku tak tahu. Aku hanya ingin ia sadar diri dengan tubuh nya yang berbobot 150 kilogram lebih itu. Aku juga lupa kapan terakhir kali menyentuh nya.
Anak kami ada dua, andi dan delia. Dulu saat awal menikah, maya adalah wanita paling cantik yang ku temui. Namun entah mengapa setelah memiliki anak dua, ia tak pernah lagi mengurus diri nya.
Masalah uang dan nafkah, aku selalu memberinya. Tak pernah ia kekurangan soal materi. Namun mengapa untuk menyenangkan pandanganku saja ia tidak bisa.
"Mana baju abang? Abang mau ke rumah rio, " Ucapku pada nya. ia memberikan baju yang ku minta dengan tatapan datar.
Biar saja, dia tahu diri kalau aku terganggu dengan bentuk tubuh nya itu. Sudah beberapa tahun ini aku dan maya juga tidur di kamar terpisah.
Segera ku melajukan motor menuju warung milik Rio tempat ku menghilang kan suntuk.
"Wah, seperti nya sedang happy ya, wan? " Tanya Rio saat aku baru tiba di sana. Aku memang selalu semringah sehabis menelepon tika. Apalagi membayang kan nanti malam ia mau V*S dengan ku.
"Iya lah, tau aja.bikinin kopi dulu, " Ucapku pada Rio.ia memang membantu istri nya mengurus warung ini.
"Siap, bos. Pahit atau manis? " Tanya Rio padaku
"Manis lah, masa pahit. Udah hidup pahit, kopi pun pahit, " Jawab ku asal sembari mengeluarkan ponsel dari dalam saku.
Tanpa menunggu lama, kopi tersaji di hadapan. Yuni--istri Rio meminta izin keluar sebentar untuk mengantarkan anaknya les.
"Wan, aku kok denger gosip. Kau pacaran sama guru les itu. Apakah benar? " Tanya Rio serius. Ia duduk di sebelah ku.
"Ish, kepo aja., " Jawab ku ketus. Rio memang sudah dekat dengan ku. Kami masih ada hubungan saudara. Ia adalah sepupuku dari pihak ayah.
"Bukan gitu, wan. Kasihan maya. Coba kau kurangi kebiasaan mu. Pasti juga kau masih berhubungan dengan tika kan? "
Aku menghela nafas panjang, gambang bagi rio menasehati ku seperti itu. Ia tidak mengalami apa yang aku rasa kan saat ini.
Tidak seperti maya, yuni terlihat lebih baik walaupun sudah punya tiga anak, ia selalu bisa menjaga penampilan nya. Wajahnya selalu segar membuat nya makin terlihat cantik.
Tubuh nya juga ideal, mungkin selisih berat badan nya dengan maya sampai hingga seratus kilogram
Maka dari itu, gampang bagi Rio menasehati ku coba saja kalau keadaan kami di balik, pasti ia akan melakukan hal yang sama juga dengan ku.
"Sudahlah gak usah menasehati ku. Kau juga belum tentu tahan kalau jadi aku! " Jawab ku ketus membuat lelaki kurus itu menggeleng.
"Kita sudah tua wan, kau tidak ingat apa, kalian sempat hampir berpisah gara gara kau ketahuan selingkuh dulu? " Tanyanya lagi.
Aku berdiri, mengeluarkan selembar uang lima ribuan untuk membayar kopi yang bahkan baru ku minum seseruputan
Ceramah Rio membuat kupingku panas. Lebih baik aku pergi mengantarkan andidan delia ke tempat les. Sekalian menemui puspa, pacarku sekaligus guru les anak anak ku.
Puspa sendiri adalah janda tanpa anak yang di tinggal mati suaminya.
Sepeda motor sampai di halaman rumah. Nampak maya sudah akan berangkat dengan ke dua anak kami. Ia menuntun sepeda motor nya.
Aku sengaja membelikannya sepeda motor dengan ban besar. Karena sudah beberapa buah ban motor kami yang berukuran standar meletus saat di naikinya.
Juga tidak mengijinkan motor ku ini di naiki olehnya. Makannya baku membelikannya sepeda motor juga. Khusus untuk nya pergi ka mana mana.
Kedua anak ku sudah naik ke boncengan. Maya juga mulai naik.
Lihat lah. Untuk naik ke motor saja dia kesusahan. Gelambir minyak di perut nya juga ikut bergoyang saat ia tidak bisa mendudukan pantatnya di jok motor.
"Sudah pergi sama ayah aja! Ibumu itu keberatan badan, jadi susah mau ngapa ngapain".
Kedua anak ku melirik ke arah maya, meminta persetujuan. Wanita dengan bobot berlebihan itu mengangguk.
Sorak sorai andi dan delia terdengar, mereka langsung naik ke boncengan. Tak ku gubris maya yang berteriak agar aku hati hati.
**CN**
malam tiba, maya menyiapkan makanan di meja makan. Sedangkan aku masih asyik membalas pesan dengan tika dan puspa.
{Kamu cantik sekali tadi. Aku sampai pangling tadi, apa mungkin karna sudah hampir seminggu kita tidak bertemu ya, jadi abang rindu.
Ku kirim pesan itu pada puspa.
{Rindu? Seminggu tidak bertemu? Sama siapa bang? Abang punya wanita lain selain aku? }
Mataku membelalak melihat balasan pesan dari tika. Lalu segera ku cek lagi pesan pesan tadi.
Aku menepuk jidat ku sendiri, salah mengirim pesan! Pesan yang seharusnya ku kirim pada puspa malah terkirim pada tika.
Ah mau tidak mau harus berbohong. Takut tika ngambek dan tidak mau berbicara dengan ku lagi nanti.
{ Maaf, sayang itu tadi teman abang pinjam hape ia masih chat dengan pacar nya }
Semoga tika percaya!
{ bener? abang nggak bohong? }
{ enggak, dong sayang. Hanya kamu yang ada di hati abang. Yang paling abang sayang }
{ alah, bohong! Abang kan sangat mencintai buldozer itu. }
Balasan pesan dari tika membuat ku terkekeh. Ia benar, memang tubuh maya sudah mirip dengan buldozer.
{ ya enggaklah, sayang abang cinta nya cuma sama kamu, kamu yang paling cantik dan seksi. Buldozer mah cuma formalitas aja. }
{Ah abang, bisa aja jadi gak sabar vc sama abang. }
Senyum ku makin terkembang. Aku juga sudah tidak sabar VC dengan nya. Melihat tubuh indah nan semok miliknya. Berkali kali aku menelan saliva membayangkan nya.
Selama ini aku Hanya bisa melihat pemandangan yang mengganggu saja, maya dengan lemak lemak nya itu.
"Makan dulu, jangan main ponsel mulu, " Ujar maya lumayan keras. Membuat ku langsung melirik ke arah meja makan.
Ternyata ia dan ke dua anak ku sudah menunggu di sana. Ku ketik balasan untuk tika, pamit untuk makan malam dulu. Lalu bergabung bersama anak anak dan maya.
"Masak apa? " Tanyaku namun maya hanya terdiam

Ia dengan cekatan menyendok kan nasi dan meletakkan nya ke piring ku dan piring ke dua anakku.
Kuakui, maya mengurus ku dengan baik. Namun salah kah aku jika bosan melihat bentuk tubuh nya itu?.
Andai kan ia tidak menjelma seperti ikan paus, maka aku tidak akan selingkuh.
Kini, rasa cinta yang dulu sangat besar telah menghilang entah kemana. Di tambah lagi ejekan dari teman teman ku saat melihat istri ku
"Ayah, bagaimana kebun sawit nya? Sudah selesai di panen? Tanya andi
Aku mengernyitkan kening mendengar pertanyaan nya. Biasanya mereka tidak pernah peduli dengan kebun sawit yang menjadi topangan hidup kami selama ini.
" Sudah, memangnya kenapa, ndi. ?"