"Ken, bisakah kau menemaniku berbelanja? Hari ini ibu dan ayah akan berkunjung ke sini," seru seorang wanita dengan balutan dress biru pastel yang saat ini berdiri di samping Ken yang sedang sibuk dengan lukisannya.
"Maaf, Sica-ya, tapi aku harus menyelesaikan lukisan ini. Tidak apa-apakan jika kau pergi sendiri?" pria dengan balutan kemeja putih berlengan pendek dan singlet putih sebagai dalamannya itu mendongakkan kepalanya, dan menatap Jessica dengan penuh penyesalan.
"Baiklah, jika memang kau tidak bisa. Aku akan pergi sendiri saja." balas Jessica dengan nada yang terdengar begitu kecewa. Bahkan sorot matanya pun tak secerah sebelumnya
Ke beranjak dari posisinya kemudian menghampiri Jessica yang masih bergeming dari tempatnya. Ken mengulurkan tangannya untuk menyeka air mata istrinya dan mengecup singkat keninganya.
"Maaf, Sayang. Aku mohon kau untuk memahamiku, Lukisan ini sangat penting bagi karirku. Dan jika aku tidak segera menyelesaikannya, maka aku-"
"Apa karirmu lebih penting dariku? Aku selalu memahamimu dan mengerti dirimu. Tapi sedikit pun kau tidak bisa mengerti dan memahami perasaanku, aku kecewa padamu." ucap Jessica dan berlalu begitu saja.
"Jessica, tunggu, bukan begitu. Hanya saja aku?"
"Kau egois, Ken." Jessica menghempaskan tangan Ken dari lengannya dengan kasar dan berlari keluar.
Huffttt...
Pria itu menghela nafas dan menunduk. Hal semacam ini bukanlah sesuatu yang baru bagi Ia dan Jessica, sudah sering mereka bertengkar karena hal sepele. Dan Jessica selalu mengatakan jika dia kecewa padanya karena sikapnya yang kurang peduli.
Tak ingin terlalu memikirkannya, Ken berbalik dan kembali pada lukisanya. Tapi tiba-tiba....
Brakkk...
Sontak saja Ken menolehkan kepalanya setelah mendengar suara keras seperti benturan. Pria itu berlari kearah jendela dan mendapati sebuah mobil mewah berwarna silver ringsek di depan rumahnya. Asap mengebul dari dalam mobil itu. Seketika tubuh Ken menjadi lemas, dengan lunglai dan langkah sedikit di seret. Pria itu berlari meninggalkan ruang kerjalanya dan bergegas menuju jalanan di depan kediamannya.
Sesampainya di sana, mata Ken di kejutkan dengan sosok wanita yang sangat di kenalnya. Tergeletak di aspal dengan darah memenuhi sekujur tubuhnya. Ken berjalan perlahan menghampiri wanita itu dan menjatuhkan tubuhnya tepat di samping si wanira. Di raihnya kepala wanita itu kemudian memindahkannya ke atas pangkuannya. Ken mengusap darah pada kepalanya dan memeluk erat tubuhnya yang sudah tak bernyawa.
"JESSICAAAAAA!!"
-
Ken membuka matanya perlahan saat merasakan ada cahaya menyilaukan masuk ke dalam retinya dan mengusik mimpi indahnya. Pria itu menolehkan kepalanya dan menatap nanar ruang kosong di sampingnya, matanya memanas dan tangannya merabah bantal yang ada di depan matanya. Di sadari atau tidak, pria itu menangis.
Ken terisak dalam diam, Ia menutup bibirnya dengan menggunakan tangannya. Ia tak menyangka jika istrinya begitu cepat meninggalkannya.
"Seharusnya kau masih tetap berbaring di sini, Jess. Tapi kenapa kau begitu cepat meninggalkanku?" lirih Ken terisak.
Kepergian Jessica yang sangat tiba-tiba menjadi pukulan terberat bagi Ken. Apa lagi dia pergi karena dirinya, jika saja pagi itu mereka tidak berdebat. Mungkin tragedi itu tidak akan terjadi pada Jessica, dan detik ini, pasti wanita itu masih dalam keadaan baik-baik saja. Namun apa daya, semua telah terjadi. Tak ada yang tersisa dari hidup Ken. Selain kesedihan dan penyesalan yang berkepanjangan.
"Jika saja aku tidak egois dan lebih memahamimu. Pasti hal ini tidak akan terjadi padamu." Ken memejamkan matanya yang kembali memanas, sekuat apapun Ia mencoba bertahan. Namun pada akhirnya pertahannya tetap runtuh. Dan entah sudah berapa banya air mata yang Ia teteskan, semenjak kepergian Jessica
Sesungguhnya Ken sangatlah mencintai Jessica, hanya saja Ia tak tau bagaimana cara mengungkapkan isi hatinya dan memperlakukan Jessica selayaknya.
Ken menyibakkan selimut tebal yang masih menutupi sebagian tubuhnya, kemudian beranjak dan berjalan menuju balkon kamarnya. Dan sesampainya di sana, Ken di kejutkan oleh keberadaan seorang wanita yang berdiri di sana dengan posisi membelakangi. Wanita itu merentangkan kedua tangannya menikmati semilir angin pagi yang menyapanya dan membelai wajah cantiknya.
Ken menatap sosok itu dari ujung kepala sampai ujung kakinya, dan Ia sangat mengenali sosok itu. Dengan ragu, Luhan berjalan menghampiri wanita tersebut dan berdiri tepat di belakangnya hanya berjarak beberapa centi saja. Berkali-kali Ken menyakinkan dirinya bila yang Ia lihat ini bukanlah nyata tapi hanyalah halusinasi semata. Dengan ragu, Ken menyentuh bahunya dan menyeruhkan namanya.
"Jessica?!" panggil Ken ragu.
Merasa namanya di sebut. Wanita itu menolehkan kepalanya dan menyambut kedatangan Ken dengan senyum terbaiknya.
"Ken, kau sudah bangun?" serunya lembut.
Bukannya membalas pertanyaan Jessica. Ken justru menatap wanita itu dengan tatapan tak percaya. Pria itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Jessica yang hanya menunjukkan tatapan bingungnya. Belum sempat tangan itu menyentuh wajah istrinya, Ken lebih dulu menariknya kembali.
Dan tanpa sepatah kata pun, pria itu berlari dan kembali ke dalam kamarnya. Ken meraih kalender yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Ken melihat tanggal dalam kalender itu, dan Ia baru saja sadar jika Ia kembali ke waktu 1 hari sebelum Jessica mengalami kecelakaan dan meninggal. Ken nyaris saja tidak percaya dengan apa yang harus terjadi pada hidupnya.
"Ya Tuhan!! Bagaimana ini bisa terjadi?" Ken memekik tak percaya, kedua matanya membulat sempurna. Dan Ia kembali ke waktu beberapa hari yang lalu. Itu artinya, sosok Jessica yang di lihatnya itu nyata. Ia tidak sedang bermimpi apalagi berhalusinasi.
"Ken, kau tidak apa-apa?" tanya Jessica yang entah sejak kapan sudah ada di hadapan Ken.
"Jessica,"
Tubuh Jessica terhuyung kebelakang karena pelukan Ken yang sangat tiba-tiba. Ken memeluk tubuh Jessica dengan sangat erat dan berkali-kali mencium pucuk kepalanya. Bagaikan sebuah drama, namun semua yang terjadi pada hidup Ken itu nyata.
"Ken, kau membuatku tidak bisa bernafas." ucap Jessica
"Maaf, Sayang." kata Ken dan mengakhiri pelukannya.
Jessica menautkan kedua alisnya dan menatap Ken dengan penuh tanda tanya, Ia merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya. Pagi ini Ken bersikap berbeda dari biasanya, bahkan ekspresinya menunjukkan jika Ia sedang tidak percaya dan sedikit kebingungan.
"Ken, apa kau baik-baik saja?" tanya Jessica untuk yang kesekian kalinya.
"Jess, benarkah ini dirimu?" tanya Ken memastikan.
"Tentu saja ini aku, Ken. Memangnya kau fikir siapa? Apa kau baru saja mengalami mimpi buruk.???" tanya Jessica cemas.
Ken mengangguk. "Ya, sangat buruk. Dan dalam mimpi itu, kau pergi meninggalkanku untuk selamanya. Dan aku sangat takut, aku benar-benar takut kehinganmu Jess." Bisik Ken sambil mengeratkan pelukannya.
Jessica tersenyum tipis. "Tenanglah, Ken. Tidak mungkin aku meninggalkanmu."
-
Hari ini Ken memutuskan untuk tidak pergi ke studio lukisnya. Ia memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana dan menghabiskan waktu bersama Jessica di rumah. Ken ingin menciptakan memori indah bersama wanita itu. Ia ingin menebus semua waktu yang telah terbuang sia-sia tanpa Jessica, dan Ken telah bersumpah. Mulai detik ini Ia akan selalu ada untuk Jessica dan tidak akan lagi menyia-nyiakannya.
"Ken, kau masih di rumah?" seru Jessica melihat Ken masih dengan pakaian santainya. Tank top hitam dan jeans dengan warna senada melekat di tubuhnya.
"Aku sedang malas. Hari ini aku ingin menghabiskan waktu denganmu saja." Balas Ken seraya menarik lengan Jessica dan membuat wanita itu jatuh di atas pangkuannya.
"Benarkah? Kau akan menemaniku saja?" tanya Jessica tak percaya. Matanya berbinar mendengar ucapan Ken.
"Hm." Ken mengangguk. "Karena bagiku tak ada yang lebih penting dari pada dirimu." Balas Ken dan merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Dalam pelukan Ken senyum Jessica terkembang lebar. Tak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan ketika Ia bersama Ken.
"Ken, apa kau benar-benar mencintaiku.?" tanya Jessica sambil mendongakkan kepalanya dan menatap dalam manik coklat milik Ken.
"Apa kau meragukan cintaku Jess?" tanya Ken, Jessica menggeleng.
"Bukannya begitu Oppa." Balas Jessica cepat. Ia menyesali pertanyaannya.
"Mungkin selama ini sikapku begitu dingin dan selalu acuh padamu. Namun tidak dengan perasaanku, sejak kita bertemu dan hingga detik ini. Perasaanku tidak pernah berubah, aku masih tetap mencintaimu, Hanya saja aku tidak tau bagaimana cara menunjukkan cintaku dan bersikap yang benar padamu." tutur Ken panjang.
"Aku tau. Tapi kau selalu mencintaiku dengan caramu. Untuk itu jangan menjadi orang lain tetap cintai aku dengan caramu." Kata Jessica dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Itu pasti."
-
"Ken, bisakah kau menemaniku berbelanja? Hari ini ibu dan ayah akan datang berkunjung." seru seorang wanita dengan balutan dress biru pastel yang saat ini berdiri di samping Ken yang sibuk dengan lukisannya.
Deggg..
Ke tersentak mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari bibir istrinya. Wanita itu mengucapkan kata yang sama persis yang Ia ucapkan ketika tragedi itu terjadi. Ken mendongakkan kepala dan menatap Jessica dengan mata membulat sempurna.
Wanita itu juga mengenakan dress yang sama, tatanan rambut yang sama, make up yang sama, dan tatapan yang sama. Bahkan posisinya berdiri pun sama persis seperti hari itu.
"Ken, kau bisa mengantarkanku atau tidak?" tanya Jessica seraya mengibaskan tangannya di depan wajah Ken. Dan membuat pria itu segera tersadar dari lamunannya.
"Ahh, tentu saja. Ayo." Seru Ken seraya meraih tangan Jessica dan menggenggamnya. Kemudian berjalan beriringan meninggalkan ruang kerja Ken.
Sesampainya di ruang tamu. Ken meninggalakan Jessica begitu saja dan bergegas masuk ke dalam kamar mereka.
Dan tak sampai 5 menit, Ken kembali dengan kunci mobil di tangannya.
"Ken, kenapa kita tidak menggunakan mobilku saja?" tanya Jessica.
"Tidak apa-apa, kita pergi menggunakan mobil milikku saja." balas Ken tersenyum. Wanita itu mengangguk pelan.
"Baiklah, bisa kita pergi sekarang?"
"Tentu saja, Sayang. Ayo." Jessica melebarkan senyumnya, dan di raihnya tangan Ken yang terulur di hadapannya.
Jessica menautkan kedua alisnya melihat Ken menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah dan menadahkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Padahal suasana pagi itu masih cukup sepi.
"Ken, kenapa kita berhenti?" tanya Jessica heran.
"Tunggu sebentar lagi." Balas Ken tersenyum dan mengelus sayang wajah Jessica.
"Memangnya apa yang harus kita tunggu?" tanya Jessica lagi.
"Kau akan segera mengetahuinya. 1... 2..."
Belum sempat Ken mengyelesaikan hitungannya. Sebuah trus kontainer berukuran raksasa melintas di hadapannya. Persis seperti saat Jessica mengalami kecelakaan. Setelah di rasa aman, Ken kembali melajukan mobilnya. Dan dalam hitungan detik saja. Mobil itu telah melesat jauh meninggalkan kediamannya.
"Jadi itu alasanmu menggentikan mobil tadi?" tanya Jessica tak yakin.
"Eem, dan apa yang baru saja terjadi. Sama persis seperti kejadian di dalam mimpiku, ketika aku kehilanganmu." balas Ken.
"Ken,"
"Jangan fikirkan apapun. Lagi pula aku tidak akan membiarkan hal buruk apapun terjadi padamu. Kau adalah hidup dan matiku, Jess. Dan tanpa dirimu. Apalah artinya diriku."
Lagi-lagi Jessica di buat terharu oleh penuturan Ken. Ia tidak menyangka bila suaminya akan mengatakan sesuatu yang membuatnya tak kuasa menahan air matanya, di sadari atau tidak. Air mata kini membasahi wajah cantiknya.
-
Kehangatan menyelimuti kebersamaan Jessica, Ken, dan orang tua mereka. Saat ini kedua orang tua Jessica dan Ken sedang berada di kediaman mereka untuk melepaskan rindu pada putra-putrinya. Gelak tawa memenuhi seisi ruangan kediaman Ken.
"Ken, Jess ini sudah tahun ke 2 kalian menikah. Apa kalian berdua tidak memikirkan untuk segera memiliki momongan?" tanya Nyonya Oliver dan sontak membuat Jessica terkejut.
Byurrr...
Wanita itu menyemburkan semua air yang berada di dalam mulutnya dan terbatuk. Ken yang melihat hal itu tak diam begitu saja, Ken beranjak dari tempatnya kemudian mengambilkan air putih untuk Jessica.
"Minum dulu." Pinta Ken sambil memberikan gelas yang ada di tangannya kepada Jessica.
"Terimakasih, Ken," balas Jessica sebelu meneguk air itu hingga habis.
"Sayang kah baik-baik saja?" tanya Nyonya Xi cemas.
"Ya, Ma. Aku baik-baik saja." balas Jessica meyakinkan. Dia tidak ingin membuat ibu mertuanya sampai mencemaskan dirinya.
"Lalu bagaimana Ken?" kini giliran tuan Xi yang membuka suara.
"Kami sedang mempersiapkannya, Pa." balas Ken.
"Ayah, harap kalian bisa memberikan cucu pada kami secepatnya. Dan jangan menunda lagi." Pinta Tuan Oliver dengan di iringi kekehan ringan.
"Tentu, Ayah."
"Ibu, Ayah, aku mau kekamar dulu." kata Jessica dan berlalu begitu saja.
Ken yang mengetahui suasana hati Jessica segera menyusulnya dan mencoba menenangkannya. Meskipun Jessica tak mengatakan langsung padanya, namun Ia bisa memahami kesedihannya. Tanpa sepatah kata pun, Ken bergegas mengejar Istrinya.
-
Gelap...
Itulah yang pertama Ken lihat ketika Ia sampai di kamarnya. Pria itu berjalan perlahan, kemudian menyalahkan lampunya dan mendapati Jessica sedang meringkuk di tas tempat tidurnya sambil menekuk kedua kakinya.
Ken yang memahami suasana hati Jessica, segera menghampirinya. Kemudian merengkuh wanita itu kedalam pelukannya.
"Jess," panggil Ken hampir berbisik.
"Hiks.. hiks.. hikss, apa yang harus aku lakukan sekarang, Ken? Mereka sudah menuntut cucu dari kita, tapi kita belum juga memberikannya." ujar Jessica terisak.
"Itu karena Tuhan belum mempercayakannya pada kita." Balas Ken.
"Tapi ini adalah tahun ke 2 kita menikah, Ken!!, Padahal kita juga sering melakukannya. Namun kenapa sampai detik ini tidak juga ada hasilnya. Apa aku tidak pantas untuk menjadi seorang Ibu? Atau mungkin ada kelainan dalam diriku? Atau aku memang-"
"Hentikan Jeasica Xi," pinta Ken membentak.
Pria itu mencengkram bahu Jessica yang bergetar dan menatap ke dalam matanya.
"Itu tidak benar, kau normal. Bahkan Dokter sendiri yang telah mengatakannya. Jika sampai detik ini kita masih belum juga memiliki anak. Itu artinya kita masih belum memiliki keberuntungan. Tuhan asih belum mempercayai kita untuk menjaga titipannya. Jadi jangan berfikir yang tidak-tidak." Pinta Ken dengan tegas.
"Tapi kapan hari itu akan tiba, Ken?"
"Secepatnya." Balas Ken menyela ucapan Jessica.
"Bagaimana jika sampai tua aku tetap tidak bisa hamil dan memberikan keturunan untukmu? Apa kau masih akan tetap mencintaiku dan menerimaku apa adanya? Apa kau tidak akan meniggalkanku dan mencari penggantiku?" tanya Jessica dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak. Apapun dan bagaimana pun keadaanmu, aku akan tetap menerimamu. Kau adalah satu-satunya cinta dalam hidupku, ada anak taupun tidak. Itu tidak masalah untukku, yang terpenting kau tetap berada di sampingku dan menggenggam tanganku. Itu sudah lebih dari cukup untukku." Tutur Ken panjang lebar.
"Ken," Jessica terharu dan mulai berkaca-kaca.
"Aku mencintaimu, Jessica Xi." Ucap Ken dan menarik Jessica kedalam pelukannya.
"Aku juga mencintaimu, Ken."
Dalam hidup ini tidak ada yang lebih membahagiakan selain bisa bersama orang yang kita cintai. Aku beruntung karena Tuhan telah memberiku kesempatan yang kedua untuk bisa menebus semua kesalahanku padamu dan membuktikan betapa aku sangat mencintaimu, dan hanya kau satu-satunya cinta dalam hidupku. Aku mencintaimu, Jessica Oliver.
-
THE END