Kini hariku tak lagi sama dengan kemarin. Sebuah waktu yang telah terlewat dan berganti. Setelah keputusanku untuk mengakhiri semuanya, aku terpuruk.
Sejatinya, diriku tak ingin berpisah dengannya. Bayangannya masih selalu hadir dalam setiap mimpiku. Suaranya, tatapannya, sentuhannya. Aku semakin terlena kala aku melihat fotomu kembali di akun media sosialku.
Di balik semua itu, ada rasa kecewa yang terselip di dalam hatiku. Aku yang telah dosakan cinta ini, membuatku harus ikhlas dengan kepergianmu.
Mungkin kamu takkan menoleh lagi padaku. Mungkin bagimu aku hanya bagian dari masa lalumu. Haruskah aku bilang padamu, kalau aku masih mencintaimu, mengharapkanmu untuk bersanding bersamamu.
***
Delapan tahun berlalu. Aku mendapat sebuah kabar yang tak pernah aku sangka sebelumnya. Tentang pernikahanmu bersama wanita yang pernah menjadi musuh dalam selimutku.
Haruskah aku marah? Tentu itu adalah hal konyol jika aku melakukannya. Aku terduduk di sofa saat aku membaca undangan pernikahanmu bersamanya. Kamu tahu? sakit, perih dan juga pilu.
Aku coba menghapuskan bayangmu kembali. Meski dulu aku yang memutuskan. Tapi rasanya ... aku keliru. Setelah hubungan kita berakhir, aku kira kamu akan memintaku kembali. Ternyata aku salah, kamu justru membiarkanku untuk pergi.
Saat hari pernikahanmu, aku memutuskan untuk pergi dari kota ini ke sebuah kota yang menurutku sangat nyaman. Aku ingin memulai kembali hidupku tanpa bayang-bayangmu lagi.
***
Dua tahun berlalu, kulihat di media sosialmu. Hidupmu sangat bahagia. Aku memang tidak pernah memblokirmu sejak dulu. Walau aku tahu, aku yang pernah mengkhianatimu. Sejujurnya aku hanya muak dengan sikap dinginmu padaku saat itu.
Kini aku sadar. Sebuah cinta bukan hanya sekadar sentuhan, kecupan atau pelukan. Namun, sebuah perasaan yang hanya bisa di rasakan didalam hati dan memberi kenyamanan untuk diri sendiri.
Aku meminta kepada Tuhan, jikalau suatu hari aku dipertemukan kembali denganmu, buat rasaku hilang yang dulu hanya untukmu. Itu saja.
*****
Hari ini adalah hari pertamaku masuk bekerja kembali setelah liburan panjang kemarin. Aku dengar, minggu-minggu ini akan ada penggantian pimpinan baru di kantor tempatku bekerja. Seperti biasanya, aku merias wajahku senatural mungkin. Berpakaian rapi serta memakai heels yang tidak terlalu tinggi.
Aku telah siap untuk berangkat bekerja. Ku stop sebuah taksi di pinggir jalan raya di depan gang rumahku. Kemudian, naik ke dalam taksi itu.
"Ke Angkasa Grup ya, Pak. Yang ada di Jalan Armada Biru nomor tiga puluh sembilan."
"Baik, Mbak."
Sopir taksi itu melajukan mobilnya. Aku membuka layar ponsel untuk mengecek email masuk. Hampir setengah jam berada di dalam perjalanan, akhirnya akupun sampai di kantor. Setelah membayar tarif taksi, aku keluar dari mobil itu dan berjalan masuk ke dalam.
"Selamat pagi, Bu Rima." Sapa seorang satpam yang sedang berdiri di depan posnya.
"Pagi, Pak." Aku tersenyum ramah sambil sedikit menundukkan kepalaku.
Aku berjalan menuju lobby kantor. Dari jauh aku melihat seseorang yang tengah berdiri sedang melakukan sebuah sambungan telepon.
Aku merasa tidak asing dengan siluet wajahnya. Seolah telah lama aku tidak melihatnya lagi, tapi siapa? aku mengingat-ingatnya kembali.
"Hai, Rim. Ini ada berkas yang harus kamu kerjakan! ingat ya, ini akhir bulan loh. Ditunggu secepatnya sama pak Amir!"
Wiji berlalu begitu saja, sesaat setelah ia memberikan setumpuk berkas lemburan para karyawan di produksi untuk aku rekap sebagai absensi.
Aku bekerja di bagian HRD, dimana sebuah bagian yang menyimpan sejuta rahasia tentang data karyawan yang bekerja di sini. Waktu masih memberiku kesempatan lima belas menit lagi sebelum waktu bekerja dimulai.
Aku memilih menaruh setumpuk berkas dan juga tasku di atas meja kerjaku. Kemudian pergi ke kantin untuk membuat cappucino hangat supaya dapat mengusir rasa kantukku pagi ini.
*****
Kantin ini sudah mulai sepi. Karena kebanyakan orang yang menggunakannya rata-rata karyawan bagian produksi.
Sembilan puluh persen di perusahaan ini, mayoritas bekerja di bagian produksi. Sedangkan di bagian kantor hanya sepuluh persennya saja.
Tak jarang aku harus lembur saat akhir bulan. Apalagi jika permintaan produksi sedang naik, banyak sekali rekapan lemburan yang di berikan sekaligus di hari itu juga.
Terkadang rasa kesal menguasaiku, sering aku protes untuk tidak memberikannya sekaligus melainkan bertahap. Per seminggu sekali, mungkin. Perkerjaanku pun bisa lebih ringan.
Setelah aku menghabiskan cappucino hangat sambil ditemani film drama Korea, aku kembali ke meja kerjaku.
******
Sore pun tiba, semua orang di kantor telah kembali ke rumahnya masing-masing. Benar saja, aku harus melembur kembali supaya aku tidak didemo karena tidak memasukkan uang lemburan digaji mereka yang telah lembur.
Sore ini, langit tampak mendung. Aku sedikit gelisah, takut tidak ada kendaraan yang bisa mengantarku pulang ke rumah.
Aku segera menyelesaikan pekerjaanku dengan ketelitian penuh. Tentunya, ditemani segelas cappucino yang sangat membuat tubuh dan pikiranku relaks.
Akhirnya ... setelah beberapa jam berlalu. Aku telah menyelesaikan tugasku. Kulihat arloji yang melingkar di tanganku telah menunjukkan pukul sembilan malam. Kutatap ke luar jendela ternyata hujan masih mengguyur dengan derasnya.
Kapan aku bisa pulang kalau hujannya sangat deras seperti ini? aku mendesah pelan lalu merapikan meja kerjaku kembali.
Saat aku hendak beranjak pergi, aku menatap jas yang dipakai oleh seorang pria berdiri di hadapanku.
"Kenapa kamu belum pulang?"
DEG. Suara itu? ... aku memberanikan diri mengangkat kepalaku dan menatap pria itu.
"Ren-dy."
Dia ... dialah pria itu. Sejak lama aku merindu. Memeluk dinginnya malam yang syahdu. Kini dia hadir lagi dalam kehidupanku.
"Rima?" Rendy mengernyit menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. "Kamu bekerja di perusahaanku?"
Apa? ini perusahaannya? tidak ... ini tidak mungkin. Sudah hampir lima tahun aku bekerja di sini. Aku tidak pernah melihatnya bahkan mendengar kalau dirinya pemilik perusahaan ini.
"Pe-perusahaanmu?"
Dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Ya Tuhan ... sesulit inikah sebuah rasa. Aku yang selama ini tidak mampu melupakannya. Kini dia hadir kembali sebagai orang yang berbeda.
"Aku tidak sengaja lewat dan aku melihat lampu ruangan kantor ada yang masih menyala. Lalu setelah kuhampiri, ternyata itu kamu."
Nyess ... nada bicaranya pun kini telah berbeda. Tidak seperti Rendy yang aku kenal dulu. Bahkan sejak aku bekerja di perusahaan ini, aku sama sekali tidak pernah melihat media sosialnya lagi.
Pandanganku seketika terkunci pada manik kecoklatan miliknya. Deringan suara ponsel membuatku terkesiap. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jas kemudian menjawabnya.
"Halo, My Sweetheart."
Terdengar mesra dan harmonis. Perlahan aku menjauh dari sana. Pergi dari hadapannya.
Aku harus menghentikan segalanya. Perasaanku, kerinduanku, serta harapanku bersamanya. Jika aku bertahan, aku seolah menjadi perawan cinta yang haus akan kasih sayang.
Aku tidak siap untuk mendengar suara-suara risih yang akan menyalahkan diriku. Aku pun berpikir, bila aku jadi pasanganmu pasti akan merana.
Kau ... tidak perlu tahu rasaku saat ini. Cukup aku, yang mencintaimu sendiri.